Kami Miskin Bukan Karena Malas… Menggugat Kapitalisme

If the misery of the poor be caused not by the laws of nature, but by our institutions, great is our sin. ~Charles Darwin

MASIH ingat dengan lelaki ini? Dia Muhammad Yunus, penerima Nobel Perdamaian 2006, bersama Grameen Bank yang didirikannya di Bangladesh. Lebih dari itu,Yunus adalah dewa, ah… ngapain tanggung-tanggung, dia tuhan bagi orang miskin yang masih menjadi bagian terbesar masyarakat di sana, seperti di sini.

Seorang wanita miskin Bangladesh, memeluk dewa mereka.

Pidatonya saat menerima hadiah itu, beberapa kejap setelah mendapat ciuman dari si sexy Sharon Stone… mestinya membuka mata dunia, terutama mata kapitalis-kapitalis jahanam itu. Pidato yang layak dicatat, bukan saja karena kata-katanya tersusun rapi, bernas, dan memberikan pencerahan, (kalau sekadar itu, di sini juga banyak jago pidato), tetapi karena pidato itu lahir dari pergulatan dan kerja nyata panjang memerangi kemiskinan, dan berhasil!
Dia membuktikan, bahwa si miskin jika diberi kesempatan, akan bisa memperbaiki keadaan dirinya dan komunitasnya. Ini bertentangan dengan sudut pandang kelas menengah ke atas, begundal-begundalnya kapitalisme itu, bahwa seseorang miskin karena mereka malas, bodoh, dsb. Bahwa mereka memang pantas miskin!
Yunus tegak di sisi lain dengan konsistensi yang garang. “Kemiskinan tercipta karena kita membangun kerangka teori berbasis sebuah asumsi yang merendakan kapasitas manusia. Kemiskinan lebih disebabkan oleh kekeliruan pada level konsepsual, daripada kurangnya kemampuan orang yang berada pada kemiskinan itu.”

Bukan Debitur BLBI. Petugas Grameen Bank menemui para nasabahnya. Ada pengemis yang bisa bangun rumah, dengan KPR tanpa bunga (dan tak pernah macet!)

Itulah kata-kata, yang bagi saya hanya bisa muncul dari kedalaman pemahaman, kegigihan, dan hubungan setiap hari dengan perjuangan nyata melawan kemiskinan. Yunus juga mengecam konsep bisnis kapitalis, yang menjebak kita menjadi manusia yang monodimensial, yang tujuannya semata-mata memaksimalkan profit. Pengusaha, apalagi para karyawannya tak lebih dari sekadar mesin pencari laba.
Paradigma itulah, yang mencabut dimensi politik, emosional, sosial, spiritual, dan kepekaan lingkungan dari diri seorang pengusaha. Awalnya mungkin cuma semacam simplifikasi yang reasonable, tetapi pada perkembangan selanjutnya sudah mengikis hal yang paling esensial dari kehidupan seorang manusia.

Melesat. Grafik pertumbuhan kreditur Grameen Bank

Manusia adalah ciptaan menakjubkan, atau paling menakjubkan, dengan kemampuan dan kualitas yang sesungguhnya tidak terbatas. Konstruksi teoritikal kita mestinya menyediakan ruang yang cukup, bagi mekarnya kualitas itu, bukan malah menyingkirkan dan mengebirinya dengan asumsi-asumsi yang dangkal tadi.
Sebagian besar persoalan di dunia saat ini, muncul dari pengekangan itu. Wajar, hingga hari ini, dunia belum kunjung bisa memecahkan problem kemiskinan yang diderita lebih dari separuh penghuninya.
Pelayanan kesehatan, salah satu hak paling mendasar manusia, masih begitu jauh dari jangkauan mayoritas warga dunia. Bahkan negara-negara terkaya dengan pasar paling bebas, nyatanya belum bisa memberikan pelayanan kesehatan pada minimal seperlima populasinya.
Kita, eh mereka ding, begitu terpesona dengan “pencapaian impresif” pasar bebas, yang memungkinkan pertumbuhan ekonomi, bak lesatan meteor, sehingga tak lagi punya keberanian untuk mempertanyakan ulang asumsi yang keliru itu. Celakanya lagi, mereka malah semakin keras bekerja, mentransformasikan dirinya, sedekat mungkin kepada ke arah manusia monodimensial.

Menangis. Sharon Stone menyeka air mata mendengar pidato Yunus. “Anda tahu, dengan kredit Rp 3 juta, mereka bisa membangun rumah yang sebelumnya, bahkan untuk memimpikannya pun mereka tak berani. Nilai yang sama untuk makan malam Anda berdua.”

