Hati-hati Jatuh Cinta di Dunia Maya

Tadi malam, seseorang menantangku memintaku untuk membuat cerpen, atau apapun, pokoknya fiksi deh, dengan tema hubungan cinta di dunia maya. “Kamu kan sering nulis tentang itu, dan sepertinya sih, punya jam terbang cukup di bidang itu,” sindir katanya.

Tantangan Permintaan itu ku (coba) penuhi bukan untuk membuktikan apapun–apalagi soal jam terbang itu, terus terang, aku ngga terlalu suka terbang, dalam pengertian denotatif apalagi konotatif, karena aku tak yakin akan bisa mendarat lagi dengan mulus–tetapi karena dia sangat jarang meminta sesuatu. Emang sih, sekali meminta, untuk memenuhinya, kau akan mempertaruhkan seluruh sejarahmu. Halah! 

Hati-hati Jatuh Cinta di Dunia Maya

“Dari awal ‘pertemuan’ kita di chat room dulu itu, udah berapa taon ya?, aku udah ngerasa, masing-masing kita membawa seutas tali, yang semestinya tersambungkan”.

Hm, selalu saja kata-kata seperti itu yang menimbulkan sesuatu di dalam hatinya. Tak hanya sesuatu, beberapa suatu sekaligus, padahal hanya barisan huruf-huruf di layar monitor.

Ia membalas, terdengar ketukan ritmis di keyboard-nya.

“Meskipun tali itu mungkin akan kupake untuk menjerat lehermu?”

“Kamu udah menjerat sesuatu yang lebih berharga dari leherku; hatiku”.

“Halah, gombalnya keluar deh”

“Lho, bukannya itu yang kalian para wanita butuhkan, biar bisa menjalani hidup dengan bersemangat?”

“No comment! Tapi gombal yang baik, ngga boleh terasa sebagai gombal”.

“OK, dan pecinta yang baik, tak perlu menutupi kalau dia memang cuma sedang menggombal”.

“Udah… udah. Kamu serius ngga, beneran mau ketemu. Ntar aku datang, kamu ngumpet lagi. Napa sih selalu begitu? Kamu takut karena jelek ya? Don’t worry, kamu udah memikatku, andai wujudmu seperti kera sakti pun, aku udah ngga bisa melepaskan diri lagi, apalagi kalau cuma kenyataan bahwa kamu ternyata sudah berkeluarga, atau malah poligami. Aku udah siap dengan kemungkinan terburuk kok”.

“Huh. Katanya pecinta tantangan, tapi mau ke sini aja kayak Presiden, memastikan ring 3 sampai ring 1 aman. Mau megang prinsip pialang high risk high profit, apa dogma akuntan: conservatism itu? Ngga bosen apa? Dunia profesi dan langit rasamu sama-sama konservatif? Dan one more thing, hati-hati dengan kata-kata aku siap dengan kemungkinan terburuk.”

Sialan, umpatnya salam hati. “Ya udah, Rabu ya. Jam pastinya ntar aku sms-kan.”

“OK. Jadi, mo udahan nih?”

“Iya. Aku mau shalat istikharah dulu, minta pendapat terakhir dari ‘atas’.”

“Yakin, aku ngga ada kolusi ama Dia?”

Log out. Dia bisa gila kalau percakapan itu dilanjutkan. Dan dia memang selalu membuatnya gila. Dia bergegas ke kamar tidur. Di situ, suaminya dari tadi sudah mendengkur.

*****

Huh, ini bandara internasional apa terminal bus antarpropinsi? Kesan Medan yang keras dan semrawut, sudah terasa sejak di gerbangnya. Dia menyalakan ponsel, sambil melihat lagi foto hasil print out itu.

Langsung bunyi, message received: “Aku pake baju putih garis-garis vertikal. Celana coklat gelap. Bertopi hitam, ada tulisan NY”.

Detail yang lengkap. Masalahnya jujur ngga? Dia replay: “Aku ngga pake baju, juga celana, apalagi topi. Cuma ada tato di perut dengan tulisan OK. Stay there, honey, biar aku yang nyari.”

Dari awal, dia sudah dipesankan untuk hati-hati. Bagaimana pun, lelaki ini tak dikenal. Dia bisa saja bohong dengan semua yang dikatakannya selama ini. Dan itu dia! Lumayan juga. Lumayan jauh dari fotonya.

