Aku tak Ingin Mencintaimu dengan Sederhana.

Matahari pertama bulan Juli

MENGEJUTKAN juga, ketika kusadari aku makin mencintainya setiap hari, lebih menginginkannya seiring waktu merangkak, menemukan dan menemukan pesona baru setiap aku melihatnya.

Di ruas waktu terdahulu, aku ternyata salah memahami. Kupikir cinta itu seperti hasrat, hujan, atau bunga, sesuatu yang sementara, perasaan satu musim, untuk dinikmati sekala ada, dan dibiarkan pergi, pada saatnya berlalu.

Aku tak pernah menganggapnya, bisa menjadi sesuatu yang mengakar jauh ke dasar hati, begitu ia dibiarkan tumbuh, dan kemudian meranting, menguntai menjalar menyemburat cahaya, menaburkan hadiah buah-buah yang jauh di atas harapan.

Dia pohon tua di sudut padang, berdiri tegak dalam diamnya yang purba melintasi abad, bukan kelopak bunga yang gugur begitu musim berganti.

Ada daun yang luruh ditabuh angin, ada cabang meranggas di makan usia, ada ketidaknyamanan, perbenturan kedirian, dorongan mengekang, kemarahan, kecemburuan, perasaan tidak dicinta sepenuhnya, bahkan kejenuhan. Namun akarnya sudah menghujam jauh, melintasi batas-batas ego, memungkinkannya menumbuhkan daun baru yang lebih segar, cabang baru yang lebih kuat dari kemarin.

Aku bukan hanya aku, telah menjadi dia, telah menjadi kami, telah terbungkus rapi dalam keseharian yang dilalui, menari, merekat, menyanyi, mengikat, melangkah ke masa depan yang tak pernah pasti, namun tak ada alasan untuk ditakuti.

Ini mengantarku pada kontemplasi mistik di gerbang nasib, sebuah persahabatan jiwa dengan dia yang kucinta. Kini kuyakin, apapun yang hadir di antara kami, adalah apa yang kami hadirkan sendiri, apa yang kami pertahankan, apa yang kami biarkan. Yang selain itu akan pergi sendiri.

Betapa ringkihnya waktu terlihat, apalagi bila aku menuntut terlalu banyak. Tetapi dia juga membuat kami mengerti, betapa kuatnya senar-senar hati berdenting, ketika dipetik mengiring nyanyian jiwa.

Aku tidak ingin mencintaimu dengan sederhana.

Tapi sejenak kini, biar aku berbaring, di teduh pohon tua kita, biar bahuku menampung jiwamu yang lelah, kita terima segala yang akan tiba, tanpa berlebih duka atau perayaan yang menguras makna.

Iklan

14 thoughts on “Aku tak Ingin Mencintaimu dengan Sederhana.

  1. meiy

    u always the best in writing about love ya…*two thumbs up* so romantic!

    saat cinta bisa melewati batas-batas ego, ia akan kembali ke hakikatnya, indah, damai…:)

    Balas
  2. Mei

    pasrahkan Bang, itu intinya 🙂
    pada saat kita pasrah, semua jawaban tersedia

    aku juga sama koq, tidak mau mencintai dia dengan sederhana atau biasa ajah 😀 hehehe…

    Balas
  3. johan

    nah itu dia … lebih susah lagi kalo udah cinta … : ketidakkuasaan membeci-nya .. walau ada satu juta alasan untuk itu … hiks :((

    Balas
  4. Siu Elha

    bang bicaralah cinta seperti ini ketika engkau sudah menikah…(kecuali bukan penganut pernikahan)…karena makna cinta itu semakin agung…bukan fatamorgana…ujian cinta sebenarnya adalah ketika pernikahan menjadi gerbangnya…saya malu pernah bicara “nggak bisa hidup tanpa kamu” dengan mantan, tapi…ketika gerbang pernikahan kulewati bukan dengannya ternyata cinta gombal itu bulshit…he..he…

    Balas
  5. Ronnie Sng

    Bah, baru tau aku orang Batak bisa sangat puitis. Mohon izin Lae kalo kukutip beberapa bait untuk keperluanku pribadi.
    Mauliate. Horas!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s