“+” atau “-“

BELAJARLAH sampai ke negeri Cina, hingga menjelang liang lahat. Buka dan bacalah semua buku, hadiri setiap seminar. Tata ulang cara hidup Anda, efisienkan penggunaan waktu, konsultasilah dengan penasihat keuangan, dst.

Maaf saja. Meski semua itu penting, tapi ada yang jauh lebih penting, begitu pentingnya hingga semua hal penting di atas terasa tak lagi begitu penting: UBAHLAH SUDUT PANDANGMU. Change your own perception!

Sebenernya ini tema usang. Waktu Fir’aun masih bujangan pun, sudah ada ungkapan bijak, “Melihat gelas yang masih berisi setengah, atau yang cuma tinggal setengah”.

Yep! Hanya ada dua cara melihat sesuatu; negatif atau positif. Kalau Anda “memilih” yang pertama, Anda akan merasa nyaman-nyaman saja menyumpahserapahi tetangga, rekan kerja, bos, mantan pacar, dan dunia! Tapi kalau menggunakan yang kedua, mereka semua akan Anda ajak bicara. Anda akan berusaha mendengar, membiarkan mereka menjelaskan dirinya sendiri.

Seperti kanker menggerogoti tubuh, begitulah cara pandang negatif membangkrutkan jiwa. (Secara umum, saya pun seorang yang negatif, jadi Anda bisa tahu dari tangan pertama, betapa sialnya punya cara pandang seperti itu).

Saat dunia meringsek ke depan, saya dengan bersungut-sunggut malah surut ke belakang. Dunia, negara, lingkungan, tetangga, dan akhirnya diri saya sendiri, pun menjadi musuh yang sangat mengganggu.

Bukan tak ada yang layak dimusuhi, bahkan dibinasakan di dunia ini. Tapi kalau semuanya Anda posisikan sebagai musuh, betapa sepinya hidup seperti itu?

Kita harus terima kenyataan, bahwa banyak hal negatif. Tapi daripada buang waktu dan energi mengutukinya, mengapa tidak berusaha memulung serpih-serpih positif dan konstruktif di dalamnya, dan menggunakannya sebagai titik awal untuk memperbaiki.

Sepakat ngga, kalau sebagian besar, bahkan semua problem di muka bumi, muncul dari persepsi negatif. Contoh yang pernah saya bahas di sini, salah satu cara pandang negatif paling besar dan mewabah di dunia adalah, bahwa orang menjadi miskin karena mereka malas. Jadi mereka memang pantas miskin.

Anjrit! Masa nenek penjual kue, yang bangun pukul 04.30 untuk memasak, dan mulai berkeliling kampung sejak pukul 06.00, sampai menjelang maghrib, dibilang malas. Coba sesekali dengar teriakan paraunya, saat perutmu sudah terlalu sesak, bahkan untuk dimasuki udara. Sementara lelaki buncit yang sedang diapit dua cewek norak di bar itu, yang sampai bingung harus membelanjakan uangnya ke mana dan akhirnya membeli narkoba, padahal dia sebenarnya tak pernah sungguh bekerja.

Sialnya, dengan uang yang berlebih itu, begundal-begudal kapitalisme itu bisa menyitir media, memengaruhi proses politik dan akhirnya pengambilan kebijakan publik penguasa.

Cara pandang negatif inilah yang telah membagi manusia ke dalam kelas-kelas. Inilah yang menyekat, dan kemudian menjerumuskan kelompok-kelompok masyarakat ke dalam pertikaian berdarah-darah. Inilah nenek moyang setan, pabrik gosip dan fitnah, bahan baku propaganda, sumber api kebencian, dan jalan lempang menuju kematian.

*****

Positivitas–bener ngga nih pembentukan katanya?–berarti merangkul, menggapai melintasi jarak, merumuskan saling pengertian. Dia membuat keraguan sekalipun bisa menjadi bermanfaat, memberi ruang untuk tumbuh, menyajikan kesempatan mengembangkan potensi.

