Doktrin yang Mengerdilkan Tuhan

DENGAN segala kerendahan hati, saya mengaku kurang sensitif, ketika mengambil kisah kelahiran Yesus Kristus – atau Isa Al Masih dalam bahasa Al-Qur’an – sebagai contoh ketidaklogisan agama. Walaupun pertimbangan saya karena kisah itu sama-sama diceritakan Alkitab dan Al-Qur’an secara persis, tapi reaksi Parjalang membuktikan, hal itu bisa terasa sebagai “lebih menyerang” iman Kristen, karena posisi Yesus yang sangat, atau bahkan paling sentral di iman itu.

Untuk itu, kepada Bung Parjalang, dan siapa saja yang menyimpan perasaan yang sama, saya minta maaf.

Mohon izin, diskusi kita lanjutkan … 😀

Kali ini, saya ambil saja contoh kisah Moses atau Musa Alaihissalam. Jangan khawatir, soal ini pun Alkitab, khususnya Perjajian Lama (PL) dan Alqur’an (Q) tetap kompak menceritakannya. Hal yang kemudian membuat sebagian ekstrimis Yahudi menuduh Kristen dan Islam cuma bisa menjiplak.

Kebetulan kisah Musa ini baru tayang di Metro TV. Meski naskah film itu based on Bible, tuturan Al-Qur’an pun mirip dengan itu kok. Jadi, saya berharap kali ini tidak disangka “lebih menyerang” siapapun.

Kisah yang bagus, inspired, tentang perjuangan melepaskan diri dari perbudakan menuju tanah yang dijanjikan. Tapi itu tadi, dalam kisah itu, Tuhan menjadi begitu kerdil. Bagaimana mungkin, Pencipta dan Pemelihara alam semesta itu, “ngumpet” di sebuah bukit, hingga Musa harus ngos-ngosan untuk menemuinya.

Agama memang kerap mereduksi kebesaran Tuhan. Kita tak boleh lupa, Sinai hanyalah satu dari jutaan bukit di bumi, dan bumi cuma satu dari sepuluh anggota tatasurya, dan tatasurya kita (bersama matahari) cuma satu dari sekian miliar tata surya di galaksi Bimasakti, dan galaksi Bimasakti cuma satu dari sekian miliar galaksi di alam semesta, dan alam semesta ini pun, cuma sebuah dimensi dari sekian miliar dimensi, udah ah, capeee deh…

Dan di bukit Sinai itulah, titik debu di keluasan jagat raya, Pencipta dan Pemelihara alam semesta itu nongkrong, sibuk melayani Musa dan kaumnya, tawar-menawar, membuat perjanjian …

 *****

Mengapa di bumi ada kehidupan? (Karena Tuhan menghendaki demikian!) Karena jaraknya yang sangat pas dengan matahari, sehingga kondusif bagi eksisnya kehidupan dengan segala keanekaragamannya. Bila terlalu dekat seperti Merkurius dan Venus, akan terlalu panas. Sebaliknya bila terlalu jauh, mulai dari Mars sampai Pluto – eh, katanya ada anggota tata surya baru ya? – akan terlalu dingin.

Nah, mustahil dari sekian miliar tata surya di galaksi Bimasakti kita ini saja, tidak ada planet yang punya jarak yang pas dan kondusif untuk kehidupan. Mungkin ada yang “usia” kehidupannya di belakang kita, sehingga masih berada di zaman es atau dinosaurus, tapi juga mungkin ada yang sudah jauh di depan kita, sehingga dengan teknologinya, mungkin bisa meneropong kita di bumi ini, seperti kita menggunakan google earth.

Apakah di sana mereka juga punya tuhan yang secara personal mengurusi mereka, dan oleh karenanya mengabaikan kita? Tidak mungkin! Baik doktrin tauhid Islam, yang secara straight menegaskan Allah itu satu, maupun Trinitas Kristen, yang walaupun maujud dalam tiga entitas, Bapa, Anak, dan Roh Kudus, namun tetap sebuah kesatuan, tidak memberi tempat bagi Allah lain.

