Serius Neh, Mau Jadi Atheis?

“Aku punya seorang kawan, begitu lantangnya mengingkari keberadaan Tuhan. Tapi selalu menolak bila diajak jalan malam-malam lewat kuburan. Lho?”

BERANI menyebut diri sebagai atheis, berarti sepenuhnya tidak percaya kepada keberadaan Tuhan, dan bahwa mempercayai Tuhan sama saja dengan mempercayai sebuah mitos. Masalahnya, kebanyakan “atheis” berada pada posisi itu, bukan karena pergulatan pemikiran yang cukup mendalam, tetapi semata karena kebencian pada institusionalisasi agama. Sekadar penolakan pada Tuhan sebagaimana dikonstruksikan dalam kitab-kitab suci. Sebenarnya orang seperti ini lebih pas disebut sebagai anti-agama.

Sebuah usaha “melukis” Tuhan

Buah dari sudut pandang atheisme adalah, bahwa semua eksistensi manusia bisa direduksi kepada objektivitas dan materialisme. Artinya, kehidupan dan cinta, muncul semata karena adanya reaksi kimia di dalam tubuh. (Saya pernah menyinggungnya di sini).

Menyangkal keberadaan Tuhan, lebih dari sekadar mengatakan, “Gue ngga percaya sama Tuhan!” Tetapi juga bahwa Anda tidak percaya pada keberadaan SPIRITUALITAS APAPUN! Anda percaya, bahwa segenap yang ada memang seperti apa adanya, tidak lebih tidak kurang. Tak ada magis, tak ada cinta, tak ada puisi, tak ada semangat, tak ada jiwa, tak ada alasan bahwa kejadian-kejadian bisa saling berkaitan. Tak ada misteri! Dan jika Anda memang pada posisi itu, “Selamat. Anda resmi sebagai orang tanpa harapan!”

Tapi jika Anda cuma merasa terganggu dengan institusi-institusi agama, dan dampak negatif yang ditimbulkannya secara sosial dan politik di seluruh dunia, maka Anda sedang satu perahu dengan kebanyakan manusia intelektual. Bagaimana tidak, agama menjadi penyebab dari sekitar 75% pertumpahan darah dalam sejarah dunia.

Tapi menolak institusi agama adalah satu hal. Menyangkal keseluruhan eksistensi spritual sungguh merupakan hal lain. Anda bisa tetap mempercayai Tuhan, walau tidak menganut agama apapun.

Ini cuma persoalan bagaimana Anda mendefenisikan Tuhan. Apakah Dia sosok beruban, duduk tenang dengan mata menatap tajam, di singgasana emas-Nya, di sebuah pojok surga, atau di aras dalam teks Islam, atau di atas sana, seperti kata orang kebanyakan?

Atau Anda memahami Tuhan sebagai Sesuatu yang aktif, kekuatan yang hadir dalam kehidupanmu, di dalam hatimu, di setiap detik dan detak waktu. Atau seperti kata Rumi, “Air yang dicari si dahaga itu berada lebih dekat dari nadi di lehernya”.

Logika dan rasio hanya bisa mengantarmu ke pinggiran kolam, sementara untuk mencari sumber mata airnya, Anda harus menyelam lebih dalam.

Menyangkal Tuhan dan spiritualitas tidaklah sulit, apalagi sekadar menolak semua agama. Tetapi hidup dengan kekosongan itu?

 

Iklan

16 thoughts on “Serius Neh, Mau Jadi Atheis?

  1. sandalian

    lucu juga kalo ada yang ngaku atheis tapi percaya hantu, demit, karma dll..

    kalo anti-agama sih cukup wajar, apalagi dengan ulah para “pemilik agama” akhir-akhir ini.

    Balas
  2. mataharicinta

    mungkin memang makna dari atheis itu yang kudu diganti. bahkan pemimpin rusia yang dulu atheis pun saat akan meninggal juga dipanggilin pendeta kok karena segala macam teori tentang atheis yang dimilikinya dirasanya tak sanggup meredam kegelisahannya.

    so..mungkin dibutuhkan istilah baru pak, untuk mereka-mereka ini yang anti agama.

    tapi pada dasarnya, bukankah tidak adil mengejudge sebuah agama melalui prilaku para penganut agama tersebut?

    jadi, lihatlah ajaran agama yang sesungguhnya, tapi jangan lihat prilaku penganut agamanya.

    Balas
  3. Siu Elha

    Saya suka kalimatmu
    “Menyangkal Tuhan dan spiritualitas tidaklah sulit, apalagi sekadar menolak semua agama. Tetapi hidup dengan kekosongan itu?”
    SAya tak mampu membayangkan saja jika asyiknya ramai dalam kesepian dan sepi dalam keramaian itu kusangkal….

    Balas
  4. Mei

    hahaha…jadi ingat sama seorang teman yang mengakui atheis, tapi pada saat mau makan dia tetap berdoa…

    aku tau sebenernya pengakuan dia itu adalah sebagai ‘kerinduan’ dia akan Tuhan yang dia percaya…

    bisa juga kan, Bang?

    Balas
  5. nila

    jd inget cerita….
    seorang lelaki mengaku atheis……
    satu ketika terjebak di dalam lift….

    saking ketakutannya…akhirnya keluarlah do’a dg menyebut nama Tuhan dari mulutnya…..

