Awas Overdosis Agama! [lâ taghlû fî dînikum]

Diskusi soal agama memang selalu menarik, dengan catatan dilakukan dengan hati yang damai, yang ikhlas mencari kebenaran. Seperti agama besar lain, Islam dimanifestasikan penganutnya dalam berbagai cara. Ia seperti sebuah spektrum yang luas. Mulai dari salafi sampai liberal. Dilihat dari berbagai manifestasi itu, Islam bisa terlihat begitu keras, tapi juga bisa muncul dengan wajah yang ramah.

Saya tidak berani mengklaim bahwa Islam yang ramah adalah Islam yang sesungguhnya, karena nyatanya memang ada teks-teks ayat suci yang bisa menjadi “pembenaran” untuk bersikap keras. Tetapi aku sangat berharap, Islam yang ramah adalah Islam yang benar, dan bahwa ayat-ayat keras itu, harus dilihat konteksnya, dilihat asbabun nuzulnya, “dikoordinasikan” penafsirannya dengan kondisi kesejarahan saat ayat itu turun.

Ada prinsip Islam–yang anehnya tidak begitu populer–lâ taghlû fî dînikum, yang artinya kira-kira, jangan berlebihan dalam agamamu.

 Hayoo, posting soal agama, ilustrasinya Ferrari Spider. 

Atau ada juga ayat yang sifatnya lebih general, “Allah sangat tidak suka kepada segala yang berlebih-lebihan”. Agama itu bisalah kita misalkan sebagai obat, tombo, atau shifa, penawar penyejuk. Tetapi obat pun harus dikonsumsi sesuai aturan pakai, atau anjuran dokter. Jika “ditekan” secara berlebihan, akan menyebabkan overdosis.

Tidak masalah bila seseorang itu overdosis sendiri, mampus dia situ! Namun, jika kemudian dia ngotot mengajak orang untuk overdosis juga, itu mesti dibasmi. Karena seperti dalam dunia peredaran narkoba, dia bukan lagi pemakai yang bisa kita posisikan sebagai korban, tetapi sudah jadi pengedar. (Jahat banget mengkomparasikan agama dengan peredaran narkoba).

Saya selalu menaruh respek kepada semua orang yang taat dalam agamanya, kepada orang yang percaya sampai mati kepada kebenaran agamanya. Saya juga selalu berharap suatu saat bisa menjalankan sebagian besar syariat, aturan agama saya, sedisiplin mungkin.

Yang tidak tidak bisa saya terima adalah, kalau kemudian dengan keyakinan pada kebenaran eksklusif pada agamanya, dia dengan semangat 45 lantas menyanggah kebenaran agama lain, bahkan memvonisnya sebagai kafir atau infidel.

Saya pernah berpikir, mestinya Tuhan kembali menurunkan agama baru, yang lebih aktual dan akomodatif terhadap perkembangan zaman. Namun kemudian saya pikir lagi, itu hanya akan menambah persoalan baru.

Saya jadi ingat allegori Mr Lekig, seorang blogger pluralis dari Bali, bahwa agama-agama itu seperti beragam kendaraan di jalan yang sama menuju cinta kepada Tuhan, Kekasih Maha Tercinta. Sebagai penggemar kendaraan jenis sedan, saya tak mungkin memaksa mereka yang merasa lebih nyaman naik SUV, minibus, atau truk agar ikut saya naik sedan. Bahkan tidak juga mereka yang memilih naik sepeda onthel-onthel. (Mungkin sampainya lambat dan agak melelahkan, tetapi kan tidak “menyumbang” polusi pada langit biru).

Orang yang begitu semangatnya mengabarkan kebenaran agamanya kepada orang lain, bayangkanlah seperti si pengendara sedan yang membuka jendela dengan power window canggih itu, berteriak-teriak mengajak si pengendara sepeda agar ikut numpang di mobilnya.

Meski si pengendara sepeda sudah menolak dengan halus, dan mengatakan ingin sedikit melatih otot-ototnya, si pengendara sedan tetap ngotot mengajak, dan begitu asyiknya dia mempromosikan kenyamanan sedannya yang dilengkapi dengan ABS, airbag, dan alat kontrol traksi itu, tak sadar ia bertabrakan dengan truk, yang pengemudinya juga sedang asyik mengajak seorang pengendara motor butut di sebelahnya.