Yunus tak lupa menyampaikan peringatan, “Kemiskinan adalah ancaman terbesar bagi perdamaian”. Orang yang terjebak di lembah kemiskinan, dan tak melihat ada jalan untuk keluar, akan dengan mudah berubah menjadi pemarah, perusuh, bahkan teroris. Selama masih ada di berpunya dan si tak berpunya, jangan harapkan akan ada damai sejati di muka bumi.
Tapi bukan Yunus namanya kalau tidak menawarkan harapan. “Saya yakin pada kemampuan manusia, untuk menciptakan apa yang mereka sungguh inginkan. Kita ciptakan apa yang kita mau, kita dapatkan apa yang kita inginkan, atau yang tidak kita tolak. Selama ini kita menerima kenyataan, bahwa akan selalu ada si miskin di sekeliling kita, dan bahwa kemiskinan sudah merupakan “takdir” kemanusiaan. Inilah penyebab mengapa kemiskinan memang tak kunjung hilang.”

Dan ini hanyalah sebuah “hadiah kecil” untuk kerja keras itu. Kalau kita, pelukannya sih mau, kerja kerasnya… Lho, kerja keras itu apa?

“Jika saja kita bersikukuh percaya, bahwa kemiskinan adalah sesuatu yang tidak bisa kita terima, dan tidak semestinya ditemukan dalam peradaban kita, kita sesungguhnya sudah mulai membangun kerangka yang kuat, sebuah institusi sekaligus kebijakan, untuk menciptakan dunia yang bebas kemiskinan”.
Matanya berkaca-kaca, saat menutup pidatonya dengan mengucapkan, “Suatu hari saya membayangkan, kemiskinan hanya ada di museum-museum.”
Pak Yunus, ikutan nyalon dong untuk Pilpres Indonesia 2009. Soal KTP? Wah, itu mah gampang ngurusnya. Plis dong, Pak…

(Saya sudah mulai membuat draft catatan ini begitu usai menonton siaran tunda penyerahan hadiah itu, awal Desember 2006 lalu. Tapi dasar lelaki pemalas, baru selesai malam ini)

Iklan

12 thoughts on “Kami Miskin Bukan Karena Malas… Menggugat Kapitalisme

  1. maya

    eehhh jng bang, om yunus jng disuruh ikutan pilpres, takutnya klo kepilih tar malah berubah idealismenya, jadi menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, parno neh hehheheh

    Balas
  2. nesia Penulis Tulisan

    @Maya.
    Bener ya. Di Indonesia, memberi jabatan kepada seorang yang baik, sama saja menghancurkannya.

    @Luna.
    Hehehe, setelah aku baca ulang, kok tulisannya terasa rada “kiri” yah. :)) Tp orang yang (merasa) tersisih di tengah, biasanya emg meminggir (ke kiri). Tp itu bukan aku lo. 😛

    Balas
  3. may airinn

    Setuju ma komen bang toga: Di Indonesia, memberi jabatan kepada seorang yang baik, sama saja menghancurkannya.
    Dengan keadaan sekarang mas, mungkin lebih baik bermimpi kecil tapi kokoh daripada bermimpi besar tapi rapuh.
    Indonesia perlu lingkaran pemutus, untuk memblok pencekokan budaya korupsi ke generasi berikutnya.
    *nyanyikan Indonesia Raya*

    Balas
  4. sahat

    wah , lae toga dia enggak bakal mau kesini, karena disana dia lebih bahagia dan bisa melayani sikecil kalau di indo dia bisa dipaksa melayani si besar dan dibawah ancaman , hahahaha 🙂

    Balas
  5. Hanum

    Lalu di negara ini…sejauhmana si miskin itu menjadi sesuatu yang penting dan diperhatikan. Kapan negara ini berpihak kepada mereka?
    Mari mulai perubahan ini dari diri sendiri. dengan
    “menggambil sesuai kebutuhan dan memberi sesuai kemampuan”.

    Balas
  6. Finaldo

    Andaikata saya jadi penentu kebijakan di Indonesia akan saya perintahkan kepada para menteri kabinet bidang ekonomi, keuangan dan industri untuk belajar kepada Bapak Muhammad Yunus.

    Balas
  7. Jismond

    Berharap Bapak Muh. Yunus pindah ke Indonesia gaka ada gunanya. Ngirim orang-orang kita ke sono untuk belajar, juga sia-sia, karena orang-orang kita sudah pada paham sedalam-dalamnya apa yang dilakukan beliau, cuman orang-orang kita gak mau melakukannya karena secara financial kurang menguntungkan

    Balas
  8. atig

    Miskin? asyik dapat bantuan dari pemerintah. Kapan Indonesia keluar dari kemiskinan? ternyata tergantung penguasa atau kekuasaan…

    Balas
  9. atig

    Miskin? asyik ..dapat bantuan pemerintah. Kapan kemiskinan bisa keluar dari kehidupan kita di Indoensia? Survey membuktikan ternyata tergantung penguasa atau kekuasaan.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s