Dia sengaja lewat begitu saja. Laki-laki ini sesekali harus dibuat kalah, pikirnya. Beberapa meter di belakangnya, dia menelepon. “Arah jam 6, sedang meneleponmu”.

Jantung lelaki itu berdegup kencang.Tapi dia bingung juga, bagaimana mungkin dia tak merasakan getar apapun saat wanita itu berada begitu dekat dengannya, saat melintas tadi? Ah, bukankah soulmate itu mestinya connected. Padahal wajahnya kan memang mirip dengan foto-fotonya? Aku sudah kalah 1-0, padahal pertandingan sesungguhnya baru saja dimulai.

“Tidak merasakan getar apapun?” si wanita mengulurkan tangan.

Sialan, ini sih sudah 2-0. She read my mind, pikirnya. Dia makin gugup.

“Oh, aku tadi lupa, vibration alert-nya ngga diaktivin, boros baterai kan?”

Mencair. Mereka tertawa bersama, pertama kalinya di dunia nyata. Skor itu, berapa tadi? Sudah dilupakan. “Oiya, aku parkir agak jauh. Sini tasnya aku bawain.”

“Katanya suka ngebut. Kok nyetirnya kayak instruktur mengemudi?

“Katanya siap dengan semua kebohongan. Itu sih yang paling kecil.”

“Istrimu kamu ungsikan di mana?”

“Kurang tau juga dia lagi di mana. Tapi tadi malam, katanya sih udah buat janji ama suami kamu.”

Ah, tak mungkin dia tahu tentang itu, dia cuma melucu, pikirnya meyakinkan diri. Sepanjang jalan, obrolan mereka seseru chat-chat di tengah malam itu.

Satu jam lebih perjalanan ke arah Tanjungmorawa di timur Medan itu, tak begitu melelahkan. Mereka berhenti di sebuah rumah di sudut. “Kamu bohong lagi. Rumah kamu gede gini, kalo beneran ini rumah kamu sih.”

“Rumah yang masih dikontrak, lebih kecil dari gubuk petani, yang dimilikinya sendiri, Tar. Log out dulu deh. Istirahat, kamar buat kamu udah disiapin.”

“Jangan sok yakin, aku mau nginap di sini!”

“Aku udah log out. Ucapan kamu kuterima sebagai offline messages.”

*****

Malam itu dia mulai gentar. Lelaki ini memang menggetarkan hati. Sikapnya, kelembutannya, dan tentu saja kemampuannya merakit bangunan kata-kata. Dia berjanji tak mau larut. Dia sudah berjanji untuk menjadi seorang profesional. Tapi dia larut makin jauh.

Di hadapannya, lelaki itu tampak berusaha menahan ledakan perasaannya, mengetahui wanita yang mendatanginya itu ternyata sudah berkeluarga, ibu muda dari dua anak. Cahaya redup ruang di ruang tamu, tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang kecewa.

“Aku udah siap dengan kemungkinan terburuk, ternyata kamu malah ngga. Aku ngga mungkin ninggalin suami dan dua anakku, Sin.”

“Aku juga siap kok,” tersenyum, “mencintai tak harus memiliki, kan tema utama seluruh tulisanku, di blog, di mana-mana”. Jeda, menghela napas, “cuma saja, menyadari selama ini aku dibohongi, ya kaget juga. Dunia emang ngga adil ya, kejahatan yang sangat biasa dilakukan lelaki itu, ternyata tak siap kami terima bila dilakukan perempuan.”

“Kecewa ya? Kamu marah?”

“Kalau aku bilang ngga kecewa, aku bohong. Tapi ngga marah. Tungku jiwaku hanya bisa menyalakan satu jenis api, api cinta. Ngga ada tempat untuk api lain, apalagi kemarahan.”

Malam itu mereka bercinta habis-habisan. Kadang-kadang harus diselingi istirahat, minum larutan isotonik, biar jangan dehidrasi. Tidak sepenuhnya karena gairah cinta, karena si wanita dengan sok beraninya menerima tantangan untuk “mengkonsumsi” sejenis asap, yang dihirup pake sedotan lewat mulut, setelah sebelumnya melewati air di botol kecil. Sumbernya dari kristal mirip garam yang dibakar dengan api kecil.

