Redefine Nesiaweekism: Tebar Pesona, Apa Salah? (Daripada Tebar Teror?)


Di negeri ini sekarang ada penyakit kronis. (Korupsi? Yang ini sih udah kebanyakan dibahas, padahal yang perlu itu diberantas). Buruk Sangka! Begitu parahnya, sampai berbuat baik pun orang sekarang takut. Ntar malah dikira tebar pesona, atau ada maunya.

Bila tengah malam di tempat agak sepi, mobil atau motor Anda mogok, lantas ada seseorang yang menawarkan bantuan, bukannya senang, Anda malah bisa-bisa makin ketakutan. Sebaliknya bila pada malam lain Anda melihat mobil atau motor orang lain mogok, Anda berpikir dua kali sebelum mendekat menawarkan bantuan. Ntar gw diteriakin rampok lagi. Cukup parah kan?

*****

Bahkan di sini, di ranah maya ini, buruk sangka itu pun tumbuh dengan sangat sehat. Terlalu “sehat” malah, hingga cenderung obesitas.

Halah, kerja dia kan tebar pesona, kasih komen di sana-sini. Kelihatan banget kurang perhatian, haus popularitas dia itu.

Lho, bukannya kesediaan komen di sana-sini itu, salah satu ilustrasi paling pas tentang hakikat hubungan antarmanusia atau human relationship? Perlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan.

Bila Anda ingin banyak orang berkomentar di blog Anda, ya mulailah berkomentar di banyak blog orang lain. Atau kalau mau lebih jauh, bila Anda ingin ada yang membaca posting Anda secara cermat dan lantas dengan antusias berkomen panjang lebar di sana, ya lebih dulu bacalah posting orang dengan cermat dan dengan (sendirinya Anda akan) antusias berkomentar panjang lebar.

“Saya sudah melakukannya, tapi feedback yang kudapat ngga sebanding”.

Berarti kurang banyak! Lagian, kalau semua benih yang ditebar petani tumbuh dan berbuah, lha semua orang juga mau jadi petani. Lantas siapa dong yang jadi konglomerat busuknya?

“Ah, saya ngga butuh itu semua kok. Saya menulis bukan untuk dibaca orang. Mau ada yang komen atau tidak, aku ngga peduli”.

Salut, Anda sudah mencapai level kemanusiaan para sufi, atau Sang Buddha Sidharta Gautama. Saya masih jauh dari sana.

Pertanyaannya, jika memang untuk diri sendiri, kok mesti nulis dengan koneksi internet yang harus dibayar cukup mahal itu? Bagus juga di Notepad (dengan asumsi MS Word yang asli ternyata mahal juga).

Jauh di dasar kedirian kita, diakui atau tidak, kita adalah makhluk kesepian; butuh perhatian, kasih sayang, kepedulian, pengakuan. Sebagian besar tindakan kita didorong oleh motivasi itu. Juga mereka yang kemudian melakukan tindakan menjengkelkan, bahkan teror, pada dasarnya adalah sedang dalam upaya meraih perhatian itu, hanya saja caranya salah.

Sentuhlah tukang teror itu dengan lembut, kasih sayang, dan perhatian… Jangan kaget, bila di hadapan Anda seorang pembunuh berantai pun akan menitikkan air mata. (Wartawan yang punya pengalaman cukup di wilayah liputan kriminal, akan mengerti betul fenomena ini).

*****

Jadilah diri sendiri! Hwadoooh! Betul-betul capek aku mendengar kalimat ini, saking seringnya. Betul, tapi kadang-kadang. Apa kalau aku saat ini seorang pecandu narkoba, yang butuh sabu 1 gram setiap minggu, lantas aku harus menerima kenyataan untuk menjadi diri sendiri?

Lho, saat make itu kamu sedang tidak jadi dirimu sendiri.

Bah, jadi kapan aku jadi diriku sendiri? Kalimat itu, be yourself no matter what they say, sebenarnya sesuatu yang agung, namun belakangan seringkali mewakili perasaan apatis, kemalasan untuk beranjak naik ke level kehidupan yang lebih baik.

Beuh… Kok udah panjang aja ni tulisan… Pokoknya, tebar pesona itu ngga masalah, jauuuuh lebih baik dari menebar teror. (Halah, komparasinya itu maksa banget yah!) Menjadi menyenangkan, to be nice person, bila dilatih, akan menjadi karakter kita yang sebenarnya, dan akhirnya menjadi diri kita, sesuatu yang kamu banget. Ra ene rugine toh? (Batak sok Jawa gini deh jadinya).

