Wanita Melelaki, Lelaki Mewanita

DIAKUI atau tidak, kita hidup di dunia yang maskulinsentris, dunia yang sangat laki-laki. Di dunia (seperti) ini, wanita diperintahkan untuk jangan sampai lalai mencukur bulu kakinya, merawat tubuh terutama bagian wajah, mengenakan make up, ikut fitness dan membatasi konsumsi makanan, biar punya badan ketat, plus payudara yang “berisi”.

Buat apa? Ya, biar punya penampilan menarik, dan itu modal utama untuk sukses dalam soal apapun; baik karir, keuangan, maupun asmara. (Item ramalan bintang yang selalu dibaca wanita di tabloid-tabloid infotaintment).

Celakanya, ya celakanya, wanita akan dikutuk sebagai si gatal, pelacur, jika sampai ketahuan sedang berupaya mencapai kenikmatan seksual secara “swalayan”. See the point? Begini. Halah, begini. Di satu sisi dunia sepakat bahwa wanita adalah simbol seksualitas, namun di sisi lain, mereka diharamkan untuk mendapatkan kenikmatan dari seksualitas mereka sendiri, secara mandiri. Busyet dah, ini kan sama saja buruh pabrik televisi yang ngga dibolehkan nonton apalagi punya televisi!

Kenapa, karena dunia sudah memberi hak kepada lelaki menjadi penikmat seksualitas itu. Jadi, yang punya wanita, yang menikmati lelaki. Orgasme para lelakilah yang penting, dan bahwa wanita yang “dipakainya” merasa seperti diperkosa, itu tak ada urusan.

Lelaki, sejak bocah sampai menjelang ajal, pun kemudian menyimpan fantasi di dalam pikirannya, sebagai penakluk wanita, pejantan tangguh. Padahal sih, muasin satu wanita aja jauh dari sanggup.

*****

BAHWA wanita dipandang dari kecantikan dan seksualitasnya, tidak sepenuhnya salah. Yang salah adalah, bahwa hanya kecantikan dan seksualitaslah yang bisa dipandang dari wanita. Yang keliru adalah, wanita itu diposisikan, dijebak dalam kebingungan dan ketidakpastian, karena nilai-nilai rendah yang ditimpakan pada mereka, sehingga mereka sendiri tak pernah bisa melihat kecantikan mereka yang sesungguhnya.

Padahal, efek dari dominannya nilai kelelakian ini menjadi penyumbang utama kerusakan di muka bumi. (Duh, bahasa ayat suci banget jadinya). Penjajahan, peredaran obat terlarang, penjualan manusia, pemanasan global, prostitusi, silakan perpanjang daftarnya.

Tentu saja kekuatan feminim tetap hadir menyelip-nyelip, mencoba mengimbangi keserakahan maskulinisme tadi. Namun, sampai nilai-nilai feminisme; empati, intuisi, kesinambungan pertumbuhan, dan fleksibilitas, diberi ruang yang lebih banyak dalam peradaban kita, dunia akan tetap memanas, dan semakin tak nyaman untuk dihuni. Dunia pun seperti tidak didesain untuk wanita.

*****

Duh, sebenernya saya ngga mau bicara tentang itu. Ntar ada yang nuduh lagi, sok-sok jadi pembela wanita.

Bukannya membongkar kesadaran bahwa wanita semestinya bukan cuma tubuh itu, eh, sebagian pria malah ikut-ikutan mengandalkan tubuhnya semata untuk punya eksistensi. Dan tambahlah sebuah kosakata di kamus peradaban modern: lelaki metroseksual.

Bukannya saya anti yang harum, klimis, resik, bahkan kemayu sih. Tetapi sampai menghabiskan waktu dan uang begitu banyak untuk penampilan, rasanya kok gimanaaa gitu *kemayu mode on*

Jangan sampai, saat para kaum perempuan sudah mulai membangun kesadaran baru, memupuk eksistensi tidak sekadar dari hal-hal yang fisikal, eh, para pria malah memulai mengandalkan keharuman dan kelembutan kulitnya untuk bisa disebut eksis, bukannya melatih diri untuk bertanggung jawab, berani ambil resiko dan memikul komitmen, dan sederet nilai-nilai maskulin yang sesungguhnya.

