Jangan Pernah Mengejek Mantanmu

Ini tidak cuma soal pacar, tapi juga soal pekerjaan, tempat tinggal, dan terutama sekali agama! Kecuali sahabat tentu saja. Setahu saya, tak ada mantan sahabat. Barusan, aku baca blog milik Newsweek International, bukan NesiaWeek Interemotional yah. Ada posting menggugah oleh Fred Guterl.

Berikut petikannya, yang diterjemahkan seadanya dalam belitan “lapar” puasa hari pertama.

Dalam bahasa Arab, terjemahan yang umum dari kata “Islam” bukanlah “keselamatan” tetapi “penyerahan diri”. Penyerahan diri kepada ide dan nilai-nilai suku Arab abad ke-7.” Begitulah Ehsan Jami, membuka cuap-cuapnya di depan puluhan wartawan di Den Hag, Belanda, 9/11 lalu.

Sekelompok orang yang menyebut dirinya Komite eks Muslim Eropa itu, memanfaatkan momen peringatan Tragedi 9/11, berkumpul menandatangani “Deklarasi Toleransi”. Gelombang pembentukan komite semacam ini, sudah mewabah di beberapa negara Eropa Barat lainnya. Pertama di Jerman, kemudian di Belanda, Swedia, Denmark, Finlandia, Norwegia, dan Inggris.

Sekilas, gerakan ini pantas mengundang simpati, dan penting untuk didengar. Muslim, menurut mereka, harus diberi kebebasan untuk mengungkapkan perpindahan agamanya, tanpa harus dicekam ketakutan dimusuhi keluarganya, apalagi bila sampai mendapat ancaman pembunuhan dari kaum garis keras. Pokoknya, begitu mereka pindah agama, semestinya mereka sudah mendapat hak-hak dasar dan diperlakukan sebagai orang Kristen biasa.

Tapi perkembangan berikutnya, menunjukkan ada sesuatu “yang tak beres” dengan orang-orang ini. Begitu mereka go public, mengumumkan migrasi iman itu, yang terjadi kemudian adalah radikalisme dan ekstrimisme baru: gila-gilaan menghujat Islam.

Itu juga yang terjadi dengan Ehsan Jami. April lalu, saat lelaki kelahiran Iran itu mengumumkan rencananya untuk mendirikan Komite Eks Muslim Eropa di Belanda, dia mendapat sambutan hangat, baik dari kelompok liberal maupun konservatif. Tapi pertengahan Juni, saat perhatian dari media massa mulai mengarah ke dirinya, ia terpleset dari jalurnya. Dia mulai berkumpul dengan kelompok penentang Islam, menyerang Nabi Muhammad, menyebutnya sebagai sosok mengerikan dan membandingkannya dengan Osama bin Laden.

Si Ehsan ini benar-benar mengingatkan kita pada sosok Hirsi Ali, wanita asal Afrika yang menggegerkan Eropa dengan pernyataan anti Islamnya. Belakangan, dia harus minggat dari Belanda, setelah publik tahu, cerita tentang penderitaannya sebagai wanita di “dunia Islam”, ternyata karangan belaka.

Bagaimana tidak, usut punya usut, Ehsan Jami ternyata sama sekali tak pernah menganut Islam. Bapaknya seorang atheis, ibunya juga sudah sejak remaja pindah agama ke Kristen.

Saya pun bukan tipe orang yang kebakaran jenggot mendengar berita seorang muslim pindah agama, biar dia artis atau figur publik sekalipun. Bahkan, jika kepindahannya itu diawali oleh sebuah proses pencarian spiritual yang dalam, bisa-bisa saya akan cari tahu, buku apa saja yang dibacanya, dengan siapa saja dia berdiskusi.

Begitu juga, saya pun tak akan jingkrak-jingkrak kegirangan, mendengar ada orang masuk Islam, kecuali sekali lagi, didahului oleh proses spiritual tadi.

Yang jelas, saya akan geram, bila orang yang pindah agama itu kemudian mengatakan yang buruk-buruk tentang agama lamanya. Untuk ini, saya akan selalu menaruh hormat kepada sahabat saya, Jarar Siahaan, yang mengatakan, “Justru setelah pindah ke Islam, saya tahu Kristen itu benar.”

Pindahlah, jika itu bisa membuatmu lebih baik, lebih mencintai dan dicintai orang lain, lebih dicintai dan mencintai Tuhan dan kebenaran. Tapi nikmatilah rumah imanmu yang baru itu tanpa kegembiraan yang meluap-luap, yang bisa melukai hati orang lain tanpa setahumu.

Hal yang sama juga berlaku dalam urusan karir, asmara, dan yang lainnya. Berhati-hatilah dengan orang yang berusaha merebut hatimu dengan menjelek-jelekkan mantan kekasihnya. Sebab, tak lama lagi, kau yang akan dijelek-jelekkannya kepada orang lain.

Tapi kalo kerjanya cuma bercerita tentang nostalgia indah mereka sebelumnya, perlu kamu bilang juga, “Eh, lu niat ngga sih mo jalan ama gua? Ato lu cuma mo gua bantuin baikan ama dia lagi?”

Iklan

7 thoughts on “Jangan Pernah Mengejek Mantanmu

  1. jejakkakiku

    SETUBUHHH!!
    eh hehehe…betul jangan mentang2 dah jadi mantan trus yang jelek2 di omongin, padahal biar gimana pun, dia pernah mengisi hari2mu dengan begitu indah penuh warna 🙂

    terimakasih karena sudah mengingatkan kami kembali 🙂
    abang emang ruaarr biasa dehh….

    Balas
  2. irdix

    mungkin ‘mengejek mantan’ juga salah satu bentuk kemelekatan, terjadi karena adanya ideal yang ga akan dipenuhi oleh realita atau kenyataan.. lalu ideal yang tx bisa sejalan dgn realitas memunculkan ide2 binal untuk mengeksplotasi diri dan memunculkan ‘kekurangan’ yg sebenarnya untuk mengelabui ‘si aku’ untuk melihat kebenaran dari realitas terhadap idealnya.. motif lainnya, karena ga ingin mantan dimiliki yg lain, pelepasan yg kurang sempurna..

    Balas
  3. maya

    sebetulnya kalo untuk menjelek-kan , mau yg mantan atau yg baru, kayaknya emang gag perlu ya bang. kalau emang ada kejelekan, tanpa kita jelek-kan pun fakta akan berbicara sendiri hehehe

    Balas
  4. mode invisible

    Bang, bukan masalah migrasinya, tapi masalah kedewasaan mentalnya, dalam kasus apapun (bahkan yang jauh ga sesensi kasus ini), orang dengan template kaya gitu,bakal bertindak dengan cara yang sama.
    Uniknya, ketidakdewasaan mental mereka menantang kita; seberapa dewasa mental kita. Blunderring ya bang

    Balas
  5. restlessangel

    ” Berhati-hatilah dengan orang yang berusaha merebut hatimu dengan menjelek-jelekkan mantan kekasihnya. Sebab, tak lama lagi, kau yang akan dijelek-jelekkannya kepada orang lain. ”

    hohoho…..been there.
    yeah, mantanku menjelek-jelekkan aku di depan sahabatku. untungnya sahabatku ini pro aku, jd dia lapor dg super duper heran. ga tau ngomong apa ma orang lain ttg aku.

    halah, kirain postingan khusus ttg romance and relationship, ternyata agama lagi…agama lagi 🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s