Metroseksualisme: Kepalsuan yang Memikat Kepalsuan

SUDAH jadi pemandangan biasa, sepertinya, melihat lelaki betah berjam-jam di gym, fitness center, atau apalah namanya, demi mendapatkan bentuk tubuh ideal, biar mereka tampak “seksi” mengenakan kaos ketat saat wara-wiri di mall, atau clubbing di malam harinya.

Para “lelaki” ini–maaf, aku membubuhkan tanda petik dengan sengaja, dan sepenuhnya sadar tanpa paksaan siapapun–melakukan semua kerepotan itu, semata untuk penampilan, karena ketika berada di luar gym, mall, dan club malam itu, otot-otot berbentuk itu nyaris tak punya fungsi apapun!

Latihan begitu keras, hanya untuk mendapatkan body “mengagumkan”, bukannya biar sungguh-sungguh mengembangkan kekuatan, misalnya biar bisa berkelahi melindungi orang-orang yang dia cintai. Sekali lagi, cuma biar cewek-cewek melirik dengan selera. Ampun!

Saya pun (dulu, hehehe) suka latihan fisik. Kata Bapak, lelaki itu harus bisa berkelahi dan memainkan musik. Bila yang pertama agar bisa melindungi orang yang dicintai, yang kedua agar bisa membuatnya bahagia. Ingat Zorro? Selain pemain pedang yang lihai dan penunggang kuda paling cekatan, dia juga bisa memainkan komposisi Rachmaninov.

Latihan fisik, tidak mesti beladiri, jelas perlu. Tetapi itu mestinya dilakukan untuk “menguatkan” fisik dan mental, mengetahui dan mengembangkan batas kemampuan, menemukan kekuatan “terdalam” di diri kita yang selama ini undiscovered. Latihan fisik yang sesungguhnya, membuatmu bisa menyeberangi, melintasi rasa sakit dan rasa nikmat. Membuatmu bisa tabah dalam penderitaan, dan bisa berlaku wajar ketika diguyur kebahagiaan.

Bahkan bila sudah memasuki wilayah tenaga dalam, misalnya, Anda bisa menyeberang ke kesadaran yang lebih tinggi, meninggalkan semua realita, mencapai kemurnian diri, tanpa keinginan, ringan mengambang, dan gravitasi bumi seperti kehilangan cengkramannya.

Dalam setiap tingkatnya, Anda seperti baru saja menaklukkan sebuah tangga kehidupan, mengembangkan fisik dan pikiran, rileks, menjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih jauh, lebih tinggi. Pada saat yang sama, Anda juga berlatih tentang kesabaran, patuh kepada tahapan, menghargai diri sendiri dan orang lain. Itulah sportivitas, itulah kelelakian.

Tapi “lelaki” yang di gym itu, meski kelihatan berkeringat dan gagah, sumpah, mereka telah kehilangan esensi dari latihan yang sesungguhnya.

Yakinlah, wanita sejati, hanya akan tertarik pada otot lelaki yang sungguh-sungguh bisa digunakan; mendorong bahu preman yang dengan kurang ajar mencolek bokongnya, bukan lelaki berotot seksi, namun lari duluan meninggalkan wanita di sampingnya, ketika ada anjing galak menggonggong.

Memang akan ada wanita yang melirik ototmu itu, tapi kemunginannya dua; pertama dia pun wanita dengan kepalsuan, atau wanita sejati yang akan segera menjauh ketika tahu ototmu itu seperti truk dengan mesin motor bebek.

Wanita “palsu” melumuri tubuhnya dengan parfum dan bra yang didesain agar dadanya lebih menonjol, cocoknya memang menggoda lelaki yang membentuk ototnya untuk menarik perhatian wanita palsu juga. Inilah spiral kepalsuan hubungan lelaki-wanita saat ini. Kepalsuan berbalas kepalsuan.

Kepalsuan hanya akan mengundang kepalsuan lebih banyak, menghasilkan kepalsuan makin banyak lagi, anak-anak yang palsu, cucu-cucu yang palsu, janji-janji palsu, liburan-liburan palsu, kebahagiaan palsu, dan akhirnya kehidupan yang palsu.

