Oleh-oleh Mudik: Tentukan Sendiri, Seberapa Beruntungnya Kau dalam Kehidupan

Siapakah orang kaya? Mereka yang merasa cukup dengan apa yang ada, tidur nyaman malam ini karena tak melihat ada yang perlu dikhawatirkan esok pagi. Karenanya, dia merasa bersyukur atas hidupnya, melihatnya sebagai sesuatu yang indah, tak masalah seberapa kecil nilai asetnya, atau malah seberapa besar utang yang mesti dibayarnya.

Jadi, orang miskin adalah mereka yang selalu merasa kurang, dan sebelum tidur masih berpikir keras apa yang harus dilakukannya esok untuk mendapat penghasilan lebih banyak, tak masalah sudah berapa besar nominal depositonya, atau betapa dia tak lagi hapal nama-nama perusahaannya. Dia merasa harus punya asuransi di mana-mana, karena esok baginya adalah sebuah ancaman, seperti penyamun yang menunggu dengan golok terhunus.

Inilah barangkali penjelasan atas fenomena “aneh”, mengapa Nelson Mandela bisa menjalani hidup dengan “mudah” di sel tahanannya yang pengap berukuran 2,5 m x 2,5 m di Pulau Robben, sementara Chung Hon Mun, bos Hyundai, korporasi terbesar di Korea Selatan, malah bunuh diri, meloncat dari kantornya di lantai 12. Ekstrem betul, kan?

Aku sengaja ngga pakai ilustrasi, bagaimana cara Guido menyiasati derita menjadi permainan yang asyik dalam Life is Beautiful, film yang menurutku terbaik sepanjang masa. Sanggahan seperti “Ah, itu kan cerita pilem, fiksi!” akan meruntuhkan fungsinya sebagai ilustrasi. Tapi Mandela dan Chung adalah tokoh nyata, real flesh and blood.

Seperti kebahagiaan, miskin atau kaya tidak terkait dengan sesuatu yang di luar diri kita; aset, deposito, rekening bank, saham-saham, tetapi tentang bagaimana kita menerima hidup, artinya, tombol pilihannya ada di dalam diri kita.

*****

Aku sudah lama tau itu, dan dengan sok taunya juga sudah sering menulisnya di blog ini. Tetapi ketika mudik kemarin, aku makin mempercayainya.

Seperti keadaan keluargaku dulu, sebagian besar kerabat-kerabatku kini masih hidup dalam belitan “kemiskinan” di kampung. Rumah atap rumbia, tembok kayu, bahkan kulit kayu, baju tambal sulam. Keadaan di mana aku dulu dibesarkan, jenis kehidupan yang sempat membuatku menuduh Tuhan tidak kompeten mengatur kehidupan, menganggap-Nya tak punya kepantasan menyandang gelar Mahaadil.

Tapi kini, aku makin ragu menganggap mereka sebagai “kaum kurang beruntung”, ketika mereka menyambut kedatangan kami dengan tawa begitu lebar, mata berbinar, yang tak kutemukan di wajah-wajah orang kota, yang kaya sekalipun.

Duit lima ribuan baru, yang kubagi sama anaknya, sudah membuat satu keluarga itu terlihat begitu senang, lebih senang dari seorang pemborong korup ketika memenangkan (dengan cara-cara curang) tender proyek dengan volume miliaran rupiah. Soalnya yang terakhir ini malah waswas, kalau kapan-kapan KPK, Kejaksaan, atau wartawan seperti aku, mengendus kecurangan itu.

“Itulah untungnya jadi orang miskin,” kata Bapak suatu ketika, “mereka bisa mendapatkan kebahagiaan dengan harga yang murah. Beberapa ribu saja, jadilah.”

Orang kaya, yang membukukan laba bersih Rp 460 juta dalam kwartal pertama tahun ini, malah mengumpat sejadi-jadinya kepada karyawannya, yang sudah bekerja sebisa mereka. “Gila! Masa dengan investasi saya yang Rp 5 miliar, cuma dapat profit segini. Kalian ngga becus!”

Karena stress, dia pun menghabiskan sekian puluh juta, mengambil paket liburan ke Hawai. Tetapi toh di bawah lambaian nyiur, di depan hamparan laut tropis yang bening itu, (juga di depan lambaian pinggul penari berkulit bening itu), dia masih saja sibuk meneleponi, memaki-maki karyawannya.

Eh, beberapa minggu kemudian, jalan depan rumahnya tiba-tiba dipenuhi papan dan karangan bunga. Di media-media besar, ada iklan, “Telah beristirahat dengan tenang bla bla bla…”, padahal dia mati dengan muka kaku, setelah dihajar stroke.

