Arsip Bulanan: September 2007

श्री अरविन्द…

“Jika kau bicara dengan orang-orang taat dan fanatik itu, kau akan membayangkan Tuhan itu tak pernah tersenyum.”

Aku kontan senyum membaca ucapan Sri Aurobindo, atau श्री अरविन्द dalam bahasa Sankskerta itu. Salah satu spirutualis terbesar dalam sejarah India ini, tidak secara jelas menyebutkan kalau taat dan fanatik itu salah, atau bahwa Tuhan itu sebenarnya suka senyum. Yang jelas, dia sedang menyindir sesuatu, dengan sangat manis. Senyum lagi ahh…

Tetapi guru kelahiran Kalkuta 15 Agustus 1872 ini tidak hanya “menyindir” orang taat, tetapi juga menohok, jelas dengan lebih telak, orang-orang yang justru sama sekali tak percaya.

“Mereka datang padaku dengan segepok bukti dan sederet logika, bahwa Tuhan itu tak ada. Tapi saya sendiri sudah melihat-Nya, mendatangiku, mendekapku. Nah, sekarang apa yang mesti saya percayai–rasio orang lain atau pengalamanku sendiri? Kebenaran adalah apa yang dilihat dan dialami oleh jiwa; selainnya cuma penampakan, dugaan, atau pendapat.”distancia.jpg

OK. Anda tak mau dikotomi antara yang percaya dengan yang ingkar. Politisi yang banting stir ke jalan Yoga ini, punya oleh-oleh untuk kita semua: yang beragama, yang agnostik, atau atheis, juga anjing!

Baca lebih lanjut

Cara ‘Mudah’ Menjadi Dewa…

Inilah alasan kita bernapas, inilah tujuan kita melangkah, inilah yang dulu, sekarang, dan akan selalu kita cari. Di belakang topeng kemegahan dan ekspresi kemenangan yang selalu kita pertontonkan ke mata dunia, masing-masing kita sungguh makhluk yang sangat kesepian, begitu ingin dimengerti sepenuhnya, sangat berharap disentuh, haus sekali akan penghargaan.

All you need is love; terdengar klise sekali ya? Tetapi kadang sesuatu terdengar klise, karena dia memang kebenaran. Semua bentuk hubungan kemanusiaan, sesungguhnya bisa direduksi kepada kebutuhan paling asasi kita: being loved, ingin dicintai. Bahkan tindakan-tindakan paling mengerikan sekali pun. Bahkan bentuk-bentuk terburuk dari tindakan manusia yang kadang membuat kita geleng-geleng kepala dan mengelus dada.

Selanjutnya…

Energi Menipis, Kembalilah Jadi Manusia!

Kemajuan teknologi katanya, tapi nyatanya kita dibuat menjadi makhluk tanpa tenaga, yang tak bisa apa-apa kecuali merusak dan mengeluh, selalu kelelahan padahal tak pernah berpeluh.

Kita sudah menjadi budak sebuah agama bernama “Ekonomi”, yang salah satu ayat sucinya berbunyi: Pertumbuhan berbanding lurus dengan keuntungan. Maka demi pertumbuhan, semua dibabat, semua justru dibuat tak bisa lagi tumbuh. Akhirnya, yang kemudian kita tunggu dan menunggu kita adalah bencana.

Entah menyadari hal itu, atau sekadar latah ikut tren, di mana-mana kini orang demam energi alternatif, selain tentu saja pengobatan alternatif kepada orang pintar. (Disebut orang pintar karena bisa membodoh-bodohi orang terpelajar tapi otaknya dodol!)

Baca lebih lanjut

Menghapus Bekas Bibir tak Semudah Memupus Jejak Rasa

[Posting ini 21+ dan mengingat ini bulan puasa, yang 21+ pun tidak dianjurkan untuk membaca sebelum buka]

Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu? Judul cerpen Hamshad Rangkuti ini sepertinya menyiratkan kesiapan diri untuk mengakhiri satu babak, memulai sebuah yang baru.

Tapi apakah bila bekas bibirnya di bibirmu sudah terhapus dengan “mendaratnya” bibir yang lain, jejak rasa yang tertinggal di sana juga dengan sendirinya pupus?

Atau bisakah begitu saja kita substitusi kata “bibir” dengan “hati”, misalnya, sehingga kalimat itu menjadi begini: “Maukah kau menghapus bekas hatinya di hatiku dengan hatimu?” (Silakan berkreasi dengan mensubstitusikan kata-kata yang lain. Ayo! Jangan ngeres ya…)

Baca lebih lanjut

Maaf, tapi Kami Terlalu Miskin untuk Puasa…

Hasil survei itu sungguh mengungkap sesuatu yang ironik. Konon puasa adalah salah satu cara melatih empati, biar bisa merasakan sebagian kecil penderitaan orang tak berpunya, yang kemudian akan menumbuhkan kepekaan sosial sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, bla… bla…

Ternyata, puasa itu sendiri sudah menjadi simbol kemapanan ekonomi. Sadarkah kita, sebagian besar masyarakat miskin perkotaan justru tidak (sanggup) berpuasa. Kerja kasar, satu-satunya cara mereka bertahan hidup, tidak memungkinkan perut mereka kosong begitu lama.
Baca lebih lanjut

Let It Fucking Go! (Mengapa dalam Bahasa Batak, tak Ada Kata Maaf)

MEREDAM sedikit saja “harga dirimu”, egomu, rasa pedih di hatimu, akan lebih mudah, lebih menyehatkan, sekaligus mencegah kerusakan lebih besar di dalam jiwamu; daripada bertahan, menunggu orang lain menjadi sosok yang sempurna untukmu.

Mengapa begitu bersikukuh merengkuh penyakit? Bila seseorang menyakiti kita, kita kok mau-maunya memelihara rasa sakit itu, hingga efeknya bekerja jauh lebih lama dari seharusnya.

Baca lebih lanjut

Dear, You’re The Most Important Person in Your World

… and there, no body exists without you. Then, believe just in yourself, for you’re indeed your own teacher and the student in your journey. Don’t worry, no choice is even right or wrong. Some choice you make may increase the length of your journey, but your destination will always be the same, whichever way you choose to go.

And now, it’s time to make your trip’s plan. If you want peace, then offer peace to yourself and everyone you meet along the way. If you want love then offer love to yourself and everyone you see on your path.

Baca lebih lanjut