Semua itu karena premis terpenting kehidupan–mengenali diri sendiri–sudah lama hilang dari agenda kehidupan kita.

Kita mestinya sedih, melihat banyak wanita hanya mengandalkan bentuk fisiknya untuk bisa eksis di rimba kehidupan. Dan harus bagaimana lagi perasaan kita, bila para lelaki pun justru ikut-ikutan seperti itu.

Iklan

22 thoughts on “Metroseksualisme: Kepalsuan yang Memikat Kepalsuan

  1. irdix

    *sedih ga bisa pertama-X*

    well bukankah semua memiliki kepribadian masing-masing saat menghadapi kondisi tertentu.. sebuah kepribadian yang ‘dikondisikan’ :p

    kalo yang keluar pribadi yang sebenernya.. bisa ga laku ntar.. seperti saya ini.. kekekeke.. heits..

    Balas
  2. Joerig™

    …Kita mestinya sedih, melihat wanita hanya mengandalkan bentuk fisiknya untuk bisa eksis di rimba kehidupan….

    ah … kaum minoritas –yg ngga termasuk dalam quote diatas– tentu bakalan “sedikit” tersinggung … 😦

    Balas
  3. yati

    “Latihan fisik yang sesungguhnya, membuatmu bisa menyeberangi, melintasi rasa sakit dan rasa nikmat. Membuatmu bisa tabah dalam penderitaan, dan bisa berlaku wajar ketika diguyur kebahagiaan.”

    *cuma mo laporan, kapan2 saya pinjem sebagian isi kalimat ini!

    Balas
  4. regsa

    *seperti truk dengan mesin motor bebek*
    Kasihan mereka ini bersusah payah untuk sekedar dibilang gentle.
    Tapi kadang disekitar kita masih memandang dari segi penampilan luarnya saja.

    Balas
  5. me:

    @Mei.
    Sekadar biar bisa diterima siy gpp. Tp kalo hanya mengandalkan itu biar bisa diterima?

    @Irdix.
    Kekna udah saatnya ngeluarin yg sebenarnya deh. Kalo sampe g laku, rugi sendiri, barang berkualitas kok g di tawar. :))

    @Jurig.
    Udah diralat. Makasih ketelitiannya.

    @Yati.
    Laporan diterima. Kembali ke tempat :))

    @Regsa.
    Iya, cuma bisa liat luarnya. Kalo maksa liat dalemnya, bisa kena pasal pencabulan.

    @

    Balas
  6. me:

    Ops… Ulan kok bisa lewat, padahal udah ngomong soal to***

    Tp, mo ditanggapi gimana ya? Mmm, pelihara deh aset berharga itu, dan gunakan seperlunya.

    🙂

    Balas
  7. venus

    nah kalo soal ini, kayaknya abang terlalu berlebihan deh. gak semua yg demen ke fitness centre itu cuma untuk menjadi ‘palsu’ lho, bang. setau saya sih, sebagian besar mereka yg rela membayar sekian ratus ribu rupiah per bulan supaya tercatat sebagai member di pusat2 kebugaran itu, tujuan utamanya karena memang pengen olahraga, supaya terlihat well built (well built tidak selalu identik dengan seksi, lho!), pinter jaga badan dan penampilan, dan tentu tujuan pertama, supaya tetep sehat dan bugar.

    yah, tapi tetep gak menutup kemungkinan, ada sekian persen yang memang cuma buat gaya2an, gengsi dan prestige, dan kalau beruntung, siapa tau mereka bisa memikat perempuan2 palsu dengan modal kepalsuan mereka itu.

    huaaahhh…saya kalo ke sini selalu semangat komentar panjang lebar (either setuju atau justru berapi2 gak setuju), tapi kalo saya disuruh posting yg serius kayak bang toga gini, saya nyerah aja dah! 😀

    Balas
  8. Domba Garut!

    Hm.. sisi pandangyang unik, meski mungkin ada segelintir atau kelompok yang niat ke gymnya untuk seperti itu..

