Maaf, Pablo, Ku(b)ajak Kau Meyakinkannya

waiting.jpg

Sudah berapa kali, berapa lama, kau kuajak membutakan mata, menutup celah gendang telinga. Dan di gerbang nasib ini kau masih berbicara dengan takut-takut, tentang sesuatu yang terlihat, tentang apa kata mereka.

Pernah kau kusanjung seindah mawar? Karena memang bukan gemulai kelopakmu yang membuat aku berlutut, atau kupicingkan mata menahan serbuan kemilau, seakan kau kurindu karena secemerlang batu berlian, atau kupasang perisai rasa membendung nyala api yang memercik dari panah anyelirmu yang runcing?

Seakan kau kupilih karena parasmu menggoda mataku yang dahaga, seakan kau mangsa sarapan pagi untuk birahiku yang terjaga dengan ereksi.

Ini cinta yang dulu kukira hanya ada di kitab-kitab kumal penyair, di surat-surat yang tak pernah terkirimkan. Aku menemukannya, dan kuundang kau bersama-sama menyerahkan diri pada sesuatu dalam kegelapan yang tak membutuhkan tatap, tegak di luar spektrum warna; rahasia di garis batas bayangan dan jiwa. Aku bukan petualang yang jumawa memasuki gua, untuk kemudian mati ditebas ketakutannya sendiri, tetapi karena merebut hatimu, adalah sebuah perang di mana kebinasaan pun kurayakan sebagai kemenangan.

Kau bungaku yang tak pernah mekar, rapat mengatup kuncup menunduk, tapi telah kutemukan dalam dirimu cahaya dari bunga-bunga tersembunyi, wangi yang tak menyisakan ruang untuk menghela napas.

Terima kasih, Cinta, untuk udara hangat yang bermunculan dari lembabnya tanah, hidup, melata, secara gelap dalam tubuhku, menjalari ke nadiku yang gemetar dingin di udara pengap.

Inilah cinta yang kutunggu, yang membetahkan pungguk merindu bulan, yang membuat kesatria tabah mendekati tiang gantungan, yang tiba-tiba ada untukmu, tanpa kutahu mengapa, atau kapan, atau dari mana.

Aku mencintaimu penuh, memberat tanpa kupikul apa-apa, lurus dalam curam dan cadasnya, sederhana dalam kerumitan yang tak terterakan dengan seribu metafora, bertahta di hati tanpa macam-macam kebanggaan, tanpa sorak sorai, kecuali pesta sunyi di halaman pikiranku.

Sambutlah, walau begini cara cintaku mendekatimu, karena belum ditemukannya jalan lain, dan waktuku menyusut untuk kembali mengundi takdir. “Kita sama-sama letih,” katamu.

Aku mencintaimu karena kutahu tak ada jalan lain selain ini: di mana aku tiada, tiada juga kau, begitu dekat sehingga tanganmu di dadaku adalah tanganku, begitu akrab sehingga ketika matamu terpejam, akupun jatuh tertidur.

______________________________________________

Tahan dukungan, atau malah kecaman Anda untuk pernyataan sikap cinta di atas. Udah tau kan, itu ngga orisinil, cuma hasil ngutak-ngatik (secara kurang ajar) puisi Pablo Neruda: Soneto XVII. Costumized deh, biar sesuai sama kondisi terkini, yang mungkin sedang menerpa hidup sahabat-sahabatku yang berkenan kemari. 😉

Aslinya dalam bahasa Spanyol, yang di cetak bold, tentu saja, terjemahan Inggrisnya. Siapa tau, Anda-anda berminat mengutak-atiknya dengan lebih kurang ajar lagi di rumah mayamu… (Hehe, lagi doyan ngajak-ngajak nih).

No te amo como si fueras rosa de sal, topacio o flecha de claveles que propagan el fuego: (I do not love you as if you were salt-rose, or topaz, or the arrow of carnations the fire shoots off)

Te amo como se aman ciertas cosas oscuras, secretamente, entre la sombra y el alma. (I love you as certain dark things are to be loved, in secret, between the shadow and the soul).

Te amo como la planta que no florece y lleva dentro de sí, escondida, la luz de aquellas flores, (I love you as the plant that never blooms but carries in itself the light of hidden flowers);

y gracias a tu amor vive oscuro en mi cuerpo el apretado aroma que ascendió de la tierra (and thanks to your love a certain solid fragrance, risen from the earth, lives darkly in my body).

