Apalah Tragedi Buat Orang yang Tetap Berharap

Sangat dianjurkan untuk lebih dulu membaca ini

karena posting berikut memang semacam review tentangnya.

Mencintai berarti siap untuk kemungkinan tidak mendapat balasan, berharap berarti siap untuk kepedihan, mencoba berarti siap untuk gagal, mencuri berarti siap untuk dihakimi massa, berdandan sensual berarti siap untuk diperkosa. Tapi apa kita mau berhenti? Bukankah kesia-siaan terbesar dalam hidup adalah milik orang yang tak pernah mengambil resiko?

Itu sepertinya pesan yang ingin disampaikan dalam kisah yang sepintas kelihatan kelabu ini. Dan memang begitu dia dipungkas dalam kata penutupnya: “If there is no risks so what s the point of it”. (Keliatan kan review amatiran, masa yang dibahas duluan malah kata penutup)

Dibuka dengan sebuah obrolan di kamar jenazah, dengan dinding kusam berwarna abu-abu. Wanita cantik itu tak ingat siapa namanya, dari mana dia datang. Sebuah luka membuatnya lupa, bahkan kepada pemberi luka itu. (Bagus juga, kalau sudah dilupakan, kan ngga perlu repot-repot untuk [pura-pura] memaafkan).

Padahal, “Luka itu masih sangat baru. Aroma darahnya bahkan tercium olehku,” kata Karman, temen ngobrol wanita cantik itu.

Andai tidak dijuduli Jane Doe–yup, sebaiknya kasih judul lain deh–nama yang biasa diberikan untuk mayat korban kriminal yang belum teridentifikasi, sampai di sini pembaca mungkin belum ngeh kalau yang sedang ngobrol itu, si wanita cantik dan Karman, adalah jenazah!

Tapi berakhirkah segalanya dengan kematian? Jiwa kan mestinya punya rute perjalanan lebih panjang dari seonggok tubuh. Karman, mayat orang miskin yang sudah 4 hari belum dijemput keluarganya itu membuka sebuah awal dari akhir “hidup” si wanita.

“Kamu ga perlu lagi mengingat itu semua. Kamu bahkan bisa memberi nama baru pada dirimu sendiri sekarang,” katanya.

Dan dia memilih untuk dipanggil “Fuji”.

Fuji yang cantik, tubuh kaku wanita yang diperkosa dan dibunuh, dan jenazahnya digeletakkan begitu saja di Stasiun Waru–lagi-lagi nama ini kayaknya ngga perlu deh, biar arsitektur kekelabuan di cerita ini tidak goyah–kemudian dijemput oleh dua mahasiswa fakultas kedokteran.

“Apapun jalan hidupnya, setidaknya dia masih bisa beramal di akhir hidupnya, menjadikan kita cepat lulus menjadi dokter,” kata salah satunya.

Penulis tidak berburuk sangka, akan diapa-apakan lagi tubuh yang sudah terluka itu, tapi itu tidak penting.

Fuji, lagi-lagi cuma sebuah babak, masih banyak nama gunung lain di Jepang, walau itu memang yang teragung. Kalau masih dibutuhkan, lebih banyak lagi gunung di negeri lain. Bahkan permukaan bulan pun kabarnya berbukit-bukit.

Kalau mau, kita bisa punya stamina lebih baik dari nasib buruk, selama kita menarik napas yang tak cuma berisi udara, tetapi juga harapan.

Entah benar ini yang mau disampaikan pencerita, atau bahkan dia sebenarnya tak hendak menyampaikan apapun, tetapi ini yang kulihat, saat mengintip di kamar jenazah berwarna abu-abu kusam itu.

Tapi ngapain juga sih itu perempuan ke stasiun sendirian? Janjian ama temen ceting juga? Kan udah dibilangin, Hati-hati Jatuh Cinta di Dunia Maya!

Iklan

9 thoughts on “Apalah Tragedi Buat Orang yang Tetap Berharap

  1. ann!sha

    Suatu kehormatan menjadi ‘korban’ review editor pintar seperti Pak Toga Nainggolan. Makasih banyak, beberapa ‘perbaikan’ yang disarankan sudah saya eksekusi. Tentang judul, hmm, belum kepikiran nih pantasnya apa ya. Ada (yang punya) ide?

    Balas
  2. mei

    Entah benar ini yang mau disampaikan pencerita, atau bahkan dia sebenarnya tak hendak menyampaikan apapun,—>kelihatannya yang ini adalah tujuan dari pencerita..aku pikir dia hanya ingin menuangkan kata-kata, ide tanpa suatu tujuan..

    tapi kata-nya emang mengalir dengan indah, dan enak dibaca..tentu bagi orang awan seperti aku yang ga bisa bikin puisi dan bikin kata-kata yang indah..itu suatu keindahan tersendiri =)

    Balas
  3. Susie

    Dah mampir ke blog yg di maksud , mungkin aku yg oot .. 2 x baca nggah ngeh juga maksud si penulis …
    Kata2nya yg indah malah menenggelamkan saya dalam banyak pertanyaan .. untung ada bang toga yg membantu utk memahaminya .. 😀

    Balas
  4. Ping balik: Pesona Bunuh Diri yang Menggoda « Nesiaweek Interemotional Edition

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s