    Buat saya pribadi sih.. latihan cardio aja biar sehat, ngangkat barbel itu mah beraat… dan bisa sakit encok nantinya 😀 –> maklum otot bajaj – tulang bemo 😀

    Seneng udh bisa mampir kesini, salam hangat dari afrika barat…

    Balas
  9. maya

    sebetulnya kalo para lelaki yg dimaksud bang toga itu melakukannya untuk kepuasan diri sendiri dan menambah kepercayaan diri , menurutku gak apa2 juga , sama seperti perempuan yang suka bersolek untuk kepuasan diri sendiri, bukan untuk orang lain. tapi kalo tujuannya seperti yg dimaksud bang toga, yaaaahh..what can i say :d

    Balas
  10. may airinn

    Inilah spiral kepalsuan hubungan lelaki-wanita saat ini. Kepalsuan berbalas kepalsuan

    setuju.. !!
    Mungkin aq cewek yang cuek soal penampilan karena alasan sepele, i dont think it’s not worth enough… menghabiskan uang, waktu,pikiran untuk sekedar mendapat kepuasan semu atas pandangan napsu lawan jenis(juga yang sejenis). Ga banget… isi lebih penting dari casing (yaa kalo casingnya bagus ga nolak jg siy)

    Balas
  11. suhunan situmorang

    Aku? Kuingat sudah lima tempat gym yg kudaftar, bayar, tapi…tak sampai dua kali, mundur tak teratur. Dasar pemalas. Sejujurnya, saya tak suka melihat body laki-laki membuncit kayak perutku ini, apalagi perempuan. Ngga muna, istriku yg boru Nainggolan kayak lae Toga itu, selalu kusindir agar agak-agak peduli terus dengan body-nya. Bahkan, jahatnya, anak-anakku kugunakan menginterogasi emak mereka agar mewaspadai perut itu… Egoisnya, ketika istri juga mengingatkan soal perutku yg mulai membesar ini, aku kok tersinggung, ya? Laki-laki memang egois!

    Tapi, mengenai fenomena cowok-cowok metroseksual itu, aku setuju dng lae. Kuperhatikan, kejantanan mereka malah semakin memudar dengan tampilan mereka yg berkaos seksi dan wangi itu. Malah lebih macho kulihat kenek-kenek buskota yg mengeluarkan setengah badannya sambil berteriak, “Blok M, Sudirman, Komdak!” He-he-he…

    Balas
  12. "abangnya" si gibran

    puji syukur dan terima kasih tak terhingga kuhaturkan kepada pemilik blog ini, karena artikelnya ini sungguh berpihak pada diriku — karena tubuhku tidak macho alias kerempeng. imajo tusi [terjemahan bebasnya: itulah dulu ke situ].

    sekarang ke sini.
    aku setuju, lelaki harus, dan wajib, bisa berkelahi. bukankah salah satu fungsi lelaki adalah melindungi perempuan dan anak-istrinya? kalau ada lelaki yang tak bisa berkelahi — terlepas jadi jawara atau pecundang — maka dia lebih layak disebut banci. maka untuk perempuan yang sedang mencari calon suami, carilah lelaki yang bisa berkelahi. tak jadi soal dia kekar seperti ade rai atau cuma kerempeng seperti aku tapi bisa karate [ini promosi, lae toga, awas kalau kau sensor.] 😀 yang penting bisa berkelahi.

    soal fitnes dan sebagainya kukira cukup dilihat sebagai olah raga, untuk menyehatkan raga. catatan: jangan dibilang “di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat” — ini peribahasa asal-asalan; banyak orang bertubuh sehat tapi jadi pasien rumah sakit jiwa, banyak pejabat yang sehat karena main tenis dan golf tiga kali seminggu tapi jiwanya rusak.

    dikaitkan dengan judul artikel laeku toga yang gagah, tegap, dan ganteng ini, maka aku setuju: metroseksualisme adalah kepalsuan.

    mau yang asli? jangan hubungi 0809 sekian-sekian. itu juga palsu; cuma suaranya yang seksi mendesah basah.

    Balas
  13. meiy

    ah Lae kau sudah survey belum, tak baik menyamaratakan, ada juga yg kepingin sehat rajin ke gym.

    Walau bagiku lelaki itu menarik karena sikap dan sifatnya, aura kalee ya (eh aurat juga bukan, ssst…ngawur ;))…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s