Pengumuman: Bahagia Itu Ternyata Bakat!

Wajah anak muda itu muram benar. Ia sepertinya dalam kesedihan dan masalah besar, mungkin yang terbesar sepanjang hidupnya.

Dadanya terasa menyempit, padahal di depannya, terhampar telaga yang dikepung bukit-bukit hijau. Kabut belum sepenuhnya terangkat. Rumah sederhana mereka memang bak Pura Ulundanu yang setia menjaga Danau Bratan.

Ayahnya mendekat. “Kamu kenapa, kok mukanya ‘petak’ gitu?” Ia hanya menggeleng. Enggan menjawab. Si Ayah sadar, bukan waktunya untuk banyak bertanya. Lembut dia meraih tangan anaknya, menuntunnya ke dalam rumah. Di dapur, si ayah mengambil sebuah gelas, mengisinya dengan air hingga, melarutkan satu sendok penuh garam.

“Nih, minum.”

“Apa-apaan sih. Lagi suntuk nih, Yah!” sergahnya.

“Kamu mau ngga, suntuknya hilang. Ini nih ramuan ajaibnya.”

Dia kesal, sangat kesal. Tapi dia juga ingat ayahnya selalu punya cara untuk membawanya ke tahap kearifan yang lebih tinggi, seperti selama ini.

“Wuaaks!” Dia hampir muntah. Larutan garam itu tak lagi asin, tapi sudah menjelang pahit saking asinnya.

“Asin kan?”

“Udah tau, nanya.”

Si Ayah dengan lembut kembali meraih tangan anaknya, setelah sebelumnya mengambil sesendok garam lagi. Anak muda itu menurut saja, sambil sesekali meludah.

Di pinggir telaga, ayahnya menumpahkan sesendok garam tadi, kemudian menyuruh anaknya meminum air telaga yang bening itu.

Ia tersenyum lebar, bukan karena kesegaran air telaga yang kini mengaliri kerongkongannya, tetapi karena ia kini mengerti sesuatu.

“Makasih, Yah,” mengulurkan tangan, berjabatan bak sahabat dekat.

*****

SELAMA kita hidup di dunia, akan selalu ada sesendok garam persoalan hidup yang harus kita hadapi. Pertanyaannya adalah, apakah hati kita sekerdil gelas, sehingga asinnya terasa begitu dahsyat, atau seluas telaga hingga asinnya bahkan tak berbekas.

Air garam dalam gelas itu, tidak saja meracuni kita, tetapi juga membuat kita memuntahkan, kehilangan hal-hal baik yang sebelumnya sudah kita miliki. Namun jika punya hati seluas telaga, tak hanya garam persoalanmu, garam-garam orang lain di sekelilingmu pun bisa kamu larutkan tanpa susah payah untuk kemudian membagi kesegaran dan harapan ke sekitarmu.

Jelas kini, orang yang bahagia bukanlah mereka yang tak pernah punya persoalan, tetapi mereka yang mampu melarutkan persoalan dengan keluasan dan kejernihan telaga hatinya.

Tak ada orang yang ditakdirkan bahagia, tak pula ada yang dikutuk untuk menderita. Tetapi memang, seperti bakat lainnya, hati seluas telaga tak dimiliki setiap orang.

Ops, jangan putus asa dulu. Bukankah menurut penelitian terakhir, ada yang lebih penting dari bakat?

Yep. LATIHAN!

Iklan

22 thoughts on “Pengumuman: Bahagia Itu Ternyata Bakat!

  1. Sawali Tuhusetya

    OK, komen vertamax, hehehe 😀
    Dinamika perjalanan anak manusia memang penuh liku. Secara steretype, senang dan susah, bahagia atau menderita, akan datang silih berganti. Karenanya, kita disarankan untuk tidak berlebihan dalam menghadapi setiap persoalan. Tujuannya, agar kita tidak terlalu larut dalam kebahagiaan atau penderitaan itu sendiri.
    OK,. salam hangat.

    Balas
  2. nesia Penulis Tulisan

    @Sawali.
    Glad to have u here, Pak Guru yg Bijak. :))

    @Yeni
    Kek mana ya buat icon blushed gitu? Halah, pake nanya…

    @Tika
    Sama, saia jg sukaaa… Mangkanya dibagi. (Tapi lain kali, hati-hati mbagi no hp ya, Tik… :P)

    Balas
  3. venus

    yaela, bang. tadi pas baca, saya udah rencana mau komen bahwa yg penting bukan cuma bakat, tapi butuh banyak latihan untuk mencapai level ‘hati seluas telaga’ itu. taunya keduluan, endingnya nendang banget: Yep. LATIHAN!

    agghhhhhhhh…….

    btw, themes yg ini lucu ya? seger dan enak diliat. tapi font-nya kerenan yg kemaren, bang.

    Balas
  4. irdix

    aq setuju bang dengan pernyataan ‘latihan..’ tapi kalo bole aq tanya..

    caranya ?

    oke.. karena pas.. ambil contoh yg mungkin basi.. yaitu puasa.. yg memang satu dari banyak cara untuk melatih hal ini, namun.. *ada namun neh* kita jd ingat akan proses latihan ini karena ada satu penanda yakni ‘lapar’ dan ini tragis sekali, krna hanya pas ada ‘penanda’ kita bisa melakukannya..

    kalo ga, ya mungkin bisa bertahan 1-2 bulan lah.. itu mungkin lho..

