Jangan Sekadar Hidup, Belajarlah Jadi Manusia!

Tak sulit bagi api menjadi panas, semudah air menjadi basah. Tapi
alangkah sulitnya bagi manusia menjadi manusia.

Tuhan mungkin telah menjebak kita. Kepada pembaca Alqur’an Dia katakan, “Kalianlah sebaik-baik ciptaan.” Malah kepada pembaca Alkitab lebih sedap lagi, “Kalian kuciptakan mengikuti citra-Ku”.

Jadi, kualitas galaksi, mewakili benda-benda besar; atau virus HIV, representasi benda-benda renik; malaikat, simbol kesucian; atau malah Lucifer, lambang kejahatan; semuanya lewat.
Masalahnya, layakkah setiap primata yang tergabung dalam grup hewan bertulang belakang dengan nama spesies Homo Sapien itu, disebut sebagai manusia?

*****

Satu-satunya pembeda yang paling jelas, antara manusia dengan ciptaan lainnya, barangkali adalah kemampuan untuk belajar. Malaikat tak belajar; seperti mesin atau pc, dia hanya mengeksekusi perintah yang dia dapatkan. Beberapa hewan, misalnya yang ada di sirkus-sirkus, cuma bisa berlatih, dalam arti menjadi terampil sampai tahap yang sangat terbatas. Sementara belajar adalah sebuah proses tanpa akhir, perkembangan tanpa batas.

Begitu pentingnya belajar, sehingga menurut beberapa kawan yang gokil-gokil itu, Tuhan sendiri pun (pernah) belajar. “Buktinya, mengapa Dia perlu menurunkan beberapa kitab suci, yang sepertinya menjadi ralat buat kitab suci sebelumnya?” kata mereka. Kata mereka lho. (ngeles!)

Dengan premis di atas, jangan pernah berani-beraninya ngaku sebagai manusia, kalo ngga pernah belajar, kalo ngga pernah bisa menggunakan sebuah pengalaman terburuk menjadi guru terbaik, kalo pernah jatuh terperosok di lobang yang sama, berkali-kali.

*****
Pernah dikhianati? Belajarlah, cinta memang tak bisa dipaksakan. Walau kau tanamkan chip di sela kemaluannya biar tahu kapan dia ML dengan orang lain, itu ngga akan berhasil, kalau pada dasarnya memang dia tak ingin setia, tak punya cukup cinta di hatinya.

Beberapa poin pelajaran penting lainnya ada di sini, mungkin bisa berguna, sekadar contoh bahwa jika mau belajar saja, derita akan jijik berdekatan dengan kita, dan akhirnya, kitalah manusia itu, kitalah bahagia itu.

Firman pertama yang didapat Muhammad SAW dari Kekasih Sejatinya adalah “Iqra” yang berarti “Bacalah!”. Yesus Kristus pun kerap menyebut dirinya sebagai “Guru”, sebagaimana Sidharta Gautama.

Ngeblog baru ada gunanya, jika itu kita gunakan sebagai bahan untuk belajar menghargai sudut pandang orang lain. Mencintai baru ada manfaatnya, jika itu jadi alat untuk belajar meniadakan diri di hadapan yang kita cintai. Dan akhirnya, hidup baru ada gunanya, jika itu jadi tempat belajar menjadi manusia, bukan sekadar hidup dan nyempit-nyempitin permukaan bumi aja. Kalo gitu sih, bagus dibonsai aja, biar ngga makan tempat!

Iklan

17 thoughts on “Jangan Sekadar Hidup, Belajarlah Jadi Manusia!

  1. venus

    kali ini saya setuju, heheheh…kalo gak mau belajar, jadi kucing aja! 😀

    bang, kapan2 aku pengen ngebahas tentang perempuan dengan 3 hati, boleh? makasih.

