Bangun Rumah Ibadah Dilarang, Dirikan Diskotik Dibiarkan

Untuk Lae Sahat

Saya ngga pernah habis pikir, bagaimana bisa, membangun rumah ibadah, milik agama apapun itu, bisa lebih sulit daripada mendirikan panti pijat atau diskotik. Harus izin dan tanda tangan dari sekian oranglah, segala macamlah.

Lha, untuk bangun diskotik, yang aku berani jamin 1000% bakal jadi tempat peredaran narkoba, atau panti pijat yang malah bisa kugaransi 10.000% bakal pernah juga jadi tempat bermaksiat ria, malah ngga perlu seribet itu. Cukup sekian gepok uang untuk oknum-oknum pemberi izin.

 

 

 

 

 

Inikah negeri yang sila pertamanya “Ketuhanan Yang Maha Esa” itu, di mana membangun tempat untuk memuja-Nya lebih (diper) sulit daripada mendirikan tempat maksiat.

Saya kok belum pernah mendengar ada demo begitu bersemangatnya untuk menentang pembangunan sebuah diskotik atau panti pijat, padahal di tempat seperti itu Tuhan dianggap tak lebih berharga dari sebutir pil ineks, atau setembakan air mani.

Sementara di tempat ibadah yang diributkan itu, bagaimana pun cara yang dilakukan, namun di sana Tuhan akan diagungkan.

Menghempang pemurtadan? Pertama itu baru prasangka. Kedua, kalaupun benar, berarti mereka tidak percaya diri dengan pesona agamanya. Ketiga, ini yang paling mungkin, dasar mereka memang tidak punya tanggung jawab untuk memberi perhatian dan kasih sayang, bahkan kepada orang yang mereka sebut sebagai saudara seiman.

Hanya orang-orang yang merasa tidak mendapatkan kehangatan di sebuah rumahlah, yang akan mencari rumah lain.

Sepertinya, mereka lebih suka kaumnya seiman direkrut jadi pemuja setan, daripada jadi pemuja Tuhan dengan nama dan cara berbeda.

Bangsa yang aneh!

______________________________________________

Foto di atas menunjukkan bagaimana masjid dan gereja bisa coexist peacefully di Damascus, ibukota Suriah. Negeri di Timur Tengah yang sering kita anggap “keras” padahal ternyata sangat damai.

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجاً وَلَوْ شَاء اللّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَـكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ إِلَى الله مَرْجِعُكُمْ جَمِيعاً فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Kutipan Al-Qur’an (5:48) yang menegaskan; andai Tuhan mau, sekali lagi kalau memang Tuhan mau, tak ada susahnya untuk membuat seluruh manusia jadi kaum yang satu (dalam segala hal). Namun Dia memilih untuk memberikan jalan yang terang kepada setiap kaum, agar mereka berkompetisi untuk berbuat kebaikan.

Ini pernah saya singgung di sini dan di sini, bahwa kadang manusia menjadi lebih bersemangat daripada Tuhan untuk menegakkan “kebenaran”. Kebenaran dari Hong Kong!

Iklan

22 thoughts on “Bangun Rumah Ibadah Dilarang, Dirikan Diskotik Dibiarkan

  1. Susie

    wah saya kok baru tahu kalau mendirikan tempat ibadah di indonesia , sulit banget ijinnya ..ternyata soal ini Indonesia nggak lebih baik dr belanda , setahu saya di belanda , ijin utk masjid sulit sekali karena penduduk sekitar berkeberatan , alasannya muslim identik dengan terorisme , dimana hal ini menurunkan nilai jual harga rumah di sekitar bangunan masjid dan rasa ketidaknyamanan masyarakat di sekitar masjid ..
    Apapaun alasannya , memang kedengaran berlebihan sekali , tapi di Indonesia ??? saya nggak menyangka ternyata tidak lebih baik dengan belanda ???