    Balas
  6. mr lekig

    saya lebih suka dgn orang yang mengaku ateis tapi selalu berbuat baik, ketimbang beragama tapi memusuhi orang yang tdk seagama dengannya..

    betul, mungkin perlu dibuatkan istilah utk orang2 yang tidak beragama tapi tetap percaya pada tuhan..

    salam,

    Balas
  7. dayat

    hmm mungkin karena perwujudan Tuhan tak pernah ada di sinetron2, sementara perwujudan setan merajalela..
    Nah, karena tingkat keimanannya cuma sampai taraf mata, hingga jadilah dia terpaksa percaya setan dan memilih tak percaya Tuhan.. :p

    Balas
  8. Fatary

    Ibarat ada surga dan neraka, untuk ke surga ada 2 pilihan, jalur A ato jalur B, Tujuan sama. Untuk pergi ke neraka ada dua pilihan, jalur A ato Jalur B, Tujuanpun tetap sama. Namun Kita diwajibkan untuk memilih, maka jika anda tidak memilih jalur A, so pasti anda akan memilih jalur B ato sebaliknya. Disini saya mengatakan Atheis GOLPUT. saya sendiri blm ngerti dengan pemikiran orang2 GOLPUT, apakah dia seorang yg bingung, seorang yg ngga punya tujuan, seorang yg ngga punya nyali utk memilih, ato emang udah di takdirkan ngga bakal milih?. brarti jika demikian jgn plin plan dengan prinsip anda tersebut, sekali GOLPUT harus GOLPUT. Anda tidak perlu harus memilih jodoh anda, apakah nanti anda dapat yg baik ato tidak, yg cantik ato tidak, apakah anda nanti miskin ato kaya, anda tidak punya hak untuk memilih bahkan semua pilihan anda juga tidak cocok buat anda karena itu pilihan yg bukan hak anda, jadi jangan pernah memilih alias neko2. Bila anda punya pasang hidup yang baik, buruk, cakep, jelek, kaya, miskin, itu pun tidak layak buat anda karena itu adalah bagian dari pilihan, dan sekali lagi anda bukan pemilih alias GOLPUT.

    Tambahin sedikit ahh…Jika pagi telah datang, anda di hadapkan pada dua pilihan, mandi ato tidak mandi, sesuai prinsip Atheis untuk tidak memilih alias GOLPUT, anda tidak layak untuk tidak mandi apalagi sampai mandi, anda harus berada di tengah antara keduanya. jika hari ini anda harus makan, anda tidak layak makan makanan yg tidak enak apalagi makan makanan yg enak karena itu adalah bagian dari pilihan. Jika anda di hadapan harus menikah, anda tidak layak menikah dengan pria ato pun wanita karena itu adalah pilihan dan anda harus selalu berada diantara kedua pilihan tersebut. Ingat SEKALI GOLPUT HARUS GOLPUT baik dalam memilih keyakinan maupun dalam hal lain, jika anda setengah2 brarti anda bukan GOLPUT SEJATI ato Seorang ATHEIS SEJATI dan jangan pernah berpikir untuk memilih karena itu di luar prinsip anda dan sekali lagi anda tidak layak untuk MEMILIH bahkan jangan pernah menggunakan kata “PILIH dan kata-kata yang Sebangsa dengannya” 😀

    Balas
  9. DEWASHIWA

    Saya atheis dan saya tidak kecewa dalam hidup saya. Hidup saya serba berkecukupan, anak istri baik dan berpendidikan, pergaulan saya baik dengan sesama manusia tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras dan golongan. hati saya selalu tentram tanpa beban dan saya tidak beragama alias atheis. Agama adalah produk budaya yang menyebabkan manusia kehilangan kemanusiaannya!! Buat apa ada agama, jika rasa toleransi, senyum di bibir, sopan santun, saling menghormati, saling menghargai, keceriaan, kenyamanan, keamanan dan semua yang positif menjadi hilang? Jadi bener juga apa kata Karl Marx, agama adalah candu!! Agama cuma menyebabkan kita sakaw, tidak sadar akan diri dan sekeliling kita, merasa nikmat sendiri, sampai kita terbangun dan sedih, kesal dan marah akan fakta yang ada di depan kita!! Jadi agama cuma delusi (pemikiran yang salah) dari suatu masyarakat!! Salam Atheis!!

    Balas
    1. Maren Kitatau

      Aku juga kadang bertanya-tanya,
      Apakah emang agama itu diturunkan utk dicintai?
      Nanti-nantinya mencintai …!

      Pernah kutanya entah dimana:
      “Bolehkah solat ditunda demi kemanusiaan?”
      Hingga kini belum ada jawaban; Tunggu dalil?

      Salam Pikir Tiga!

      Balas
  10. Dini

    saya punya temen seorang atheis, dia tidak percya tuhan, surga neraka, ataupun hantu..saya sering ditanya pertanyaan2 tentang agama, dan bagaimanapun saya menjawab, tetap saja punya sangkalan2, tapi walaupun dia seorang atheis, dia sangat respect dengan orang laen, atau agama laen, dan dia sangat peduli lingkungan, beda sekali dengan banyak teman2 saya yang mengaku punya agama tapi kelakuan mereka seperti tidak punya agama,,,

    Balas
    1. Nesia!

      itulah masalahnya… ketika agama sepertinya tak ada hubungannya dengan kualitas kemanusiaan seseorang. malah dalam beberapa kasus, sepertinya malah berbanding terbalik.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s