Let It Fucking Go! (Mengapa dalam Bahasa Batak, tak Ada Kata Maaf)

MEREDAM sedikit saja “harga dirimu”, egomu, rasa pedih di hatimu, akan lebih mudah, lebih menyehatkan, sekaligus mencegah kerusakan lebih besar di dalam jiwamu; daripada bertahan, menunggu orang lain menjadi sosok yang sempurna untukmu.

Mengapa begitu bersikukuh merengkuh penyakit? Bila seseorang menyakiti kita, kita kok mau-maunya memelihara rasa sakit itu, hingga efeknya bekerja jauh lebih lama dari seharusnya.

Ibarat nemu DVD film bagus, kita memutarnya berulang-ulang di dalam pikiran, mengingatnya siang dan malam, hingga kita hapal setiap dialognya, setiap adegannya. Padahal semestinya mudah aja. Yang perlu cuma kemauanmu untuk menjadi penguasa atas dirimu sendiri. Itu bisa begitu mudah, tapi bisa juga teramat sulit. Tapi cobalah.

Kemarahan, kerusuhan, kesumat, pembantaian, adalah mata rantai lingkaran setan yang tak berujung. Ayah pemabuk memukuli anaknya, persis seperti ayahnya yang dulu juga doyan teler memukulinya; begitu pula siklus pembunuhan di bawah panji-panji “Tuhan” dan agama; anak-anak muda yang menjadi buas atas nama patriotisme dan kebebasan, politikus opportunis yang sok tahu berkomentar panas di media, akademisi dan cendikiawan cuap-cuap memancing amarah massa, seolah mereka sudah mengerti betul tentang sesuatu yang sama sekali tak pernah dialaminya.

Cuma ada satu cara untuk mengakhiri putaran rantai jahanam itu. Ketika seseorang salah mempelakukanmu, udah biar aja. LET IT GO, LET IT FUCKING GO! Kamu yang harus memimpin dirimu sendiri, bukan kemarahan-kemarahan itu. Biarpun kamu yakin kamu ngga salah, maafin aja dalam hati, bahkan sebelum muncungnya cukup ksatria untuk minta maaf.

Orang menjadi jahat, seringkali karena merasa dirugikan oleh kehidupan, dan dengan begitu dia memang dirugikan kehidupan dan dirinya sendiri. Jadi, ajaklah orang-orang menyedihkan itu, orang-orang kurang beruntung itu bicara. Buka hatimu, seluas telaga bukan?, dan jadilah orang yang sempurna dengan mengerti mereka tidak sempurna.

Tak perlu berepot-repot menunjukkan daftar kesalahannya ke depan matanya, apalagi bila sampai kamu jadikan bahan omelan kepada orang lain yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang masalah itu. Suer! Itu cuma akan makin menyakiti dirimu sendiri. Itu berati kamu sedang menambah irisan-irisan pedih ke hatimu sendiri, menambah stressmu, membuat kepala pusing sendiri, mengetatkan otot-otot, menaikkan tekanan darah, dan akhirnya melemahkan fungsi kekebalan tubuhmu, persis seperti yang dilakukan virus HIV. Busyet dah!

Apa coba untungnya menyimpan penyakit lama-lama di dalam hati? Sekali lagi, membuangnya bisa mudah, bisa juga sulit.

*****

PS: Inilah jawabanku atas pertanyaan banyak sahabat, “Mengapa dalam bahasa Batak tak ada kata maaf?” Selama ini, pendapat yang umum adalah, biar orang Batak berhati-hati sebelum melakukan kesalahan, karena sekali itu dilakukannya, dia tak kan punya persediaan kata untuk menebusnya.

Mungkin benar, tetapi yang lebih masuk akal adalah, biar orang Batak, dan siapapun juga, bisa memaafkan ketidaksempurnaan orang lain, tanpa perlu menunggu ada permintaan maaf.

Bukan untuk menyenangkan orang lain, tetapi untuk menyelamatkan kesehatan diri dan jiwamu sendiri. (Entah ada hubungannya atau tidak, memang ada stereotip tentang orang Batak; “Gampang marah, tetapi gampang pula lupa dan memaafkan”)

Iklan

18 thoughts on “Let It Fucking Go! (Mengapa dalam Bahasa Batak, tak Ada Kata Maaf)

  1. Susie

    Dengan melihat ketidaksempurnaan diri sendiri , akan memudahkan kita utk memaafkan yg lain .Karena dengan ini akan menyadarkan kita bahwa kita juga bisa melakukan kesalahan sama .

    Hanya saja , terkadang utk bisa memberi maaf yang tulus , kita memerlukan waktu , bukankah sakit yg di lakukan krn kesalahan yg lainpun perlu waktu utk di sembuhkan ??

    Balas
  2. NesiaWeek

    Ya, Mbak Susie. Ketika menulis ini pun, sy sdg mengajari dan menasihati diri sendiri…

    Iya, semua perlu waktu, kita jg g boleh terlalu keras memaksa diri sendiri untuk memaafkan kan?

    Salam.. Oiya, mari minum kolak dingin… dah mau buka puasa nih, Mbak.

    Balas
  3. venus

    Catat, simpan, hapus. Catat, simpan, hapus. Simpan yg baik-baik saja, hapus semua yang membuatmu luka. Begitulah sistem kita bekerja. Kemampuan melupakan dan memaafkan inilah yang membuat kita tetap waras.

    Tuh kan, Tuhan baik banget. Bayangin kalo Dia gak ngasih kita mekanisme ‘catat-simpan-hapus’ ini, wah…kita semua pasti udah masuk rumah sakit jiwa gara-gara nyimpen segala marah dan sakit hati.