    Balas
  5. caplang™

    latihan dari sejumlah pengalaman (baik dan buruk) yang didapat dalam perjalanan kehidupan… :mrgreen:

    ga cuman bisa melewati dengan baik tapi juga harus mampu mengambil hikmah dari peristiwa tersebut dan berusaha agar tak perlu terulang lagi di masa depan

    maap saya sok tau neh, bang

    *tidur siyang*

    Balas
  6. passya.net

    2 minggu yg lalu saya ikut pelatihan. katanya, rumus bahagia itu simple : kemampuan dibagi keinginan x 100%

    makanya, para sufi dahulu mengurangi nafsu/keinginan untuk meningkatkan kebahagiaan.
    kalau orang sekarang, biasanya bukan keinginan yang dikurangi, tapi kemampuan yang ditingkatkan. sayang, banyak yang terpeleset…. termasuk saya mungkin 😀

    Balas
  7. Sani Kleden

    luar biasa. kadang-kadang kita tidak sanggup melihat sesuatu yang indah dalam diri kita masing-masing. mungkin harus datang dari teman-teman di sekitar kita. anda telah memulai untuk kami semua. Saatnya kami melatih untuk diri dan dunia di sekitar kami.
    Ok!! thanks. sahabat. mari kita latihansalam

    Balas
  8. mode invisible

    pertanyaanku cuma satu bang: Bagaimana untuk mengaktifkan mode “bahagia”, ya kalau bisa 24/7 ato 50%nya ja, dengan sekian ratus ribu software BJK CD-RW yang kita install dengan bangga sehingga untuk memandang sisi positip aja, mainprosesor kita uda ga sanggup lagi?
    *walah, pertanyaanku koq njlimet gitu ya*
    maaf deh beng
    mohon jawabannya. tq
    aniwei.. karena aq baru ol terhitung sejak H1 Ramadhan, lay out yang sekarang…. 4 thumbs up!!!

    Balas
  9. NesiaWeek

    @Venus.
    Kita mungkin sudah saling menginspirasi. Inspiring iccader.

    @Ahmad.
    Aku orang Tapteng. Iyah, aku tinggal di Marelan, deket laut juga. :))

    @Irdix
    Mengulang-ulang kesadaran akan pentingnya keluasan hati, jg bentuk latihan. Orang Melayu bilang, lancar kaji karena diulang.

    @Eddy caplang.
    Itu ngga sok tau, tp emg udah tau. :))

    @Passya.
    Persis, Lae. Makanya surga dalam paham Buddha itu Nirwana; tanpa keinginan.

    @Iman.
    Mau jadi garam? Siap2 dilarutkan ya Pak.

    @Maya
    Kekna 20-80 deh. Itu kira-kiranya ajah.

    @Sani
    Yup. That’s what friends are for. :)) Salam jg.

    @May.
    Mungkin di situ bedanya. Kita bukan mesin; kita tumbuh, relatif, jd hitung2annya g pernah presisi. Balik-balik jawabannya sih latihan. Bien estar, kt orang spanyol, to be better day by day.

    Balas
  10. deKing

    Nice article…benar2 mantap
    BTW
    Bagaimana kalau kita memakai gula sebagai pengganti garam. Dalam hal ini kita analogikan gula sebagai nikmat.
    Mana yang akan kita pilih? Gelas atau telaga?
    Jika kita memilih gelas, maka dengan sesendok “gula” kenikmatan kita akan merasakan kebahagiaan (dan syukur) yang manis.
    Tetapi jika kita memilih telaga maka satu gelas gula kenikmatan pun belum tentu cukup untuk membuat kita merasa bahagia (dan bersyukur).
    Jadi…gelas atau telaga?

    Balas
  11. nesia Penulis Tulisan

    @deKing.
    Nice comment… benar2 mantap (juga). :))
    Gula pun, jika konsentrasinya terlalu tinggi, bisa berbahaya. Jika garam memompa tekanan darah, gula bisa menyerang saraf mata, ginjal, dst…
    Kenikmatan yg terlalu kental kdg bikin kita goyah kan, Pak. Tp bener jg, kita pasti berpikir dua kali untuk “membuang” gula ke telaga. Sesekali, gelas pun perlu…

    Balas
  12. salamatahari

    Lama tak berkunjung, sudah muka baru rupanya.
    Biasalah manusia hidup suka berkeluh kesah bahkan penderiataan yang sudah ada tak cukup baginya, maka dia akan membuat dirinya nelangsa pula.
    Punya tema seperti Ito ini yang pas, saling mengingatkan.
    Maaf lahir batin..selamat menikmati hidangan ramadhan

    Balas
  13. Andi

    Kata 2xnya bagus………………
    ternyata hatiku juga sekerdil gelas……:-(

    “Ops, jangan putus asa dulu. Bukankah menurut penelitian terakhir, ada yang lebih penting dari bakat?

    Yep. LATIHAN”

    Makasih banyak Bang…

    Balas
  14. Yes Us

    Bahagia itu memandang segala hal baik, ϑαη selalu tersenyum menghadapi apapun baik suka maupun duka, mampu menganggap semua hal ialah pelajaran, bukan hadiah pun jg musibah. Lapang dada jg pikiran sangat diperlukan, namun yg terpenting ϑαη utama ialah “Rasa Syukur Yg Tak Terkira” atas segala hal yg kita terima. Ya, syukur adalah wujud menerima ϑαη bukan mengeluh. Dan doaku “Damai Sejahtera ϑαη Penuh Suka Cita bagi segala yg tercipta” AMIEN

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s