Mudik yang Melelahkan, Sia-siakah?

Setahun kerja keras, banting tulang, peras keringat, pelintir otak, dan hasilnya dihabiskan dalam sepekan kemeriahan lebaran, dengan mudik sebagai hidangan utamanya. Sepertinya absurd betul ya, apalagi bagi mereka, bagi kami, yang mendapat uang bukan dengan cara yang “mudah”.

Banyak juga orang yang mau berepot-repot menghitung biaya dan energi yang dihabiskan dalam sepekan lebaran itu, yang kemudian dianggap sama saja dengan menghambur-hamburkan uang, yang semestinya bisa digunakan untuk hal lain yang “lebih bermanfaat.”

Lha, memangnya yang lebih bermanfaat itu apa? Masa depan? Busyet deh, hari ini saja belum kita selesaikan dengan baik, gimana mau bicara masa depan?

Pulang adalah fitrah.

Bagi banyak orang, terutama wong ndeso yang nekad berkelahi dengan nasib di kota-kota besar, mudik adalah saat di mana dia bisa merasa menjadi manusia, setelah kota, nyaris setahun penuh, hanya menganggapnya sebagai angka, atau malah sebuah masalah!

Sudah tahu hanya akan mendapatkan hidup yang “keras dan berat” di kota, jadi kok datang juga? Ngapa nggak mudik setahun penuh, tinggal di kampung? Masalahnya, di kampung, kadang sudah tak ada kehidupan, bahkan yang bentuknya paling buruk sekalipun.

“Daripada susah di kampung, lebih baik susah di kota,” begitu ayat suci yang kami jadikan pegangan, saat meninggalkan semua kenangan di kampung.

Setahun berperang dan jadi bulan-bulanan nasib, setahun dilukai, digusur trantib, ditagih-tagih uang kontrakan rumah yang selalu saja nunggak, seminggu saat mudik adalah waktunya merayakan kehidupan.

Buat apa hanya bahagia seminggu, untuk kemudian menderita lagi, setahun kurang seminggu berikutnya?

Siapa bilang bahagia masalah durasi? Bahagia adalah intensitas. Dengan bekal bahagia seminggu itu, kami siap menghadapi penderitaan setahun berikutnya.

Lagi pula, maaf saja ini buat iri, pulang tak dimiliki setiap orang.

*)Cerita soal perjalanan mudik bersama empat orang tercinta, nyusul ya. Masih capek. Capek tapi bahagia. Persis seperti sehabis orgasme jiwa dan tubuh sekaligus. 😛

Iklan

13 thoughts on “Mudik yang Melelahkan, Sia-siakah?

  1. venus

    haha…saya ga mau ikutan ngomong jorok soal gelembung2an. cuma mau bilang maaf lahir batin, apa kabar, bang?

    wah, itu permaisuri ya, bang? cantik euyyy…..

    Balas
  2. Susie

    Siiiiiip , makasih dah di kasih liat keluarganya Bang Toga …. mereka ini ya ternyata yang menjadi inspirasi tulisan2 bang Toga yang “Indah ” …
    Si Kakak , cantik euy , anak2nya manis2 …besanan yuk , tinggal pilih ..hehehe bercanda kok , khan bukan zamannya siti nurbaya lagi ..

    Nambah satu lagi dong Bang , biar sama banyaknya dengan punya say , salam buat si kakak di sebelah anda ya …juga sun buat anak2 yg manis2 .Pingin banget kalau saya ( sekeluarga ) mudik tahun depan mampir juga ke Danau Toba , ketemuan ya ? sekeluarga tentunya ( hehehe )

    ditunggu cerita selanjutnya

    Balas
  3. Toga Penulis Tulisan

    @Acho.
    Datenglah… Danau Toba emg keren, sayang alamnya ngga dipelihara dengan baik.

    @Totoks.
    Iya, main tunggal. Pegel, mana menjelang kampung, jalannya parah!

    @Annisha.
    Emang, kami juga lagi ngetawain gelembung itu kok. 😀 Jeli banget!

    @Mei.
    Hehehe, jangan2 gelembung itu karena lepasnya semacam gas metan ya…

    @Venus.
    Sama-sama, maaf lahir batin juga ya… Nggak jorok kok, kalo setiap gelembung dianggap jorok, ntar tukang balon bisa protes lo.

    @Susie.
    Salam Mbak udah dibaca langsung ama Nanta, istri saya. Salam hormatnya juga untuk Mbak. Trus Echa, Zaid, dan Juan juga salam untuk Icha, Mars, Bounty, dan Kellie, di negeri jauh sana. 🙂

    @Ina.
    Yup. Ada keindahan dalam kerepotan itu.

    @Venus Lagi.
    Ngga ngantongi apa-apa kok. Emg siy, bentuknya mirip Nokia 8110. Masih inget? Itu model ponsel lawas yang sering juga dibiliang Nokia pisang, karena melengkung.
    Hayo! Mau adu jorok-jorokan ama jagonya? :))

    Balas
  4. Am. Ivan Sipahutar (SHAH UTAR)

    Oi enak betul lae baru mudik , aku pun pengen mudik nanti ah desember mau ketemu mamakku di kampung halaman , betul kata lae dan aku setuju ,
    “Siapa bilang bahagia masalah durasi? Bahagia adalah intensitas. Dengan bekal bahagia seminggu itu, kami siap menghadapi penderitaan setahun berikutnya.”

    salam selamat idul fitri

    Balas
  5. meiy

    gelembung gelembung apaan sih, aku gak nyambung?

    ternyata ratumu cantik banget, gak pernah di upload2 takut banyak yg naksir yah hehehe…

    kebahagiaan mudik nggak bisa diukur materi ya lae
    kiss buat anak2mu yg manis itu…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s