Siapa Kau Terlihat, Bukan Siapa Kau Hakikat

Si Katolik*) yang penuh cinta, Romo Mangunwidjaya, Allah Yarham… (Ini penghormatan tertinggi tradisi Islam bagi seseorang yang sudah meninggal dunia, yang artinya kira-kira “Semoga Allah mencintainya), menarasikan dengan sangat indah sekaligus presisi, dua entitas yang berbeda ini dalam novel masterpiece-nya Burung-burung Manyar. Citra atau jati diri. Bagaimana seseorang terlihat, dan siapa dia sesungguhnya.

Citra atau kepribadian, atau dalam bahasa Inggris personality, tampaknya memang sesuatu yang palsu. Lihat saja dari akar katanya. Asalnya dari bahasa Latin, persona. Tebak, apa artinya? Topeng!

Aktor-aktor drama zaman baheula teuing, selalu menggunakan topeng. Nah, topeng itu dinamai personae, karena suaranya memang muncul dari balik topeng. Sona artinya suara. Deket kan ama sound. Topeng itulah yang bisa ditatap oleh para penonton, namun suara yang didengarnya adalah yang datang dari balik topeng itu.

All personality is false! Kepribadian yang baik, atau kepribadian yang buruk, kepribadian seorang pendosa, atau kepribadian seorang santa, semua palsu. Kamu boleh mengenakan topeng yang cantik, atau yang seram. Tak akan ada perbedaan yang sesungguhnya.

Yang paling penting adalah jati dirimu. The essence of you!

Walau begitu, kepribadian tetaplah sesuatu yang diperlukan dalam pertumbuhan jiwa. Allegorinya kira-kira begini. Tangkaplah seekor ikan dari laut, kemudian lemparkan ke pinggir pantai. Si ikan tentu saja akan berjuang kembali ke laut. Nah, itulah kali pertama si ikan menyadari, bahwa rumahnya yang sesungguhnya adalah di laut, pertama kalinya dia mengetahui, lautlah kehidupannya.

Sebelum kejadian itu, saat Anda menangkap, melemparkannya ke pantai, dan kemudian melompat kembali ke laut, si ikan mungkin merasa laut bukan segalanya. Dia membayangkan, akan ada tempat yang lebih nyaman, dari air asin yang penuh terumbu karang itu.

Untuk mengenal sesuatu dengan sebenar-benarnya, Anda harus pernah kehilangan sesuatu itu.

Begitu juga untuk menyadari, mengenal, dan menghargai sebuah cinta, pertama-tama Anda harus kehilangan dia. Tanpa pernah kehilangan dan mendapatkannya kembali, mustahil Anda pahami keseluruhan keindahannya.

Itulah konyolnya manusia, baru jujur setelah terbujur.

Pada saat kehilangan sesuatu yang ternyata begitu berharga, saat itu pula kepribadianmu terkuak, topengmu melorot pelan-pelan. Dan dunia akan melihat, ketakutan-ketakutanmu yang sesungguhnya.

Siapa kau, kau, kau, kau… (Kok mendadak dangdut si?)

*) Dia memang seorang Katolik, dapat sakramen imamat malah, tetapi bagiku dia muslim sejati, karena sepanjang hidupnya dia penuh cinta kasih dan selalu menyerahkan segalanya kepada kehendak Tuhan.

Benar, hanya muslim yang pantas masuk surga, karena makna kata muslim sesungguhnya adalah mereka yang berserah diri kepada Allah dan menabur cinta sepanjang hidupnya. Perkara bagaimana dia menamai caranya mencintai Tuhan dan kehidupan itu; Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Zoroaster, Kabbalah, Zen, atau apa saja, toh kata Shakespeare, apalah arti sebuah nama.

Iklan

13 thoughts on “Siapa Kau Terlihat, Bukan Siapa Kau Hakikat

  1. Susie

    Setiap kali saya lagi pauze / istirahat sebentar , saya selalu sempatkan mampir ke blog ini , sekedar baca2 dan kalau beruntung , mendapatkan sesuatu utk di ambilnya hikmahnya ..

    seperti hari ini , saya terharu membaca tulisannya …
    semoga anda menuliskannya dengan iklas , dan amien buat doanya buat romo , saya sendiri seorang nasrani ( hehehe emangnya penting ) .

    semoga2 tulisan2 anda memberikan inspirasi yang baik ke banyak orang , amien ..

    keep writing .

    Balas
  2. me:

    @maya.
    gitu deh, nyindir…

    @joerig.
    damn! ini komen mistis banget. gw sampe melayang… mangga, mangga teh…

    @meiy.
    kok sedih, lagi kehilangan dia, atau kehilangan topeng? hehehe, becanda. silakan sedih, dengan syarat, jangan lama-lama.

    @susie.
    alhamudilillah, puji Tuhan, jika ada yg dapat hikmah. saya hanya berusaha meneruskan hikmah yang saya dapat dari sumber-sumber hikmah yang lain.

    jadi nasrani? penting banget dong. nama memang bukan segalanya, tapi toh tetap wajib disebutkan pada awal perkenalan kan…

    @yati.
    cinta romo? wah gawat… soalnya, saya jg bakal mencintai semua yang mencintai romo. ^_^

    Balas
  3. Matahari

    dari judulnya aja udah menarik…saat membicarakan ttg hakikat, pasti asyik banget. tapi sulit untuk mencapainya. hakikat…hakikat…siapa hakikatmu lae?

    Balas
  4. shakurani

    sebetulnya.. adakah manusia yg sudah berhasil mengenal hakikat dirinya?
    Secara otomatis kita menciptakan topeng2 kita yg beragam, bahkan tanpa sadar…
    Saat semua topeng 2 itu berlepasan… jangan2 kita juga tidak bisa lagi mengenali diri kita? 🙂

    Balas
  5. me:

    @telanjang (awas masuk angin lo!)
    right click aja, ada link-nya. aku ngga punya copyright apapun ttg itu, so make it deh…

    @matahari
    perjalanan mencari hakikat memang ngga boleh selesai. jika selesai, kita mungkin akan memilih mati.
    hakikat diriku? aku perlu berkaca, tapi bukan untuk ke pesta.

    @rhani
    Saat semua topeng 2 itu berlepasan… jangan2 kita juga tidak bisa lagi mengenali diri kita…
    menyedihkan banget keknya ya…

    Balas
  6. kennortonhs

    Esai yang bisa menegang, tapi santai. Padat dan bermakna. Dengan menampilkan tulisan ini, bung juga mencintai Tuhan.

    Balas
  7. nesia Penulis Tulisan

    @ken
    menegang, tapi santai. duh, tiba-tiba aku teringat sesuatu (atau satu-satunya) situasi tegang yang tetap terasa santai, lae 😉

    puji tuhan, lae sampai juga kemari :))

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s