Lebih Kaya dari Cinta Lebih Miskin dari Rindu

Tuhan itu…

Lebih tua dari gurun, lebih muda dari embun. Langit mungkin masih mengenal-Nya.

Bila kau tanya kanak-kanak, yang begitu muda bagai fajar, saat sedang main kejaran di pantai, mereka akan heran. “Engkau datang terlalu dini, Dia belum sampai di sini.”

Menurut sepasang muda yang sedang dimabuk asmara. “Ia hidup dalam dongeng beribu tahun lalu,” kata si Lelaki. Ditimpali si Perempuan, “Sungguh hidup begitu indah, waktu kita begitu singkat. Mengapa mencari sesuatu yang sia-sia?”

Filsuf? Oh, dia hanya bisa bertanya, tak menyediakan jawab.

Dan sabda Nabi, “Dialah cahaya mahacahaya, yang memijari matahari, menyinari lubuk hati. Ia menuntun orang buta, membimbing langkah pengembara. Tapi ingat, mata kita yang fana, tak bisa menangkap mahacahaya.”

Ulama dan pendeta, hanya mewarisi nama, memanggil Dia dalam ibadah, tapi makna-Nya tetaplah rahasia.

Bertanya pada ahli kitab? Ah, dia mungkin tak kan sempat mendengar. Sudah berabad-abad dia menggali ayat suci, dan sekarang terperangkap dalam guanya sendiri. Kata-katanya menjadi sangat pelik dan susah dimengerti. Mengapa mesti sekian sulit, membuat nama-Mu rumpil rumit.

Pada sebuah syair: Pada mulanya adalah Sunyi dan Sunyi itu melahirkan Kata dan Kata menciptakan alam semesta dan alam semesta menyanyikan madah. Dan semua madah kembali ke Sunyi di baris terakhir semua puisi. Tapi tak pernah seorang penyair berhasil menulis bait itu.

Tiba saatnya bertanya pada seorang pertapa. Ia dulunya seorang kaya, menjual tuntas semua harta dan hidup menyepi mencari Sunyi. Ia bahkan bisa mendengar debur jantung.

“Lebih kaya dari cinta, lebih miskin dari rindu. Itulah dia.”

Makanya harta yang habis terjual tidak cukup membayar jalan untuk sampai ke hadirat-Nya. Mungkin sekali fakir miskin lebih mengenal wajah itu.

Sesampai ke pondok fakir miskin, aku langsung melupakan nama-Mu. Yang kulihat, yang kuingat, hanyalah wajah kanak-kanak, dengan igauan dalam demam, menjerit pedih minta nasi sedang ibunya menjual diri untuk membeli sepotong roti. Pernah sang ayah mengedar ganja untuk memanen uang murah, tapi semua tinggal mimpi, ia pergi tak pernah kembali. Maka di sini di laut derita, bisakah seorang mengelak teriak dari kapal yang sedang karam? Apa makna semua doa, madah puji dan nyanyi ibadah bagi mereka yang kini tenggelam? Sungguh, di laut duka aku telah melupakan Engkau. Nama-Mu tak lagi penting untuk diriku, dan mungkin namaku tak pernah berarti untuk-Mu jua.

Tapi mengapa di siang ini, ketika hibuk dalam letih, sesudah hilang semua pamrih, tiada terduga Engkau tiba: O Cahaya mahacahaya, Sunyi suci yang melahirkan Kata, lebih kaya dari cinta lebih miskin dari rindu, di tengah wajah kanak-kanak lapar, aku sujud menyembah Engkau.

(Disarikan dari “Surat Buat Tuhan” oleh Leo Kleden)

Iklan

14 thoughts on “Lebih Kaya dari Cinta Lebih Miskin dari Rindu

  1. telmark

    “Lebih kaya dari cinta, lebih miskin dari rindu“

    berarti tak terkatakan. penuh makna bersayap yg bisa berhubungan dgn siapa atau kemana saja.
    saya terkesan dgn story pondok fakir miskin diatas. great. 🙂

    Balas
  2. maya

    hadoh, jadi berasa ditampar datang kesini. barusan posting tentang makanan yg bikin ngiler, disini diceritain tentang anak-anak kelaparan.

    Balas
  3. Ping balik: Giliranku menjual diri [lagi] « Just Ordinary One

  4. nesia Penulis Tulisan

    @Meiy + deethalsya (Sama-sama orang Medan neh)

    Sori telat. Rindu disebut miskin, barangkali, sekali lagi barangkali, karena saat merasakannya, apapun yang ada tak membuat kita merasa cukup, sampai yang kita rindukan itu tiba.

    Cinta disebut kaya, karena oh karena, (kok kayak lagu Rhoma Irama yak) dengannya kita merasa cukup meskipun tak punya apa-apa.

    Tp pastinya, begitu tulisan selesai dibuat, penulisnya sudah “mati”, dan tugas Andalah menerjemahkannya sendiri.

    Balas
  5. Ping balik: Pernikahan Beda Agama: Mengagumkan, tapi Tidak Dianjurkan « Toga Nainggolan - Nesiaweek Interemotional Edition

  6. Ping balik: AGAMA ISLAM « Murdancerblog's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s