Bahagia: Bertaruh Demi yang Tak Pasti, atau Nyaman dengan Apa yang Ada

 

Banyak orang bingung, mengapa pejudi bisa bertahan berhari-hari dengan permainan yang sudah pasti akan membuat bangkrut itu. “Yang menang bisa jadi melarat, apalagi yang kalah Wuo wou…” kata Rhoma Irama. (O o, ketauan selera musiknya).

Rhoma salah, kalau menganggap pejudi tulen betah bermain karena ingin menang. Keasyikan terbesar dalam judi, bukanlah saat menang, tapi di saat-saat genting permainan itu sendiri. Bukan hendak bergaya belaka, ketika pemain poker mengintip pelan-pelan kartunya, tetapi memang di situlah sedapnya. Sudah menjadi hukum alam, kalau rasa sedap itu akan menimbulkan candu.

Jadi, kalau ingin mencandu pada sesuatu yang baik, temukanlah kesedapan-kesedapan yang (menurutmu) baik.

*****

Apakah kebahagiaan itu? Di manakah tempat yang paling “padat” kebahagiaannya? Agama-agama Timur Tengah; Yahudi, Kristen, dan Islam, tentu akan menunjuk ke tempat yang sama: surga.

Surga pun dikonsepkan sebagai sebuah tempat nun di seberang sana. Apa yang diminta ada. Dalam teks Islam surga digambarkan dengan sangat detail, tapi malah menjadi kurang menarik. Sesuatu yang diterangkan makin detail, dengan sendirinya akan kekurangan pesona, kehilangan misteri yang menggoda.

Saya muslim, tapi soal surga, entah mengapa saya lebih tertarik dengan konsep Buddha. Surga bukanlah sebuah tempat, tetapi keadaan. Keadaan ketika kau tak menginginkan apapun lagi, atau nirwana.

Bukankah keinginanlah neraka itu? Apa yang telah kau miliki, serta merta menjadi tidak berarti, begitu kau menginginkan yang lain lagi. Kau menjadi tidak bahagia, begitu kau ingin lebih bahagia lagi. Keinginan seperti lingkaran setan tak berujung.

*****

Pertanyaan itu tetap menggantung … Apakah bahagia itu adalah pertaruhan dan perjuangan itu sendiri, atau perasaan nyaman dan cukup dengan apa yang sudah ada?

Iklan

9 thoughts on “Bahagia: Bertaruh Demi yang Tak Pasti, atau Nyaman dengan Apa yang Ada

  1. yati

    simbok…karena keinginan itu ga ada abis2nya. kalo udah ngerasa bahagia dengan yang ada, ga punya keinginan lagi karena semuanya sudah tersedia, itu kondisi di surga, yang diyakini bang toga sebagai Nirwana.

    hufhhh….ratu sok tau capek menerangkan! ngerti ga mbak?

    Balas
  2. sawali

    agama memang sebuah dogma bung toga. seringkali ada nilai irasionalitas yang masuk di situ. demikian juga soal gambaran ttg surga. seringkali muncul imaji2 yang memebahagiakan, tapi seringkali pula orang ingin jalan mudah untuk mendapatkannya.

    Balas
  3. panabiduhut

    Nirvāna: Nirvana (Jainism)
    Nirvāna means final release from the karmic bondage. When an enlightened human, such as, an Arhat or a Tirthankara extinguishes his remaining aghatiya karmas and thus ends his worldly existence, it is called nirvāna. Technically, the death of an Arhat is called nirvāna of Arhat, as he has ended his wordly existence and attained liberation. Moksa, that is to say, liberation follows nirvāna. An Arhat becomes a siddha, the liberated one, after attaining nirvana.

    Moksa (Jainism)
    .

    Moksa (Sanskrit: मोक्ष, liberation) or Mokkha (Prakrit : मोक्ख ) means liberation, salvation or emancipation of soul. It is a blissful state of existence of a soul, completely free from the karmic bondage, free from samsara, the cycle of birth and death. A liberated soul is said to have attained its true and pristine nature of infinite bliss, infinite knowledge and infinite perception. Such a soul is called siddha or paramatman and considered as supreme soul or God. In Jainism, it is the highest and the noblest objective that a soul should strive to achieve. It fact, it is the only objective that a person should have; other objectives are contrary to the true nature of soul. With right faith, knowledge and efforts all souls can attain this state. That is why, Jainism is also known as moksamārga or the “path to liberation”.
    Source : Wikipedia

    Balas
  4. meiy

    jaid inget lagu iwan fals…

    Keinginan adalah sumber penderitaan
    Tempatnya di dalam pikiran
    Tujuan bukan utama
    Yang utama adalah prosesnya…

    Makanya ciptakan saja surga sendiri, soal nanti urusan Tuhanlah itu Bang hehehe…

    Balas
  5. Alisha

    keinginan… apa bedanya dengan nafsu?

    mungkin karena itu ada puasa… mencoba untuk mensyukuri apa yang telah ada, mencoba menahan dan mengendalikan keinginan… (Walah… mentang2 bulan puasa)…

    Met Puasa Bang Toga… 🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s