Menghapus Bekas Bibir tak Semudah Memupus Jejak Rasa

[Posting ini 21+ dan mengingat ini bulan puasa, yang 21+ pun tidak dianjurkan untuk membaca sebelum buka]

Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu? Judul cerpen Hamshad Rangkuti ini sepertinya menyiratkan kesiapan diri untuk mengakhiri satu babak, memulai sebuah yang baru.

Tapi apakah bila bekas bibirnya di bibirmu sudah terhapus dengan “mendaratnya” bibir yang lain, jejak rasa yang tertinggal di sana juga dengan sendirinya pupus?

Atau bisakah begitu saja kita substitusi kata “bibir” dengan “hati”, misalnya, sehingga kalimat itu menjadi begini: “Maukah kau menghapus bekas hatinya di hatiku dengan hatimu?” (Silakan berkreasi dengan mensubstitusikan kata-kata yang lain. Ayo! Jangan ngeres ya…)

Barangkali, itu tergantung pada seberapa dalamnya guratan rasa yang ditinggalkannya. Penghayatan orang terhadap sebuah ciuman, pasti berbeda. Ciuman pertama tentu membawa muatan rasa yang berbeda dengan ciuman-ciuman berikutnya. Begitu juga beda penghayatan antara pria dan wanita. Sepertinya sih.

Tapi Hamshad pasti tidak asal comot kata bibir. Seorang teman saya, yang sudah malang melintang di dunia malam pernah menyampaikan hasil “penelitian” kecil-kecilannya.

Ternyata wanita malam sekalipun, merasa lebih mudah menyerahkan, maaf, kemaluannya, daripada bibirnya untuk dicium. Demi bayaran lebih, ia mungkin akan mencium seluruh bagian tubuhmu yang lain, tapi tidak bibirmu. Mereka akan bilang, “Maaf, itu cuma untuk orang yang kucintai”.

Hm, sepertinya begitu personal ya. Atau barangkali benar, jendela ke hati wanita adalah bibirnya?

Ah… kissing is so short… forgetting is too long.

Mengganggu kekhusyuan puasa? Nah, tadi kan udah diingetin.

Iklan

30 thoughts on “Menghapus Bekas Bibir tak Semudah Memupus Jejak Rasa

  1. NesiaWeek

    @Meiy.
    Asal apa? Asal bibir asli, gitu? :))

    @Ahmad.
    Syukurlah. Kemungkinannya dua: imannya kuat, ato emg lagi ngga puasa.. Hehehe, becanda, piss bro!

    @Caplang.
    Gw jg ngga tau persis. Tp denger2nya sih, metode partisipatif. Auk apa maksute. :))

    @Susie.
    Mendekati bibir? Ato mendekati apa nih?

    @Alex.
    Ngga. Cuma kumpulan cerpen itu doang… Napa, mo minjemin ke kita? Boleh tuh…

    Balas
  2. jejakkakiku

    Jika Lae pernah menonton film PRETTY WOMAN, disanalah salah satu penelitian seorang teman itu, sedikit terbukti. Itu memang film, tapi sepertinya memang memalui sedikit ‘penelitian’ yang cukup sehingga bisa memasukan unsur ciuman itu.

    Tapi memang, berciuman lebih lama itu, punya sensasi LEBIH loh! Apalagi dengan orang yang memang JAGO ‘bersilat lidah’ hahahahah…:D

    Balas
  3. venus

    tapi emang iya sih, bang. kalo buat perempuan, ciuman dan intercourse itu beda banget sensasinya. sex is sex. tapi kalo ciuman, itu simbol intimacy, cara kita mengekspresikan cinta kepada pasangan. ciuman, ‘harga’nya memang jauuuhhh lebih mahal.

    ah, untung saya udah buka puasa. halah.

    Balas
  4. yati

    masih adakah bekas tubuhnya yang lain di tubuhmu yang harus kuhapus dengan bagian tubuhku yang lain pula?

    * ga baca isinya….cuma mo comment gini doang :d

    Balas
  5. venus

    bang, errrr…saya nitip janji apa, sama siapa ya? abang liat di mana?

    iihhhh…….

    japri aja kali kalo gak layak tayang ya, bang? halah saya jadi panik gini yak…takut bikin salah sama orang 😦

    makasih, bang.

    Balas
  6. maya

    ” Atau barangkali benar, jendela ke hati wanita adalah bibirnya? ”

    kalo lg senang 🙂

    kalo lagi bete 😦

    * perhatikan bibirnya xixiixixixxiiiii

    Balas
  7. Toga Penulis Tulisan

    @Meiy.
    Barangkali bisa. Hanya saja, seperti luka, mungkin perlu waktu, dan tergantung seberapa dalam terjejaknya.
    Hujan mungkin bisa membantu? Peter Pan: “Biar hujan menghapus jejakmu”.

    Balas
  8. ann!sha

    Kissing is OK. Yang good (too damn good malah jika dilakukan dengan orang yang ‘tepat’) adalah rasanya. Sesuatu yang begitu ‘good’ dan beautiful kenapa ingin dilupakan? Its a one way ticket to yourself, bagian dari Dimensi tacit kita.
    Kayaknya, yang ingin kita lupakan adalah keinginan untuk ‘merasakan’ kembali berciuman dengannya,khususnya ketika kita tidak dapat lagi menciumnya. Alih-alih ingin melupakan rasa itu (yang jelas-jelas ‘good’ gitu loh), seandainya dikemudian hari tidak dapat menciumnya lagi, saya mah malah ingin dapat mengingat rasanya. Save it in my pocket and keep it for a rainy day (atau kalo kamu hati yang ketiga, simpan aja disana).

    PS. Temanku juga melakukan riset Ga, pake metode active-interactive (ntah juga apa artinya :)), sebagian banyak laki-laki terlalu sering melupakan ‘rasa’ waktu berciuman, sehingga mereka selalu berulang-ulang mencium dan terus mencium dan terus mencium.
    PS lagi. Ntar kita atur blind date buat temanku dan temanmu gimana Ga. Biar kompakan risetnya hehehe.

    Balas
  9. rajaiblis

    sentuhlah hatinya maka bibirnya akan mendarat di bibirmu !
    bila kamu lebih memilih menyentuh bibirnya terlebih dahulu, maka tangan kanannya akan dengan sigap mendarat di pipimu !

    note: pengalaman sich …

    Balas
  10. Acho

    kalo ditanya “maukah km menghapus cipokannya dari bibirku dengan cipokanmu?”.. aku pasti jawab iya, malah aku tambain, kl cupang boleh ndak?? :p

    *udah buka puasa*

    Balas
  11. Ping balik: alex’s blog » Menghapus Bibir

  12. Ping balik: alex’s blog » Menghapus Jejak Bibir

  13. Ping balik: Mengapa Ungkapan Cinta dalam Bahasa Indonesia Terasa Gombal? « Nesiaweek Emotional Edition

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s