Cintai Dia dengan Kerendahan Hati

Tidak seperti anak gadis perawan yang mulai bermain-main dengan rasa, Dia tidak pernah suka untuk dicintai, apalagi dimiliki sendiri. (Karenanya, aku tidak pernah sepenuhnya berani, meski beberapa kali akhirnya kulakukan juga, untuk memanggilnya semesra ini: “Tuhanku…” Sebuah posesivitas yang menggelikan kurasa.)

nation.jpg

Sudah banyak yang gagal dalam usaha untuk memiliki Tuhan, menjadikan-Nya sebagai properti eksklusif. Termasuk tentu saja, orang-orang di Sinear, yang mencoba membangun menara Babel, yang akhirnya diruntuhkan Tuhan.

Dia ingin menjadi milik kita semua, sekaligus pemilik seluruh kita. Ide satu agama, satu bahasa, satu cara mencinta, tidak pernah masuk dalam rencana Tuhan, meski untuk itu dia cukup bersiul sekali tarikan napas saja.

Kemarahan Tuhan di kisah Perjanjian Lama itu mestinya cukup bagi kita bahwa Dia ingin dicintai bersama-sama, meski tidak harus dengan cara yang sama.

Sebagai “milik” bersama, Tuhan hanya bisa dicintai dengan kerendahan hati, dengan kesadaran bahwa kita cuma sebutir debu di antara triliuan butir debu kosmos yang lain. Dan api amarah serta keangkuhan tidak akan pernah menemukan bahan bakar pada hati yang tertunduk.

Dia Mahatinggi, sehingga hanya bisa dijangkau dengan bersujud atau berlutut, tidak melulu dalam pengertian bahwa jidat atau tempurung lutut harus menyentuh bumi, tetapi lagi-lagi lebih kepada pengertian hati yang hakiki.

Mencoba menggapainya dengan membangun menara kesombongan hanya akan membuat-Nya makin jauh, seperti bocah yang mengejar pelangi di senja hari.

Dia begitu dekat sehingga bisikan lirih pun akan dipahaminya dengan sempurna. Berteriak, apalagi menggunakan pengeras suara, bukankah membuat-Nya seolah ada di kejauhan sana?

Merasa sudah memahami Tuhan, adalah awal kesesatan. Perasaan seperti itu punya efek samping yang lebih bahaya dari Narkoba: kesombongan, perasaan benar sendiri, dan ujung-ujung yakin 100% sudah punya kavling yang nyaman di surga sana.

“Janganlah kamu berjalan di atas bumi dengan angkuh, karena Allah tidak pernah menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri” (QS Lukman:18), atau di Alkitab, “Siapa yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga” (Mathius 18:4).

Mirip-mirip ya… Lha iya! Wong penulise podo wae. Beda penerbit doang!

Iklan

5 thoughts on “Cintai Dia dengan Kerendahan Hati

  1. Matahari

    Hi..aku gak pernah absen untuk membaca tulisan2mu lae Toga…Agama memerintahkan kita untuk menjalankan misi dan risalah-Nya. Perintah itu dilaksanakan dengan penuh semangat, sampai kita lupa bahwa Allah yang memerintahkan itu tidak menghendaki semua orang menganut agama yang sama. “Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu” (QS Al-Maidah 5 : 48)…..oiya lae Toga..Cintaku titip salam untukmu(sekarang Dia lagi berduka) kata-Nya “Lae Toga teruslah kau berkarya”

    Balas
  2. jurig

    setuju … berusaha memahami Tuhan, –apalagi merasa tahu apa yg Tuhan “kehendaki”– adalah awal kesesatan … Iblis melakukan hal itu, dan kita tahu apa yg terjadi kemudian … 🙂

    Balas
  3. me:

    @hanum.
    terima kasih. dari awal, aku udah ngerasa hanum punya spiritualitas yang indah dan tidak picik.

    titip salam juga untuk Cintamu itu… jika Dia menghendaki demikian, mengapa tidak. hanum beruntung punya pecinta terhebat di jagat semesta. 🙂

    @evillya
    makasih. andai aku bisa tahu, apa gerangan pertanyaan yang anda simpan-simpan itu…

    @joerig
    yup.. teteh menarasikan dengan sangat baik soal itu di posting “apa hak kita”.

    @semua… terima kasih, orang-orang seperti Anda membuat aku merasa tidak “gila” sendiri.

    Balas
  4. sahat

    Seandainya mereka membaca ini juga ,mungkin akan berbeda pandangannya terhadap apa yang sedang kami lakukan.Bingungkan lae Toga apa maksudku ? Begini lae saat ini tempat ibadah kami sedang direnovasi, tapi saudara kita yang disekitar situ tidak setuju padahal kami sudah ada disana 12 tahun beribadah dan izinnya sudah keluar dari pemerintah, selama 12 tahun yang lalu kami tidak terusik , saat terakhir ini saja mereka mengusik entah kenapa ? Makanya aku bilang seandainya mereka membaca tulisan ini pasti mereka akan berbesar hati untuk menerima perbedaan, karena perbedaan adalah rahmat karunia dari padaNya , salam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s