Aku Mencintaimu, Tolong Tinggalkan Aku

“Letting Go” photograph by John Watson at photodoto.com

Aku pernah berpikir cinta itu sesuatu yang abadi, sesuatu yang kau simpan rapat-rapat dan tak akan pernah kau biarkan berlalu. Aku juga pernah yakin, bahwa aku akan selalu meyakininya begitu.

Kini terasa lucu juga, bagaimana arus waktu membilas semua asumsimu yang paling membatu. Selucu ketika menyadari bahwa salah satu pelajaran terpenting dalam hidup adalah melupakan, betapa kita hanya bisa menyelamatkan kehidupan dengan melupakan.

Lapisan-lapisan pemahaman dan kedirian, seperti slide show yang malas menggilir gambar, sampai gambar terakhir yang putih polos, belum sempat sekalipun tersapu kuas.

Kita menyaksikan, seperti semua mimpi, cinta pun sekarat di hadapan realita.

*****

Dari jendela ini, ditemani secangkir kopi, aku melihat sepasang pecinta. Cukup jauh untuk mendengar suara mereka, tapi aku bisa membaca geraknya. Seperti anak kecil, mereka sedang memainkan sebuah permainan; saling meminta untuk percaya, untuk percaya begitu saja.

Sampai juga ke sini kata-kata pecinta itu, lewat tangan si lelaki yang menunjuk-nunjuk ke dadanya, dan si wanita yang membalas dengan gestur yang sama.

*****

Jika kau lihat ke dalam sini, ke palung hatiku, kau akan melihat bagaimana angin bergegas melintasi sebuah ruang kosong, sinar matahari menghangatkan dindingnya. Di sana kubiarkan semuanya tumbuh jadi dirinya sendiri. Kuberi ruang dan kesempatan.

Tapi tak akan kukunci siapa dan apapun di sana. Kadang orang datang, tinggal sejenak, seperti pejalan yang ingin berteduh. Kemudian mereka beranjak, mencari rumah yang lebih permanen. (Harus) kubiarkan pergi, sebagian sambil berdendang, yang lain dengan meradang, memberi tahu dunia.

Karena aku bisa merasakan, bagaimana tiba-tiba tersentak bangun di sebuah ruang gelap, mencoba memanjat tembok dalam butanya gulita. Aku tau rasanya terkunci, tak dibolehkan beranjak pergi. Menyesakkan, putus asa, dendam, kalap, kalut, mati.

*****

Dua pecinta itu masih berdiri di situ, seperti bocah-bocah yang sedang bermain, berusaha menangkap, berharap untuk ditangkap, padahal mencintai adalah membiarkan pergi, membiarkan segalanya pergi.

Iklan

28 thoughts on “Aku Mencintaimu, Tolong Tinggalkan Aku

  1. venus

    mencintai haruslah membebaskan dan bukannya menahan kepak sayapmu untuk terbang?

    selamat datang di dunia nyata yang tak seindah untaian kata2 tentang cinta dan pembebasan…

    Balas
  2. agoyyoga

    Pabila cinta memanggilmu, ikutilah dia, walau jalannya terjal berliku-liku
    Dan pabila sayapnya merangkummu, pasrahlah serta menyerah,
    walau pedang tersembunyi disela sayap itu melukaimu…
    …………………..

    Cinta tak memberikan apa-apa, kecuali keseluruhan dirinya, utuh penuh,
    pun tak mengambil apa-apa kecuali dari dirinya sendiri
    Cinta tidak memiliki ataupun dimiliki; karena cinta telah cukup untuk
    dicinta,

    dari: Sang Nabi,

    Balas
  3. Hanna

    Karena aku bisa merasakan, bagaimana tiba-tiba tersentak bangun di sebuah ruang gelap, mencoba memanjat tembok dalam butanya gulita. Aku tau rasanya terkunci, tak dibolehkan beranjak pergi. Menyesakkan, putus asa, dendam, kalap, kalut, mati.

    Saya setuju dengan ini. Berada dalam ruang terkunci memang sangat menyiksa bathin.

    Balas
  4. Nieve

    mungkin emg bener ya cinta lain jenis itu nggak murni, karna kita nggak pernah rela melepaskannya padahal bisa ajah dia udah tersiksa bgt. dari ilustrainya juga keliatan kita sanggup melepaskan anak yang tentu aja kita cinta dengan murni.
    tapi aku tetap nggak suka posting ini, buat nangis!!!!!