Dunia yang tua ini sudah kelelahan dengan manusia-manusia yang tak punya kepedulian satu sama lain, padahal mereka sama-sama butuh kepedulian. Lihatlah aku berpanjang lebar, karena aku peduli padamu. (Nah, kalimat terakhir ini contoh gombal yang kurang berkelas). Padahal yang ingin disampaikan cuma itu, perlakukan orang lain sebagaimana kau ingin diperlakukan orang lain.

Reciprocal, atau balas-membalas itu asyik lo, misalnya dalam berciuman, berpelukan, bahkan bersetubuh. Itu baru hal-hal fisikal, apalagi dalam domain psikologis; saling perhatian, saling percaya, saling mencintai, waduh, ngiler aku…

Tapi juga akan sangat destruktif kalau diterapkan menjadi saling memperkosa, saling menggigit, saling curiga, saling mengonggong, saling meneror, atau saling menjambak.

Tapi ada satu aktivitas yang belum bisa kugolongkan konstruktif atau destruktif; saling menghisap… Give an opinion please…

Iklan

46 thoughts on “Redefine Nesiaweekism: Tebar Pesona, Apa Salah? (Daripada Tebar Teror?)

  1. Sawali Tuhusetya

    Itulah ironi *halah sok tahu nih* yang tak henti2nya berlangsung di negeri ini Bung Toga, hehehehe πŸ˜€ orang-orang yang ingin berbuat baik justru dicurigai punya pamrih. Makna tersiratnya: “Marilah kita buat bangsa ini brengsek bersama-sama!” :mrgreen: Ajakan fatalis yang ironisnya lagi justru disambut dengan gegap gempita. OK, salam.

    Balas
  2. Pandapotan MT Siallagan

    hehe. ternyata semua orang gila popularitas ya. para sastrawan pamer tulisan-tulisannya yang dimuat di media, pamer buku dll. aktris pamer dengan paha mulus dan dada montok. aktor pamer dengan ‘sok’ cool. penyanyi pamer dengan suara dan album. inilah penyakit pop kultur yang makin kronis itu. aktualisasi diri sebenarnya intinya. tapi macem-macem ujungnya. hehe. horas semua…!

    Balas
  3. giantrangkong

    Di jaman yang serba informatif ini prinsip ‘sedikit bicara banyak kerja’ rasanya sudah tidak cocok lagi. Sudah saatnya dirubah menjadi ‘banyak bicara banyak kerja’. Jadi perbanyak postingan dan juga komen. Hidup nge-blog….

    Salam kenal dan terima kasih atas kunjungannya.

    Balas
  4. bachtiar

    saya jarang komen ke blog2 lain. hehe….

    yang penting sih kalau membuat tulisan untuk sekedar mendapatkan perhatian dari orang lain itu bisa bermanfaat (bagi kita sendiri khususnya).

    masalah komen gak terlalu penting sih , sedikit gak papa asal efektif dari banyak tapi cuma samfah doang.

    Balas
  5. passya.net

    kalo komen sana sini (komen pertamax, petromax sampe hetrik ke laut aje..) sih masih wajar lah..
    cuma yang kurang sreg itu adalah, ketika posting dengan tautan kemana-mana (bisa puluhan malah…) hanya sekedar ‘menautkan’ tanpa relevansi yg jelas dgn postingannya. gak ada memang aturan baku tentang ini, cuma ya dari saya pribadi kurang sreg aja…. menurut lae gimana?

    Balas
  6. sakuralady

    Masa dianggap haus popularitas sih?
    Aku sih ga berpendapat gitu, tapi malah lebih melihat hal itu sebagai hubunga komunikasi 2 arah walaupun tidak direct spt ngobrol. πŸ™‚

    Balas
  7. agoyyoga

    pertama jangan menuntut apa yang tidak pernah kamu berikan, if you never give don’t ever think you will get.. kedua manusia butuh recognition.. kata Maslow aktualisasi diri…

    ya udah di manfaatkan saja …

    Balas
  8. deKing

    Saya spesifik mau menyoroti masalah berburuk sangka di atas Bang karena (seperti halnya korupsi) masalah komentar dan tebar pesona sudah dikomentari rekan2.