Iklan

13 thoughts on “Wanita Melelaki, Lelaki Mewanita

  1. venus

    this is a man’s world. laki2 yang ‘punya’ dunia in, meeka yang mengaturnya, mereka juga yang merusaknya. perempuan? jadi warga kelas dua saja udah bagus.

    salah kaprah yang kebablasan, karena setau saya, agama-agama purba (baca:paganisme), percaya bahwa tuhan itu perempuan, karenanya derajat perempuan setingkat di atas laki2, dan dari perempuanlah semua kemuliaan berasal. eh, mungkin ini juga sebabnya lantas ada istilah ‘mother earth’ dan bukannya ‘father earth’ ya?

    laki2 metroseksual? buat saya gak masalah, tapi kalo terlalu ‘bersih dan wangi’, males juga ngeliatnya 😀

    Balas
  2. venus

    satu lagi, bang. saya juga gemes kalo perempuan ‘jadi terdakwa’ karena berani mengeksplore sensualitas dan seksualitasnya sendiri. kenapa emangnya? kalo laki2 boleh swalayan (dengan pembenaran DARIPADA JAJAN?!), perempuan juga berhak mendapat kesenangan dengan caranya sendiri dooong… lhah DARIPADA JAJAN?!! huehehehe….

    wah, topiknya keren. saya boleh posting soal ini juga gak, bang?

    Balas
  3. tjahaju

    kmaren ada temenku yg cerita ttg buku yg abis dia baca.. katanya skg ini woman yang dari mars dan man yang dari venus. dia bilang, cowo skarang banyak yang kemayu, lembek, dll…
    at some point, kayaknya aku setuju juga.. huehehe..

    Balas
  4. meiy

    pertama baca kemaren aku gak komen, hihi bingung mo komen apa, kamu selalu nulis okay bgt sih lae…kenyataan emang dunia ini dikuasai lelaki.

    namun syukur tak semua begitu, aku yakin kamu salah satunya yg melihat wanita tak hanya objek seksual .

    lelaki metroseksual? nggak aku banget deh, wangi sih ok2 aja, jangan kemayu 🙂 soale aku sebel sama cowo bau hehe

    eh kemaren gosipin si lae sama venus loh (alo ven jgn marah), cuma gosipin kira2 gini:
    “Si Bang Toga ini bisa bikin buku yang fenomenal lho, tulisannya asyik, bagus, bernas, cerdas, dll, dll..”

    Ayo kutunggu bukumu Lae!

    Balas
  5. ann1sha

    Artinya, kiamat sudah dekat. Artinya lagi, semakin banyak orang yang opportunis, plin-plan, bahkan tidak bisa menentukan jenis kelaminnya sendiri. Tidak bisa memilih apakah harus berdiri di ‘kiri’ atau ‘kanan’, because you can’t be both. Sorry I have to ask this, yang dicatat di blog kamu ini perihmu (refer to someone in particular or …) atau perih diri sendiri?

    Balas
  6. jejakkakiku

    emansipasi pria…hahaha…komentarnya lucu! Tapi mungkin bener juga ya? kadang ada cowo yang pengen juga ngerasain ke salon dan di ‘manja’ 🙂 tapi ada jg yang gak…

    Saya yakin deh, segahar-gaharnya orang Batak, Lae yang satu ini pasti tau ‘how to treat a lady right’ mungkin sebenernya perempuan juga cuma butuh itu ajah, tapi ‘bungkus’ yang luarbiasa bagus tapi mudah lecek 🙂

    Tapi biar jelek diluar tapi terasa dalam hati, mungkin akan lebih membekas…

    *komentar yg aneh*

    Balas
  7. may airinn

    kita hidup dalam dunia lateral.. itu kenyataannya
    kita tahu bahwa itu adalah pendapat yang salah.. itu juga diamini oleh kata hati
    tapi kita(ehm..untuk yang ini:wanita) malah menerimanya dengan pasrah. Bukannya aq setuju dgn arah emansipasi wanita sekarang ini tapi pemahamanya udah bergeser jauh.. kesetaraan gender bukan berarti mendapat perlakuan serba sama tapi keadilan untuk mendapat perlakuan sesuai porsinya.
    Padahal sebenarnya aq ga bgitu peduli topik ni, I dont care this anyway.. saat kaw bisa menunjukkan kemampuanmu jauh diatasyang alen, substansi gender menjadi tak penting lagi (ini cuma pendapat aq bang)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s