Cinta, Kerumitan yang Sederhana

rose.jpg aku tidak mencintaimu,

tetapi mencintai diriku sendiri

di dalam dirimu” — syair arab klasik.

cinta sudah memberi energi yg tak habis-habisnya kepada manusia, untuk selalu bicara tentangnya… sedemikian luasnya, sehingga tidak saja ia dikaji dengan pendekatan psikologis (bidang ilmu yang semestinya paling “berwenang” membahas itu), tetapi juga sastra, agama, sosial, metafisika, bahkan biologi dan kimia. misalnya, mencari tahu, apa sih yang terjadi pada tubuh seseorang ketika ia diserbu cinta, atau reaksi kimia macam apa yang terjadi di otak si “korban” cinta…

deskripsi “mencintai” sering dibuat sedemikian perfect-nya, malah cenderung utopis, dan biasanya ditemukan dalam syair-syair para pujangga. tetapi deskripsi seperti itu tetap saja perlu, paling tidak untuk mengingatkan kita, bahwa mencintai bukanlah perkara mudah, meskipun bukan pekerjaan mustahil.

menurut banyak orang, mencintai sepenuh hati itu tak sulit, bahkan kadang hati kita bukan lagi penuh, tetapi meluap. yang sulit adalah, untuk tetap mencintai sepenuh hati… waktu adalah tantangan terbesar bagi cinta, karena tubuh, sifat, persoalan hidup, pengetahuan, bahkan dunia, semuanya berubah…. apakah bisa mencintainya dengan totalitas yang sama, baik ketika dia masih cantik dan mulus maupun saat sudah tua, mengerut, dan berbau?

persoalan lainnya, bukan sekadar bagaimana bisa mencintai sepenuh hati, tetapi mencari orang yang layak dicintai sepenuh hati… tak ada yang lebih hampa dari tepukan sebelah tangan, sebagaimana tak ada yang lebih sakit, daripada ketika orang yang mestinya menghapus air matamu, malah membuatmu menangis sejadi-jadinya….

begitulah…. rumit bener. tp tetap jangan menjadi takut mencintai dan dicintai… namun karena namanya pun sudah jatuh cinta, sebelum bener-bener jatuh, kenakan sabuk pengaman, atau helm full face, biar ketika terjatuh, tidak cedera berat, dan bisa langsung bangkit lagi.

lagian, cinta kok dibahas…. dirasakan aja, karena cinta adalah kerumitan yang sederhana.

 

Iklan

7 thoughts on “Cinta, Kerumitan yang Sederhana

  1. meiy

    aku pernah menulis puisi cinta, hampir sama dg yg kamu tulis; rasakan saja, tak usah dinamai, tak usai dimaknai.

    cinta bisa berubah, sebab hati manusia yg tak tetap, mungkin utk sejati perlu di rawat, diperbarui senantiasa…hihi sok teu ya

    makasi mas sudah mampir, ah komennya tidak keras bang (orang Medan rupanya bah! :D) saya justru suka komen yg membuat saya bisa berpikir dg otak dan dg hati…

    makasih… jangan takut mengungkapkan yang kita tahu, krn itu ngga termasuk sok tau :))

    Balas
  2. someone

    “namun karena namanya pun sudah jatuh cinta, sebelum bener-bener jatuh, kenakan sabuk pengaman, atau helm full face, biar ketika terjatuh, tidak cedera berat, dan bisa langsung bangkit lagi.”

    aku sudah…
    tapi kekuatannya tak melebihi kekuatan sakitnya…
    hingga hancur bersama derita…
    yg dari awal aku persiapkan segala mental dari baja…

    tapi apalah…

    Balas
  3. Rocky

    waktu adalah tantangan terbesar bagi cinta, karena tubuh, sifat, persoalan hidup, pengetahuan, bahkan dunia, semuanya berubah….

    itu warning untuk perempuan!

    Balas
  4. Ping balik: Menikah, Menerima Takdir yang Indah… | Nesiaweek Interemotional Edition

  5. Ping balik: Cinta, Kerumitan yang Sederhana « annisza's world

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s