Toleran, Apakah Juga Kepada yang tidak Toleran?

Bisa terdengar seperti jiwa yang tua, tapi kadang tampak terlalu muda bahkan untuk sekadar jatuh cinta. Menulis adalah menyingkap yang tersembunyi, menggurat jejak diri, merekam sejarah rasa, seabadi prasasti.

Bohong jika kubilang aku tak peduli ada yang membaca atau tidak, karena seperti setiap gelombang suara berkehendak sampai ke gendang telinga, betapa pun samar getaran yang dibuatnya, begitu juga setiap huruf, titik, dan koma, tentu ada untuk dibaca, apakah mengendap di hati atau sekadar singgah di mata, itu lain perkara.

Maka kusambut kau di sini, apapun agamamu, lagi dibenci atau sedang mencintai, apakah kau kagum atau justru mendadak mual, apakah kau setuju atau buru-buru ingin membantah dengan bernafsu.

*****

Ternyata udah lama juga ngga jalan-jalan, kebetahan siy nge-blognya. Mau cari inspirasi dulu nih, liat-liat udara segar, emang bisa gitu udara diliat?, menatap kolong langit yang masih relatif bening birunya, ntah di mana itu, masih dipikirkan.

Jadi, bakal off nih beberapa hari, Senin udah kambek, dan the saddest part is, aku ngga berani ninggalin ini rumah tanpa memasang gembok bernama moderasi itu. Gapapa ya, komentarmu muncul dalam siaran tunda, kayak liga Inggris (EPL) itu.

*****

Sebagaimana tak mungkin kau sukai semua orang, begitu pula mustahilnya semua orang suka padamu. Toleransi akan menjadi obat penawar bagi semua perbedaan.

Dan pertanyaan yang akan kubawa bersama liburan ini, apakah harus toleran juga kepada mereka yang sama sekali tidak toleran?

—————————————————

Dan kau, pembajak, luar biasa determinasimu. Aku mengaku kalah. Serius. Aku akhirnya memberlakukan moderasi, walau sementara. Nikmatilah keberhasilanmu itu, menyeringailah dalam kemenanganmu.

Sebelum aku sadar jiwamu sakit, aku menawarkan uluran tangan sebagai kawan. Tapi memang kalau sudah di stadium itu, keberadaan seorang kawan tak lagi memadai. Bantuan ahli semacam psikiater sangat diperlukan.

Semoga lekas sembuh ya…

Iklan

13 thoughts on “Toleran, Apakah Juga Kepada yang tidak Toleran?

  1. hoek ga login

    wah, fostingan sambutan yang mbikin saia ngrasa nyaman untug meninggalkan sebuah fertamax disini :mrgreen:
    but, overall, smoga dikau bisa menemukan insfirasi itu dan cefad balik! saia tunggu fostingan berikudnyah *fasang subscribe* :mrgreen:

    Balas
  2. almadman

    Pertanyaanmu membuatku berikir berkali-kali Lae, haruskah kita toleran terhadap orang yang tidak toleran..

    Semoga saja akan ada satu atau dua komentar yang bisa kujadikan pencerahan atas pertanyaan sulitmu itu Lae.

    Sementara itu, selamat jalan-jalan. Semoga menemukan pencerahan dalam jalan-jalanmu ^_^

    Balas
  3. Robert Manurung

    Ya, kalau “kekuatan” orang itu “di bawahmu”.

    Kalau dia di atasmu, itu bukan toleran namanya tapi tunduk. Kalau setara, ngapain memberi makan singa lapar ?

    Balas
  4. may

    di nikmatin ajah bang.. orang2 kaya mereka… justru dari situ kita bisa belajar melihat sebarapa jauh kah jarak kita dengannya (atau malahj kita bersisian??)
    sabar bang..sabar *sambil ngasih klewang* 😆

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s