Menghormati Ibu, Melecehkan Perempuan

Baca majalah Tempo edisi minggu lalu? Ketidakadilan itu sudah dimulai sejak dari bahasa. Mendengar kata lonte atau pelacur, yang terbayang di kepala kita adalah sosok perempuan.

Di seberang sana, ada kata ilmuwan, budayawan, dermawan, dan tidak pernah ada ilmuwati, budayawati, atau dermawati. Seakan-akan, semua yang baik-baik itu milik lelaki, dan sebaliknya…

Perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki? Betapa melecehkannya. Seakan-akan mereka makhluk dengan kualitas nomor dua, cukup dari tulang rusuk saja, sebelah kiri pula.

Kenyataannya, semua laki-laki justru keluar dari (sebelah) lubang kencing wanita..

Tidakkah proses kelahiran itu sudah cukup jelas menunjukkan siapa yang agung bestari, siapa yang setara air seni?

Bahkan mafia paling tak berperasaan pun, menghormati ibunya. Tetapi sedikit saja yang bisa menaruh rasa hormat pada perempuan lainnya, seakan ibunya itu dari jenis tersendiri…

Tidakkah kita pernah berpikir, Tuhan itu mungkin perempuan. Bukankah hanya Tuhan yang pantas menginjak-injak surga di bawah telapak kaki-Nya… Bukankah hanya Tuhan yang mampu menyimpan dan mengeluarkan kehidupan dari dalam diri-Nya…

Iklan

8 thoughts on “Menghormati Ibu, Melecehkan Perempuan

  1. meiy

    nih dia nih yg aku suka, lelaki yg respek thd perempuan.
    emang kasihan , mereka yg terlahir dr lingkungan yg melecehkan perempuan, syukur aku ga pernah merasakan itu, krn lingkunganku matriarchal
    dari pengalamanku, tmn2ku yg keliatan preman malahlebih sayang pd Ibu mereka

    iya… di sumbar umumnya begitu yah… itu kultur yg agung, kurasa…

    Balas
  2. Kana

    wow, ga nyangka seorang yang berasal dari kultur patriarchal bisa menuliskan hal ini. but it is great though…. karena memang sudah seharusnya lah, kaum pria mulai menunjukkan rasa sayang dan cinta serta kepeduliannya terhadap kaum perempuan.
    btw, perempuan tidak melahirkan lewat “lubang kencing”… tapi lewat “birth canal” yang ada di area “Ms. V” =9

    makasih koreksinya. paling tidak, masih di “sektor” yang samalah…

    Balas
  3. Zhmee Altratimuri

    Hahaha… kalau laki-laki lahir dari dekat lubang kencing perempuan, wajar jika laki-laki menghormati perempuan. Tapi……………………………………….. Perempuan dihadirkan tepat dari lubang kencing laki-laki. Jadi???? Gimana Ya????

    Baca tulisan ini jadi terfikir pada gerakan persamaan gender perempuan. Seolah-olah perempuan tak dihormati oleh laki-laki sama sekali. Lelaki bisa nyetir, perempuan juga bisa… Lelaki jadi pilot, perempuan harus jadi astronot. Pokoknya perempuan terus ngotot harus sama derajatnya dengan laki-laki. (seolah-olah tidak sama).

    Tapi pernahkah anda berfikir, jika sebuah kapal di laut tenggelam, maka yang harus diselamatkan lebih dahulu adalah perempuan (terutama perempuan hamil). Kalau ada peperangan, yang tidak boleh ditembak juga perempuan. Dari beberapa realita itu, laki-laki tak pernah menuntut untuk disamakan haknya. Kok bisa gitu ya?

    Pernah satu hari saya naik bus untuk kembali ke kampung halaman. Waktu itu lebaran. Penumpang penuh sesak. Untung saya dapat tempat duduk. Sekira 5 menit sedang asik meluruskan kaki sambil membaca buku, datang seorang gadis pada saya. Saya tahu ianya tak dapat tempat duduk . Sambil sedikit malu, ia berkata, “Bang, boleh saya yang duduk di kursi abang, saya kan perempuan, abang kan tahu kalau perempuan lemah”, katanya. Weleh… ini perempuan apa belum tahu ada emansipasi?

    Kalau perempuan mau bisa mencapai apa saja yang bisa dicapai laki-laki, kenapa waktu hal-hal yang merugikan terjadi, dia tak mau disamakan?
    Kalau memang mau jadi pilot, jadi supir seperti laki-laki, ya harus bisa melakukan hal terparah yang dilakukan laki-laki. Begitu baru adil.

    Itu sekedar contoh kecil, masih banyak contoh lain. Di antrian ATM, antrian tiket masuk bioskop. Walah… masih banyaklah…

    Bukan bermaksud mengejek perempuan yang sibuk dengan gerakan persamaan gendernya, tapi, sadarlah kalau perempuan juga butuh laki-laki, dan laki-laki memang selayaknya menghormati perempuan…

    Balas
  4. me

    #Zhmee
    Kita masih menunggu, karena seorang perempuan lebih layak menjawab komentar Anda ini. Tapi paling tidak, aku setuju dengan… sadarlah kalau perempuan juga butuh laki-laki, dan laki-laki memang selayaknya menghormati perempuan…

    Balas
  5. Ika

    peran ganda perempauan : domestik maupun dunia kerja, sungguh berat. Apalagi….ketika perempauan menjadi salah satu penyokong ekonomi utama.

    Balas
  6. Ping balik: Ngerumpi? Y Not? Jika Niatnya untuk Memahami Wanita, Menjadi Makin Pria « Nesiaweek Interemotional Edition

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s