*****

Di depan kita terbentang fakta, betapa agama memang semakin kehilangan pesona. Warga Eropa dan Amerika memang mayoritas Kristen, tapi berapa persenlah yang masih rutin ke gereja. Hal yang sama juga terjadi di negara-negara yang mayoritas Islam. Di KTP masih terpampang jelas: ISLAM, dan dia akan ngamuk besar kalau ada simbol agamanya yang “dihina”. Tapi berapa persenlah ritual wajib Islam yang masih dijalaninya? Mungkin limit mendekati nol.

Mengapa? Menurut saya, barangkali karena semakin minim bukti bahwa agama bisa membuat kehidupan lebih baik. Sejarah malah lelah mencatat, bahwa agama justru menjadi salah satu sumber utama munculnya konflik, permusuhan, sampai pertumpahan darah, baik antaragama, mapun yang – ironis, celaka bin sialnya – dalam satu agama.

Oleh karena itu, niat saya setiap belajar menulis tentang topik agama dan spiritualitas, sebenarnya bagaimana cara kita bisa membalikkan arah sejarah itu, bahwa agama justru bisa menjadi sumber perdamaian, cinta kasih, dan alat memperbaiki kehidupan.

Itu kalau kita tidak mau agama punah lebih cepat dari perkiraan siapapun.

Iklan

23 thoughts on “Doktrin yang Mengerdilkan Tuhan

  1. sitijenang

    menurut saya, sekarang ini ajaran yang jauh lebih menonjol adalah soal ritual apa untuk mendapatkan apa. kalo caranya beda, katanya tidak diterima. bukan lagi bicara soal tujuan agama itu sebetulnya buat apa. Tuhan akhirnya seperti dikandangkan di dalam “rumah-rumah Tuhan”.

    Balas
  2. Goenawan Lee

    Yup, saya agak-agak setuju dengan mbah sitijenang. Agama hanya condong kepada ritual, dan perbedaan itu kadang malah bikin misuh. Manusia juga, cenderung mikirin surga dan neraka. Kalo bicara soal moral pun, bilang ini tuntutan moral yang benar dari Tuhan. Akibatnya? Misuh lagi… 😐

    Mengutip kata-kata Kopral Geddoe dulu, manusia cenderung mengurusi ritual agama, halal-haram, sampai lupa mencintai Tuhan. 😦

    Balas
  3. sigid

    Wah, postingnya berat ya 😀

    Yah kadang ritual juga bisa menjebak. Hanya karena selalu rajin ke tempat ibadah secara rutin, atau rajin memberikan sumbangan ke tempat ibadah sebagai persembahan atau rajin mengikuti ritual lain; kadang membuat manusia merasa bahwa dia telah menjadi orang alim.

    Tapi itu semua hanya ritual, bagaimana bisa kita berdoa di “tempat suci” sementara hati kita masih merasa sombong, atau kita masih membenci orang lain sebelum dan setelah sembahyang.

    Mungkin saja sebaiknya kita mulai memahami makna yang dalam di balik semua ritual yang kita lakukan sehingga ritual tersebut bukan hanya menjadi semacam rutinitas atau kewajiban.

    Balas
  4. Yeni Setiawan

    Menurut saya bukan mengerdilkan Tuhan, Lae. Tapi Tuhan sendirilah yang mengerdilkan diri agar dipahami oleh manusia.

    Kepada Musa, Tuhan mengaku berada di puncak gunung Sinai, mungkin karena pada jaman Musa gunung tersebut merupakan suatu tempat yang dianggap paling tinggi.

    Bayangkan jika di jaman Musa Tuhan sudah mengaku bahwa dia melebihi alam semesta dan planet-planetnya, apa nggak bingung Musa?

    Begitulah menurut saya Lae..

    Balas
  5. Altratimuri

    Hahahaha.. posting dan komen yang lucu.

    Dalam buku Misykah Al-Anwar karangan Al-Ghazali, dijelaskan, jika tuhan atau objek yang dinilai sebagai tuhan masih bisa dipersonalisasikan sebagai manusia atau makhluk lain, maka dia bukan tuhan.

    Yang terpenting, zat tuhan bukan untuk diperdebatkan, tapi bagaimana kita bisa mengabdikan diri pada-Nya.

