Aku pun tak Ingin Kau Menari Sendiri di Bawah Hujan

Dia seperti main petak umpet beberapa hari belakangan. Muncul diam-diam di kegelapan, kemudian meninggalkan jejak di rerumputan.

Ketika kau bangun esok harinya, kau baru menyadari, dia datang tadi malam. Pagi menebar aroma yang lain. Kedatangannya seperti meninggalkan sisa, menambah kesegaran pada kabut yang belum terangkat.

Jejak kakinya bisa terlihat di mana-mana. Jalanan tampak lembab, dedaun seperti baru saja mandi. “Ah, andai aku terbangun saat ia datang, biar aku bisa menggapainya, bisa meraihnya”.

Merentang dan mengatupkan tanganmu, menangkapnya. Berlari, seperti masa kanak dulu. Kau pun ingin kehilangan dirimu dalam dekapannya, melupakan semua ketakutan, meninggalkan semua persoalan.

Tapi mengapa dia seperti menjaga jarak, mempermainkanmu, menggodamu, menghilang saat kau pandang, muncul saat kau berpaling. Hanya meninggalkan jejak, memantulkan cahaya pertama mentari pagi. Dia memaksamu untuk terus menunggu. Seperti kekasih yang ditinggal pergi, dititip janji.

Di hari kau mulai kehilangan harap, angin bergelombang memukulmu, lembut. Tapi kau tersentak, seperti terpukul telak, ketika menyadari dia datang bersama angin itu. Ini bukan sepoi biasa, ini sepoi yang membawa sesuatu.
“Bersiaplah, aku akan datang,” bisiknya. Tiba-tiba kau sadar, sudah begitu banyak tanda lain. Udara mendadak dingin, malam seperti akan tiba lebih cepat.

Kau teringat pada seorang putri, yang wangi tubuhnya sudah tiba sebelum dia terlihat. Parfum itu, utusan yang bicara tanpa sepatah pun kata, membuat seisi ruang menengadah, setiap orang menunggu untuk menjadi yang pertama mereguk kecantikannya. Begitu dia memasuki ruangan, semua mata terpaku, dan tuan putri tampak menikmati itu. Senyum menyeruak di bibirmu, dan wajah-wajah lain seperti memantulkannya. Mereka sudah mengerti juga rupanya akan keindahan yang bakal tiba.

Hari lelah akan berakhir, angin akan menyegarkanmu seperi bayi dilumuri minyak kayu putih sehabis mandi. Beberapa saat, kau akan bisa melupakan masalahmu. Tapi kau mulai ragu, membelalakkan mata, merentangkan tangan, apakah dia sungguh di sana, atau hanya ilusi permianan mata. Saat itulah, titik lembut gerimis jatuh di tanganmu. Sentuhannya begitu indah, menakjubkan, lembut, menghidupkan.

Namun rasa sesungguhnya adalah ledakan kebahagiaan di hatimu, saat memandangi hujan jatuh, saat merasakannya tiba. Udara mendadak lebih dingin dari bulan-bulan sebelumnya. Angin menciumi wajahmu seperti keceriaan bocah, kau pun makin menengadahkan wajah, menawarkan seluruh permukaan kulitmu untuk kecupannya, sembari menutup mata.

Menutup mata, membuka hati. Itulah momen kemurnian dirimu. Andai aku di sana, aku akan mengulurkan tangan, menggenggam jemarimu, agar kau tak lagi menari sendiri.

———————————————————————–

Iklan

12 thoughts on “Aku pun tak Ingin Kau Menari Sendiri di Bawah Hujan

  1. Aku

    Gemuruh ombak mengalahkan teriakanku tentang rasa yang terbelenggu dalam dada…relung hati yang terdalam tidak dapat menjelaskan rasa yang kuhadapi saat ini, detik ini, pada saat kau ada dalam benakku…setiap titik sadar dalam otak pun terbelenggu oleh hati yang bergolak karenamu…

    Embun pagi hari yang bersinar tertimpa matahari pun, ikut mencerahkan hari dan menenangkan hati yang lelah karena menunggumu….akankah kau tetap berada disisi selamanya? Bagaikan ribuan bintang yang setia menemani bulan kala malam datang?

    Edited version
    [MW, Sabtu, 27 September 2003, 19.33]
    ——–
    bisa disambung ternyata tulisannya πŸ˜€
    menulis tentang hujan yah…hmmm…

    Balas
  2. irdix

    hujan.. semoga tetesannya membasuh panas kepala-kepala yang sarat, aroma tanah yang basah menyegarkan paru-paru yang penuh sesak. Dan merayu setiap insan rindu hangatnya kekasih..

    aq rindu tatapan matanya yang teralihkan saat kami beradu pandang untuk sesaat itu, aq rindu suaranya yang lamat-lamat memangilku dalam tidurnya. Aq rindu aromanya yg tak putus-putus melekat di lorong hidungku. Aq rindu pelukannya dalam hujan tangis penuh maaf..

    Balas
  3. salamatahari

    Untuk direnungkan bagi yang belum menikmati Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur…..? Ketika kita menangis..? Ketika kita membayangkan..? Ketika kita berciumam..?
    Ini karena hal terindah di dunia tidak terlihat….cinta yang agung..?

    Balas
  4. salamatahari

    Duh kaget, rupanya komentarku jadi “comment of the week”. Bikin GR aja niy…padahal aku kasi komentarnya jarang2.. πŸ˜€
    Tapi selalu dipantau kok bang…
    Terima kasih πŸ™‚

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s