Te amo sin saber cómo, ni cuándo, ni de dónde, (I love you without knowing how, or when, or from where).

Te amo directamente sin problemas ni orgullo: así te amo porque no sé amar de otra manera… (I love you straightforwardly, without complexities or pride; so I love you because I know no other way…)

Sino así de este modo en que no soy ni eres, (Than this: where I does not exist, nor you,)

tan cerca que tu mano sobre mi pecho es mía, (so close that your hand in my chest is my hand)

tan cerca que se cierran tus ojos con mi sueño (so close that your eyes close as I fall asleep).

_________________________________________

Betapa semena-menanya bid’ah yang kubuat, Pablo. Tapi kau kan pernah bilang, penyair adalah orang yang sehari-hari menyediakan roti untuk kita. Jadi, boleh dong rotimu ini kuolesi mentega, kulumuri selai nanas, kutaburi parutan keju, kubakar sebentar, untuk kusuapkan ke mulutnya yang menganga menyimpan tanya yang belum menemukan kata?

Nah, jika kata kubajak dari Pablo, gambar kupermak dari www.digitaldome.org

Lha, sing asli duwekku iku opo? “Ah, aku kan tak punya apa-apa kecuali cinta”. Hayah, endingnya kok jadi dangdut ya. Tapi apa salah untuk menjadi dangdut?

Iklan

17 thoughts on “Maaf, Pablo, Ku(b)ajak Kau Meyakinkannya

  1. venus

    hahaha…bid’ah? edan!

    eh, beneran deh, kasian si Pablo Neruda ini. Entah udah berapa ribu kali (atau jutaan?) puisi2nya dipake buat memanipulasi kekasih2 atau yang kita sebut kekasih…membuat mereka tersanjung terkiwir-kiwir.

    saya juga pernah ‘memanfaatkan’ neruda :))

    Balas
  2. jejakkakiku

    Senor Pablo ini memang luar biasa!
    tapi yang bisa menafsirkan dengan bahasanya sendiri lebih luarbiasa lagi…

    memang begitulah luarbiasanya perasaan jatuh cinta,
    sapa bilang jika sedang ‘jatuh’ tidak bisa menulis indah?

    inilah buktinya! 🙂

    Balas
  3. Toga Penulis Tulisan

    Venus
    Kekasih2 atau yang kita sebut kekasih… Beda itu ya?
    *Mikir dengan mimik mikir*

    Mei
    Saya sedang jatuh cinta ya?
    *Makin mikir dengan mimik benar-benar mikir*

    Unai
    Hwadoh, ada saingan sesama pembajak.
    *Naikkan layar, ngga sempet mikir*

    Balas
  4. yati

    ‘aku mencintaimu dengan cara yang paling sunyi’ itu kubuat sendiri jauh sebelum tau ada manusia bernama Pablo Neruda. Tapi kok tetep dikira niru? hah…apa cinta hanya milik orang2 ngetop?

    Balas
  5. Toga

    @Dome.
    Tuan dari Malaysia ya? Sebenarnya tak cukup menyebutkan sahaja, saya harus berterima kasih juga untuk gambar yang sangat indah itu.

    Semestinya memang begitu, Tuan, kita menghargai hasil karya cipta pihak lain.

    Sekali lagi, terima kasih, dan saya mungkin akan meminjam lagi di waktu lain.

    Balas
  6. dome

    @Toga,
    iya..saya dari malaysia ,sama-sama.photo saya biasa aja mas 🙂 . jika kepingin makei photo..silakan aja donk.saya akan ke bandung lewat november nanti untuk melihat indonesia photoweek 2007.

    Balas
  7. agoyyoga

    Betapa semena-menanya bid’ah yang kubuat, Pablo. Tapi kau kan pernah bilang, penyair adalah orang yang sehari-hari menyediakan roti untuk kita. Jadi, boleh dong rotimu ini kuolesi mentega, kulumuri selai nanas, kutaburi parutan keju, kubakar sebentar, untuk kusuapkan ke mulutnya yang menganga menyimpan tanya yang belum menemukan kata?

    Huehehehe… setuju BGT!!

    Balas
  8. Ping balik: Tweets that mention Maaf, Pablo, Ku(b)ajak Kau Meyakinkannya | Nesiaweek Interemotional Edition -- Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s