Apa kata si pengendara sepeda, “Dasar orang kaya baru! Norak! Gue juga punya punya ferrari spider di rumah, tapi males, boros BBM. Mending naik sepeda, sehat.” (Nah, ada hubungannya kan dengan foto di atas).

Jangan khawatir soal sampai tidak sampai, itu bukan urusan kita. Toh Tuhan menatap dengan jeli dan teliti, apa yang terjadi di sepanjang jalan. Lagi pula, bukankah Dialah Jalan itu?

(Posting ini tadinya berupa komen di sini, saya modif dikit2)

Iklan

16 thoughts on “Awas Overdosis Agama! [lâ taghlû fî dînikum]

  1. WoKay

    Insya Allah Pak.
    Bisa dimulai dari diri sendiri kemudian ke lingkungan terdekat selanjutnya terus membesar seperti obat nyamuk bakar (terbalik).

    Islam memang agama yang hebat dan bisa mengakomodir beragam fikiran, intelegensi, kemauan hingga sangkaan. Karenanya wajah Islam sangat beragam seperti pada awa artikel Bapak.

    Islam yang sejuk, Islam yang damai adalah Islam yang didasari oleh pemahaman dan kesadaran yang tinggi akan hakikat keberadaan manusia, agama serta TUHANnya sebagai sumber dari segala sumber.

    Hemat kami penguasa juga turut andil (baca bertanggung jawab) atas dangkalnya pemahaman agama, bukan cuma Islam, disini. Sehingga para penyampai, baik Ustadz, Pendeta, Pastor dan lainnya, kadang hanya mengikuti selera pasar. Selera audience. Yang biasanya suka dengan sesuatu yang bombastis, jadi ayat/dalil yang dikemukakan dan sering diulang ya seperti itu.

    Apalagi tanpa dibarengi oleh kajian mendalam tentang asal muasal turunnya ayat/dalil tersebut sehingga hanya dimengerti secara dangkal apa yang tertulis atau terucap.

    Diperparah lagi oleh hegemoni dunia Barat yang dengan sistematis atau tanpa sadar telah memperkeruh iklim keberagamaan. Kita, anggota masyarakat biasa, akan kalah oleh opini/berita/situasi yang diciptaka sehingga terbentuklah pengkotakan tersebut.

    Sehingga sangat benar analisa dalam artikel 30 Juli bahwa jika antar agama dipertentangkan maka pemenangnya adalah orang yang tidak beragama (atheis) 😦

    Balas
  2. mr lekig

    benar, memaksakan “obat” yang kita minum kepada orang lain adalah “haram” alias salah, apalagi orang itu “sakitnya” beda, ya jelas saja “obatnya” beda…

    salam, 🙂

    Balas
  3. nesia Penulis Tulisan

    @Wokay.
    Sangat menyejukkan, Pak. Insya Allah.

    @Mr Lekig.
    Huehehehe… Again, sebuah analogi yg kena banget. Penyakit beda, obat juga beda.

    Balas
  4. Am. ni Ivan

    Oh ya lah lae , kalau berlebihan pasti mabuk, sudah mabuk bisa muntah dan meracau yang keluarannya pasti tidak karuan atau malah ketiduran dan bablas.

    Balas
  5. maya

    wahhh lagi2 postingan yg dimiliki oleh orang dengan kebijakan tingkat tinggi neh hehehe

    mmm..kira-kira buat saya pribadi takaran yg pas musti berapa yah biar ga OD :d

    Balas
  6. passya.net

    Bagaimana dengan kecintaan rasulullah saw yang berlebihan terhadap Allah, sehingga apapun yg dilakukan atas dasar kecintaan kepadaNYA…

    saya jadi teringat semangat Samurai…. kadang kita pun tidak habis pikir, mengapa mereka merasa terhormat dengan melakukan harakiri jika gagal dalam memegang prinsip, sama bingungnya dengan: mengapa mereka mau meledakkan diri sendiri, menabrakkan pesawat ke wtc….

    Balas
  7. meiy

    hmmm…perumpamaan yg ‘nakal’, tp masuk akal 😀

    agama sering bikin ribet, mumet, jadi aku males mikirnya lae, aku suka mikirin cintaNYa saja, juga dia hehe

    Balas
  8. oddworld

    “…ingin sedikit melatih otot-ototnya…” analogi yang kebetulan pas dengan saya 🙂
    Insyaallah ‘naik sepeda’ juga sampai ke surga kok
    Salam kenal.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s