Cinta? Tahu Apa Kau Tentang Cinta?

Kedua lelaki itu berjalan tergesa. Yang satu terlihat tetap tenang, yang lainnya sangat gelisah, khawatir terhadap keselamatan sahabatnya itu, yang sedang diburu, hidup atau mati. Ketika gelap mulai menyelimuti bumi, mereka sampai di kaki sebuah bukit.

Keangkuhan bukit itu bahkan tetap tampak dalam gulita. Keduanya terus menapak, menanjak dalam sunyi, dan berhenti di mulut sebuah gua.

“Aku periksa dulu ke dalam ya,” kata lelaki yang khawatir itu. Gua itu memang dikenal dihuni aneka ular berbisa. Tapi mereka harus bermalam di sana, biar terlindung, baik dari cuaca maupun musuh yang siap memangsa.

Dalam kegelapan, ia menerobos sembari membersihkan jalan dari semak perdu yang merintang. Berikutnya dia dihadang oleh tumpukan batu. Merasa tidak bisa membedakan antara batu atau ular yang sedang menunggu mangsa, ia menyobek pakaiannya, sekadar melindungi tangannya ketika memindahkan batu-batu itu satu per satu.

Hampir seluruh pakaiannya telah tersobek. Ia sudah nyaris telanjang, tapi masih ada sebongkah batu yang belum dipindahkan. Tak ada pilihan lain, setengah takut, ia menyepak penghalang terakhir itu.

Kali ini, ia tak seberuntung sebelumnya. Ia terpatuk, darah menetes, bisa perlahan mulai menyebar ke seluruh nadinya. Tapi ia mengabaikannya.

“Sudah bersih, masuklah …”

Sahabatnya masuk. Ia begitu kelelahan akibat perjalanan panjang tadi, dan jatuh tertidur, lelap di pangkuan sang sahabat yang baru saja tersengat reptil berbisa itu.

Malam melarut, bisa itu pun makin merasuk, terasa menerobos ulu hati. Ia bertahan, tak ingin tidur sahabatnya sampai terganggu. Tapi selaku manusia, kemampuannya terbatas. Menjelang pagi, rintihan mulai tak tertahan ke luar dari mulutnya, tubuhnya yang tak lagi sempurna terbungkus busana menggigil makin kuat, dan air mata menahankan rasa sakit itu menetes makin deras.

Lelaki itu terbangun dari lelapnya. “Mengapa engkau menangis, tubuhmu juga menggigil. Ada apa?”

“Aku digigit ular,” rintihnya.

“Mengapa tak bilang dari tadi?”

“Aku takut mengganggu tidurmu.”

Lelaki yang digigit ular itu bernama Abu Bakar Shiddiq, dan yang tidur di pangkuannya itu, sahabat terdekatnya, Nabi Muhammad SAW. Bukit dan gua itu bernama Tsur (foto di atas) sekitar 4 km di selatan Masjidil Haram.

*****

Abu Bakar tidak perlu mengirimkan kartu ucapan setiap hari kepada Muhammad, berisi ungkapan betapa dia mencintai dan peduli padanya. Tapi di kegelapan gua itu, cinta itu hadir, mewujud, menyentuh langsung ke jiwa.

Banyak kisah yang kita dengar tentang kehidupan Nabi dan sahabatnya. Namun selain diceritakan dengan cara yang kering, maaf ni ye, juga berisi hal-hal yang itu-itu saja, sehingga tak heran sosok Baginda Rasulullah yang hadir di benak kita, di imajinasi anak-anak dan adik-adik kita, adalah lelaki yang keras, yang menegakkan hukum Allah dengan dingin, bahkan seperti tanpa sentuhan kasih sayang.

Dampaknya, banyak kaum muslimin sekarang merasa telah menjadikannya teladan, ketika dengan brutal menghancurkan tempat cari makan orang lain, dengan sorban putih menghunus kelewang di jalan-jalan, dengan meneriakkan takbir menebarkan ketakutan.

*****

Dua anak lelaki Rasulullah – Qasim dan Abdullah – telah lebih dulu dipanggil Allah di usia yang sangat muda. Maka ketika ia kemudian dianugerahi anak lelaki, dari rahim Maria – istrinya yang bekas hamba sahaya – cintanya menggumpal untuknya.

Usai menunaikan tugas-tugasnya, sebagai rasul dan kepala negara, ia akan menemui Ibrahim, anaknya itu, menimangnya, menciuminya, layaknya seorang ayah yang penuh kasih sayang.

Dan berita itu seperti mencopoti sendi-sendi di tubuhnya; Ibrahim kritis. Dia bahkan harus dipapah Abdurrahman bin Auf, ketika akan ke sana.