    Balas
  2. telmark

    kalau saya pejabat : izin mendirikan sebuah diskotik, hotel, panti pijat, harus disertai dgn sarat khusus. salah satunya adalah, jika mendirikan tmpt tersebut, maka harus pula membangun sebuah rumah ibadah、dgn besar dan panjang serta biaya yg kira2 sama. (untung saya bukan pejabat ya). 🙂 semakin menyedihkan para penjabat kita…. memalukan.

    Balas
  3. Hanum (matahari)

    cepat kali lae kau posting tulisan2mu…
    aku jadi kebagian komentar ke 3…tapi gpp lah
    menurutku :
    1.Pada dasarnya setiap orang dapat menjumpai Tuhannya dimana saja.
    2.Tapi saat orang2 membuat sebuat tempat khusus untuk menjumpai Tuhannya, maka 5seharusnya tidak ada yang menghalanginya.
    3. Lae, semoga setiap orang bisa menghormati orang lain. Sehingga se-iman tidak dimaknai satu agama, tapi sama2 memiliki Tuhan.
    Ini tentang Lae :
    1. Lae…kau jenguk2 lah rumahku…tak pernah lagi kulihat jejakmu disana.
    2. aku mau pamit lae…(selengkapnya datang kerumahku)

    Balas
  4. jurig

    wah … saya juga baru tahu hal ini bang … beneran bang, aku sampe kaget …

    … Cukup sekian gepok uang untuk oknum-oknum pemberi izin…

    mungkin disitu perbedaanya bang … 🙂

    Balas
  5. Al-Jibriel

    yah,..emang mau gmn lg???
    di bangsa ini kan semuanya ber”harga” (ada harganya)..

    Siapa yang bisa kasi harga tinggi, maka semuanya lancar,…
    tinggal kasi duit segepok, berdirilah tuch diskotik dsb dengan megah…

    nah, kalo rumah ibadah kan susah, masa harus nyogok??atau mungkin sebenarnya pembangunannya tidak dipersulit, tapi emang itulah prosedur nya… dan mungkin jg pejabat yang ngurusinnya malas2 kalo ada proyek pembangunan rumah ibadah, gak ber”duit” sih… jadi dech bertele2, lama, dan ribet…

    beda dengan pembangunan sang diskotik, gak usah pakai prosedur, semuanya lancar asal ada duit….para pejabat juga kerjanya semangat, demi menjaga reputasi di mata para kliennya, biar lebih banyak proyek2 yg sejenis…

    Balas
  6. Matgundul

    Ehm…..
    Menurutku, Tuhan itu ada dimana-mana. Tak hanya di tempat yang suci, Tuhan juga ada di Diskotik, Panti pijat, bahkan rumah bordil sekalipun…..

    Karena Tuhan itu emang beda dan tak terikat tempat dan waktu seperti manusiakan?

    Yah, kita berharap justru di diskotik, panti pijat atau rumah bordil itu ,pejabat korup, tukang tenung, perampok, pemerkosa, atau seorang ayah biasa dapat menemukan Tuhan yang mungkin susah mereka’temukan’ di alam nyata yang sehat sentosa.
    Huahahahahahah

    Balas
  7. Nila

    huehehehehe….
    oke banget ni posting bang toga
    bener bgt…”kebenaran dari hongkong”!!

    memang bangsa yg aneh…..

    (apa kabar bang? seneng bgt bisa maen lg ke sini)

    Balas
  8. whitegun

    Kenapa bangsa ini menjadi bangsa yang selalu membuat malu para penghuninya, sebuah bangsa yang menjadi bangsa nomor wahid justru dari segi negatifnya. Bukankah seharusnya bisa menjadi bangsa yang membanggakan jika dilihat dari sila pertama dasar negaranya.

    Balas
  9. sahat

    Aku enggak nyangka lae muat ini secara khusus menyebut namaku, aku sangat berterimakasih lae begitu perhatian dengan yang kami alami, sekarang gerejanya sudah hampir rampung lae itu berkat doa2 dari saudarku sekalian terimakasih, tulisan lae ini adalah sebuah potert kenyataan dan benar2 nyata terjadi dimuka bumi tercinta ini .