    LET IT FUCKIN’ GO!! YAY!!!!

    Balas
  4. iman brotoseno

    Jadi sebuah lagu Bee Gees
    How can you stop the rain from falling down?
    How can you stop the sun from shining?
    What makes the world go round?
    How can you mend this broken man?
    How can a loser ever win?
    pada akhirnya kepasrahan yang membuat kita tetap hidup

    Balas
  5. bee

    Jika bicara dalam konteks “dendam”, saya setuju banget. Tapi jika bicara dalam konteks “menunjukkan kesalahan” (bukan menyalahkan loh ya, beda itu) maka terapi “let it go” kurang tepat. Seringkali kita gak tau kita melakukan suatu kesalahan sampe ada org lain yg menunjukkan bahwa apa yg telah kita lakukan tsb salah. Nah, tinggal gmn cara menunjukkannya, apakah dgn marah2? apakah dgn santun? apakah secara langsung? dlsb, itu adalah karakter masing2 yg menyampaikan. Selama masing2 pihak -yg menunjukkan maupun yg tertunjuk- sama2 ikhlas dan legowo, seharusnya gak perlu jadi masalah.;)

    Balas
  6. jejakkakiku

    Let’s forgive and forget 🙂
    Inget komentar di postingan yang ini, Lae?

    Seperti halnya menulis kata IKHLAS jauh lebih mudah,
    dan mengatakan kata ‘udah IKHLAS-in aja’ juga lebih mudah,
    tapi pada saat menjalani se-IKHLAS-nya, tidak semudah yang tertulis dan terucapkan…

    Tapi berusahalah karena belajar menjadi orang yang EGOLESS akan membuat BUMI BARU yang berisi orang-orang mengetahui makna HIDUP INI MEMANG INDAH!

    🙂

    Cheers!

    Balas
  7. Bang Juntak

    ah… kata siapa dalam bahasa batak ngga ada kata maaf? Atau kata yang artinya sama dengan maaf? Coba cari cari apa arti kata “MANGAMPU” apakah itu bukan bahasa batak?

    Horas

    Balas
  8. Ping balik: TEGANYA TEGANYA TEGANYA « Kandang si BearNuts

  9. Monang Naipospos

    Santabi lae Nainggolan.
    Saya sudah baca artikel ini sejak lama, tapi tidak membahas terlaku jauh tentang tidak adanya kata “maaf” dalam bahasa batak. memang kata maaf tang diterjemahkan dalam satu kalimat seperti “sorry” “pardon” dll sulit ditemukan. Ini bukan berarti orang batak tidak menyadari pernah melakukan kesalahan dan perlu pengampunan.
    Kata “santabi” walau bukan merupakan permohonan maaf karena belum melakukan kesalahan. Kata ini diucapkan lebih dulu sebelum tindakan dilakukan.
    Setelah tindakan dilakukan dan mungkin ada kesalahan, apa yang diucapkan.
    Mereka merangkai sebuah kalimat “pauk-pauk hudali, pago-pago tarugi. natading taulahi, na seda tapauli” Bila ada yang salah kita perbaiki, yang tertinggal kita ulangi. Biasanya untuk mengenrjakan hal yang melibatkan banyak orang.
    Bila kesalahan mungkin dilakukan kepada seseorang, maka permohonan maafnya dikatakan “marpangulahi ma ho/hamu”. Permohonan maaf yang setulusnya dirangkai dengan kalimat yang agak puitus sehingga yang menerima tidak mudah mengelak, dan hatinya luluh sehingga memberi maaf.
    Biasanya perbuatan salah yang pada awalnya sudah ada pengucapan “santabi” maka yang sulit memberi maaf setelah diminta dengan etika bahasa yang santun itu justru disalahkan.
    Untuk pertimbangan hukum adat batak, bila seseorang sudah minta maaf, tapi terus dilakukan tindakan menghakimi, maka kepadanya para pengetua berkata “sihukkuk di toru bulu, molo dung tunduk tongka dibunu” Bila yang bersalah sudah mengaku salah dan tunduk kepada aturan hukum, pantang dianiaya.
    Jelas terjemahan langsung maaf sulit ditemukan, namun kehatihatian terhadap kemungkinan salah, lebih dulu diantisipasi, dan sudah ada bahasa yang santun untuk mohon maaf.
    Kurang lebih mohon maaf. Paukpauk hudali, pagopago tarugi. natading taulahi, naseda tapauli. Di hahuranganhi, rohamma mangulahi.

    Balas
  10. Humbang Hasundutan

    “Sala ma au disi”, mungkin inilah padanan kata yang
    paling tepat untuk kata maaf dalam Bahasa Batak.

    Balas
    1. Janto sIHOMBING

      Au pe lebih setuju do molo kata “maaf” bahasa Indonesia di hata Batak lebih tepat didok ” salah mau di si” bahkan didok nunga mardosa au jadi lobih umbagas dope hatai sian hata maaf. Alai boasa maol halak Batak minta maaf molo au memahami alana halak batak mengklaim sude nasida raja. Raja ni dongan Tubu, Raja nihulahula, Raja ni boru, raja nidongan sahuta bahkan sahat tu raja Parhobas … hape na maol do sahalak raja minta maaf ha..ha..

      Balas
  11. Ping balik: Apakah Orang Batak Tidak Pemaaf? | Halak Hita

  12. Ping balik: Apakah Orang Batak Tidak Pemaaf ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s