    Balas
  6. mPit

    konon, pengagung-agungan tuhan & spiritualitas islam dlm bentuk syair & tulisan setelah qur’an dibukukan itu dilarang karna pengalaman bertuhan adalah transenden & amat sangat personal. buat saya itu yg terpenting-bagaimana bertuhan & berkasih-kasihan denganNya-bukan bagaimana beragama. dan rabiah mengandai: ingin kubakar surga & kusiram neraka agar yg tersisa hanya keikhlasan. begitulah 😀

    Balas
  7. SALNGAM

    Saya pernah menonton DVD judulnya “in search of Eden”. Disitu diceritakan bahwa Eden itu ada di Mesopotamia (Iran, Irak dan Afganistan ) sekarang, yang di apit oleh Singai Euphrat dan Tigris (Seperti dlm Perjanjian Lama). Adam dan Hawa dipersonifikasikan disitu sebagai Manusia pertama yang tidak lagi nomaden. Manusia pertama yang melakukan ternak dan tani (jaman permulaan neoliticum).
    Agama mesopotamia dikemkemukakan disitu termasuk Abraham adalah Sumerian. Disana juga dikenal langit ketujuh (Tingkat kesempurnaan manusia). Dst… silahkan cari DVDnya.
    Problem agama turunan Abraham/ tauhid dari dulu adalah syariah/syariat/syarat-syarat atau textuality. Bukan hakikat atau iksaniah. Maka di Kristen terjadilah aliran Advent, Katolik, Protestan (Evangelical dan mainstream), di agama lain gua no comment.
    Padahal, dalam perjanjian Baru , jika dibaca seringkali Jesus melakukan revolusi berfikir terhadap membaca hukum-hukumnya Musa, agar yang dilihat adalah esensinya. Hingga ada tertulis ….yang terpenting adalah hormatilah Tuhan Allahmu dengan sepenuh hatimu dan dengan segenap jiwaragamu dan hormatilah sesamamu seperti dirimu sendiri (inti dari 10 hukum taurat-terjemahan bahasa Indonesia sehar-hari).
    Api di gunung Sinai atau di gunung lainnya saya kira hanyalah sebuah rangkaian existensi Allah sesuai cerita Musa pada jamannya. Pada jaman itu api sangatlah mahal saya kurang tahu apakah sudah ada korek api pada saat itu. Saya kira juga yang kita anggap miracle sekarang sudah jau beda dengan miracle jaman Musa. Mungkin kalau pakai time tunnel, jika orang pada saat itu datang ke waktu kita sekarang mungkin juga akan terheran-heran mulai dari cara kita makan, berpakaian, lampu-lampu dsb.
    Yang merepotkan bagi saya, apabila syariat dipaksakan kepada suatu kelompok bahkan ke seluruh kelompok masyarakat tanpa pandang bulu dalam arti penjajahan berfikir atau adanya hegemoni berfikir.
    Itulah sebabnya kurasa delam deklarasi HAM hak untuk menyembah Tuhan atau apalah namanya merupakan azasi bukan pemberian manusia…
    Setiap manusia menurut saya tidak salah berksplorasi apa saja termasuk mencari Tuhannya tanpa harus memaksa orang lain. Menginfluence menurut saya sah-sah saja tapi sekali lagi jangan memaksa!!!!! (Ingat Hukum taurat ke 10 jangan mengingini harta sesamamu, biar anaknya, biar putrintya dst…).
    Menurut saya Tuhan tidak pernah kerdil, yang mengerdilkan Dia adalah orang yang membaca setiap stimulus dan menterjemahkannya secara kerdil. Bagi saya semua hal adalah relatif dan tergantung. Serpihan abu boleh saja kecil kelihatan tapi jika dipersepsikan sangat besar bisa juga itu besar. Virus itu bahkan tidak terlihat tapi sangat mematikan bung!!.

    Balas
  8. panabiduhut

    Percayakah Anda, bahwa bumi kita tanpa bulannya sebagai penyeimbang poros bumi, juga tidak akan bisa dihuni oleh manusia ? Cuaca akan berubah dengan begitu cepat dan ekstrim, mungkin daerah tropis tiba-tiba menjadi kutub dan sebaliknya kutub sebagai tropis, badai tidak akan terduga, dll, dll. Itu katanya lho…tapi buatku, masuk akal juga.

