Berilah Dia Ruang…

Betapa sulit sekarang ini untuk sekadar menemukan ruang, space, untuk mengelola sendiri kedirianmu. Sepertinya, semua budaya, norma-norma yang berlaku, bahkan keseluruhan dunia, sudah diset untuk menghempang langkahmu menemukan kekuatan dan keindahanmu yang unik, yang sesungguhnya.

Setiap hari, yang kita lihat dan pelajari adalah tentang membongkar dan mencabik-cabik orang lain. Kita menonton televisi, membaca koran, tentang politisi yang terlibat skandal, artis-artis yang dalam proses perceraian, dan kedua belah pihak merasa sama-sama tersakiti. Bahkan kita sendiri, kadang juga terlibat membicarakan orang lain, dalam aura negatif, yang membuatnya terburai dalam kepingan-kepingan.

Semua tentang saling membongkar satu sama lain… atau mungkin hanya sebuah pelarian, karena kita sedang takut menatap sosok kita sendiri. Kita takut karena dunia sepertinya memang sedang menunggu kejatuhan kita.

Kata dan persepsi, sungguh punya kekuatan yang dahsyat. Berbicara pada orang lain, seringkali berarti kau sedang membacakan mantra yang digdaya ke hadapannya. Dia bisa jatuh, tapi juga bisa bangkit, hanya dengan kata-kata.

Tapi sudahlah… Mencintai seseorang, pada titik tertentu, berarti merelakan pupusnya harapan-harapanmu padanya. Apakah kau seorang ayah, pecinta, atau bahkan orang asing. Bagaimana mungkin seseorang menjadi dirinya sendiri, kalau tak kita beri dia ruang, di mana dia bisa membangun dirinya sendiri.

Mungkin terdengar aneh. Tapi memperhatikan seseorang, tidak selalu berarti kau harus tahu segalanya tentang dia, karena perhatian sesungguhnya adalah, ketika kau sanggup memberi dia ruang untuk tumbuh.

Iklan

10 thoughts on “Berilah Dia Ruang…

  1. yati

    itu makanya saya tak pernah tau apa2 tentang ….. karena perhatian bukan berarti tau semua hal tentang dia kan?
    atau…
    karena dia emang sengaja membuat semuanya kabur biar saya ga tau apa2 tentang dia

    Balas
  2. mei

    tapi keegoisan biasanya mengalahkan segalanya. coba bang tulis bagaimana cara menanggulangi ke EGOIS an yang sudah melampaui ambang batas normal, bahkan dalam hal mencintai…

    Balas
  3. ritha

    lovely and wise word…
    jarang2 ada orang yg pemikirannya ‘bener’ seperti loe…
    semoga makin byk org yg punya pikiran seperti itu.
    lagipula mang ga punya kerjaan selain ngomongin org??
    nambah dosa lagi…

    Balas
  4. Tappang

    Saling menghargai dan menghormati, mungkin itulah yang kurang dimiliki bangsa ini. EGO, benar! Egoisme pribadi lepas pribadi bangsa ini makin tebal saja. Bangsa ini terlalu “terkejut badan” dalam menyikapi modernisasi. Kaget, dan akhirnya jadi kayak cacing kepanasan. Tabrak sana, tabrak sini, gak peduli dengan keberadaan yang akan menimpa orang lain. Kira-kira gitu ‘kali, lae…. Hmm…

    Balas
  5. maya

    mencintai berarti merelakan untuk memupus harapan padanya? waduh!! padahal saya mencintai karena saya menaruh banyak harapan padanya. kayana beda jauh titiknya neh :d

    Balas
  6. meiy

    Posting disini ah…kali aja nyambuuung 🙂

    Transfigurasi 4

    Akan kubebaskan kemana arahmu
    mau berkelana? pergilah. sebab menahanmu hanya mendera jantungku
    mengembaralah sesukamu
    akan kubiarkan kau bebas lepas
    di jagad raya tak berbatas
    carilah, temuilah rembulan dan bintang-bintang atau komet-komet
    asal jangan kau terserap ke lubang hitam
    yang kan memutar-mutarmu
    meleburmu tak bersisa

    Mengembaralah
    carilah wujudmu

    Aku menunggu disini
    dengan kesabaran Dewi sri
    membulirkan padi.

    Lamreung, 15 Aug. ’04 – 02.35

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s