    Bang, memang susah untuk tidak berburuk sangka karena sepertinya batas antara kewaspadaan dan buruk sangka sangat tipis, sama halnya dengan batas baik sangka dan terlalu percaya

    Balas
  9. Lavender

    eeeemmm…
    iya juga sih.
    kayaknya niat terselubungku ngasih komen di sini emang sedikit banyak karena pengen nampangin nama aja, hehehehe
    gpp dunk tebar2 pesona dikit, daripada tebar teror seperti yg bang toga bilang :p

    Balas
  10. rozenesia

    Hmnnn… Tebar pesona di internet lewat blog an komentar, misalnya.. Tentunya dikenal oleh saentero internet saja, dan pastinya banyak mengundang buruk sangka pula. Ah, nggak cuma begini-begitu, tindakan apapun yang kita lakukan, pasti mungkin ada aja yang berburuk sangka. 😦

    Well.. Tebar psonanya plus info jati diri selenkapnya, pakai naa dan alamat blog di kartu nama, biar terkenal pula di dunia selain internet. πŸ˜†

    Balas
  11. iman brotoseno

    memang sebenarnya klise banget, mengatakan ngeblg hanya buat nulis dan nggak peduli dengan komen. Padahal sebagai manusia tidak pernah bisa sendiri, selalu butuh pengakuan dari orang lain dan selalu ingin menjadi ‘ center of universe ‘ dalam alam bawah sadarnya. Blog adalah sebuah brand / product yang harus dirawat dan dibina relationshipnya dengan customer..
    Tentu saja selain tebar pesona di blog ini, saya juga berharap bisa saling ‘ menghisap ‘ gagasan…

    Balas
  12. mia

    bener om, mendingan tebar pesona daripada tebar teror.

    dan penjelasan ttg reciprocal-nya sungguh mudah dimengerti loh… palagi yg saling berpelukan, berciuman, heuheuheu…

    *ikutan tebar pesona*

    Balas
  13. Thung sin (gelleng)

    Terlepas dari sepanjang dan selebar apa yg lae utarakan diatas,buatku itu suatu tulisan yang padat,yg perlu ku hayati,apalagi setelah sampai kepada kesempulan dari tulisan itu sendiri,perlakukan orang lain,sebagaimana anda ingin diperlakukan orang lain.saya rasa inilah salah satu inti dari keadilan itu.woooowwww.

    Balas
  14. Toga

    Sawali
    β€œMarilah kita buat bangsa ini brengsek bersama-sama!” :mrgreen: Ajakan fatalis yang ironisnya lagi justru disambut dengan gegap gempita.
    Hehe, Pak Guru yg satu ini memang selalu menemukan cara pengungkapan ide yang presisi.

    Pandapotan
    Dan kebutuhan akan pengakuan itu sesuatu yang manusiawi kan Lae. Selama dalam batas kewajaran, sehat-sehat dan sah-sah aja itu.

    Venus
    Saling menghisap… mungkin perbedaan daya hisap yang menentukan siapa yang meraih manfaat lebih.

    Ahmad
    Sama! Aku pun akan makin sering komen di situ! πŸ˜€

    Reader
    ……… jadi berpikir aku……….

    Giantrangkong
    Banyak kerja dan banyak bicara. Itu Soekarno sekali, dan aku suka!

    Bachtiar
    Berarti Bapak menekankan pada aspek kualitas daripada kuantitas yah..

    Passya
    Sama Lae, kalo sudah begitu kali pun tak betul lagi itu. Udah promosi namanya ituh

    Sakuralady
    Lagian akan selalu saja ada orang beranggapan gituh. Yg penting go on aja, lady.. πŸ˜€

    Agoyyoga
    pertama jangan menuntut apa yang tidak pernah kamu berikan… Quote kereen!

    deKing
    ……. dan konon bermain2 di garis batas nan tipis itulah keasyikan terbesar dalam hidup ya Pak.

    Lavender
    Justru Anda yang tidak tebar pesona. Jadi malu akuh!

    rozenesia
    Trus di kartu nama ada tulisan ADUHAI=Agen Dunia Akhirat, bisa mengurus apapun.

    Iman Brotoseno
    saya juga berharap bisa saling β€˜ menghisap β€˜ gagasan… Dapet comment of the week. πŸ˜€

    Venus (Lagi)
    Masi penasaran si Mbok… Susah itu, soalnya harus pake praktek. *Ditimpukin pake bakiak*

    Mia
    dan penjelasan ttg reciprocal-nya sungguh mudah dimengerti… (apalagi bagi yang punya pengalaman)

    Thung sin
    Betul Lae, banyakan kita mau enaknya aja… Itulah jadinya orgasme sendiri. Bah!

