Viva La Mariposa; Siapa Sebenarnya Pahlawan?

untuk Ibu yang melahirkanku

Pahlawan, entah sejak kapan, selalu identik dengan kegagahperkasaan, padahal menggagahi atau memperkosa sama sekali tidak menggambarkan hal mulia itu, dan kegagahperkasaan, juga entah sampai kapan, seperti menjadi milik eksklusif kaum lelaki sebagaimana pemerkosaan. Dan kata itu, pahlawan, memang berjenis kelamin lelaki, karena di kamus kita, belum tercantum entri pahlawati.

Lantas tak adakah panggung yang tersisa buat para wanita, simbol keindahan dan kelembutan itu, untuk mengubah arah sejarah? Ada, tentu saja, “hanya” dengan syarat: mau melawan! (Dan ini yang sering jadi persoalan, entah siapa yang mendoktrinasi makhluk berpayudara ini; bahwa tunduk adalah bukti cinta.)

Melawan, haruskah dengan ikut menghunus pedang dan memanggul senjata? Bila memang diperlukan, kenapa tidak? Malah jangan cuma dihunus dan dipanggul dong, keduluan ditebas dan ditembak musuh ntar; pastikan senjata itu bekerja.

Namun dengan atau tanpa senjata, selama mau melawan, wanita akan jadi pahlawan. Ada Cut Nya’ Dhien (dkk) di satu sisi, dan Dewi Sartika (cs) di sisi lain. Keduanya dihormati, keduanya mendapat taburan bunga di pusaranya.

Nuh jauh di Dominika, juga pernah (dan selalu) ada tiga wanita, Mirabal bersaudara: Patria, Minerva, dan Teresa. Mereka pahlawan bagi bangsanya, juga bagi semua orang yang berjuang untuk kebebasan dari rasa takut. “Hidup bukan sekadar bertahan hidup, tetapi juga perlawanan demi kebebasan,” kata mereka.

Saat banyak orang, termasuk pria, bahkan terlalu takut untuk sekadar menyebut nama Rafael Trujillo, diktator yang mencengkram negeri itu, ketiganya malah menggerakkan perlawanan di bawah tanah. Keberanian yang mengantarkan mereka kepada kematian.

Tapi justru melalui kematianlah pahlawan akan hidup abadi sebagai inspirasi. Las Mariposas, si kupu-kupu, julukan buat ketiganya yang tadinya hanya berupa bisik-bisik di tengah rakyat yang gelisah, berubah jadi pekik kemarahan–Viva Las Mariposas!–yang kemudian menumbangkan sang diktator, hanya enam bulan setelah kaki tangannya mengeksekusi Mirabal bersaudara.

Pada akhirnya, kepahlawanan memang tak ada urusan dengan jenis kelamin; tetapi tentang keberanian melawan, dan kesiapan menyerahkan kehidupannya sendiri untuk sesuatu yang diyakininya lebih besar dari itu: kehidupan, kebebasan, dan masa depan orang lain.

Karena itu, setiap ibu adalah pahlawan, mempertaruhkan hidupnya demi kehidupan lain, dan ketika lelaki tidak bisa menghargai itu: dialah titisan Trujillo sang Tiran itu, dan untuk tiran, pedang dan senjata kadang harus dibuat berguna.

Dan bayangkan…

… dunia akan punya arah baru, ketika wanita jadi pahlawan tidak saja ketika mengerang mengucur darah itu, tetapi juga di saat lain. Bisa dimulai dengan hal-hal “sederhana”; misalnya dengan menolak secara lembut–tetapi juga dengan harga diri seorang manusia yang utuh–bila Anda sedang tidak siap untuk disetubuhi suami malam ini. Anda mencintainya kan? Nah, kalau begitu, jangan biarkan dia menjadi pemerkosa istri sendiri. Jadilah pahlawan untuknya, untuk dirimu sendiri, dan untuk wanita di seluruh sudut dunia.

————————————————

Up date: Baca juga di sini kisah seru tentang seorang perempuan cantik yang menonjok sampai berdarah, hidung lelaki yang menggerayangi bokong dan payudara penumpang KRL.

Kisah Mirabal bersaudara sudah dinovel dan difilmkan. Belum pernah baca novelnya, yang ditulis Julia Alvarez, padahal katanya jauh lebih bagus dari filmnya yang sudah kutonton: In The Time of Butterflies. Salma Hayek nan jelita, berperan sebagai Minerva Mirabal.

Tulisan ini juga sebuah dedikasi kecil untuk hari pahlawan 10 November.

