Arsip Bulanan: April 2008

Pungguk yang Mendamba Bulan, Hamba yang Merindukan Tuhan

Bila sungguh pungguk pernah mengidamkan bulan, betapa menggelikan sekaligus mengenaskannya. “Kaciaaan de lu, Ngguk!” Derazat yang terlalu jauh berbeda, jarak yang terlalu jauh untuk direngkuh.

Tapi bukankah sang pungguk tidak seberapa gila, dibanding seorang hamba yang merindukan Penciptanya? Bukankah perbedaan antara pungguk dan bulan menjadi tidak terasa, dibanding selisih antara makhluk dan Khaliknya?

Tetapi juga, apa bisa memberi batas pada rindu? Bukankah sia-sia mengepung cinta dengan tembok-tembok logika, mencoba mengukur rasa dengan satuan-satuan fisika? Baca lebih lanjut

Iklan

Haruskah Berhenti (Belajar) Menulis Tentang Agama?

Walau niatnya untuk menumbuhkan saling pengertian, tulisan bertema agama kerap malah menjadi bibit perdebatan yang menjurus kepada “permusuhan”. Inikah saatnya berhenti menulis tentang topik itu?

Kayaknya nggak deh!

Toh masih lebih banyak kawan yang mengekspresikan perasaan yang sama, bahwa kita harus bisa berdamai di tengah perbedaan, saling mengerti dan menghargai pendirian orang lain, sepakat untuk tidak sepakat dengan tetap menaruh hormat. Masih lebih banyak sahabat yang setuju, bahwa korban pertama dari setiap permusuhan adalah kebenaran, dan yang pertama kali diuntungkan oleh perdamaian adalah kehidupan itu sendiri. Baca lebih lanjut

Sebuah Hati untuk Dibagi, Bukan Tempat untuk Sembunyi

Seberapa lama kau sanggup bertahan? Sepi itu memanggilmu pulang, seperti mimpi buruk yang berulang.

Juga, seberapa jauh kau bisa lari dari dirimu sendiri, meringkuk dalam benteng-benteng buta, perisai ketidakpedulian yang rapuh. Sepi, putus asa, sendiri; karena ketidakmampuan membuka hati untuk sebuah keterpautan. Kegagalan mengguratkan garis yang menyatukanmu dengan titik lain. Terkeping. Tersudut. Hening. Hanyut. Baca lebih lanjut