Missionaris Resah Menatap Jerusalem dari Jendela Kamar Tidurnya

Namanya Evan K. Chama, seorang missionaris Katolik dari Afrika, yang sedang belajar teologi di Jerusalem. Ada sesuatu yang membuatnya resah, ketika dari jendela kamar tidurnya, ia menatap Temple Mount, atau הַר הַבַּיִת [har haBayit] dalam bahasa Ibrani, atau الحرم القدسي الشريف [alharam alqudsy alsharif] dalam bahasa Arab, komplek bangunan suci di mana Masjid Aqsha berdampingan dengan tembok ratapan.

(Deuh, ini tempat yang paling ingin kukunjungi di atas bumi, di mana aku akan membisikkan tanya kepada Tuhan.)

Dia gentar melihat agama (dalam hal ini Katolik) yang semakin kehilangan pesona di hati anak-anak muda. Keresahan yang dengan apik dituliskannya di sini, kucoba sadur. Siapa tahu berguna.

Meski dalam tulisan ini, dia agak “memuji” regenerasi dalam agama Islam, pada dasarnya, hilangnya pesona agama bagi generasi muda, adalah fenomena yang menimpa semua agama. Barangkali, kalau dia berkesempatan ke Indonesia, dia akan sedikit “terhibur”. Ternyata tak cuma Katolik yang kena…

*****

Tradisi adalah hal penting dalam pengajaran dan kehidupan sehari-hari dalam gereja Katolik. Menurunnya kehadiran anak-anak muda dalam kegiatan keagamaan, jelas merupakan ancaman bagi aspek penting dari Gereja ini.

Penanganan tradisi tadi, tergantung pada dua hal, yaitu pemberi dan penerima. Gereja boleh saja bangga, pada kehadiran para jemaat, namun mereka umumnya adalah orang yang sudah berumur. Hal inilah yang mengesankan, kalau komunitas gereja hanya hanya terdiri dari orang-orang tua.

Ini memang fenomena yang umum di Gereja barat, namun jelas problem ini bukan hanya milik mereka. Buktinya, saya melihat kecenderungan yang sama, ketika saya menghadiri kegiatan-kegiatan gereja di Jerusalem.

Di Notre Dame Jerusalem, Anda mungkin akan melihat tingkat kehadiran anak-anak muda yang mengesankan, namun dalam seketika Anda akan menyadari sesuatu. Anda memang sedang di kota tua ini, namun begitu masuk ke dalam, Anda akan merasa seperti berada di sebuah tempat di Filipina sana. Bayangkan, lebih dari 95% peserta misa itu adalah pekerja imigran dari sana.

Begitu juga di St Xavier, di mana saya mengikuti missa dalam bahasa Arab, yang ditujukan buat penduduk lokal. Anak mudanya bisa dihitung dengan jari.

Saya juga duduk di barisan belakang sebuah gereja Katolik Yunani, agar bisa menghitung jumlah orang yang datang. 50 orang, dan tak berapa lama 70 orang. Tapi kemudian berkurang lebih setengahnya, meski misa belum selesai.

Yep. Karena sebagian besar ternyata hanya turis, peserta program wisata iman dari berbagai negara. Habis lihat-lihat dan jeprat-jepret di sana-sini, cabut.

Komunitas iman yang sesungguhnya begitu kecil, dan tua. Gambaran rapuhnya masa depan gereja.

Kondisi ini begitu berbeda dengan agama Islam. Kapan pun saya mengarahkan pandangan melalui jendela kamar, saat mata saya tertuju pada Masjid Umar, yang berada sekitar 300 meter di depan sana, saya akan melihat ibu-ibu menuntun anak gadisnya, yang tampak manis dalam balutan jilbab warna-warni. Atau bocah lelaki yang dengan riang mengikuti langkah panjang ayahnya menuju masjid; terutama hari Jumat.

Sungguh saya terkesima, melihat antusiasme menghidup-hidupkan agama ini. Saya melihat api Islam tetap menyala, dan sebuah masa depan tampak lebih pasti.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil?

Kita orang Katolik, punya keyakinan kuat kepada tradisi peribadatan. Namun ketika saya melihat gap generasi, saya segera merasakan ada sesuatu yang salah. Apakah kita sudah tidak mempercayainya lagi?

Tradisi peribadatan, semestinya tidak hanya milik mereka yang terlibat dalam komunitas imamat, tetapi juga disebarkan kepada warga Katolik “biasa”.

Selain itu, Islam memang bukan agama yang punya ketergantungan kepada para imam atau pemuka agama. Lelaki dan wanita, tua dan muda, melakukan aktivitas agama di mana saja, tidak saja di dalam masjid.

Saya pernah nyetir sendiri, jalan-jalan di daerah gurun di utara Mali (sebuah negara di Afrika), di mana gurun luas itu seperti memberi kebebasan kepada domba-domba yang tanpa gembala.

Namun apa yang saya lihat, di balik semak, seorang bocah sedang bersujud, keningnya menyentuh tanah, kemudian duduk, sujud lagi, bediri, mengangkat tangan, bertakbir, di bawah cerahnya langit membiru-dia sedang sembahyang.