    Balas
  5. ann!sha

    Betapa butuh lebih banyak waktu dan energi hanya untuk memahami puisi yang diprosakan atau prosa dari puisi diatas. Hari Kamis malam jumat yang biasanya jadi favorit saya jadi mendadak sedikit mendung. Namun, semuanya tak sia-sia. Setelah berkali-kali mencerna, visualisasi tulisan diatas menemui bentuknya juga dalam benak saya. Hasilnya adalah (sekali lagi) seorang laki-laki yang setengah telanjang. Web title yang ditambah dengan nama diri diatas menguatkan imaginasi itu. Dan mungkin, sekali lagi, para perempuan (baca:saya) harusnya berterimakasih karena akhirnya Nesiaweek merilis juga sila ke-3 nesisweekism.

    Tapi, kalaupun salah ‘membaca’ maaf-maaf aje je. ‘Pembaca’ prosa amatiran nih.

    Begini ceritanya.

    ***

    Walaupun secara kasat mata, aku (laki-laki) dalam tulisan diatas seperti sedang ‘menderita’ karena dekapan entah bekapan seseorang atau lebih (edan ga! laki-laki yang ‘sok’ laris nih kekna hahaha), kalau disimak lebih dalam dan luas, sebenarnya ini cerita tentang ego laki-laki juga. Setidaknya, ga jauh-jauh amat dari situ. Konon, laki-laki memang dilahirkan dengan naluri pemburu. Ketika dia berada pada posisi sebaliknya, sesaklah dia. Tak ada kelelakian disana. Dan akhirnya beranjak pergi juga dia dari para ‘perempuan pemburu’ itu. Padahal, sikap mengunci ‘pintu dan jendela’ itu adalah mekanisme pertanahan yang diketahui oleh kebanyakan perempuan, yang ‘merasa’ telah memiliki laki-laki itu. Perempuan tahu dan faham, bahwa kesetiaan hanya bisa dibuktikan oleh waktu namun ya, mau bagaimana lagi. Ketika perempuan jatuh cinta (pada seorang laki-laki), bagian terbesar dari otaknya yang bekerja adalah memori mengingat dan memanggil kembali. Semua detail diperhatikan dan tidak ingin ditinggalkan. Begitu derasnya bagian itu meminta bagian hingga tidak sadar dia lupa memberi ruang percaya pada laki-lakinya. Suatu kesalahan!

    Disisi lain, ambang ngeri atau tragedi, sepertinya sudah dinaikkan oleh laki-laki, sehingga cemburu, sakit hati, terlupakan, bukan lagi prioritas yang perlu ditangani khusus. Konon lagi, laki-laki hanya bisa memikirkan 1 hal saja pada saat yang bersamaan. Mereka berpikir mendalam, sedangkan kita perempuan berpikir meluas. Mungkin itu sebabnya, laki-laki tidak pernah bisa belajar mencintai. Mereka bisa menikmati apapun (termasuk menikah) dengan seseorang walaupun tanpa cinta, apalagi ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa cinta sejatinya tidak akan tergapai. Apa mau dikata? Kecuali menerima saja kan. Tapi sekedar memberi saran, memang sebaiknya ‘dijaga’ agar laki-laki kita jangan sampai bertemu dengan seseorang yang mungkin saja adalah cinta sejatinya.

    Inilah mungkin yang dianggap laki-laki sebagai hal yang sia-sia. Mengklaim seorang laki-laki sebagai hak ekslusif kita sendiri, sangat tidak ‘disukai’ oleh sebagian banyak laki-laki yang berbakat pemburu itu. Mereka menyukai lalu lalang orang dalam hidupnya dan memang harus kita akui, yang seperti itu tak dapat kita cegah. Daripada bete, anggap saja para ‘strangers’ itu (baik laki-laki maupun perempuan yang sekedar ‘singgah’ itu) sebagai sumber kekayaan sosial kita. Toh, mereka juga tak akan dikuncinya didalam. Pada saatnya, mereka akan beranjak pergi. Mungkin dengan dendang, senyuman atau sumpah serapah!