Ah, sudahlah, jadi ngomongin orang.

Pokoke, mari pandang hidup dari sudut lain. Kau sendiri yang tentukan, seberapa beruntungnya kau dalam kehidupan. Tingkatan kebahagiaan itu, derazat kekayaan itu, bukan angka yang absulot yang harus kau terima, tetapi sesuatu yang relatif, bisa kau tentukan sendiri, tergantung kau bandingkan dengan siapa.

Dan merasa cukup, bukan berarti berhenti berusaha. Terus memperbaiki kulitas hidup, mencari uang dengan perasaan syukur tidak saja lebih mudah, tetapi juga memberi nilai lebih pada hasil yang didapat, berapapun itu.

Ah, mudik memang tidak pernah sia-sia.

Posting ini menggantikan janjiku menulis kisah perjalanan. Aku rasa hasil perjalanan itu lebih penting, daripada bagaimana perjalanannya. Jika berminat ini ada foto-foto lain seputar mudik ke kampung. Foto 1 Foto 2 Foto 3

Iklan

11 thoughts on “Oleh-oleh Mudik: Tentukan Sendiri, Seberapa Beruntungnya Kau dalam Kehidupan

  1. Toga Penulis Tulisan

    Pertamax!
    Sesekali, boleh dong komen di blog sendiri.
    Maaf nih, berturut-turut memajang foto beliau. Soalnya, aku belakangan sadar, dia ternyata ngga pernah nongol di blog suaminya yang tak seberapa ini. Meski dari awal, blog ini kuniatkan tidak bercerita tentang hal-hal pribadi, tetapi sama sekali tidak pernah “memuatnya” rasanya sesuatu, meminjam istilah Rhoma Irama, yang terlalu juga.
    Dia sih ngga pernah protes. Tapi kadang, diamnya wanita lebih “menyeramkan” daripada semprotan kata-katanya.

    Balas
  2. Totoks

    Memang begitulah seharusnya kita memaknai hidup ini. Ada saatnya kita dibawah dan pasti ada saatnya kita diatas juga seperti roda yang berputar. Jalani dengan penuh keikhlasan dan tetap semangat tak lupa mensyukuri apa yang telah kita dapatkan, pasti hidup kita jadi lebih bermakna dan berwarna. Bukan begitu Bang πŸ˜€

    Balas
  3. Toga Penulis Tulisan

    @Totok.
    Memang begitu. πŸ™‚ Ngga selalu mudah sih… Namanya manusia, kesel, nyesek, juga ngeseks, itu sudah pasti. Tapi yang jelas, selalu berusaha mencari sisi baik dari segala sesuatu, look at the bright side of the life, akan sangat membantu kita tetap sehat, lahir dan batin.

    @Venus.
    Yup… There are something money can’t buy. U can buy sex, but not love, just for an example. (Ngambil contoh aja, ngeres!)

    Oiya, makasih, dan “beliau” kirim salam. Beneran lho, Mbok.

    Balas
  4. Susie

    melihat foto paling atas , mantan sawah … deg … begitu terharu aku membacanya ..semoga beliau sekarang tenang , pengorbanan beliau toh tak sia-sia ?? betul kan ? hanya bang toga yg tahu jawabannya ..

    @jenk Nanta , makasih ya salamnya .. ada kesamaan antara kita rupanya .. marah dan protesnya dalam bentuk ” diam ” hwahhaha

    Sepertinya bapak anda luar biasa ya , dr beliau ini ya rupanya anda belajar menglah kata .

    Balas
  5. jejakkakiku

    gak bisa berkata deh, postingannya menyentuh πŸ™‚
    dan memang mudik tidak dimiliki semua orang
    seharusnya mereka yang mudik bisa menikmati ‘pulang’
    dengan rasa bahagia seperti Ito dan kluarga…

    Semoga…

    Balas
  6. unai

    betul bang…setubuh..eh setuju, ada yang tak terbeli oleh uang, dan itulah kedamaian…hehe ketawa saya baca tulisan di bawah foto itu..salam buat junior dan belahan jiwa yah bang

    Balas
  7. meiy

    aku mau jadi orang kaya ah lae, kaya hati πŸ™‚

    salam kenal buat mamaknya Juan yg cantik. anak2 sepertinya punya energi yg tak pernah habis, mungkin krn mereka selalu bahagia?

    Balas
  8. Ping balik: Pesona Bunuh Diri yang Menggoda « Nesiaweek Interemotional Edition

  9. Ping balik: Kaya Itu Satu Hal, dan Bahagia Adalah Hal Lain « Nesiaweek Emotional Edition

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s