Dengan Segala Legit Getirnya, Tetaplah Hidup…

Kisah ini sungguh menggugah hati, ditulis dengan indah pula oleh Lae Suhunan, penulis novel Sordam itu.

Aku juga sering khawatir mengenai hal itu: kelak ketika senjaku telah tiba, saat tenaga sudah terkuras, tulang merapuh, kulit mengeriput, akan bagaimanakah caranya aku menjalani sisa usia.

“Jangan minta umur yang panjang, tapi umur yang bermanfaat. Sebab bisa saja, usia justru sebuah kutukan,” kata Bapak saat terbaring lemah di ranjang RS Elisabeth Medan, beberapa waktu sebelum pergi untuk selamanya. Dia sendiri “dikutuk” untuk berumur cukup panjang; 82 tahun.

Dunia memang bukanlah tempat di mana semua keinginan bisa tercapai. Orang yang kita lihat punya segalanya dan sepertinya menjalani hidup dengan begitu mudah, bisa saja sejatinya adalah seorang yang sangat menderita. Konon pula yang secara kasat mata pun keadaannya sudah menyayat hati, menguras simpati.

Ketika mendengar piring bakso diketuk-ketuk pukul 11.30 malam, saat gerimis makin memekatkan wajah langit, coba pandang wajah tua yang basah itu, oleh keringat dan tirisan gerimis dari topi lusuhnya, atau lihat sekilas kontraksi otot betisnya mengayuh gerobak yang bahkan terlalu berat untuk atlit balap sepeda itu.

Layakkah hidup seperti itu dipertahankan? Mengapa memilih bertahan di gelanggang kehidupan kalau hanya menjadi bulan-bulanan nasib yang begitu perkasa?

Tapi mungkin lelaki tua penjual bakso itu bisa mengajari kita tentang satu hal. Bertahan hidup berarti kita layak menyebut diri sebagai manusia.

Boleh kau buat rencana yang matang dan sangat detail untuk hari tuamu. Ada begitu banyak program dari perusahaan keuangan yang bisa membantumu untuk itu. Tetapi yang jauh lebih penting lagi adalah memupuk tekad, bahwa sekalipun kemungkinan terburuk akan tiba, tetaplah memilih untuk bertahan hidup.

Jangan menyesali apa yang pernah datang dan pergi dalam kehidupanmu, karena hidup harus berorientasi ke depan. Masa lalu yang hitam, hanya akan semakin legam bila ditangisi. Omong kosong kalau kesalahan akan diampuni dengan penyesalan, dia hanya bisa diperbaiki dengan tindakan yang benar mulai detik ini ke depan.

Kita tidak pernah ditugaskan oleh siapapun untuk berhasil, untuk sampai pada titik tertentu. Kita hanya harus terus melangkah dan melangkah. Sampai tidak sampai, itu lain urusan.

Dan bila waktunya harus mati, matilah dalam keadaan telungkup ke depan, bukan terjungkal ke belakang. Tapi sebelum masa itu tiba, dengan segala legit getirnya, kuminta demi dirimu sendiri, tetaplah bertahan hidup.

Syukur-syukur kau mampu merayakannya, bahkan dalam kesendiriananmu yang paling senyap sekalipun. Itu baru namanya manusia. Manusia yang mampu membuat takdir buruk menyingkir tersipu-sipu.

Iklan

13 thoughts on “Dengan Segala Legit Getirnya, Tetaplah Hidup…

  1. sahat

    walaupun besok kan kiamat hidup harus tetap dipertahankan, dan bila waktu itu datang biarlah kita masih tegak menghadapinya.
    Welcome back, laeku …

    Balas
  2. whitegun

    Hidup memang harus dipertahankan betapapun getirnya, sayang tak semua orang menikmati hidupnya dengan cara yang benar. great post, welcome back to blog life.

    Balas
  3. me:

    @joerig.
    Yup… hidup cuma punya persneling maju, ngga ada mundurnya. Mundur pasti nabrak, soalnya nyang di belakang pada maju semua.

    @Sahat.
    Sangat menggugah. Kuberdiri melawan hari, ku akan berarti, ku tak kan mati!

    @Mei.
    Hehe, gpp mungil, yg penting ceria.

    @Yati.
    Kok? Yati salah satu sumber semangat terbaik selama ini lo?

    @Venus.
    Lagian, ngga selalu miris kan.

    @Meiy.
    Emg itu tugas kita. “I will survive!”

    @Arham.
    Satu-satunya yg perlu ditakuti adalah ketakutan itu sendiri.

    @Whitegun.
    Yup, sayang. Padahal hidup cuma sekali.

    @Tukang Sapu.
    Keknya emg iya ya. Einstein gila: fisikawan, tetapi bahasanya seindah sastrawan.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s