Arsip Bulanan: November 2007

Surat Seorang Kristen Kepada Saudaranya

Awalnya posting di bawah ini adalah komentar untuk artikel “Bisa Hidup Tanpa Agama Tapi Tidak Tanpa Cinta” yang tadinya juga merupakan komentar Jarar Siahaan untuk menanggapi postinganku tentang kisah migrasi imannya: Justru Setelah Jadi Muslim Aku Jadi Tahu Kristen Itu Benar.

Komentar yang dikirim oleh seorang penganut Kristen yang kebetulan satu marga dengan Jarar – Rikardo Siahaan – ini kuanggap sangat bagus; berbobot sekaligus disampaikan dalam bahasa yang sejuk. Saya selalu suka cara mengungkapkan pikiran seperti itu, apalagi dalam topik agama, yang umumnya sangat sensitif. Semoga bermanfaat.

Baca lebih lanjut

Aku Mencintaimu, Tolong Tinggalkan Aku

“Letting Go” photograph by John Watson at photodoto.com

Aku pernah berpikir cinta itu sesuatu yang abadi, sesuatu yang kau simpan rapat-rapat dan tak akan pernah kau biarkan berlalu. Aku juga pernah yakin, bahwa aku akan selalu meyakininya begitu.

Kini terasa lucu juga, bagaimana arus waktu membilas semua asumsimu yang paling membatu. Selucu ketika menyadari bahwa salah satu pelajaran terpenting dalam hidup adalah melupakan, betapa kita hanya bisa menyelamatkan kehidupan dengan melupakan.

Lapisan-lapisan pemahaman dan kedirian, seperti slide show yang malas menggilir gambar, sampai gambar terakhir yang putih polos, belum sempat sekalipun tersapu kuas.

Kita menyaksikan, seperti semua mimpi, cinta pun sekarat di hadapan realita. Baca lebih lanjut

Karena mimpi adalah cahaya, maka mati bukanlah bahaya

Di kejauhan sana selalu ada cahaya, terlalu jauh untuk kuraih, tetapi hangatnya bahkan terlalu dekat, menyelinap ke bawah kulitku, kutatap dari gulitanya rindu, kubiarkan menuntun langkahku.

Apakah mimpi baru berharga jika ia bisa berubah nyata? Tidak juga, karena sebagian mimpi kadang harus dibiarkan “hanya” jadi mimpi. Bisa saja, begitu dia mewujud nyata, kau tersentak sadar telah salah memilih mimpi. Weks!

Seperti cahaya di kejauhan itu, yang datang dari pijar bola raksasa matahari, ia akan membakarmu, dalam sekejap jadi uap, jika kau memaksa bersisian terlalu akrab.

Baca lebih lanjut

Thousand pieces of a fallen dream

Jika sebuah impian jatuh, pecah menjadi seribu serpihan, selalu ada waktu untuk memungutnya serpih demi serpih.

ATAU kalaupun tidak, mulailah dengan sebuah impian yang baru dengan gambar yang sama, karena kita bisa bertahan hidup beberapa hari tanpa makan dan minum, tetapi tidak tanpa impian.

Impian apa yang akan kau pilih? Impian tentang kesuksesan, uang, properti yang membentang di lintas benua? Atau idealisme, kebenaran, sebuah “rumah” di dalam hatimu? Atau tentang kepedihan dan keinginan balas dendam, menghirup dan memuntahkan semua harapan?

Baca lebih lanjut

Jika Kau Menyerahkan Hati, Pastikan Ada Tanda Terimanya

Pada masanya, caraku jatuh cinta itu pun kucintai, apalagi kau; luapan air yang keluar dari arusnya, menamparku dari lembah yang tak kuduga.

TAPI seperti udara yang kuhirup, ternyata tak bisa kau selamanya kusimpan di paru-paruku, harus kulepas pergi, sepelan mungkin, membawa perih, meninggalkan pedih, kekosongan itu mendadak akrab. Hela napas baru itu tak mengisi setiap gelembung yang kau tinggal.

Aku pun dipaksa melanggar sumpah keangkuhan itu, untuk tak menangisi apa yang berlalu dari hidupku; dan tak pernah bisa kurayakan setiap detik yang pernah kita bagi bersama, seperti orang-orang beriman berfestival di hari kelahiran dan kematian nabi-nabinya.

Baca lebih lanjut

Redefine Nesiaweekism: Tebar Pesona, Apa Salah? (Daripada Tebar Teror?)


Di negeri ini sekarang ada penyakit kronis. (Korupsi? Yang ini sih udah kebanyakan dibahas, padahal yang perlu itu diberantas). Buruk Sangka! Begitu parahnya, sampai berbuat baik pun orang sekarang takut. Ntar malah dikira tebar pesona, atau ada maunya.

Bila tengah malam di tempat agak sepi, mobil atau motor Anda mogok, lantas ada seseorang yang menawarkan bantuan, bukannya senang, Anda malah bisa-bisa makin ketakutan. Sebaliknya bila pada malam lain Anda melihat mobil atau motor orang lain mogok, Anda berpikir dua kali sebelum mendekat menawarkan bantuan. Ntar gw diteriakin rampok lagi. Cukup parah kan? Baca lebih lanjut

An Antithesis to Nesiaweekism

Do you realize why it is so easy for men to lie, to love, to tease, to flirt, to make love to a total stranger, even to rape?

Few days ago, I can’t help noticed bunch of writings with subject about women that’s written by man. Some are true some are very very wrong.

Instead of correcting those wrong parts, we -women- prefer to chew them, slowly. What we have left?

Confusions. Lots of them.

We go like, wow, I don’t really understand what he s saying but it seems true and … hmm, I don’t know, he could be right. Who cares anyway? I enjoy his company and don’t mind with those bubblings. (God, have mercy on us!)

Baca lebih lanjut