Dari awal, dia memang sudah tahu lelaki ini pemakai, tetapi sekadar mengkonsumsi ineks saat clubbing. Dia tidak menyangka bakal “semahir” itu Sindar merakit peralatannya, dan lebih tak menyangka lagi, itulah hari terakhir dia membuka mata. Paru-parunya tak hanya dijejali asap berisi amfetamin dari sabu itu, tetapi di seluruh nadinya, mengalir beratus bahan kimia lain, dengan dosis fatal, yang disuntikkan saat tubuhnya terkulai lemas setelah orgasme kesekian kalinya.

Mulut Sindar tak berhenti meracau saat membungkus tubuh itu ke dalam plastik khusus. Setelah membuatnya hampa udara, ia menaruhnya di lemari es jumbo dua pintu di dapur.

“Selesai, Tara. Sebelumnya jiwamu sudah kusimpan di hatiku. Kini tubuhmu di dapur rumahku. Kau milikku sepenuhnya,” dia mengecup tubuh kaku yang mulai dingin itu, tersenyum lega, sebelum menutup pintu lemari es. Tak setetes darah pun yang harus dibersihkannya.

*****

Tara bingung. Nomor Wita kok ngga aktif-aktif. Dia berusaha percaya, teman baiknya yang diutusnya untuk menyelidiki kekasih mayanya itu tak akan berkhianat. Dia begitu percaya pada Wita, dan tak pernah percaya pada dirinya sendiri. Semua foto yang dipajangnya di blog, friendster, di manapun, adalah foto Wita.

“Wit, aku ingetin, jangan sekali-sekali terpesona sama dia. He’s mine, OK?”

“Tar, rasa gue itu udah mati. Udah lama banget. Gue profesional, OK?”

Tapi Tara mungkin lupa, Sindar Niari, sang kekasih maya itu pernah mengatakan, “Menghidupkan rasa yang mati, mungkin keahlianku”.

Setelah nyaris sepekan Wita tak ada kabar, dia makin kebingungan, sampai kemudian dia membuka mailbox-nya, hal yang memang sudah seminggu dilakukannya, agar penyamaran Wita tidak terbongkar. Matanya langsung tertuju ke email Sindar. Sudah hampir seminggu lalu dikirim.

Sangat pendek, tapi seluruh ruh ditubuhnya seperti dicabut dengan paksa. “Sebelumnya, jiwamu sudah kusimpan di hatiku. Kini tubuhmu di dapur rumahku. Kau milikku sepenuhnya.”

*****

Ada dua jenis tempat yang paling dibenci Tara di dunia; rumah sakit dan kantor polisi. Tapi kini dia harus bolak-balik ke kedua tempat itu, untuk melihat Sindar yang ditahan di sel, dan mengurus pengambilan jenazah Wita setelah diotopsi.

Awalnya, Sartana, suaminya tak bersedia mendampingi. Mengetahui affair istrinya di dunia maya itu saja, pengacara yang sedang naik daun itu sudah sangat terluka.

“Aku ngga bakal menutupi apapun lagi, Mas. Selama ini, aku merasa dialah belahan jiwaku. Dia mengerti aku sepenuhnya, tidak melarangku melakukan itu, atau menyuruhku melalukan ini. Bersama dia, aku ngerti apa yang dimaksud dengan cinta itu membebaskan. Maafkan aku, Mas.”

“Gila kamu, Tara! Dia ngga melarang kamu melakukan apapun, karena dia emang ngga peduli apapun sama kamu. Otak kamu ke mana sih? Coba kalau kamu beneran yang ke sana, udah jadi mayat kamu kan?”

“Ngga, Mas. Kalau beneran aku yang berangkat, pasti ngga bakalan gitu ceritanya. Kehadiran aku bakal menggetarkan hatinya sejak awal.”

“Kamu kayaknya harus konsultasi ke psikiater. Kok bisa-bisanya kamu jatuh cinta sama monster!”

“Mengapa tidak? Selama ini aku juga sudah hidup bersuamikan seorang monster. Mas pikir aku ngga tau kerjaan Mas di luar? Mas sendiri udah ngga hapal lagi nama-nama perempuan yang Mas tiduri kan? Aku diam, bukan karena aku ngga tau, Mas. Aku cuma berharap Mas bisa berubah. Tapi nyatanya tidak. Aku berusaha bertahan demi anak-anak. Tapi aku udah capek!”