Picture taken from here

Iklan

24 thoughts on “Viva La Mariposa; Siapa Sebenarnya Pahlawan?

  1. jejakkakiku

    Temanteman terutama yang lelaki sering bilang, kalau Ibu adalah Tuhan di Bumi ini, jadi apapun yang ibu katakan, mereka tidak dapat melawannya, karena itu merupakan titah. Terutama bagi mereka yang sudah kehilangan Ayah.

    Walau kadang kesannya menjadi anak mami sekali, tapi pada saat mereka bisa mengungkapkan apa yang menjadi alasan, saya rasa apa yang mereka katakan adalah benar.

    Ibu adalah segalanya 🙂

    *dan lagu parelthon thimithika berkumandang*

    Balas
  2. NAGABONAR

    SAYA SUDAH BEBERAPA KALI MEMBACA BLOG INI, DAN MAKIN JELAS SUDAH PEMILIKNYA BUKAN MUSLIM SEPERTI PENGAKUANNYA. TAPI BUNGLON YANG SENGAJA MERUSAK AQIDAH!

    MAYORITAS TULISAN DI SINI MALAH MENYIMPANG MEMPERMAINKAN AGAMA DAN TUHAN. TULISAN DI ATAS JUGA BEGITU.

    KALAU ANDA MUSLIM, ANDA PASTI TAU BAGAIMANA ISTRI DISURUH PATUH DAN TAAT KEPADA SUAMINYA. BILA SAMPAI SEORANG ISTRI MENOLAK DICAMPURI SUAMINYA, MALAIKAT AKAN MENGUTUKINYA SAMPAI PAGI. ITU HADIS SHAHIH FREN!

    ANDA MENGERTI TIDAK APA ITU HADIS SHAHIH? ITU UCAPAN NABI MUHAMMAD SAW.

    ANDA URUSI AGAMA ANDA SAJA, SAYA INGATKAN JUGA SEKARANG SEDANG GENCAR PENANGKAPAN ALIRAN SESAT SEPERTI ANDA INI.

    SALAM.

    Balas
  3. venus

    setuju. cuma manusia berjiwa kerdil (dalam hal ini laki-laki, biasanya begitu) dan rasa percaya dirinya payah yang mengingkari bahwa perempuan adalah pahlawan yang ssungguhnya. alah, ngomong apa sih saya, bang?

    maaf, lagi blurred. it’s the weather, i think 😀

    Balas
  4. Toga

    @Mei.
    Kebanyakan lelaki yang bilang gitu ya? It’s interesting bgt. Kabar baik, lebih tepatnya.
    Yup, ibu segalanya, bahkan surga pun di bawah telapak kakinya.
    Tentang template, thanks… sesuai dengan keluhan “konsumen” template lama konon berat dibukanya.

    @Totok.
    Tapi hari bapak ada juga lo… 364 hari selain hari ibu itu. Becanda, emg ada kok, berbeda-beda di tiap negara. Umumnya sih, hari Minggu ketiga di bulan Juni.

    Balas
  5. Toga

    @Nagabonar.
    Hwadooh… Suka stress aku dapat komen kek gini. Akismet aja udah sempat masukin komen Anda ini sebagai spam, untung aku termasuk yang rajin ngulek-ngulek hasil tangkapan si Ismet.

    Pan udah dibilangin, janganlah bahas orangnya, cukup Anda bilang tidak setuju dengan idenya.

    Begini fren… Nabi Muhammad SAW itu manusia sangat cerdas, ucapannya kadang tak bisa dipahami begitu saja.

    Nabi SAW sering menggambarkan bagaimana sebuah ibadah akan mendapat balasan luar biasa besarnya. Misalnya: shalat tarawih pada malam Ramadhan tertentu akan dibayar dengan sebuah kota di surga. Nah, apakah Anda lantas akan tarawih untuk sebuah kota di surga itu? Bukannya tak ada ibadah yang diterima kalau tidak Lillahi Ta’ala, karena Allah semata?

    Begitu juga dengan shalat malam, qiyamul lail. Luar biasa kan ganjarannya? Tidakkah Anda berpikir mungkin di situ ada pesan, biar kalau malam-malam terbangun, pikiran si suami tidak melulu untuk membangunkan istrinya yang lelap karena lelah seharian mengurus tetek bengek rumah tangga, untuk disetubuhi, tetapi agar dia segera mengambil wudhu, berdiri, rukuk, dan sujud dalam senyapnya sepertiga malam terakhir?

    Silakan riset sendiri, bagaimana siraman air wudhu ternyata sangat efektif meredakan birahi.

