“Aku Cinta Padamu. Ada Pertanyaan?”

Gara-gara Lae Jarar

Aku bukan tipe orang yang percaya pada stereotip, pada kecenderungan untuk memukul rata, menggeneralisir, atau bahasa bakunya, merampatkan. Misalnya, orang Batak itu begini, orang Aceh begitu, orang Jawa begini-begitu, orang Sunda ngga begini-ngga begitu, dst.

Aku yakin, setiap pribadi adalah sosok yang khas, yang bahkan tidak akan sama, walaupun dengan kembar identiknya dari satu rahim, satu indung telur.

“Stereotip itu pedih,” kata Ulil Abshar Abdalla, dedengkot Jaringan Islam Liberal, suatu ketika. Aku pun pernah merasakan kepedihan itu, sewaktu mencari kontrakan saat menjadi Batak Tembak Langsung ke Jakarta, awal tahun 90-an.

Belum pernah ke Medan, aku “dipaksa” oleh nasib untuk langsung ke Jakarta dari kampungku, di lereng Bukit Barisan sana. Dengan logat yang kalian taulah macam mana bentuknya, sulit betul untuk mendapat Pak Haji yang mau memberikan rumah kontrakan. Itu tadi, karena streotip: bahwa Batak itu buat ribut, kasar, dan mungkin juga dipastikan tak satu keyakinan dengan dia.

Ada sebuah ilustrasi, yang menggambarkan betapa “tembak langsungnya” orang Batak. Buat orang lain, menyatakan cinta adalah pekerjaan yang amat sulit. Berbagai tindakan dan perhatian non verbal harus dilakukan sebagai pendahuluan. Mengucapkannya pun tidak secara langsung. Pokoknya perlu proses pdkt yang bisa berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.

Nah, si Batak konon hanya perlu mengatakan, “Sri, aku cinta padamu. Ada pertanyaan?” Begitu Sri menggeleng (dalam kebingungan), dia kemudian menyambung, “Kalau begitu, kemarikan bibirmu, biar kucium”.

Gedubrak!!! #$%$#@

 

Iklan

22 thoughts on ““Aku Cinta Padamu. Ada Pertanyaan?”

  1. meiy

    hmmm tembak langsung ya lae…enggak pake foreplay? hihi becanda 😉

    aku juga gak setuju generalisasi, itu kejam
    man is every unique ya
    Tuhan yg telah menciptakan ‘warna-warni’

    Balas
  2. sahat

    🙂 hahaha , kemarikan duitmu biar kita bagi kata preman, aku setuju dengan lae penyamarataan itu sebuah kekejian, karena perbedaan bisa menimbulkan harmoni yang diriingi sebuah melodi yang indah .

    Balas
  3. thekannes

    Aku bukan tipe orang yang percaya pada stereotip, pada kecenderungan untuk memukul rata, menggeneralisir, atau bahasa bakunya, merampatkan. Misalnya, orang Batak itu begini, orang Aceh begitu, orang Jawa begini-begitu, orang Sunda ngga begini-ngga begitu, dst.

    sampai kaget , kebetulan atau nggak , itu adalah aku sekali …kebetulan terahkir2 ini aku sempat sebel dengan postingan teman yang cenderung memukul rata sifat orang karena faktor warna kulit ( walaupun bukan warna kulitku tapi warna kulit lain yang begitu di rendahkan , di sudutkan tanpa si pemilik2 warna kulit itu tidak bisa membela diri , lah waong nulisnya pake bahasa indonesia , nah pengecut sekali khan ) …
    itu juga alasannya saya sementara off dulu mau berpikir tenang dan mengisi liburan bersama anak2 , dari pada sedih membaca postingan orang lain …

    salam

    Balas
  4. thekannes

    seperti selalu saya banyak menulis kesakahan , ralat lagi :

    walaupun bukan warna kulitku tapi warna kulit lain yang begitu di rendahkan , di sudutkan tanpa si pemilik2 warna kulit itu bisa membela diri , lah wong nulisnya pake bahasa indonesia , nah pengecut sekali khan ) …

    Balas
  5. evillya

    aku percaya setiap orang berbeda, tidak didasarkan pada warna kulit, ras, dan sejenisnya. soalnya punya teman yang berbeda dengan stereotip kebanyakan sih 🙂

    Balas
  6. yati

    haqhaqhaq….sekitar akhir 1999 atau taon 2000, lupa… gw pernah nih diginiin sama seseorang yang kebetulan sukunya Batak. Untungnya ga disambung kalimat kedua, minta bibir itu. Kalo sampe begitu, kutabokin dia! hahaha….

    Balas
  7. Hanum (matahari)

    sadar atau tidak kita memang sering bersikap demikian untuk membenarkan hal2 dalam kejadian di kehidupan kita…gak salah juga siy, karena pada dasarnya kita juga sadar bahwa setiap orang berbeda.
    kadang2 stereotip itu perlu juga untuk awal kita mengenal orang baru..terutama kebiasaan2nya..karena terkadang untuk suatu daerah tertentu memiliki sifat2 umum pada masyarakatnya sehingga memudahkan kita untuk beradaptasi dengan orang tersebut.
    namun saat kita ingin berbicara pribadi maka itu tetap kembali ke individu masing2.
    Tapi Lae pernyataan “Ada sebuah ilustrasi, yang menggambarkan betapa “tembak langsungnya” orang Batak” itu sudah termasuk stereotip gak?

    Balas
  8. mrlekig

    kata orang bijak, “Beda Itu Indah”,

    bayangkan kalau Tuhan menciptakan manusia dalam bentuk, ukuran, agama, suku, ras yang sama, pokoknya semua sama.. kalau begitu, bagaimana kita membedakan yg mana istri kita??

    Balas
  9. desty

    percaya atau tidak, bang… suamiku mengatakan hal yang sama sama waktu nembak aku..haha…

    masih banyak orang di luar sana yang masih “memukul rata”.
    orangtuaku pun seperti itu. untungnya begitu melihat (calon) menantunya mereka langsung terpikat. :))

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s