    Tentang idenya, walaupun jalinan kata postingan diatas begitu indah, semuanya itu sepertinya kok malah ga nyambung dengan prosa-puisi (hmm,kita kasih genre Proisi aja kali ya hahaha) sebelumnya. Baru saja kemaren nesiaweekism bicara mengenai Karena mimpi adalah cahaya, maka mati bukanlah bahaya, dimana : ….. imajinasi lebih bertenaga dari pengetahuan, legenda lebih perkasa dari sejarah, harapan lebih tangguh dari pengalaman, mimpi lebih kuat dari kenyataan, tawa adalah penawar ratapan, cahaya selalu merobek kegelapan, dan akhirnya cinta lebih abadi dari kematian …. eh, sekarang udah nyerah dengan ‘bekapan’ itu. Duh. Dasar laki-laki! 😉 Membuai duluan hingga ke awan, terakhirnya menghembaskan ke tanah, tanpa merasa bersalah. (hayah, salah siapa itu ya hahaha).

    Bicara tentang cinta dan melepas pergi, memang berkait erat dengan imaginasi dan mimpi, apalagi cinta jarak jauh, cinta online, cinta terlarang, dan cinta-cinta tak tergapai lainnya yang tak bisa diberi nama. Dan sebelum masalah yang dihadapi melebihi kemampuan solusi kita, ada baiknya di ranah impian itu kita juga melihat dua hal crucial yang wajib dijadikan pijakan agar tak terpental dan terhempas, khususnya bagi perempuan, yang hatinya sering kurang kalsium sehingga gampang retak dan patah.

    Ketika bermimpi, selalu always first thing to do adalah know yourself and know yourdream. Kenapa? Dalam menggapai dan kalau bisa mewujudkan mimpi, butuh energi. Energi yang kalo kita sadari tidak kita miliki by ourself, bisa bikin terengah-engah dan kehabisan bekal ditengah jalan deh. Percayalah, anda pasti ga ingin itu terjadi. Sesudah yakin punya bekal cukup, selanjutnya ya know yourdream. Kemampuan imaginasi kita dibutuhkan pada tahap awal ini. Konon, ketika kita berhasil mem-visualisasikan mimpi, baik secara intangible dalam pikiran maupun tangible dalam tulisan atau gambar, bisa memberi kita sinyal, apakah melanjutkan mimpi atau melupakannya.

    So, raise your concious! Nesiaweekism sila ketiga adalah live free or let die! Terlalu hollywood yah. Hmm, ato ini ajah : sila ketiga Nesiaweekism adalah Jangan Cengeng!!

    ——

    Wedeh, lebih panjang dari yang dibahas. Maaf ya Ga, keasyikan hehehe.

    Balas
  6. yati

    saya nanya ke temennya, katanya cinta itu membebaskan? kenapa saya tetap merasa sakit saat menyuruhnya pergi sebagai manusia merdeka? temennya bilang: karena kamu belum tulus.
    apa iya? 😦

    Balas
  7. Toga

    Venus
    selamat datang di dunia nyata yang tak seindah untaian kata2 tentang cinta dan pembebasan…
    Kelihatannya badai itu masih berlanjut ya, Mbok… 😦

    Yoga
    Kahlil emg maknyos pada “Sang Nabi”.

    Caplang
    Yup, jika sakit berlanjut, hubungi dokter.

    Ira
    Masalahnya, cinta yang tak sesungguhnya itu kadang lebih membahagiakan. :))

    Hanna
    Bener, apalagi bagi mereka yang klaustrofobia.

    Unai
    Mungkin karena membidiknya dengan darah dingin. 🙂 TQ anyway, itu sanjungan yang sangat mengena, walau aku tau cuma sedang disanjung, aku ttp ga bisa mencegah senyum kesenengan.

    Nieve
    Lha, maap sudah membuat menangis, tp sebenernya tangisan itu emg sudah menunggu tumpah. Postingan itu cuma memicu. Hayah!

    Regar
    Iya, Appara. Si Nisa ini memang makhluk berbisa. :)) Suka kali dia menyengat sampe bengkak!

    Yati
    karena kamu belum tulus… gitu katanya?
    tunggu aja sampe keharusan untuk melepas itu tiba pada kehidupan si pemberi jawaban ini.
    kalau dia ternyata meronta juga, bilang sama dia, “ternyata kamu malah lebih ngga tulus lagi”.