    Balas
  9. dayat

    kawan, sepulang kau dari ‘pengasingan’ agaknya soal agama saja yang kau bawa-bawa..?
    pengetahuanku belum cukup untuk ikut memberi kritikan atau masukan.

    kangen tulisanmu yg ringan tapi berisi (seperti soal ‘ukuran’ dan mak erot yang sempat kau tulis)

    Balas
  10. nesia Penulis Tulisan

    Kang Dayat
    Iya nih, Kang, abdi aja kadang males baca tulisan sendiri, sok berat! 😀 Masalahnya, yang hinggap ke pikiran itu-itu mulu sih…

    Ringan tapi berisi? Hmm, berarti isinya gas yah…

    Balas
  11. apurwa

    Salam…Sebagaimana pendapat Al Ghozali..Siti Jenar sang teolog dari tanah Jawa mengatakan Tuhan itu tidak bisa dibayang-bayangkan seperti apa. Itulah, mengapa dia mengatakan kebanyakan orang itu menyembah angan-angan kosong. Ritualnya ibadahnya seperti batang kangkung buntu di kedua ujungnya berlobang di tengahnya. Pendapat saya..biarlah Tuhan itu dengan segala keamuan-Nya. Sementara kita mengurusi penyembahan kita kepada-Nya. Dan belajar menerima semua kemauan Tuhan.

    Balas
  12. tobadreams

    Aku juga mau protes nih Lae : kenapa sih nggak ada referensi dari agama Hindu, Budha atau Parmalim ?

    Emangnya Tuhan yang dimaksud di artikel ini hanya berdasarkan ajaran Kristen dan Islam ?

    PEACE

    Balas
  13. Humbang Hasundutan

    HadirnyaTuhan, Pencipta dan Pemelihara alam semesta di bukit Sinai, di titik debu di keluasan jagad raya, untuk memberikan hukum moral kepada manusia: Kasihilah Tuhanmu dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatanmu; Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri, adalah merupakan suatu bukti akan kebesaran Tuhan. Tuhan tidak hanya mahabesar dalam menciptakan alam semesta, juga dalam memeliharanya, sekalipun itu titik debu yang terkecil. Tuhan tidak menciptakannya kemudian melupakannya.

    Tuhan turun di bukit Sinai dalam api, agar umat itu menyaksikan secara langsung akan kehadiranNya, supaya jangan ada tuhan yang lain di tengah tengah umat itu.

    Mari kita sejenak melongok ke penciptaan. Apakah Tuhan melaksanakan penciptaan itu dari kejauhan sana? Bila ya, maka turunnya Tuhan di bukit sinai adalah tidak logis. Bila Tuhan langsung membentuk manusia itu dan menghembuskan nafas hidup ke lobang hidungnya, maka kehadiranNya di gunung sinai dapat kita percayai.

    Balas
  14. Eka

    jujur ya Toga saudaraku…aku bener2 salut dengan tulisan2 & pemikiran2 bung toga. Kalo selama ini kita selalu terpaku akan norma-norma/batasan-batasan agama yang tidak mengijinkan kita masuki area terlarang yg bisa menyebabkan kemurtadan..saya tidak setuju. Menurut saya Essensi dari beragama adalah membebaskan, bukan malah memenjarakan/membunuh kebebasan manusia yang telah menjadi fitrahnya.

    disini saya sepemikiran dengan anda,hanya saja saya kurang berbakat untuk mencurahkan pemikiran2/paradigma saya mengenai agama,khususnya agama langitan yg mayoritas umatnya sibuk mengurus ttg keyakinannya akan Iblis dan Tuhan, daripada keyakinannya ttg kehidupan/kemanusiaan yg jelas2 kita semua tau akan realitanya seperti apa,daripada meributkan Iblis & Tuhan yg jelas2 kita semua belum pernah tau akan realitanya.

    saya sangat setuju dengan tulisan bung Toga yg mengatakan…apapun agamamu Islam,Kristen,Budha,Hindu dll…SADARLAH BAHWA MUSUH TERBESAR KALIAN ADALAH LOGIKA!

    Salam Kemanusian!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s