    Belum lagi jika Anda hubungkan dengan hadis-hadis lain, tentang bagaimana semestinya suami memperlakukan istri, bagaimana pria semestinya memposisikan wanita.

    1. “Tidaklah orang yang memuliakan wanita kecuali orang yang mulia, tidaklah orang yang menghinakannya kecuali orang yang hina”.

    2. “Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Bila kamu luruskan (dengan keras) berarti akan mematahkannya”.

    3. “Mukmin yang paling sempurna adalah mukmin yang paling baik akhlaknya dan paling lembut terhadap keluarganya”

    4. “Tidakkah seseorang dari kamu merasa malu untuk memukul istrinya sebagaimana dia memukul hambanya? Di waktu pagi istrinya dipukul kemudian di waktu malam ditidurinya pula”.

    5. Masih banyak yang lain!

    Kaum muslimin yang mengaku menjalankan Islam secara kaffah, sering menuduh yang lain, terutama orang-orang yang disebut pluralis atau liberal, sebagai pengutip Al-Qur’an dan hadist sepotong-sepotong. Lha, bukannya, dengan hanya mengutip hadist tentang kepatuhan istri kepada suami, tanpa menyertakan hadist lain tentang bagaimana suami semestinya menyayangi istri, juga sebuah pengutipan yang sepotong-sepotong?

    Tak usahlah kita bicara cinta. Besar dan melebar-lebar nanti diskusi kita. Tentang birahi aja ya.

    Anda, kita para lelaki, ingin hubungan seks yang berkualitas kan? Nah, syarat utama dan pertama untuk itu, bukanlah daya tahan, ukuran kelamin, stamina, dsb; tetapi bahwa pasangan Anda memang sedang dalam keadaan siap, dengan hati yang ridha, dan lebih afdhal, juga sedang menginginkannya.

    Rasulullah pernah menyatakan kebenciannya kepada orang yang bersetubuh seperti binatang. Fren, ini bukan cuma menyangkut posisi, tetapi karena binatang jantan memang tidak pernah mau tau, apakah betina yang mau “ditungganginya” itu sedang mau atau tidak.

    Begitulah kawan. Kurang lebih mohon maaf. Namanya juga diskusi.Oiya, dan satu hal lagi, janganlah ngetik pakai huruf kapital gitu, seperti dijajah mata pembaca. Huruf normal pun bisa dibaca kok.

    Salam juga.

    Balas
  6. yati

    dulu setelah nonton pilm itu, saya suka menuliskan seolah itu nama samaran saya juga, si butterfly itu…dan sangat GR pengen kayak minerva, hihihi!

    eh, jadi terpancing commentnya Nagabonar yang sama sekali beda dengan Nagabonar di pilm yang sangat menghargai dan menghormati perempuan (ibunya dan kirana). Setau gw dari cerita2 kitab suci, malaikat itu suci, ga suka mengutuki perempuan…apalagi sampe pagi, hahaha! kok comment itu seolah2 mengatakan malaikat suka bersekongkol dan bekerjasama dengan kaum lelaki untuk mengutuk perempuan yang tak bisa melayaninya? saya tidak meragukan hadist nabi, tapi saya meragukan persepsi dari cara kerja otak seperti nagabonar. otak ga ditaro di selangkangan kan?

    Balas
  7. Ping balik: gangguan « senandung pelangi menoreh senja

  8. passya.net

    Lae Toga, jangan habiskan energi Anda untuk meladeni nagabonar. mungkin dia baru bisa membaca tapi belum bisa ‘membaca’. sayang, malah dia menunjukkan jiwa kerdil-nya dgn memberikan link ke google.com. kalau mengikuti pola pikir piciknya, dia sudah mengaku2/membajak/mencuri nama orang lain.

    Balas
  9. venus

    @passya: setuju. 100 persen setuju. blog mestinya jadi tempat kita numpahin unek2, dan seharusnya memang sangat personal, jangan jadi ajang saling menjatuhkan kayak gini. susah juga kalo semua orang ngerasa diri dan keyakinannya sendiri yg paling bener. bakalan perang terus kita, sampe kiamat.

    Balas
  10. Sahat, M.N

    Wanita memang lebih perkasa dari laki-laki, membawa 2 gunung dan 1 goa. Sedangkan Laki-laki membawa 2 telur saja mesti dibantu burung. Hahahahaa. Joking only!.

    Tapi memang sudah kodratnya wanita diciptakan Tuhan dengan kelebihannya. Yang terdekat ialah Ibu, sosok Pahlawan wanita untuk anak-anaknya. Mother, how are you,today?

    mauliate.