Ibrahim yang baru berusia 18 bulan itu, terkulai lemah di pangkuan ibunya. Lembut Rasulullah meraih, memangku dan memeluknya, bukan untuk bercanda-tawa seperti biasa, tetapi seperti hendak mengantar yang terkasih dalam perpisahan yang merobek sukma.

Sang Ayah itu berbisik perlahan, “Ibrahim anakku… Aku menyayangimu, Nak, tapi aku, juga semua yang ada di sini, tak bisa menolongmu dari apa yang menjadi kehendak Allah.”

Sejenak kemudian, Ibrahim pergi, dan air mata ayahnya pecah tak terbendung.

Maria dan adiknya Sirin, bibi bocah itu, menangis bahkan meratap. Dan Rasulullah tak melarangnya! Seperti memberi kesempatan kepada mereka untuk melepaskan himpitan duka ke udara.

Air mata Rasulullah sendiri makin menderas, membasahi pipinya. Seperti genap sudah duka itu, ketika Ibrahim menyusul Qasim dan Abdullah yang telah lebih dulu dipangku Tuhannya.

Di sela tangisnya, Rasulullah berkata, “Ibrahim anakku, kalau bukan karena kenyataan, dan dan janji yang tak bisa kita lari darinya, dan bahwa kami semua pasti akan menyusul kalian yang sudah lebih dulu, tentu aku akan lebih sedih lagi dari ini.”

Di antara tangisannya Rasulullah masih terus bicara – saya tidak berani bilang beliau meratap. “Air mata boleh bercucuran, hati dapat merasa duka, tapi kami hanya berkata apa yang menjadi perkenan Tuhan, dan bahwa kami, ya anakku, sungguh sedih terhadapmu.”

Beberapa orang sahabatnya kemudian memberanikan diri, menegur Rasulullah, ayah yang sedang berduka itu. “Bukankah engkau melarang kami menangisi, apalagi meratapi orang yang wafat, ya Rasulullah?”

Jawaban Rasulullah kemudian, selalu membuat mataku berkaca-kaca, kapan pun aku membacanya. Ayahku kehilangan tiga anak lelakinya, sebelum kemudian aku lahir, dan tumbuh besar, menjadi imam ketika jenazahnya disahalatkan.

Aku tidak melarang orang berduka cita. Yang kularang menangis dengan suara keras. Apa yang kamu lihat dalam diriku sekarang, ialah karena cinta dan kasih di dalam hati. Orang yang tiada menunjukkan kasih sayangnya, orang lain pun tiada akan menunjukkan kasih sayang kepadanya.

Kepada Mariah dan Sirin, dengan penuh kasih sayang Rasulullah bicara perlahan, “Kalian harus ingat, Ibrahim akan mendapat inang pengasuh di surga”.

Di hari kematian Ibrahim, siang tiba-tiba jadi gelap, karena gerhana matahari total. Tak pelak, orang-orang pun yakin semesta juga sedang meratapi kematian Ibrahim. Tapi apa kata nabi kepada mereka?

“Matahari dan bulan ialah tanda kebesaran Tuhan, yang tidak akan jadi gerhana karena kematian atau hidupnya seseorang. Kalau kamu melihat hal itu, berlindunglah dalam zikir kepada Tuhan.”

*****

Ketika Allah menunjuk Rasulullah sebagai teladan, banyak orang kemudian mengartikannya dengan memelihara janggut, bersikap keras dan tanpa ampun dalam “menegakkan” syariah, bahkan entah apa hubungannya, dengan menjadi beringas.

Beliau memang utusan Allah, pemimpin ummat, dan pada saatnya menjadi panglima perang. Tetapi dia juga ayah yang lembut, yang bisa saja terluka hatinya, lunglai langkahnya, dan tidak sok bermukjizat walau fenomena alam sangat mendukung seandainya dia mengklaimnya.

Apa ya namanya, orang-orang yang lagaknya sok lebih paten dari Rasulullah?

Iklan

13 thoughts on “Cinta? Tahu Apa Kau Tentang Cinta?

  1. goop

    ah cerita yang belum pernah saya baca sebelumnya tuan, begitu indah, dan bukankah memang ini yang seharusnya sebagai cermin?
    salahkah bila saya sebut keblinger kepada mereka yang begitu jumawa itu?
    -terima kasih-

    Balas
  2. Ryan Shinu Raz

    Horas Lae….
    Artikel yang satu ini sungguh mantaf bah. Belum pernah aku dengar dan baca kisah ini sebelumnya. Semakin salut aja aku sama Lae Nainggolan ini…

    Kami selalu menantikan tulisan selanjutnya lae..
    Mauliate….