    Balas
  2. may airinn

    Tapi kenyataannya bang, dengan segala aktivitas yang terus bertambah baik yang berguna dan yang lebih banyak ga berguna, manusia jadi lupa makna menjadi manusia itu sendiri. Akal yang tumpul dalam membaca makna hidup.
    Sepertinya aq harus percaya kalimat..
    Manusia terlalu rapuh untuk menggenggam kemuliaan

    Balas
  3. nesia Penulis Tulisan

    @Irdix.
    Sama. Gw jg masih belajar untuk bisa belajar. Sama-sama nyari tau yuks.

    @May.
    Manusia terlalu rapuh untuk menggenggam kemuliaan
    Bener, tp kita harus tetap berusaha menggenggamnya, bahkan bila hanya sepersekian detik pun dia betah di genggaman kita.
    Mmm, kawan sekampungku yg satu ini selalu datang dengan sisi pandangnya yg unik. Lucky to know u 🙂

    Balas
  4. Last Train

    salam kenal,
    saya juga belajar untuk melihat dunia dari sisi yg berbeda, mungkin karna itu tak jarang saya jatuh ke lubang yg sama untuk kedua kalinya, saya tidak kapok akan jatuh, mungkin itu pembelajaran saya.

    anyway, aku biasanya jadi silent reader lho. baru kali ini mau ninggalin komen.

    Balas
  5. irdix

    @may
    hu-uh, kebiasaan kita umumnya ingin menggenggam garam pada air laut di samudera.. yg kita dapet cuma beberapa tetes air lautnya, bukan garamnya sendiri.

    Balas
  6. maya

    aduuhhh jadi pingin belajar bagaimana bisa mengerti, memahami dan menggunakan kalimat-kalimat dalam postingan dan komen-komen ini 🙂

    Balas
  7. lucifer

    Sifat dasar manusia adalah rasa ingin tau yang dapat mengakibatkan keserakahan atau kemuliaan.dunia adalah tempat dari 2 hal yang selalu berpasangan.jadi pelajaran mendasar yang perlu dipahami adalah MEMILIH

    Balas
  8. caplang™

    ahh saya jadi teringat kata-kata Kintaro alias Golden Boy 😆
    Benkyö! Benkyö! Benkyö!

    selalu belajar sampai kapan pun
    bang, gmn cara mengatasi kebosanan setelah belajar sesuatu?

    Balas
  9. nesia Penulis Tulisan

    @Venus.
    You’re welcome. .. Empat kali berturut-turut terpilih menjadi comment of the week, akan dinobatkan menjadi comments of the month. Huehehehe.

    @Last Train.
    Bila “bencana” pun bisa dijadikan pelajaran, kita bakal menjadi murid kehidupan yang semakin bijak dari waktu ke waktu.

    @Irdix.
    Kiasan yg unik.

    @Maya.
    Harus belajar nih, biar jangan “terjebak” oleh kerendahhatian Maya.

    @Mei.
    Jarang2 lo, orang abis kena “tampar” malah bilang makasih.

    @Lucifer.
    Setuju, Bos. Memilih. Dan buat saya, membuat pilihan yang salah, kadang lebih mulia daripada tak pernah berani memilih.

    @Puput.
    Ya, mulailah dengan belajar melawan rasa malas.

    @Edy Caplang.
    gmn cara mengatasi kebosanan setelah belajar sesuatu…
    Kekna dengan belajar sesuatu yang lain lagi.

    Balas
  10. "abangnya" si gibran

    semua manusia sudah belajar sejak kecil. belajar jalan, belajar cebok sendiri, belajar menulis huruf bersambung di bangku sd — yang terakhir ini adalah ajaran aneh dalam kurikulum indonesia.

    tidak ada satu pun manusia yang tidak belajar. ada yang belajar ilmu agama di pesantren dan sekolah teologi. ada yang belajar mencuri dari yang sudah duluan menjadi maling profesional — contohnya yang paling banyak ditemui di indonesia adalah koruptor. ada yang belajar sambil bekerja menulis artikel seperti bloger toga dan aku dan yang lain.

    semua kita belajar. tak ada yang tak belajar. tapi sayang, tidak semua belajar menjadi manusia.

    aku jadi malu, anjing dan monyet saja diajari meniru lagak manusia.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s