Tangis Tara meledak, menjadi histeria.

Sartana terhenyak. Kepalanya seperti dihantam palu godam. Dia pikir semuanya berjalan dengan baik di rumah tangganya, karena dirinya penyelingkuh yang sempurna. Ternyata kesabaran Tara yang sempurnalah penyebabnya.

“Kalau Mas masih mau bertahan, silakan. Yang jelas, hatiku cuma sama dia. Mas mau pergi juga lebih baik. Aku bisa ngurus anak-anak kok. Sindar melakukan kesalahan dan kekejaman Mas, tetapi cintaku untuknya melebihi kesalahan dan kekejamannya, melebihi apapun. Lagi pula, dia melakukannya karena ngga ingin kehilangan aku. Dia membunuh Wita tanpa memberinya sedikit pun rasa sakit. Apa yang udah Mas lakukan biar jangan kehilangan aku, cuma dengan berbohong kan! Dan Mas udah menyakiti hatiku, berulang-ulang, sampai aku ngga bisa lagi merasakan rasa sakit itu.”

Untuk pertama kalinya, Sartana menyadari dia sudah menyia-nyiakan sesuatu yang begitu berharga. Dia bertekad membayar kesabaran Tara selama ini. Dia mendampingi Tara mengurus segala tetek bengek hukum, dan akan mendampingi Sindar di pengadilan.

*****

Sindar Niari cukup beruntung. Dengan semua yang dilakukannya, dia “hanya” divonis penjara 8 tahun. Sartana, pengacara yang lihai itu, bisa mementahkan tuduhan pembunuhan berencana. Bahkan tak ada pembunuhan sama sekali, hanya kelalaian yang menyebabkan orang lain meninggal.

Dengan tenang, dia menjawab kebingungan semua orang, koleganya, saudaranya, pers, siapa saja. “Pengorbanan istriku selama ini, lebih besar dari pengkhianatannya. Lebih besar dari apapun.”

Lagi pula diam-diam dalam hati, dia merasa beruntung, punya delapan tahun, waktu yang cukup lama, untuk merebut kembali hati Tara.

Belum lagi kenyataan, bahwa dunia kini melihatnya sebagai pria dengan cinta tiada tara, padahal Tara akan selalu di sisinya.

Ini masih draft, bakal diedit di sana-sini. Perlu penambahan detil, terutama di seputar “pembunuhan” yang dipaksakan itu. Menunggu sampe bener-bener tega. Oiya, ada yang berminat menyambung, dengan pembukaan: Delapan Tahun Kemudian… Atau kamu mau, barangkali?

 

Iklan

27 thoughts on “Hati-hati Jatuh Cinta di Dunia Maya

  1. ann!sha

    ini mungkin bukan kritikan, tapi lebih sebagai pertanyaan. dimana pencerita memposisikan

    dirinya? sudut pandang dia digunakan tumpang tindih, berkali-kali saya mesti mengulang membaca kalimat2 sebelumnya, siapa ‘dia’ yang dimaksud. adapun helai ilalang itu, bahkan sudah membentuk segerobak jerami. (cerpenis yang narsis nih kayaknya hahaha)

    ‘kesesakan’ cerpen ini mulai terasa sejak kehadiran Sartana. saya pribadi selaku pembaca sudah cukup ‘terhibur’ seandainya kisah ini berhenti saat Sindar menyimpan tubuh seseorang yang dia tahu bukan Tara tetapi diperlakukan selayaknya Tara. Tara, dengan begitu, tetap menjadi misteri. Dan Sindar, yang dengan ‘lantang’ berucap ‘kamu telah menjerat hatiku’ akhirnya termakan sumbarnya. Para pencinta, Tara dan Sindar, akhirnya juga benar-benar hanya dapat ‘berpegang’ pada kedua ujung seutas tali (yang semestinya tersambungkan tetapi tak akan kejadian).

    tragis memang indah!