    Balas
  10. meiy

    aku juga baru tau perlu izin utk mendirikan rumah ibadah…

    negeri ini memang mengherankan ya?

    padahal semalam aku baru mikir enaknya pertetanggaan di dekat rumahku, ada yg kenduri (hub. dg keagamaan), beda gama , tapi pas magrib semua berhenti. “keributannya” pun asyik, ada yg lagu nasyid2 top, dan ada yg lagu batak, nah siapa yg nggak suka orang batak nyanyi? Idol aja dikuasai org medan, hidup medan! eh OOT ya 😉

    moga aja nggak semua org suka meributkan perbedaan, ga populer bgt hari gini ya lae…

    Balas
  11. maya

    hmm…mau silanya seperti apa, tetep aja yang berkibar di negeri ini UUD ( ujung-ujung nya duit ) . yang namanya Ketuhanan, Kemanusiaan,Persatuan, Keadilan semuanya mentok sama UUD . tidak semua memang , tapi mostly seperti itu .

    Balas
  12. ureh

    mm.. saya rasa tidak ada yang melarang mendirikan tempat ibadah di Indonesia. Kalau masalah sulit, mungkin memang untuk dapat meloloskan proposal pembangunan tempat ibadah ke pemerintah perlu melalui beberapa prosedur.

    Diantaranya (mungkin) beberapa (puluh) tanda tangan dari warga sekitar dimana tempat ibadah tersebut akan didirikan, serta mereka yang bertanda tangan itu adalah warga yang agamanya sama dengan status keagamaan tempat ibadah tersebut.

    Semua persyaratan2 yang diajukan oleh pemerintah mungkin terkadang terlihat agak menyulitkan. Namun saya rasa semuanya itu juga akan mempermudah urusan-urusan di belakang hari. Misalnya untuk mencegah permasalahan hukum, perpajakan, dsb-dsb.

    Kalau masalah lambat atau cepatnya pengurusan, mungkin juga tergantung dari kebijakan pejabatnya itu sendiri, dan saya berlepas diri dari permasalahan prasangka mengenai hal-hal di balik dan di dalamnya 😀

    Jika masalah pendirian diskotik, panti pijat dsb, atau tempat-tempat usaha lainnya mungkin juga lebih mudah karena ini murni masalah bisnis. Kalaupun masyarakat sekitar pada waktunya nanti (atau bahkan pada awalnya) memang merasa terganggu dan tidak menyetujui adanya tempat-tempat tersebut, hal itu sepertinya juga bisa diurus melalui jalur hukum. Dan kembali lagi ke topik awal, pendirian tempat ibadah yang syarat-syaratnya ketat diantaranya untuk mencegah adanya permasalahan-permasalahan seperti ini.

    Kalau misal sebuah masjid didirikan di tengah-tengah masyarakat sekitar yang mayoritas Nasrani kan nggak lucu. Siapa yang akan ke masjid kalau demikian? Apa orang-orang Nasrani-nya yang disuruh ke masjid itu? Begitu juga dengan agama-agama lainnya. Saya rasa tidak ada perbedaan aturan mengenai hal ini.

    Yang jadi masalah, terkadang ada juga orang-orang yang ingin mendirikan tempat ibadah dengan memalsukan tanda tangan, atau juga melakukan siasat tanda tangan aspal untuk meng-gol-kan rencana pembangunan tempat ibadah agamanya. Padahal yang sebenarnya tidak terdapat jumlah penganut yang memadai di sekitar tempat ibadah yang ingin didirikan.

    Terkadang, begitu banyak persoalanlah yang membuat dimunculkannya persyaratan-persyaratan yang (dianggap) sulit tersebut.