    😀

    Balas
  8. Ping balik: Sila Ketiga? (Tanggapan Seorang Pembaca Wanita, Keren Banget!) « Toga Nainggolan - Nesiaweek Interemotional Edition

  9. Totoks

    cinta memang tak harus memiliki, tetapi kalau memang dia bisa kita miliki kenapa harus dusuruh pergi sih bang? apa mungkin pemahaman cinta saya saja yg katro, sehingga ora mudeng-mudeng :p

    Balas
  10. Toga Penulis Tulisan

    Mas Totok, kula sih ngga nyaranin menyuruh pergi… itu cuma judul biar catching.. tp kalo dia emg mau pergi, ya biarkan.

    😀

    di sini lebih katro lagi kok.

    Balas
  11. meiy

    komen dulu sblm baca komen orang, biar tak terpengaruh hehe
    kau benar, tapi sulit banget untuk ikhlas membebaskan…

    “Kita menyaksikan, seperti semua mimpi, cinta pun sekarat di hadapan realita.” My God!

    Balas
  12. ordinary

    😆
    cuma bisa bilang… akhirnya ada juga yang bisa membante kemegahan rayuan pulau kelapa bang toga
    4 thumbs up buat mbak nisa

    but i do believe her word: laki2 itu membuai dulu ke awan lalu menghempaskannya ke tanah
    yang salah adalah hati yang bersedia menerima resiko itu

    oya jadi ingat kata2 b toga kemaren: cinta; bertarung tanpa pernah kalah
    😆
    padahal sebenarnya, menerima cinta maka bersiaplah untuk kalah
    kalah dalam menyerahkan egomu, menyerahkan jiwamu, menyerahkan memorymu, menyerahkan .. ya pokoknya dpannya menyerahkan lah

    *sory bang, ini bukan bentuk dukungan terhadap mbak nisa, coz mbak nis ga perlu dukungan, she is Ra.. Ra is in da house*

    Balas
  13. panda

    kata nisha: Bicara tentang cinta dan melepas pergi, memang berkait erat dengan imaginasi dan mimpi, apalagi cinta jarak jauh, cinta online, cinta terlarang, dan cinta-cinta tak tergapai lainnya yang tak bisa diberi nama.
    kataku: namanya cinta substitusi, atau substitusi cinta, sebab ia tak bernama dalam nyata. atau bisa juga simulasi cinta atau cinta simulasi. terserah kalian berdualah. hehe

    Balas
  14. kuchikuchi

    kedengarannya memang ga masuk akal, mencintai kok malah membiarkan pergi? tapi setelah kita mengalami sendiri, baru deh mengerti.. ah cinta memang bisa membuat seseorang jadi begitu bahagia, tapi di saat yang bersamaan, juga begitu gila

    Balas
  15. bedh

    bang kehilangan bukan seperti belajar naik sepeda kalau udah pandai….nggak akan bisa lupa caranya naik sepeda.
    kan udah ada motor sekarang ngapain juga masih mau naik sepeda huhuhuhu

    *bentar bang mau cari motor dulu
    nti aku balik lagi

    Balas
  16. zal

    ::bang Toga aku jadi curiga nih… kenapa ada kalimat kayak tepuk tangan
    “berusaha menangkap, berharap untuk ditangkap”
    sama yang ini
    “Membuai duluan hingga ke awan, terakhirnya menghembaskan ke tanah, tanpa merasa bersalah”

    tapi kalo ini memang mimpi, ini sungguh suatu isyarat yang indah :
    “berusaha menangkap, berharap untuk ditangkap”
    sebab “apa yg sesungguhnya hendang ditangkap, sebenarnya yang ditangkaplah yang menangkap”
    kek film “kejarlah daku kau kutangkap” akh lupa ini tentang cinta ya… 😆

    Balas
  17. Farhan

    ilustrasi itu kena banget. cinta sejati adalah cinta yang sanggup melepas pergi. cinta yang mempertahankan sebenarnya cuma buah egoisme.

    tulisan dengan perspektif baru. cool.

    Balas
  18. Ping balik: Finally, Nesiaweek comes to an end… « Toga Nainggolan - Nesiaweek Interemotional Edition

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s