    penamaan karakter yang unik, salut. Sindar, memang bernuansa psikopat murni

    Balas
  2. Toga

    @Annisha
    Wah, kekna aku “menemukan” seseorang untuk diajak men-develop cerita ini. Mau ngga? Plis, jangan ditolak diriku. 🙂
    Bukan cuma untuk menyambung, tetapi kita buat multiplot. Misalnya, ada saksi lain yang menyatakan, bukan Sindar pelaku pembunuhan sebenarnya.
    Juga banyak karakter lain yang menunggu muncul ke pentas, salah satu dari wanita mainan Sartana mungkin?
    Plot tragis seperti yang Ann tawarkan juga bisa dimasukkan.
    Emang, cerita ini sesak, teralalu banyak yang mau dimasukkan, justru itu, dengan segala kerendahan hati di depan orang ramai, aku mengundangmu.
    Ini kali, aku benar-benar menunggu.

    Sialan Ann, Sindar Niari itu nama salah satu leluhurku, sekian belas generasi di atas. Taulah, kami orang Batak punya silsilah sampai ke manusia pertama di tanah Batak.

    Balas
  3. ann!sha

    sungguh tak terduga, kamu serius tentang akan mempertaruhkan seluruh sejarahmu. dengan segala kesesakan ini, didepan orang ramai, aku terima undanganmu.
    Ini kali, aku benar-benar datang

    Sialan Ga, kini aku tahu darimana ‘binatang’ itu datang hehehe. Tapi sepertinya dia tidak keberatan, Togog yang bilang. mereka berteman disana, moyangku dan moyangmu

    Balas
  4. Ping balik: operation code : the Deathly Knives « on becoming a happy lady

  5. jejakkakiku

    keren keren…ayoo terusinnn…

    *ambil bantal dan selimut*

    posisinya dah enak negh buat baca,
    sambil dengerin bunyi suara hujan di luar,
    udara dingin, bacaan bagus…

    hmm…nikmatnya 🙂

    Balas
  6. ordinary

    secara aku ga tau banyak tentang sastra…. ya cuma mbaca ajah.. mumpung masih gratis dan blom dijadiin novel ato pa an (kalopun dijadikan novel aq yakin koq bakal dikasih 1 gratis buwatku)
    *di lempar cerpen B toga yang laen*

    Balas
  7. nieznaniez

    gila si sindar…
    setuju sama annisha (haduh, berasa nyebut nama sendiri). aku lebih suka klo endingnya itu waktu si sindar nutup lemari es. ato ga endingnya itu waktu Tara buka email. lebih dramatis.

    Dan aku juga lebih suka klo cerpen ini gausah diterusin. cukup selesai disini ajah. lebih seru. eheheheee…

    Balas
  8. dhe'

    salam kenal, numpang lewat…
    yah kalau di terusin endingnya pasti jelek (nantangin hihihi) kayak sinetron yang di prakarsai ram punjambi itu..hikhikhik

    punten

    Balas
  9. mei

    yup…ending yang nggantung malah bikin pembaca penasaran..bertanya-tanya dan kecewa(tentu saja lha wong gak tau gimana ujungnya)

    aku setuju kalau endinya pas tara buka email..wakkss..keren =)

    Balas
  10. meiy

    sadis juga kau lae hehehe

    cerita yg asyik lae, jangan disambung, tar jd nggak asyik lagi kaya sinetron endonesah 😀 biar abis di situ!

    setuju sm annisha ada sedikit yg tumpang tindih: “…sudut pandang dia digunakan tumpang tindih, berkali-kali saya mesti mengulang membaca kalimat2 sebelumnya, …”

    salam kenal annisha!

    Balas
  11. Ken

    Hmmmmmmmmm ternyata itu kejadian lho ama daku, secara mak comblangnya juga blogger (Unai.red) dan udah 1 thn daku nikah hehehe
    yang jelas emang gak bisa lah membatasi “rasa” yang tiba-tiba bisa muncul antara dua org di dunia maya, karena cinta kan tidak mengenal ruang dan waktu..
    Karena cinta punya kekuatan…

    Balas
  12. Alisha

    Before the story begins, is it such a sin,
    For me to take what’s mine, until the end of time?
    We were more than friends, before the story ends,
    And I will take what’s mine, create what
    God would never design

    Our love had been so strong for far too long,
    I was weak with fear that
    Something would go wrong,
    Before the possibilities came true,
    I took all possibility from you

    jadi inget salah satu lagu… gud story… really..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s