    Kontra dengan semua pendapat di sini ya? Hehehe… maaf. Yah, bagaimanapun pegawai pemerintah juga manusia. Mereka juga memeluk agama, mereka punya kehidupan, keluarga, latar belakang dan pola pikir yang unik seperti kita juga. Mereka pun merupakan anggota masyarakat kan? 🙂

    Tetap kritis, tetap vokal, tapi juga tetap rasional..

    Begitu, Pak Toga. Saya ikutan sumbang pikiran… 😀

    Balas
  13. DOLIO BRAMA ERLANGGA

    untuk gue sendiri nich ya.. kita gak perlu hern dan gak perlu tanya kenapa…? tapi coba tanyalah diri kita sendiri …untuk apa di bangun rumah ibadah toh kenyataannya akan kosong juga..kebayang gak kalo rumah ibadah yang kita bangun dengan susah payah dengan ijin yang minta ampun susahnya.terbengkalai tak berguna yang para ibadahnya pindah ke rumah bordir,discotik,dan tempat hiburan sejenis..tapi mulailah dari diri kita toh manusia akan memiliki rasa kesadaran yang datang saat penyesalan menjeput dan di sana akan kita dapatkan betapa tak berharganya kita di hadapan ilahi..saat sang tanya datang dimanakah kau rumahmu?

    Balas
  14. mulya

    Saya mau urun rembug,
    kalau ada pendirian tempat ibadah saya kira semua pasti karena ada umat yang berdiam disitu entah cuma 5 atau 10 orang. mana mungkin sih, nggak ada umat yang disitu kok didiran tempat ibadahnya. paling kaya taman mini (TMII) yang memang sengaja membuat tempat ibadah untuk mencerminkan Indonesia yang beragam agamanya.
    Serangkali permasalahannya ada pada satu atau dua orang yang sangat garis keras nah, masyarakat lain dan aparat pemerintah ikut -ikutan supaya tidak dicap pembela agama lain.
    Pembagunan tempat ibadah memang harus dilakukan mengingat pertambahan penduduk, terutama arus urbanisasi, dan yang sebagian besar penganut agam yang dari kelompok itu-itu saja, coba buktikan berapa sih yang mengalami perpindahan agama akibat dari adanya tempat ibadah yang baru. Saya tidak habis pikir kenapa ada phobia terhadap agama lain, selama kita ini masih benar-benar melaksanakan ajaran agama masing-masing dengan benar.
    Terima kasih.

    Balas
  15. nindityo

    waduh.. sepertinya belum pernah ada yang ikut bikin izin pembangunan rumah ibadah ya?
    bikin nangis mas… kok bisa sesulit ini.. sekalinya keluar izinnya..eh..gak lama dicabut.
    pusing..pusing…

    Balas
  16. Saptoaji

    wajarlah kalau suatu agama meminta izin untuk membuat rumah ibadah-demi anak cucunya untuk mengenal Allah, anakku tiga dari tiga ini mungkin juga mereka masing masing akan mempunyai anak, nah itu sebabnya perlu rumah ibadah dan merupakan beban moral orang tua untuk membawa anak-anaknya mengenal dan hidup sesuai dengan perintah Allah, rumah ibadah diperlukan…
    Kalau ada orang yang melarangnya, itu akan menjadi tanggung jawabnya di alam sana..

    Balas
  17. Addullah Johannes

    Menurutku ada atau tidak ada rumah ibadat gak masalah. TUHAN itu ada di hati (tepatnya di otak) kita, bukan di sebuah benda atau bangunan atau apa aja terserahmu. Aku pribadi berdoa di dalam hati, sebab spiritualisme seseorang tidaklah sebatas ritual di rumah ibadah. Spiritualitas yang bagus adalah spiritualitas yang telah bersentuhan denga rasionalitas. Nah disitulah kita baru bisa bertemu dengan TUHAN yang sesungguhnya, bukan TUHAN ritualitas atau TUHAN emosionalitas atau TUHAN keberyakinan. BerTUHAN sesungguhnya adalah lebih penting dari beragama…Salam Kemanusiaan!!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s