    Balas
  15. fitri mohan

    “diri” itu menurut saya nggak tunggal. ada banyak dimensi yang membuat “diri” itu menjadi dirimu atau diriku atau dirinya. ketika ada orang bilang, “jadilah dirimu sendiri”, saya kira itu tidak mengacu pada diri yang tunggal. tapi pada konsep diri (yang kompleks) yang berkesadaran dengan segala sifatnya dan karakternya. saya percaya setiap manusia pada dasarnya adalah makhluk yang baik dan positif. tidak mungkin ada orang yang membunuh dengan kesadaran bahwa perbuatannya itu benar. pasti ada sesuatu yang bergejolak di dalam kesadarannya. hal ini nggak berlaku buat orang gila atau orang yang hilang kesadarannya ya. πŸ˜€

    kalau ada contoh pengguna narkoba yang selalu butuh sabu 1 gram seperti yang dicontohkan akang toga diatas lalu dikatakan bahwa dia sedang menjadi dirinya sendiri, ya benar juga. dia menjadi dirinya dalam dimensi yang lain. tapi pasti ada kesadaran yang paling dalam dari si pengguna narkoba itu bahwa apa yang dia lakukan itu merugikan. inilah yang mungkin bisa dikatakan sebagai dirinya yang sebenarnya. yang berkesadaran itu tadi. masalah padanya barangkali terletak pada soal kemauan yang besar untuk memerangi kesalahan yang sedang terjadi pada dirinya.

    menurut saya pribadi, kata-kata Jadilah Diri Sendiri itu masih relevan hingga sekarang. baik dalam ranah blog maupun dunia nyata. capek sih, bener kata kang toga, capek dengerinnya. apalagi melaksanakannya. πŸ˜€ tapi, kalau mau komen di blog orang nggak jadi diri sendiri, gimana dong? ntar tebar-tebar pesonanya kan nggak optimal.hahahaha.

    ohya, saya setuju juga tuh soal “berilah kelembutan”. saya sih dari dulu sukanya yang lembut-lembut. πŸ˜€

    loh kok udah panjang banget sih komentarku? o well, i guess it’s my kind of reciprocal thingy. nice to know you akang. thanks udah mampir di blogku.

    Balas
  16. ordinary

    karena koment serius yang bisa dipikirkan oleh otakku yang lemot sudah di pajang disini
    maka….. komentku jadi..
    Tambah lama tambah banyak koment yang mampir disini emm kayanya feedback dari kebanyakan jalan-jalan dan kasi koment bang πŸ˜‰
    πŸ˜†

    ups tapi serius koq, aku mang senang kalo ada y koment post ku secara serius.. ada y bisa ku pelajari darinya, tapi soal.. banyak2ak komen ato ngarap banyak dikunjungi..???? waduh.. kayanya engga deh bang (aku aja sering begidik sendiri liat jumlah koment di blog salep wkakakakaa.
    *terlalu egois aku yah*

    Balas
  17. Toga Penulis Tulisan

    #May
    Sebenarnya ini sebuah jawaban ata pertanyaan seorang teman “di luar sana”. Kok bisa ya komen di sebuah blog itu mencapai ratusan?”

    Sepakatlah kita. Kalo mau dapat komen serius, lebih dululah kita komen serius. Kalo mau dapat komen seratus, berkomenlah paling tidak dua ratus limpul. (Limpul itu Medan kali yah… :D)

    Aku pun tak mau membicarakan mana posting bermutu mana nggak. Itu akan sangat-sangat relatif kan? Juga soal mana posting penting mana yang nggak. Semua penting bagi yang berkepentingan. Ngga boleh dong kita pake ukuran kita untuk menilai produk orang lain.

    Mungkin May, menjadi seleb itu pun sebuah bakat ya.. πŸ˜€ Aku juga sama tidak berbakatnya denganmu.

    Balas
  18. ann!sha

    Sebelumnya, saya mohon maaf sekaligus mohon pencerahan dari penulis, karena redefinisi yang dibuat masih ‘sedikit’ mengganggu nyenyak tidur saya (halah, contoh gombal juga nih).

    Saya setuju belaka bahwa mereka yang tebar pesona atau tebar teror sama2 golongan orang yang haus perhatian. Hanya saja, begitu miripnya motivasi itu, kadang orang yang melakukan tebar pesona tidak sadar (atau sadar tapi menutup mata?) juga melakukan tebar teror. Jangan ge-er, perempuan ada juga yang melakukan tebar pesona, malah mungkin lebih ‘kejam’. Hanya saja, teror yang ‘terikut’ disana tidak menimbulkan ‘korban’ berarti. Pasalnya, sasaran perempuan dalam menebar pesona (dan teror) pastilah laki-laki (sebagian besar sih gitu). Yaitu makluk yang dikaruniai hati berkalsium tinggi sehingga cepat sembuh jika terluka. Lagian, mereka dalam ‘bermain’ jarang melibatkan hati, kalaupun iya, cukup sepertiga aja kan yang dipake.

