Jangan Sampai Setan Mati

Sepanjang jalan dia menari.

Mulutnya melontarkan puja-puji, menembus langit, melesat, seakan mengejar tempat di mana Tuhan bertahta.

Cinta dan kerinduan kepada Tuhan memenuhi segenap rongga di tubuhnya, mengisi setiap ruang di hatinya. Maklum, ia seorang pemuka agama yang sangat militan dalam membimbing umat atau jemaatnya (biar jangan merujuk pada agama tertentu).

Ups! Tariannya terhenti, begitu juga kidung puja-pujinya.

Di balik semak, tergeletak sesosok tubuh legam kemerah-merahan, bertanduk, mengerang kesakitan, wajahnya berlumur darah.

“Siapa kau?” hardiknya. (Kadang, ketika seseorang sudah merasa begitu dekat kepada Tuhan, manusia lain terasa jadi mengecil, tak ada urusan. Duh…)

“Saya Panglima Setan” erangnya.

“Wah! Kok bisa begini?”

“Barusan saya dihajar malaikat kiriman Tuhan.”

“Aku memuji Tuhan dengan segala kebesarannya. Akhirnya, kau rasakan juga derita itu, Setan! Mampuslah kau!”

Suka cita makin membuncah di jiwa si Pemuka Agama itu. Ia seperti ekstase… Larut… Ritme tariannya makin cepat…

“Hei Idiot!” hardik si Raja Setan.

Kedua kalinya tariannya terhenti.

“Kau tau, kalau aku sampai mati, kau akan kehilangan pekerjaan. Tak akan ada lagi orang yang perlu kau bimbing menuju jalan Tuhan. Akulah, dan segenap anak buahku, yang membuatmu punya pekerjaan, yang membuatmu punya manfaat bagi orang lain.”

Lama si Pemuka Agama tercenung. Dia ingat anak bininya yang butuh nafkah di rumah, apalagi sebentar lagi tahun ajaran baru. Diraihnya tubuh penuh luka itu, sambil berbisik lirih, “Jangan khawatir, Anda akan baik-baik saja. Mari saya tuntun ke Puskesmas terdekat. Tapi jangan bilang-bilang sama Tuhan ya…”

Iklan

4 thoughts on “Jangan Sampai Setan Mati

  1. yati

    kebutuhan ekonomi, dimana2 tetep nomer satu! :p

    waaaa…ga misterius lagi. jangan lama2 ngilangnya….

    ngga akan pernah lagi. kebutuhan ekonomi? wah, udah jadi realis neh?

    Balas
  2. Jarar Siahaan

    bagus lae.

    andai saja pak ustad atau pak pendeta membaca ini.

    kalo ustad dan pendeta baca, bisa-bisa mereka pindah profesi. jadi blogger misalnya… 🙂 salam juga untuk keluarga lae… terutama gibran, sang nabi untuk keluarga lae itu.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s