Maaf, tapi Kami Terlalu Miskin untuk Puasa…

Hasil survei itu sungguh mengungkap sesuatu yang ironik. Konon puasa adalah salah satu cara melatih empati, biar bisa merasakan sebagian kecil penderitaan orang tak berpunya, yang kemudian akan menumbuhkan kepekaan sosial sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, bla… bla…

Ternyata, puasa itu sendiri sudah menjadi simbol kemapanan ekonomi. Sadarkah kita, sebagian besar masyarakat miskin perkotaan justru tidak (sanggup) berpuasa. Kerja kasar, satu-satunya cara mereka bertahan hidup, tidak memungkinkan perut mereka kosong begitu lama.

“Hampir 60 persen, pekerja yang tidak berpuasa dari kalangan miskin. Seperti tukang becak, sopir bus kota, sopir angkot, buruh bangunan,” kata Anton Bae, dari Lembaga Analisis Informasi (Essai) yang melakukan penelitian mengenai “Puasa dan Kemiskinan” di Palembang, Sabtu lalu.

Menurut Anton, 200 responden yang tidak berpuasa mengaku tidak kuat atau mampu melaksanakan puasa dengan alasan tidak mampu. “Misalnya tidak mungkin berpuasa kalau harus bekerja menjadi buruh bangunan,” katanya.

Namun, ironisnya, mereka yang tidak berpuasa ini justru kerjanya selama puasa ini kian meningkat jam kerjanya. “Mereka mengaku memburu penghasilan buat menghadapi Lebaran,” kata Anton.

Kondisi ini berbeda dengan mereka yang bekerja sebagai profesional atau pegawai pemerintah. “Sedikit sekali yang tidak berpuasa. Kalaupun tidak puasa, umumnya alasan kesehatan,” kata Anton, yang melakukan penelitian terhadap 500 responden di Palembang.

Dengan penelitian ini Anton menyimpulkan puasa bukan sesuatu yang dianggap suatu berkah buat orang miskin. “Orang miskin memandang puasa seperti suatu beban ekonomi, terutama mengenai kebutuhan menghadapi Lebaran. Jadi, mereka yang menyebabkan orang miskin seperti korupsi, bukan hanya membuat banyak orang kehilangan peluang pendidikan atau pemukiman, juga merusak ritual banyak orang,” jelas Anton.

Inilah barangkali contoh paling pas dari apa yang disebut sebagai ironi!

(Sumber berita: Detik.com)

Iklan

21 thoughts on “Maaf, tapi Kami Terlalu Miskin untuk Puasa…

  1. Susie

    Sebuah ironi yang menyayat …
    Saya sering prihatin dengan keadaan negeri kita , perbedaan antara kaya dan miskin mencolok sekali , salah siapakah ?? Ketika kemiskinan masih meraja lela , mereka yg kaya justru sibuk pamer harta ..

    Balas
  2. bee

    Betul, itu ironi. Buat org miskin, puasa sebenarnya justru dilakukan di luar bulan puasa. Saat semua org masih bisa menikmati uang tabungan dan deposito, si miskin masih bingung tentang hari ini (bukan besok!) makan apa krn order kerjaan sedang sepi. Saat semua org puasa, si miskin justru kerja maksimal untuk kebahagiaan keluarga saat lebaran. Di saat yg sama, org kaya justru kerja malas2-an dgn alibi “lagi puasa”. 😦

    Salam kenal. 🙂

    Balas
  3. jejakkakiku

    I’m sorry
    please forgive me,
    Thank you,
    I love you

    smoga saya bisa membantu ‘menyembuhkan’ dunia kita yang sudah ‘sakit’ ini
    Let’s chanting those 4 words whenever we remember for those whose in starving, sickness, being rape, mentally ill, corruption, homeless, broken heart, being abused, and money problems..

    Let’s heal our world!

    Balas
  4. maya

    “Kondisi ini berbeda dengan mereka yang bekerja sebagai profesional atau pegawai pemerintah. “Sedikit sekali yang tidak berpuasa. ”

    puasa yg dimaksud hanya puasa tidak makan saja? 🙂

    Balas
  5. Totoks

    kalau di renungkan kadang miris juga mendengar bahwa ternyata justru mereka yang *papa* ini malah kebanyakan tidak berpuasa. mungkin karena kerja mereka yang justru semakin menguras energi mereka. karena kalau sampai sakit maka malah tidak bisa bekerja. mungkin mereka akan menggantinya di kemudian hari. semoga menjadi renungan kita bersama.

    salam kenal

    Balas
  6. meiy

    semakin tua semakin kutemui dunia emang ironi! apalagi di indonesia

    contoh aja: orang kaya punya rumah gede, penghuninya 2 orang saja. org miskin berjejalan di kamar sempit kaya sarden. makanan berlimpah dibuang2 saja, yg miskin gigit jari, makan pake krupukpun cukuplah…

    tapi dalam Islam ada byk keringanan buat orang miskin yg bekerja keras yg nggak sanggup puasa kan

    Balas
  7. restlessangel

    dulu waktu SMP-SMU, pas kemana-mana ngebis, alkisah, daku brangkat pagi sekali di bulan ramadhan. menyapu trotoar sepanjang stasiun tugu (rumahku deket ma stasiun). dan aku ngedumel pas liat orang2 pd asik sarapan di warung kecil khas warteg murah yang nempel di pagar stasiun.

    butuh bertahun2 utk sadar, betapa mereka uda terbiasa ‘puasa’. 😦

    ttg lebaran, sumpah, rasanya pengen menghapus kosakata itu dr kamus. soale, lebaran diartikan pake baju baru dll -PAMER- baik dari kalangan the haves sampe grass root.
    kenapa yg lebaran haji, yg bener2 sukarianya -bisa makan2 bareng euy- malah ga segegap gempita lebaran idul fitri .

    bah !!!!
    kriminalitas meningkat pas puasa. kenapa ?? IMHO, supaya bisa ‘lebaran’ di kampung ga pake malu. biar bisa ‘lebaran’ mentereng di desa.
    ughhhhh !!!

    Balas
  8. mr lekig

    Apakah puasa suatu paksaan? Maaf kalau sedikit menyinggung agama.

    Andaikan memang benar2 tidak mampu, entah karena alasan kesehatan, ekonomi ataupun yg lain, saya yakin Tuhan pasti memaafkan.

    Balas
  9. Marudut p-1000

    Bulan puasa hanya berlaku bagi orang yang punya, bagi yang tidak punya puasa adalah kenyataan hidup yang harus dihadapi sehari-hari.

    Lebaran adalah simbol kemenangan bagi orang yang punya, bagi yang tidak punya lebaran adalah hari kebahagiaan yang hanya sekali setahun terjadi dalam hidup mereka.

    Istilah “buka puasa bersama” telah menjadi suatu kegiatan yang sangat populer dikalangan yang punya. Menu yang disajikan kualitasnya sama dengan menu berpesta dan betapa lahapnya orang-orang yang berpuasa tersebut menyantapnya bahkan tak jarang kelihatan seperti balas dendam.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s