Namanya Chorullah Senghuinuddin (Setelah Alqaeda Buka Cabang di Korea)

Begitu tipisnya garis batas antara hidup dan mati. Seorang Cho Seng Hui melintasi garis itu, dan memaksa 31 orang lainnya ikut bersamanya, dalam hitungan menit. Seorang remaja putus asa itu, memeras air mata dunia, tak terkecuali segenap keluarga yang mestinya dibuatnya bangga.

cho.jpg
Chorullah Senghuinuddin

Begitu televisi menyiarkan breaking news soal tragedi di Virginia Tech itu, entah berapa ratus juta orang muslim di seluruh dunia menahan napas. Siapakah biadab itu, dan Ya Allah Ya Rahman wa Rahim… Please jangan seorang muslim.

Saya sendiri merasakan degupan itu.

“Dia seorang berwajah Asia”. Degupan itu makin kencang.

Memang kemungkinan dari negara Arab agak menipis, karena biasanya akan langsung disebut berwajah Timur Tengah. Tapi jangan-jangan malah dari Indonesia, Malaysia, atau Filipina Selatan.

Surfing di internet. Ups, ada pula yang menyebut nama Johny Muhammad. Omigod! Tapi segera nama yang banyak muncul adalah Cho Seng Hui. Selamat… selamat…

*****

Duka tetaplah duka. Tidak akan ada bedanya, dari moncong senjata siapa maut itu menyembur. Saya hanya sedang risau pada nasib sebuah agama, yang babak belur dihajar stigma dan generalisasi. Ulil Abshar Abdulla menyebut ini, pedihnya sebuah stereotip.

Terorisme dan Islam sedang dinobatkan jadi saudara kandung. Dan Cho, tiba-tiba menyela, maju ke depan sendirian. Orang pun mencari-cari hubungan Cho dengan Islam. Konon ada tulisan Ishmael Ax di lengannya. Duh…

Banyak netter yang ngotot mengatakan bahwa Cho melakukan ini karena benci kepada barat dan Kristen. “Meski tidak ada bukti nyata dia seorang muslim, tetapi motivasinya persis seperti motivasi fundamentalis muslim!” tulis seseorang.

Atau ada juga yang rela bersusah payah mencari data, berapa banyak muslim di Korea Selatan, dan setelah dapat angka sekitar 40.000 di Wikipedia (dari puluhan juta), dia mulai berasumsi, jangan-jangan Alqaeda pun sudah punya basis di sana.

Konyol sekali.

Kekerasan dan fatalitas, bisa datang ke jiwa siapa saja. Fundamentalisme dan radikalisme, bisa tumbuh di agama manapun, termasuk pada mereka yang tak beragama. (Belum pernah dengar Atheis Radikal ya? Ntar saya kenalin).

Syukurnya, masih lebih banyak yang waras.

“President Bush has unarguably killed scores of innocent men, women and children by his so-called “War on Terror”, do Muslims blame Christianity for that?”

atau yang menyampaikannya dengan kocak tapi mengena…

and if he had a tatoo of Mickey Mouse, does that mean Walt Disney is to blame?

Hufh! Beneran ngga bisa kebayang, andai dia seorang muslim…

Mendingan ikutan imajinasi John Lennon ah…

Imagine there’s no countries

It isn’t hard to do

Nothing to kill or die for

And no religion too…

Dan… Duarr!!! John Lennon pun tersungkur di depan Dakota Building, New York, di tengah dinginnya Desember tahun 1980 itu. Juga ada Abraham Lincoln, Anwar Sadat, dan Gandhi!

Mereka orang-orang yang tahu, betapa merusaknya kemarahan, dan betapa produktifnya kesabaran. Karenanya, mereka memutuskan memilih damai daripada perang.

PS: Rasa duka yang mendalam untuk seluruh korban dan keluarga, termasuk saudara “sekampung” Partahi Lumbantoruan. Seperti John Lennon dan Gandhi, kepergian kalian tidak pernah sia-sia, menjadi sebuah penanda, bahwa perjuangan melawan angkara murka belum juga usai. Entah sampai kapan, Bang Mora…

 

Iklan

2 thoughts on “Namanya Chorullah Senghuinuddin (Setelah Alqaeda Buka Cabang di Korea)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s