Arsip Bulanan: Januari 2008

Muslim, Kristen, dll, Sadarlah, Musuh Kalian Adalah Logika!

Sebenernya, rada males juga nulis topik ginian. Niatnya, menghembuskan napas perdamaian, eh, hasilnya tetep aja semburan kemarahan, percik kebencian, dan akhirnya, bara api permusuhan.

Mengapa perdebatan agama selalu saja terasa seru? Karena semua agama, sekali lagi semua agama, memang punya celah untuk diserang. Kisah di kitab suci misalnya, khususnya yang sudah saya baca; Al-Qur’an dan Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), ada yang tak logis.

Menangkis serangan terhadap ketidaklogisan itu, kata yang paling ampuh tentu saja seperti “Kalau Tuhan sudah berkehendak, apa yang tak bisa?” atau “Agama kok dikaji dengan akal, dengan hati dong kalau tidak mau sesat!”

Lha, kalau sudah bicara model begituan, yang memang ngga usah berdebat: end of discussion dong! Baca lebih lanjut

Pada Arus yang Memantulkan Bulan

Di setiap ruas waktu, kau di sana, tangan terentang menungguku datang, bersisian melangkah ke depan.

Akulah si ragu, si pemikir tak pernah sampai, si penanya tak kunjung tuntas, dikejar-kejar kekhawatiran bahwa kita tetaplah dua orang asing, yang akan kembali ke titik nol masing-masing, tinggal menunggu giliran. Baca lebih lanjut

Berilah Dia Ruang…

Betapa sulit sekarang ini untuk sekadar menemukan ruang, space, untuk mengelola sendiri kedirianmu. Sepertinya, semua budaya, norma-norma yang berlaku, bahkan keseluruhan dunia, sudah diset untuk menghempang langkahmu menemukan kekuatan dan keindahanmu yang unik, yang sesungguhnya.

Setiap hari, yang kita lihat dan pelajari adalah tentang membongkar dan mencabik-cabik orang lain. Kita menonton televisi, membaca koran, tentang politisi yang terlibat skandal, artis-artis yang dalam proses perceraian, dan kedua belah pihak merasa sama-sama tersakiti. Bahkan kita sendiri, kadang juga terlibat membicarakan orang lain, dalam aura negatif, yang membuatnya terburai dalam kepingan-kepingan. Baca lebih lanjut

After an end, comes another beginning

Never say never again. Sebisa mungkin hindari bersumpah, karena kau mungkin akan terpaksa melanggarnya. Jangan pernah meludah di depan orang ramai, sebab bisa saja kau tak punya pilihan lain, kecuali menjilatnya kembali, juga di depan orang ramai.

Butuh kekuatan untuk mempertahankan pilihan, tapi juga perlu lebih banyak keberanian – persisnya berani malu – untuk mengakui kau telah mengambil pilihan yang salah, dan menebusnya. Lagian, kalau emang bener cintamu lebih besar dari (ke) malu (an)-mu, kau mestinya cuma perlu malu untuk menunjukkan kemaluanmu, bukannya cintamu.

Pun, bila kita mendasarkan hidup pada apa yang dipikirkan orang lain, deuh, betapa tersianya hidup, dalam pendeknya ruas waktu.

Singkat cerita 😉 ngeblog itu ternyata benar-benar enak, dan itu (makin) kusadari justru ketika aku berjuang menjauhinya, dan gagal. Sakaw-nya berat, lebih berat dari sakaw-sakaw lain yang pernah kurasakan.

O, Blogosphere, aku berlutut menginjak janji dan harga diri, berilah aku hidup kembali, seribu tahun lagi…