Pahamilah, setiap orang, seperti apapun dia terlihat, punya sesuatu di dalam dirinya, yang sebenarnya indah. Pada dasarnya, semua manusia itu baik. Sampai Anda bisa memahami sesuatu di dalam diri seseorang itu, jangan pernah menganggap Anda sudah mengerti dia. Anda bahkan belum bisa melihat siapa dia sesungguhnya.

Anda cuma melihat beberapa fragmen, potongan-potongan, dan kemudian merangkainya sesuka hati, dan menyimpannya ke dalam sebuah kotak kesimpulan. Tak hanya orang per orang, dunia bahkan Tuhan pun kita masukkan ke dalam kotak itu, dan dengan gagah kita pun merasa (dan kadang malah sanggup menyatakan) sudah memahami dunia, sudah mengerti apa maunya Tuhan.

Kotak-kotak itu, kita beri nama, kita kasih label, kita bubuhi deskripsi; ini penipu, itu pemalas, dunia ini tak adil, Tuhan itu menghukum orang berdosa dengan bencana.

Kitalah bocah-bocah yang dengan ceria sedang menyusun potongan puzzle, padahal bingkai yang harus kita isi adalah tempurung langit.

Kita ngga pernah bisa melihat gambar besarnya, the big picture-nya dalam versi keminggris. Kita mestinya sadar, segala yang kita punya itu; harta, masalah, pengetahuan, kesedihan, atau apapun, cuma bagian kecil dari sebuah “keseluruhan” yang juga cuma bagian dari keseluruhan lain yang lebih besar, dan seterusnya.

Akhirnya, saya mengajak Anda dan diri saya sendiri, (bahasa khutbah Jum’at banget: usikum wa nafsi) untuk berhenti memerankan si muram durja, si tukang maki, si pesungut-sungut, si muka tirus yang susah tersenyum di panggung sandiwara dunia. Jangan lagi pura-pura, apalagi merasa sudah mengerti orang lain, dan merasa bisa menunjukkan arah yang tepat buat perjalanan hidupnya.

Sama-sama mencoba yuk, di kutub positif ini, untuk memilih membangun dan mengembangkan hubungan, bukan membuat dan memperlebar jarak, untuk memahami bukan memisah-misahkan, berjuang menguras semua potensi, daripada membuang apa yang sudah dianugerahkan kehidupan buat kita.

Hal paling tragis di dunia adalah bakat yang tersia-sia, dan bahkan lebih tragis lagi kalau itu terjadi hanya karena kita terlalu lama melihat sisi gelap kehidupan. Begitu terpakunya kita melihat pintu yang tertutup, sampai tak sadar di saat yang sama, pintu-pintu lain sudah terbuka.

Sebenernya bukan mencoba sih. Negatif bukan pilihan. Jadi, kita wajib menjadi positif, sebab kalau ngga, buat apa repot-repot bertahan hidup, kalau hanya untuk tersiksa pikiran sendiri.

Neraka tidak berada di suatu tempat di luar sana. Ia ada dalam pikiran Anda sendiri, dan jika mau, Anda bisa mengubahnya menjadi surga, mulai kapan saja, hanya dengan menjadi manusia positif.

Penawaran ini berlaku terbatas, cuma selama udara masih berkenan singgah di paru-paru Anda.

(Plis deh, jangan berpikir negatif bahwa saya sedang sok menggurui. Positiflah, pahamilah, tengah malam gini, aku bener-bener ngga tau mau ngapain.)

Iklan

18 thoughts on ““+” atau “-“

  1. lucifer

    orang bijak adalah orang yang tidak melihat sesuatu dari apa yang tampak, namun mempertanyakan mengapa terjadi seperti itu. karena TUGAS MANUSIA ADALAH MENJADI MANUSIA.

    Balas
  2. sandal

    Melihat gelas yang masih berisi setengah, atau yang cuma tinggal setengah.

    Tergantung pada hal apa kalimat di atas diterapkan Om. Memilih yang pertama belum tentu rugi, saat kita gunakan kalimat tersebut untuk menghadapi suatu kejadian.

