Kebenaran yang Membunuh, atau Kebohongan yang Menghidupkan

Aku tidak tau, apakah cintamu tulus, atau permainan belaka. Tetapi, teruskanlah. Itupun terasa sudah cukup bagiku. Fernando Pessoa.

Rina dan Mira, dulunya adalah sahabat baik, saat mereka menjadi ibu muda di awal 70-an. (Beuh, jadul bgt yak!) Sampai sore itu, ketika Mira mengunjungi sahabatnya yang baru saja melahirkan bayi perempuan.

Baby gue cakep ya, Mir”

Mira berpikir sejenak. “Kayaknya, baby umur semingguan ‘gini belum kelihatan deh cakep ngganya. Mana rada gelap lagi, ngikutin bokapnya, bukannya ngikutin lu yang putih. Huehehe.”Hingga hari ini, setelah lebih tiga puluh tahun berlalu, Mira masih sering menyesal. “Mestinya aku bohong aja waktu itu. Dia kan lagi kena depresi post-partum

Ada saatnya dibutuhkan “kemurahan hati” kita untuk berbohong. Tentu saja aku sedang bicara tentang white lies, bukan black lies, gray atau bahkan off-white lies. Kebohongan seputih salju. Yep, ini pasti akan membuka perdebatan yang bisa saja menyentuh ke pertanyaan-pertanyaan etikal, sebuah cabang filsafat. (Lha, kok jadi serius sih?)

*****

Kelihatannya susah ya, “mempromosikan” kebohongan saat hal itu justru sudah menjadi wabah yang melanda seluruh golongan masyarakat kita. Politisi bohong biar dipilih, dokter bohong di catatan medis, pengiklan bohong biar jualan kliennya laku, pengusaha bohong biar ngga kena pajak, bahkan juga para pemuka agama.

Tapi di sisi lain, secara kontras, kita juga sedang dilanda wabah kebiasaan mengumbar semua hal ke wilayah publik. Seorang seleb, dengan make-up yang luntur disapu air matanya, sedang berbicara mengapa dia akhirnya menuntut cerai, dan bahwa suaminya suka “main” tidak saja lewat belakang, tetapi juga menggunakan lubang yang tidak semestinya. Di meja di depannya, bergeletakan mikrofon dan recorder milik pekerja infotainmet, bak tumpukan sampah di Bantargebang. Blitz kamera saling menyambar bak kilatan petir menjelang hujan. Bayangin tuh, Bantargebang di saat hujan!

Peradaban kita sedang dijepit oleh dua kutub itu; wabah kebohongan dan penyakit mengumbar masalah paling pribadi. Aristoteles pernah bilang, kejujuran bukan sekadar mengungkapkan semua hal kepada semua orang. Tetapi menyampaikan kebenaran yang tepat, kepada orang yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan cara yang tepat, dan untuk alasan yang tepat.

“Honesty was more than unloading everything to everyone. Rather, it is speaking the right truth to the right person at the right time in the right way for the right reason.”

Tidak semua kebenaran menjadi milikmu untuk disampaikan. Ada yang diamanahkan untuk kau simpan, atau yang hanya akan menyakiti hati orang lain tanpa manfaat apa-apa. Juga tak setiap orang berhak untuk mengetahui kebenaran, sebagian akan mendistorsi dengan sengaja apa yang mereka dengar, sebagian akan menggunakannya untuk menghancurkan kebenaran lain yang lebih luas, yang lebih penting.

Tidak setiap waktu menjadi saat yang tepat untuk menyampaikan kebenaran. Ada musim yang menginginkan kita mengatupkan mulut rapat-rapat. Hari di mana anak perempuan tetanggamu kena drop-out dari SMU, bukanlah saat yang tepat untuk menceritakan, bahwa dua bulan sebelumnya anaknya itu juga sudah melakukan aborsi di klinik milik kenalanmu.

Tak setiap cara berkomunikasi bisa dijamin tidak akan “menciderai” kebenaran yang disampaikan. Seorang ulama, pendeta, atau namai saja para penyampai kebenaran dari Tuhan itu, yang menceritakan betapa mahakasihnya Tuhan, dengan intonasi, mimik, gestur, dan tatapan matanya, justru membuat jemaatnya merasa jadi orang yang paling berdosa di muka bumi.

Yang lebih penting lagi, motif orang menyampaikan kebenaran, seringkali tidak layak mendapat penghormatan kita, karena dia memang sedang menggunakannya sebagai senjata untuk menghancurkan kebanggaan, harapan, dan kehidupan orang lain.

Daripada kebenaran yang salah, atau orang yang salah, atau waktu yang salah, atau cara yang salah, apalagi motif yang salah, sebuah white lie sepertinya lebih punya integritas. Kebenaran mestinya membuat segalanya lebih baik, menghidupkan, sebab jika ia malah membunuh harapan, itu pasti bukan kebenaran.

Ah, ini hanya tawaran pemikiran. Pada akhirnya, jadilah dirimu sendiri.

Iklan

14 thoughts on “Kebenaran yang Membunuh, atau Kebohongan yang Menghidupkan

  1. maya

    kalo yg paling penting buatku adalah bagaimana agar kita bisa berjiwa besar sehingga dapat menerima kebenaran sepahit apapun .MAksa ga YA ?? :d

    Balas
  2. sandalian

    kebenaran tidak seharusnya diucapkan kepada siapa saja. kebenaran hanya boleh diucapkan kepada orang yang siap mendengar kebenaran.

    yang penting jangan sampai membuat pembenaran, saya rasa begitu.

    Balas
  3. may airinn

    Hmm, kalu aq siy liat liat orangnya dulu. kalu kayanya EQnya lumayan tinggi bilang yang sebenarnya bakal lebih baik (ya tergantung cara penyampaiannya jg siy, hehehe). Tapi kalu kayanya beneran awam, lebih baik ngikutin pepatah orang Karo, katakan hanya yang baik 😉 . Oportunis ga yaa??

    Balas
  4. venus

    white lie, banyak juga yg ga setuju. kebohongan tetaplah kebohongan, begitu katanya. tapi saya cenderung setuju, kadang sedikit menyimpan kejujuran juga diperlukan. jadi bukan berbohong, cuma ga usah katakan apa yg sebenarnya terlintas di kepala kita. hehehe…kacau..

    Balas
  5. Mei

    setuju dengan yang dibilang sama Aristoteles itu, seandainya bisa bicara LEBIH jujur di saat yang tepat dan orang yang tepat, mungkin reaksinya akan berbeda…

    Balas
  6. Siu Elha

    Itulah kenapa EQ lebih mempengaruhi kesuksesan seseorang dibanding IQ, karena pinter-pinternya kita mengolah seni dalam berkomunikasi itu sangat menentukan dalam bersosialisasi. Apalagi ditunjang SQ yang membumi so menjadi cemerlanglah sebuah pribadi…

    Balas
  7. meiy

    aku setuju white lies utk kasus perkasus, misal seperti cerita rina-mira di atas.

    tapi kalo suami boong sm istrinya kawin lagi gak bilang2 dg alasan takut menyakiti hatinya…itu namanya nyari pembenaran = bullshit hehehe

    Balas
  8. whitegun

    hmm, kejujuran yang paling baik adalah yang seperti dikatakan aristoteles, kejujuran yang disampaikan pada orang, saat, cara dan untuk alasan yang tepat. Jitu banget nih aristoteles.

    Balas
  9. Phyro

    Eyang aristoteles,emg bijak..
    Tapi Muhammad SAW lbh mulia.”katakanlah kejujuran itu walaupun pahit”.
    Itulah kata2 yg tersirat dlm sabdanya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s