    Horas!

    Balas
  3. venus

    maaf kalo kasar, tapi menurut saya sih, orang2 yg merasa sok paten, sok lebih suci dari yg lain itu……SOMBONG, GAK PUNYA MALU, dan BEBAL!

    demikian, semoga berkenan. halah 😀

    Balas
  4. Muhajirin

    Cerita nabi dan sahabatnya abu bakar diatas sebenarnya sudah sering kita dengar, yang terjadi saat nabi hijrah ke madinah. Namun memang diakui cara bertutur diatas membuatnya lebih menyentuh.

    Mungkin sekedar tambahan nabi kemudian mengobati luka abu bakar itu, dengan cara memasukkan jari kemulutnya, dan mengoleskan air liur yang keluar itu ke luka abu bakar dan sembuh.

    Cara itu sampai sekarang banyak digunakan kalangan “orang pintar” untuk mengobati segala bisa, dan dalam beberapa kasus memang cukup mujarab. Mungkin perlu diteliti apa kandungan air liur murni yang baru keluar dari kelenjarnya.

    Wassalam.

    Balas
  5. Totok Sugianto

    cerita barusan sebenarnya merupakan cerita umum yang sering kita dengar, tetapi memang bahasa yg dipakai diatas sangat lembut dan bisa menjadi tauladan buat anak cucu kita bahwa kekerasan apapun judulnya sangat ditentang dalam islam

    Balas
  6. maya

    makasih untuk ceritanya bang. boleh yah kalo nanti aku ceritakan kembali kepada ponakan-ponakan dan sahabat kecilku 🙂

    Balas
  7. alternateadv

    Hidup bang toga…
    indah sekali bang, jadi membuka mata, kalo cinta bukan melulu “Cinta” yang itu-itu saja, makasih ya bang

    Balas
  8. doyz

    Ass……
    Alangkah indagnya saat teringat kejadiam,,, yang belajar mengiklaskan sesuatu yang telah terjadi…. dengan aturan Allah Swt. di mana segala sesuatu pasti akan terjadi bila itu kehendaknya…..

    Kita hanya sebagai hambanya hanya dapat menerima dan berusaha….. melakukan yang Allah Swt berikan pada kita, pada saat perjanjian di dalam Rahim…….

    Bang Top Abis Dech

    Bang jangan Lupa low ada yang bari Kirim Ja Ma Email….doyseta@yahoo.com oks bang aku tunggu yach

    Balas
  9. putirenobaiak

    nyesel banget aku kok bisa terlupa baca yg ini yah? tau gak, waktu buka posting ini, aku lagi sibuk bgt, aku print bawa pulang, eh sibuk jg di rumah, aku bawa ke hutan, sibuk di sana, bawa lg ke medan, akhirnya terlupa krn sudah ada postingan baru…

    coba dikau yg nulis cerita Rasul utk anak-anak bang, pasti nyentuh banget. aku beli satu kisah yg ditulis ulang Kang Abik, bagus banget juga, tapi suer, aku lebih suka gayamu ini 🙂

    Balas
  10. Siu Elha

    Lae ada satu kisah lain yg ttg rasul yg juga selalu membuat aku menangis berapapun kali aku membacanya, Tentang saat dimana Rasul berkata ditengah para sahabatnya “Aku merindui suatu kaum”,
    “Siapa mereka yaa Rasulullah?, Apakah itu kami?”,tanya sahabat
    “BUkan,” jawab Rasul, Aku sudah pasti mencintai kalian, karena kalian mengimaniku, dan aku ada ditengah-tengah kalian” jawab Rasul
    “Lalu siapa Ya RAsullullah kaum yang beruntung itu?” tanya sahabatnya, karena mereka merasa kaum terbaik bagi Rasulullah, tapi ternyata Raulullah masih mempunyai kerinduan yang lain untuk kaum yang blom jelas.
    “Suatu saat ada kaum yang sangat jauh dari kehidupanku sekarang, namun mereka mencintaiku dengan segenap hatinya, merindukanku dalam jiwanya, bahkan mengimaniku dengan sepenuh keyakinannya, padahal saya tidak ada diantara mereka” jawab Rasulullah.
    Salam mu’alaika Yaa Rasulullah,
    Salam mu’alaika Yaa Habiballah…
    Lae apa saya patut dirindukan Rasulullah Yaa?? *geer mode on*
    Selamat dateng Lae…
    baru tahu kalo engkau sudah hidup lagi (kemana saja kau selama ini sampai tak tahu aku sudah bangkit dari kuburku???) Lagi ngejar setoran baca dari Januari sampai abis nih…banyak peer….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s