    Begitu juga memilih yang kedua, belum tentu pilihan yang bijak saat digunakan untuk menghadapi kejadian yang berbeda pula.

    Begitu menurut saya ^_^

    Balas
  3. jejakkakiku

    Tulisan ini hampir mirip dengan yang pernah juga kutulis, jadi aku juga mau membagi denganmu dan yang lain πŸ™‚ http://jejakkakiku.blogspot.com/2005/10/dilemma.html

    Jadi kesimpulannya berpikiran positiflah terhadap segala sesuatu yang sedang kalian lakukan, lakukan dengan kesenangan sambil tersenyum dan juga berbagilah dengan tawa bersama teman, pasangan, orang tua bahkan berbagilah dengan Tuhan dalam doa. Semua hal itu akan menjadikan dirimu LEBIH hidup. Hehehe…

    Happy reading! πŸ™‚

    Balas
  4. jejakkakiku

    Penawaran ini berlaku terbatas, cuma selama udara masih berkenan singgah di paru-paru Anda.

    Hahaha..pemakaian kata yang mirip, tidak nyontek loh! Mungkin karna we have a good vibration πŸ˜€

    Balas
  5. erander

    Anjrit! Masa nenek penjual kue, yang bangun pukul 04.30 untuk memasak, dan mulai berkeliling kampung sejak pukul 06.00, sampai menjelang maghrib, dibilang malas.

    Untuk dapat memahami orang lain, kita selayaknya memiliki rasa empati.

    Balas
  6. maya

    bang, tadinya pas baca lelaki buncit yg diapit oleh dua cewe yg bingung mo diapain duitnya padahal dia juga gag kerja2 amat, sumpah mati saya kpingin banget bersumpah serapah sama tu orang. tapi trus baca lagi katanya kita musti memahami , mengerti dan jng ambil kesimpulan seolah-seolah kita tau orang itu kaya gimana dan tetap berpikir positif. dan pikiran positifnya adalah, untung bukan saya , cewe norak yg musti nemenin lelaki buncit itu :d

    Balas
  7. PLN semprull..!!

    Postingan kali ini benar2 menohok ke-aku-anku bang. Eksistensialisme yang kubangun dalam paradigma bahwa sesuatu harus diklasifikasi, dideskripsikan dulu baru bisa di olah menjadi pemahaman dalam kerdilnya cara berpikirku.
    Pengkotak2an yang kerap menjadi driver bagi setiap informasi yang kuterima.
    Sekarang aq paham kenapa aq jadi sering tersungkur sendiri dalam melakukannya.
    Naif ya bang

    Balas
  8. PLN semprull..!!

    sory nambah lagi bang
    pertanyaan yang muncul dalam otakku..
    Bukankah sikap awas (kalau itu dianggap sebagai bagian dari sikap negatip)itu bagian dari pertahanan manusia, sama halnya dengan sikap open mind itu sendiri.
    Perbedaan yang membuat palet kehidupan manusia lebih bermakna dengan adanya friksi

    Balas
  9. nesia Penulis Tulisan

    @Lucifer.
    Sedihnya, tak semua manusia berhasil mengemban tugasnya menjadi manusia ya.. 😦
    Kok Lucifer si? Oiya, what’s a name.

    @Sandalian.
    Mmm, ini kali ya yg disebut sebagai “memahami kata bijak dengan bijak”.

    @Mei.
    πŸ™‚ Sapa tau, di kehidupan sebelumnya, kita pernah ngelola bareng sebuah blog. Huehehe. Tp jalan pikiran yg sama, emg bakal sering menghasilkan tulisan yg mirip.
    Mei boleh menyebutnya, a good vibrator, eh, vibration, tp buat sy ini seperti menemukan seseorang yg lain di jalan yg sama, then I’m not alone.

    @Erander.
    Empati, yup. Sialnya, banyak orang sekarang bisa mengempati, bukan berempati.
    (Mengempati: ngoleksi bini sampe empat).

