Di Titik Ini…

Apa yang membawaku melambung meninggi–ketika celah hatiku dilebarrenggangkan oleh sesuatu yang baru, cinta yang tak pernah direncanakan–juga merobek tabir itu, dan aku berhadap-hadapan dengan sebuah realita kekosongan, makin pekat, keputusasaan yang semakin mentah. Bahkan di jantung kebahagiaan yang kulupa telah pernah ada, aku jatuh, terjun terjerembab tanpa bunyi mengaduh keluh.

Aku bayangkan, di sana ada sebuah titik, di mana kedalaman adalah puncak langit, dan ketinggian adalah palung samudera yang kehabisan cahaya, sebuah titik ketika nikmat berkepanjangan dan derita tak berkesudahan sudah makin tak bisa dibeda, sebuah titik di mana aku menanjak tetapi juga tergelincir, tercabik jadi serpihan, tinggal bersama tiada, tiada selain ampas sisa diri yang manis , duduk hampa di puncak pusaran semesta, hanya mengandung angin matahari yang bersuara; wayang yang dimainkan Mahadalang.

Tapi kini, hatiku disentakjagakan tatap sepasang mata, oleh sentuhannya, oleh tiada sentuhannya. Penembusan hasratnya menyeretku ke sebuah tingkat keindahan, level rasa yang tak pernah kukira ada sejak lama. Di luar buta mata dunia, di seberang ragam butuh hidup sehari-hari, terpisah dari dahaganya si penyendiri yang malu-malu.

Di sini, berhadap-hadapan dengan tubuhnya, tiada hal semacam menang dan kalah, penaklukan dan ketertundukan, hanya ada memeluk… dan melepas pergi. Aku, kau, akan menarik diri, mundur lagi ke titikku-titikmu bertolak, merasai lagi sesuatu yang begitu perkasa, jarak yang tak bisa ditera membentang di antara dua hati, menyalakan harap, suatu saat akan jadi musafir yang menjejakinya kembali.

Berharap, bermohon, menghiba, dan putus asa; jalan ini tak akan punya rute untuk mengantarku, memandumu, keluar lagi dari kegelapan.

——————————————–

Jangan diarti-artikan, apalagi dihubung-hubungkan. Siapa tau aku cuma sedang mencoba-coba arsitektur kata, tanpa pernah tahu, bangunan rasa apa yang hendak kutegakkan. 😉 *wink*

Iklan

17 thoughts on “Di Titik Ini…

  1. venus

    lhah, ini lagi. mana ada orang nulis sesuatu seindah dan seperih ini tanpa tau artinya? yang dalem2 kyk gini biasanya justru lahir dari kedalaman jiwa, pekat oleh segala yang kita tau ada tapi selalu kita coba ingkari dan lari darinya.

    ini pasti waktu nulis rasanya kek yg kesurupan ya, bang? sret sret sret, jadi! ya kan?

    boleh nangis gak, bang? boleh gak? huaaaa…..

    Balas
  2. jejakkakiku

    *speechless*

    but this one really nice to be read, as always 🙂
    dan jalan yang diceritakan diatas dinamakan lingkaran setan. Karena begitu masuk didalamnya, tidak akan bisa kluar lagi. Setiap kali berusaha untuk keluar, selalu balik lagi ke titik awal…

    Dan mungkin seperti itulah rasanya mencintai seseorang 🙂

    Balas
  3. Acho

    Buatku, ini sebuah tragedi dari sebuah penantian. Ini juga yang lagi aku rasakan bang.. hiks hiks

    *Hei acho, siapa yg suruh curhat? hah? Hah? HAH??*

    Balas
  4. venus

    cuma bisa cekikikan baca komen tmn2 di atas: cintabening yg pengen lompat dari lantai 2, yati yg ga ngerti, annisha yg gak mau ditakut2i…wihihihi……

    kayaknya cm saya yg ngerti deh :p

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s