Hal itu dilakukannya, tentu saja jauh dari pengetahuan orang tuanya. Dengan kesadarannya sendiri, tanpa disaksikan siapa-siapa, dia melakukannya lima kali dalam sehari.

Barangkali, jika kita melihat bocah Katolik yang melakukan hal serupa, berdoa dalam kesendiriannya, kita akan menawarkan, “Kok ngga jadi pastur saja, menjadi seorang agamawan “profesional”. Ini mentalitas yang buruk.

Kita harus menghadapi kenyataan ini. Kondisi ini semestinya menjadi perhatian kita, jika kita memang masih ingin agama ini punya tempat di masa depan.

*****

Sekali lagi, Evan boleh menganggap fenomena ini hanya menjadi kekhawatiran Gereja Katolik. Namun semua pihak yang masih peduli pada masa depan agama, baik Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, Konghucu, atau apa saja, mestinya menyadari ini sebagai ancaman bersama.

Pengajaran agama perlu kemasan baru, tidak cukup lagi dengan iming-iming surga, atau gertak neraka.

Anak-anak muda sekarang sudah lebih merasa dekat dengan Tobey Maguire, pemeran Spiderman, daripada dengan Muhammad SAW, lebih terkesima menatap poster Lee Dong Wook, bintang melodrama asal Korea yang sedang berada di Jakarta itu, ketimbang lukisan jamuan terakhir Jesus Kristus, atau menjadikan foto Kajol sebagai walpaper PC, bukannya lukisan Dewa Wisnu, dan seterusnya.

Jangan sampai agama kehilangan tempat di masa depan.

Iklan

13 thoughts on “Missionaris Resah Menatap Jerusalem dari Jendela Kamar Tidurnya

  1. johan

    Salah satu tulisan saya yg cuma berupa kegundahan hati pada keengganan gereja untuk berubah, sempat ditanggapi oleh seorang pengeloa situs ekaristi.org. Katanya kita pergi ke gereja terlalu sibuk dengan ornamen : koor yang meriah, ruangan yang ber-ac, hotbah pastor yang menggigit. dsb dsb. Padahal intinya bukan itu.

    Saya setuju.

    Yang saya sesali, kenapa kok ornamen dipermasalahkan kalau itu sebenarnya bisa meningkatkan (membantu) jemaat memahami imannya. Lebih parah lagi, khan bukan sesuatu hal yang sulit sebenanrya untuk memperbaiki ornamen itu …

    Saya sendiri nggak pernah pusing dengan kuantitas jumlah umat. Cuma … ah … seandainya saya ini uskup atau malah seoran paus … hehehhee

    BTW, saya suka sekali statement ini :

    “Pengajaran agama perlu kemasan baru, tidak cukup lagi dengan iming-iming surga, atau gertak neraka”

    selelau menyenangkan, mengetahui ada sahabat yang punya keresahan yg sama.

    Balas
  2. eselha

    Buat saya yg telah berkeluarga, mari kita tanam pohon Cinta sedini mungkin, karena dengan Cinta tak perlu iming-iming surga atau harus lari dari neraka karena surga dan neraka pun sejatinya adalah wujud Asma dan CintaNya
    Salam

    yep… seandainya saya punya kekuatan, saya mau membakar surga, dan menyiram neraka, biar keikhlasan bisa tumbuh.

    Balas
  3. kurtubi

    sesama agama sangat berbangga
    tapi bukan kepada sesama
    namun hanya kepadaNya
    kita cinta dunia cinta saudara

    …. nice blog …
    perminttan hadits pena pelajar dan darah jihad lagi dicari mngkin g sekarang yaa… Insya Allah nanti dikabari segera….
    makasih tlah mampir ke kbunku

    Balas
  4. ureh

    Eh, ada sedikit pertanyaan tentang “membakar surga & menyiram neraka” nih. Jadi… apakah surga & neraka itu diciptakan sia-sia?

    Aku rasa surga & neraka itu ibarat gaji atau upah. Dalam suatu pekerjaan, sebenarnya gaji atau upah itu bukanlah tujuan, melainkan sebuah konsekuensi logis atas kerja+profesionalitas kita. Kita butuh uang hasil jerih payah kita, tetapi itu bukan semata-mata satu-satunya faktor yang mendorong kita untuk melakukan pekerjaan itu kan? Ada faktor-faktor lain, semisal pengabdian kepada kemanusiaan, pada orang tua, negara, agama, plus pada Tuhan, dst-dst. Kalo pada akhirnya ada atau banyak orang yang bekerja dengan tujuan uang, aku rasa itu juga hak mereka. Tetapi yang penting kerja beres+nggak merugikan orang lain 😀

    Seperti itu juga surga dan neraka. Bukan tujuan, tetapi bisa menjadi sesuatu yang memicu semangat keberagamaan kita. Hanya saja, ketika surga & neraka menjadi tujuan, sementara kita tidak memiliki bekal pemahaman / ilmu yang cukup bagus tentang Islam atau entitas agama secara keseluruhan, hal ini dapat memicu tindakan-tindakan yang sebenarnya justru menjauh dari alur/jalan menuju surga tersebut (sebenarnya, kalau tanpa ilmu, bahkan orang yang bertujuan Tuhan pun bisa terjebak ke arah yang justru menentang kehendak Tuhan).