    @Maya.
    Wadoh. Gw harus ngaku nih, Maya ternyata lebih bisa memahami tulisan itu, daripada si pembuatnya sendiri. Kok bisa ya? *bingung mode on*

    Balas
  10. nesia Penulis Tulisan

    @May
    Jangan pulak sampe tertohokla, Adekku. Itu kan cuma tawaran pemikiran. Namanya tawaran, bisa “dibeli” penuh, setengah, atau tak jadi sama sekali.
    May kekna pernah (atau masih) belajar beladiri kan? Bersikap awas itu ngga sama dengan berpikir negatif. Awas adalah bersiap menghadapi serangan. Itu sih bukan saja bagus, tapi wajib, kalo ngga mau jadi mangsa di rimba kehidupan. Kita memasang kuda-kuda bertahan, setelah orang di depan kita mengambil ancang-ancang menyerang.
    Kenegatifan yg sy maksud, belum apa-apa kita udah berpikir, “Wah, ni orang kekna mau melepaskan tendangan mae geri ke selangkanganku nih…”, padahal kakinya bergerak-gerak, cuma karena ngga bisa menahankan gatalnya kurap yg tiba-tiba kambuh di sela pahanya. Mau garuk, malu diliatin cewek semanis May. Gitulah kira-kira. Maaf, sampe membawa-bawa karate, selangkangan, dan kurap. Jadi, karateka yang punya kurap di selangkangannya, jangan tersinggung yak.

    OOT: Medan mati lampu terus yak. Makanya, aku pernah bilang Medan Lilinpolitan.

    Balas
  11. may airinn

    masalahnya penawarannya sangat menarik bang, apalagi ada limited timenya, itu point sell nya. I’d rather choose dying for tryin’ it drpd cuma cuma diam.
    Akan kucoba bang untuk mengubah bebrapa hal yang kupikir ada benarnya. Thanks bang
    And mengenai karateka yang punya kurap diselangkangannya>… sepertinya dy ga pernah cuci baju latihannya ya bang, wkakaakaka
    diliatin cewek semanis may …. uhuk..uhuk.. sory bang aga keselek aq, pulang dulu bang, mo ambil teh.
    Makasih atas sajian yangsangat menggugah selera ini

    Balas
  12. venus

    saya selalu berusaha jadi orang yg positif, sebenernya. tapi saat kesandung, biasanya cenderung panik dan bingungan, lantas balik jadi orang yg negatif lagi. wah, susahnyaaaa….

    Balas
  13. irdix

    uhm.. jika berpositif adalah mngubah mindset berpikir baik2nya aja dan negatif mikir jeleknya, ada nyamannya aq jd neutron aja dah, aq ga mau ber-konflik dgn batinku sendiri, it’s useless.

    bukan berarti apatis pada apapun, tp aq hanya senang mengamati aja.. kadang pikiran menipu, membentuk ideal yg delusive.

    *kok kyknya OOT yah aq?*

    Balas
  14. yati

    mmm….saya selalu negatif pada apapun. ketika mencoba beralih ke positif, terjadi korslet. ouh…ternyata, kabel saya udah terkelupas!

    *ngomongin sambungan listrik :p

    Balas
  15. sa

    UBAHLAH SUDUT PANDANGMU. Change your own perception!
    hehe.. pernyataan ini bisa salah dimengerti ya.
    klo persepsinya sudah ‘betul’.. ya ndak perlu diubah lagi kan ya. πŸ™‚

    tiap org py persepsi. negatif atau positif, tergantung dr persepsi masing2. *muterrrr*.

    Balas
  16. Susie

    terlalu positip = terlalu optimis , iya nggak sih ?? sering pikiran saya yg negatif banyak menyelematkan saya , karena membuat saya lebih hati2 dalam setiap hal …

    Tapi saya mengerti sepenuhnya tulisan yg anda maksud di atas

    Balas
  17. meiy

    please deh insomnia ko negatif positif hehehe dah lama aku gak mampir πŸ˜€

    bener Lae, kebenaranpun bisa terletak dari sudut mana kau memandang, jadi pandanglah dari sudut yg indah n armantis, eh romantis (mojok kalee…)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s