    Beda dengan perempuan, yang unfortunately, most of them, penganut faham totalitas. Sebagian tidak bisa membedakan, mana rasa kagum mana rasa ‘jatuh cinta’. Alih-alih menyuruh mereka juga meniru laki-laki supaya memelihara tiga hati (jatuhnya sepertiga juga kan), kenapa tidak berhenti memanfaatkan kelemahan ini? Pesona yang ditebar itu bisa jadi menteror ‘hati’ mereka, yang ‘terlanjur’ dipersembahkan secara ‘total’ tadi. Halo, para korban tebar pesona, adakah yang bersedia speak up?

    Ngono yo ngono, ning ojo ngono po’o πŸ˜€

    Tapi saya salut, so far, teori anda tentang reciprocal itu, tebar komen menuai komen balik atau tebar komen menuai hit, terbukti hari ini. Deretan komen canggih diatas betul2 bentuk apresiasi yang jarang dinikmati kebanyakan blogger, hingga anda ‘rela’ memberikan award comment of the week pada dua komen yang memang bener2 hebat πŸ™‚

    Tulisan anda, seperti biasa, selalu indah dan ‘cantik’. Terlepas dari ‘gangguan’ tentang idenya, jujur, saya selalu menyukai hasil ketikan anda. Mudah2an, saya juga berkesempatan menikmati keahlian anda yang lain, memetik gitar akustik mungkin πŸ˜‰

    Salam! Oh ya, menurut terawangan saya, anda bakat jadi seleb kok. Suwer ewer ewer deh ….

    Balas
  19. stey

    baru kali ini saya liat ada blogger yang nyempetin jwb komen mpe panjang banget kayak gini..soal tebar pesona, kadang saya agak ragu ngasi tempat buat komen di blog saya soalnya saya emang ga pengen jadi besar kepala kalo suatu saat komen2 itu jadi banyak kayak di blog anda ini..saya lebih suka bermain dalam gelap, sambil walking2 ke tempat2 sperti ini, *seperti pergi ke starbucks*

    Balas
  20. leny

    halo no presensi gue =25 hehehe, ini hari pertama gue travelling blog dan pas sampai sini ternyata temanya eksistensi tulisan dengan komen.

    ada yang menyakiti mu di dunia jejaring inikah?

    muda2han komentra ini di asosiasikan keinginan berteman. chayo man…chayo (semangat).

    Balas
  21. Totoks

    sering kali saya kadang merasa kurang PD kalau mau meninggalkan komentar, malu ntar kalau dibalas komentar di blog saya yang ndak bermutu itu πŸ˜€
    buat saya tebar pesona adalah wujud silahturahmi… buktinya saya yg rumahnya di desa terpencil dipelosok Malang bisa bersahabat dengan Bang Toga yang rumahnya mungkin juga diujung berung πŸ˜€

    Balas
  22. HANNA

    Tulisan bagus. Saya link blognya yach.

    Ya, jadilah diri sendiri. Tentang tulisan, tanpa koment pun saya tetap akan menulis. Karena pada dasarnya saya menulis untuk berbagi, he he he.

    Balas
  23. Acho

    merasa menjadi diri sendiri itu persoalan mudah, cuma masalah persepsi subjective yang ga lepas dari bumbu2 mood. Yang sulit itu, menentukan seperti apa “diri” kita itu sebenarnya. mungkin belum banyak orang yang mampu mengenal “dirinya”, kalo orang filsafat bilang “orang yang mengenal dirinya maka mengenal tuhannya”, ini refleksi dari betapa dekatnya kita dengan tuhan.

    *benerin sorban, lanjutin niup suling, uler kobra nya joged*

    Balas
  24. unai

    “berciuman, berpelukan, bahkan bersetubuh. Itu baru hal-hal fisikal, apalagi dalam domain psikologis; saling perhatian, saling percaya, saling mencintai”

    Loh Loh Bang..kok jadi begini :P…hehe tebar pesona di sini ahhhh

    Balas
  25. crushdew

    tebar pesona? boleh jadi dan ga ada salahnya..ato lebih tepatnya salah sendiri kalo ada yang kecantol..hehehehe…
    kecantol sama tulisannya, kecantol sama ide-idenya, kecantol sama kegilaannya..walah..

    *penulisan lugas, apa adanya..ngeri karena menarik perhatian bagi banyak pembacanya..salut bang Toga…terima kasih dah maen ke blogku….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s