    tentang regenerasi iman, aku rasa zaman mulai berubah menuju paradigma keberagamaan rasional. maksudku, secara pelan-pelan manusia (human beings) mulai berupaya mencapai keyakinan agama dengan belajar memahami perintah & larangan tuhan melalui akal. Sebenarnya cukup bagus, tetapi pada periode awal-awalnya, situasinya akan seperti sekarang ini. Chaos. Disorented. Jatuh bangun. Hanya karena manusia sedang mempelajari kembali dunia spiritual dari awal. Berkat globalisasi. (?)

    Singkatnya, istilah “kemasan baru” mungkin betul. kalau sebelumnya kita menganut paradigma “taqlid” kepada sejarah keagamaan (termasuk kepada tokoh2 idola), sepertinya perlu berubah menuju paradigma “kritis+interaktif” (pasca kolonialis?) sehingga setiap orang dapat memiliki pengalaman spiritualnya (yang rasional) sendiri, agar dengan begitu keimanan tumbuh makin kuat+menguatkan.

    mm… mungkin sebenarnya masih panjang kalau mau dibahas. tapi.. kemampuanku masih cekak. jadi..cukup sekian “nggedabruz”-nya :”>

    **setelah kuperiksa lagi, ternyata banyak istilah yang bahkan aku pun belum sepenuhnya mengerti. Yah. Itulah imajinasi+intuisi 😀 alias ngawur :”>**

    Balas
  5. endang

    bagus tulisannya…agama harus dilakukan dgn cinta dan kesadaran…maap blm bisa lama2 mampir dan membaca seksama, krn kekacauan jaringan internetku..

    Balas
  6. putirenobaiak

    tulisanmu selalu ingin kubaca krn selalu menarik dan membuat berpikir, sekaligus belajar.

    pertamakali terperangah dg jawaban seorang bule adalah waktu SMP dulu, bahwa dia tidak beragama. dlm benak ku yg masih lugu seharusnya setiap orang punya agama. kemudian dikehidupan selanjutnya aku terbiasa dg org2 spt in krn bekerja dg orang2 asing dr asia sendiri ato barat, kenyataannya trend tidak beragama lumayan byk. entahlah masalah agama mmg rumit kali ya, aku menjadikannya sangat personal krn kdg aku masih mempertanyakan byk hal. mencari jawaban.

    Balas
  7. BatakNews

    terima kasih lae toga mau bersusah-payah menerjemahkan tulisan ini; sehingga orang yang kurang fasih berbahasa asing seperti aku ini bisa menikmatinya.

    “Pengajaran agama perlu kemasan baru, tidak cukup lagi dengan iming-iming surga, atau gertak neraka.”

    “Seandainya saya punya kekuatan, saya mau membakar surga, dan menyiram neraka, biar keikhlasan bisa tumbuh.”

    kedua komentar lae di atas sangat tepat. aku sependapat. tidak sedikit [untuk tidak memastikan banyak] di antara kita umat beragama ini yang menjalankan ritual agama sebenarnya hanya karena takut akan ancaman neraka atau bonus masuk surga.

    menjalankan ritual agama bukan karena sungguh-sungguh mencintai SANG KEKASIH YANG MAHA-PENCINTA, tapi karena takut dibakar neraka jahanam. memberi sedekah kepada si miskin bukan karena sungguh-sungguh memahami apa itu cinta kasih kepada sesama, tapi karena mengejar poin untuk memperoleh kunci pintu surga.

    menyedihkan melihat kita orang-orang beragama ini.

    Balas
  8. khoh ag

    Yaa Allah, aku bukanlah ahli surga ( karena banyaknya dosa-dosa yang kulakukan ). Tetapi Yaa Allah, aku tidak kuat ada di neraka ( karena dahsyatnya adzab yang diterima ). do’a abu nawas boo

    Balas
  9. aden

    kehidupan beragama sekarang memang cukup memprihatinkan..orang beragama tapi kehidupannya tidak agamis..disamping itu orang juga banyak memilih hidup bebas / tidak beragama, karena mereka berpikir agama hanyalah pembuat perbedaan dan pembuat peperangan, keonaran..mereka lebih memilih nilai-nilai universal sebagai pegangan hidupnya. tapi apakah mereka juga berpikir, dulu sebelum agama-agama diturunkan, orang tidak beragama dan percaya pada nilai-nilai universal dan banyak peperangan..kemudian Allah menurunkan agama-agama agar manusia mempunyai akhlak yang mulia berada dijalanNYA. kalau sekarang mereka memilih tidak beragama..itu sama saja mereka mundur kebelakang.

    Balas
  10. melli

    wow suka dengan artikel ini alapgi tentang bahwa generasi muda perlu untukkk ‘mencintai tempat ibadat nyaa… rasanya di bangunkan kembali untuk membaca al quran di masjidd..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s