Ini Kali, Aku Benar-benar Menunggumu

Aku tak punya apa-apa, karena aku menginginkan segalanya. Aku menciptakan fantasi, tapi yang datang adalah mimpi buruk, kosong. Ketika terjaga, di sekelilingku hanya ada perih, dan mata nasib yang menatap tajam. Tak ada yang mau mengerti, juga sinar yang tembus sampai ke bawah kulitku, menerjang lewat jendela, yang lupa kututup tadi malam, karena kau janji akan datang bersama hujan.

Tak tau aku sedang di mana, apalagi kau, pasti lebih jauh dari antahberantah. Ah, ini mungkin yang mereka sebut di tempat yang salah pada waktu yang salah. Hampa menghasilkan salju, sunyi mengundang musim semi. Aku si malang ini, lebih hampa dari salju, lebih sunyi dari musim semi.Β 

*****

Tadi malam aku ingat. Perahuku karam, karena aku bawa beban derita yang terlalu berat. Sia-sia berharap arus dan angin akan mengangkat. Dahaga cahaya, lapar udara. Tak ada waktu untuk sekadar panik.

Mengapa begini sulit hanya untuk bertahan. Aku sudah lama tak minta kemenangan, segenggam hidup saja untuk kubawa pulang. Haruskah aku hilang, setelah selama ini lelah mencarimu? Kau buat langit pun tak lagi mengenalku; hanya mengutus burung membawa pesan, “Maaf, katanya kau datang terlalu pagi.”

Jangan sampai aku mati, tanpa seorang pun merasa ada yang beranjak dari jiwanya.

*****

Tapi hujan memang datang. Baumu sampai juga ke sini. Di sekujur tubuhku darah mengalir lagi, ditampar gerimis, seperti kecupmu yang bernafsu, sepertinya begitu. Aku mendapat sekeping musim, segelombang angin, sedetak waktu.

“I’m alive!”

Kelopakku ereksi, setelah lunglai seperti gelembung impotensi. Masa bodo, bukan saatnya aku berpikir tentang gelisah kalian, menerjemahkan bingung mereka. Ini tamanku, gurunku, hutanku, kelaminku, urusi kebutuhan masing-masing.

Kalian tahu, bayang itu sudah terlalu lama memangsa waktuku, menyerobot dengan kurang ajar porsi kue perayaan hidupku. Sudah kutentukan titikku bertolak dan berlabuh, jangan kau rampas alur hasratku, jangan lagi kau bajak pelayaran rinduku. Kali ini saja. Aku tak memohon sebagai orang kesepian, tetapi menagih giliran, karena waktuku telah tiba.

Dan kau, kuharap kali ini benar-benar mau menunggu, karena aku tau, tak mungkin kau tak mencintaiku.

Iklan

13 thoughts on “Ini Kali, Aku Benar-benar Menunggumu

  1. venus

    wuiihhhhh….yg kebaca nih ya, ini cerita tentang soulmate yg tak bisa kita miliki. rindu ga jelas, kasih tak sampai, whatever. pokoknya yg mirip2 itu lah.

    iya apa iya, bang?

    Balas
  2. meiy

    oh my God! aku suka sekali tulisan ini lae! tak tau mesti komen apa! biasanya begitu kalau aku suka sesuatu atau juga kaget sesuatu hehehe.

    (ko malah jadi inget waktu tsunami pertama ke banda aceh ngeliat ‘kiamat’?. aku hanya diam, tak menangis, tak bersuara, tak sanggup memotret!) eh OOT yah… :p

    makasih utk komen ini di blogku:

    Syaratnya jujur: jangan pura-pura bisa memaafkan padahal tidak, atau justru pura-pura sanggup berpisah, padahal di belakangnya merintih rindu….

    nendang bgt! πŸ™‚

    Balas
  3. yati

    kalo mbak meiy ga tau mesti komen apa (tapi bisa nulis panjang, hihihi…) saya cuma mau ngetik “……………………..” kek gini (tadinya. nyatanya, saya ngomentarin komennya mbak meiy) :p

    Balas
  4. may

    Tapi hujan memang datang. Baumu sampai juga ke sini. Di sekujur tubuhku darah mengalir lagi, ditampar gerimis, seperti kecupmu yang bernafsu, sepertinya begitu. Aku mendapat sekeping musim, segelombang angin, sedetak waktu.
    Dan kau, kuharap kali ini benar-benar mau menunggu, karena aku tau, tak mungkin kau tak mencintaiku.

    Betapa kukuhnya kenangan itu menunggu sehingga hanya setetes pengharapan pun cukup untuk menghidupinya sampai kini

    Another post yang super duper kuereeen
    *asli ngiri*

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s