Arsip Bulanan: Februari 2008

Cinta? Tahu Apa Kau Tentang Cinta?

Kedua lelaki itu berjalan tergesa. Yang satu terlihat tetap tenang, yang lainnya sangat gelisah, khawatir terhadap keselamatan sahabatnya itu, yang sedang diburu, hidup atau mati. Ketika gelap mulai menyelimuti bumi, mereka sampai di kaki sebuah bukit.

Keangkuhan bukit itu bahkan tetap tampak dalam gulita. Keduanya terus menapak, menanjak dalam sunyi, dan berhenti di mulut sebuah gua.

“Aku periksa dulu ke dalam ya,” kata lelaki yang khawatir itu. Gua itu memang dikenal dihuni aneka ular berbisa. Tapi mereka harus bermalam di sana, biar terlindung, baik dari cuaca maupun musuh yang siap memangsa. Baca lebih lanjut

Iklan

Jangan Buat Dia Jatuh, Bila Kau tak Sungguh Ingin Menangkapnya

Don Juan de Marco, legenda akbar pecinta itu, konon pernah bilang, cinta sejati bukan berarti hanya sekali, cuma kepada satu hati. Setiap cinta punya kepenuhannya sendiri. Kubayangkan, ia mengatakannya dengan intonasi yang nakal, air muka yang angkuh.

Buat Don Juan – dan para pengikut Don Juanisme 😉 – cinta adalah momen. Itulah api yang membakar Jack dan Rose sekian puluh jam di atas RMS Titanic, sebelum mereka terberai saat kapal raksasa itu menabrak bongkahan es. Adakah yang bisa menjamin, misalnya, andai mereka selamat sampai ke daratan Amerika, keduanya akan menjadi pasangan yang setia? Bukankah sangat mungkin Jack yang menawan akan terpikat dan memikat gadis lain begitu tiba di pelabuhan New York? Baca lebih lanjut

Surat Untuk Lae Sinurat, yang Bingung Aku Ini Islam, Kristen, atau… Apaan Tuh?

Lae Sinurat Yth…

Mauliate godang, terima kasih banyak Laeku, atas kunjungan dan komentarmu yang sangat berisi. Komen yang hanya berupa dua tiga karakter, atau bahkan sebutir emoticon pun sebenarnya sama berharganya, tapi yang sekelas komen Lae – tidak saja dalam pengertian kuantitas atau panjangnya, tapi juga kualitas alias muatan pesan yang dibawanya – tentu punya tempat tersendiri). Ehm.. *membetulkan posisi mikrofon* Lho, surat kok jadi pidato?

Apakah saya Islam atau Kristen?

Waduh, tajam dan beratnya ini pertanyaan. Secara administratif saya Islam, dan identitas itu “dipilihkan” orang tua saya. Saya tak cukup beruntung menemukannya sendiri. Tapi secara hakikat, entahlah. Saya belum bisa menyerahkan diri secara utuh kepada kehendak Allah SWT. Kehilangan duit dua puluh ribuan pun saya masih marah-marah. Konon lagi kehilangan-kehilangan lain yang lebih besar? Bisa-bisa saya menuduh, paling tidak dalam hati, bahwa Tuhan tidak adil. Busyet dah! Tapi emang begitulah. Baca lebih lanjut

Menolak Valentine? Ah, Sok Paten Kali pun Kalian!

valentine.jpg

Terus terang, bingung aku melihat penolakan – terutama yang berlebihan seperti yang dilakukan orang Pakistan dalam gambar – terhadap hari Valentine, hari kasih sayang, rahman warrahim, 14 Februari. Kebencian apa sesungguhnya yang bersarang di kepalanya, yang ditutup kopiah putih bersih itu?

Apa karena hari itu berasal dari kisah seorang pemuka agama Kristen Katolik, Valentine dan Santo Marius? So what? Kok tak kau bakari juga semua kalender internasional, yang malah lebih “parah” karena berasal dari momentum kelahiran Yesus Kristus? Trus kok mau kau libur hari Minggu, di mana orang Kristen pergi ke gereja, dan sebaliknya mau pula tetap kerja di hari Jum’at, padahal di situ kaum muslimin pergi shalat Jum’at ke masjid-masjid?

Kok tanggung-tanggung? Katanya harus kaffah, baik menjauhi larangan maupun melaksanakan perintah, nahi mungkar wa amar ma’ruf? (Jangan kau bilang aku terbalik-balik. Tanya ustadz kau, bahwa kita harus lebih dulu menjauhi yang buruk baru mendekati yang baik!) Baca lebih lanjut

Two Paragraphs for Valentine

Tak kubantah, hanya satu tujuan cinta, membuat yang dicintai berbahagia. Dan jika satu-satunya jalan untuk membahagiakanmu adalah dengan melepasmu pergi, tidak semestinya kau kudekap erat, sampai kau meronta, tersiksa. Sebab bila ukurannya adalah kebahagiaanku, hasrat dan kebutuhanku, berarti aku memang tidak mencintaimu, tapi justru sedang menjajahmu.

Sebutlah aku tak mencintaimu, juga kuterima bila sejarah mencatatku sebagai penjajah yang kejam, perampas kehidupanmu. Tapi aku memang belum, dan tak akan pernah siap kehilangan dirimu. Itu saja masalahnya.

Tuhan yang Mengerdilkan Diri-Nya

Menurut saya bukan mengerdilkan Tuhan, Lae. Tapi Tuhan sendirilah yang mengerdilkan diri agar dipahami oleh manusia.

Komentar Yeni “The Sandalian” Setiawan ini menjawab setidaknya satu dari beberapa pertanyaan teologis, cieee…, yang selama ini kurasa cukup mengganggu. Keren! Tuhan ternyata bela-belain mengerdilkan diri, sebab jika ia tampil sebagaimana sesungguhnya, kita tak akan mengerti Dia, karena terlalu besar untuk dipahami, apalagi dicintai. Hmm…

Bahkan untuk saudara-saudara saya yang Kristen, Tuhan malah “melangkah” lebih jauh, sampai mewujudkan diri-Nya dalam tubuh Yesus Kristus, seorang manusia yang lahir dari rahim Maria. Terus terang, bagi saya perwujudan Tuhan dalam diri Yesus memang terasa sebagai pengerdilan Tuhan. Tapi biar bisa dipahami dan (akhirnya) dicintai manusia, mengapa tidak ya? Baca lebih lanjut

Doktrin yang Mengerdilkan Tuhan

DENGAN segala kerendahan hati, saya mengaku kurang sensitif, ketika mengambil kisah kelahiran Yesus Kristus – atau Isa Al Masih dalam bahasa Al-Qur’an – sebagai contoh ketidaklogisan agama. Walaupun pertimbangan saya karena kisah itu sama-sama diceritakan Alkitab dan Al-Qur’an secara persis, tapi reaksi Parjalang membuktikan, hal itu bisa terasa sebagai “lebih menyerang” iman Kristen, karena posisi Yesus yang sangat, atau bahkan paling sentral di iman itu.

Untuk itu, kepada Bung Parjalang, dan siapa saja yang menyimpan perasaan yang sama, saya minta maaf.

Mohon izin, diskusi kita lanjutkan … 😀

Baca lebih lanjut