    Balas
  11. Pahala Panjaitan

    Perempuan tidak menjadi masalah menjadi pahlawan seperti Cut Nyak Din asal bisa menempatkan diri

    Menempatkan diri disini maksudnya bisa repoooooo….t kalau dia berada diatas suaminya

    Balas
  12. Susie

    kalau begitu , sayapun berhak menyandang gelar pahlwan tentunya … hanya krn memenuhi kriteria terahkir ini ..hehehehe .

    … dunia akan punya arah baru, ketika wanita jadi pahlawan tidak saja ketika mengerang mengucur darah itu, tetapi juga di saat lain. Bisa dimulai dengan hal-hal “sederhana”; misalnya dengan menolak secara lembut–tetapi juga dengan harga diri seorang manusia yang utuh–bila Anda sedang tidak siap untuk disetubuhi suami malam ini. Anda mencintainya kan? Nah, kalau begitu, jangan biarkan dia menjadi pemerkosa istri sendiri. Jadilah pahlawan untuknya, untuk dirimu sendiri, dan untuk wanita di seluruh sudut dunia.

    Balas
  13. salamatahari

    kenapa di akhir cerita ngbrl tentang persetubuhan bang?
    menjadi pahlawan dengan menolak persetubuhan dengan suami? kok aku gak mudeng ya? pahlawan bagi diri sendiri? hi…iya kaleeee…

    Balas
  14. meiy

    wah selalu heboh komen disini! asyiik

    kalau lelaki yg menghormati perempuan pasti nggak akan komen seperti si nagabonar palsu ini ya, ketauan bener piciknya.

    Rasulullah pasti bukan pemaksa yg menganggap perempuannya hanyalah objek yg harus melayani. sangat tak adil kalau hanya lelaki yg punya hak, sementara Tuhan itu adil, sebagian orang menerjemahkan ayat menurut kepentingannya sendiri…pengen memaki lelaki tipe gini, tapi buang2 energi kali ya, terlalu berharga waktuku dibuang2 utk makian hehehe

    yes hidup lae, aku paling setuju dg perempuan yg tau cara ‘melawan’ seperti kata lae. kadang sayang sekali banyak wanita tidak tahu bahwa dia juga yg sama dg lelaki…

    Balas
  15. nelayan bujang

    @NAGABONAR….!!!

    Bang Naga!
    dah lupa kayaknya yang abang bilang di pilem kemarin sama anak abang si bonaga? perempuan itu bang, selalu ingin ditinggikan sebenang 🙂 makanya tinggikanlah ia meski sebenang biar senang hatinya. tau usahlah kau banyak berpikir, bang. kalau abang berpikir, lha aku juga ikut2an berpikir…suusahh aku!!! ;p jadi, kuperintahkan abang untuk berhenti berpikir! yah….yah….yah…..?! apa kata dunia!!! ;p

    badewei naek baswei, bang ;p tulung naekka pangkatku juga barang sepelepah ;p jauh2 aku merantau masa cuma dapat pangkat kopral bah! lebih baik aku pergi berlayar, bang! jadi nelayan ;p

    ttd.
    BUJANG

    Balas
  16. dhe'

    Kemerdekaan
    [Sugiarti-1962]

    Kami bukan lagi
    Sekadar melahirkan calon prajurit.
    Tapi kami sendiri adalah prajurit.
    Bukan sekadar istri pahlawan bangsa,
    Karena kami sendiri pahlawan bangsa

    Dan ketika benteng-benteng jaman dihancurkan
    Dan kaum pekerja bangkit berdiri di tanah air
    Tak lagi kita sekadar menengok ke kubur
    Membaca doa dan meratap bagi yang gugur
    Kita pun bagian barisan terdepan

    Balas
  17. dhe'

    bang toga..si nagabonar yang koment di artikel mu ini siapa….bikin mata aja telinga ajah. akh yang pasti dia pasti naga bonar palsu, mau merusak nama opung naga bonar temen nya si bujan itu dia…

    tak takut dia di makan cacing

    Balas
  18. dhe'

    bang toga..si nagabonar yang koment di artikel mu ini siapa….bikin mata panas aja. akh yang pasti dia pasti naga bonar palsu, mau merusak nama opung naga bonar temen nya si bujan itu dia…

    tak takut dia di makan cacing

    Balas
  19. nelayan bujang

    dhe’, biar nanti kubilang sama mak biar tau rasa dia 😉 kalo mak sudah bicara pasti akan gatal2 dia sekujur badan trus kambuh malarianya…….dasar benga’ si naga, kalo malarianya datang seperti kereta api padang-bukittingi 😀 😀 😀

    apa kata dunia???!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s