Archive for the 'spiritualitas' Category

Inilah Bahagia Sesungguhnya, Agama yang Sempurna

Biarkan setiap orang merumuskan pemahaman yang berbeda tentang misteri semesta. Biar setiap hati mencari jalannya sendiri menggapai tempat tertinggi, meraih tujuan kehidupan yang menurutnya paling penting. Bagaimanapun tak masuk akalnya cara mereka itu buatmu, jangan pernah mengatainya sesat atau sinting.

Tapi dalam perbedaan cara itu, kita semestinya juga merapatkan tersatukan, karena agama-agama yang hebat itu sesungguhnya sama-sama menganjurkan kebaikan, walau dengan cara yang berlainan. Apakah Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Yahudi, Konfusius, semuanya, semua ajaran mulia yang mengawal kehidupan, menuntun kepada kebahagiaan. Baca selebihnya…

Adam Ciptaan Tuhan, Hawa Hasil Kreasi Setan

Ini temuan menarik, dan kisah yang seragam di tiga agama langit itu, terancam harus direvisi. Mulai dari proses penciptaan Adam, yang bahan bakunya tanah, sampai pembangkangan Iblis - ciptaan superior Tuhan yang berbahan baku api - untuk tunduk kepadanya, tak ada masalah. Perbedaan versi ini, muncul setelah episode itu. Nah, begini ceritanya.

Iblis tak habis pikir. “Apa-apaan sih, Tuhan itu, masa saya harus tunduk kepada Adam, junior yang terbuat dari tanah,” gumannya, mundar-mandir dalam gelisah, di sebuah pojok surga. Baca selengkapnya…

Dari Mana Setan Dapat Kekuatan, Jika Bukan dari Tuhan?

Doktrin agama kerap terjebak memangkas otoritas Tuhan, dan pada saat yang sama melebih-lebihkan kekuasan setan. Bahkan pada titik tertentu, mereka digambarkan sebagai rival sepadan, bertarung sengit, kalah menang silih berganti sepanjang zaman. Maka umat pun diseru untuk berbaris di belakang Tuhan, memberinya bantuan, menebas leher mereka yang menyeberang, memilih jadi laskar setan.

Sehebat itukah setan? Juga selemah itukah Tuhan? Maaf-maaf saja, doktrin seperti ini kuanggap menggelikan. Mungkin dampak dari kebanyakan nonton film action, di mana dunia adalah panggung pertarungan kebaikan dan kejahatan. Baca selebihnya

Jika Semua Agama Benar, Tuhan Tampaknya Sedang Belajar

Tuhan yang begitu “galak” di kitab Taurat atau Perjanjian Lama, dan memuliakan hari Sabtu, secara drastis melunak, menjadi begitu penuh maaf dan cinta kasih di Perjanjian Baru, dan memajukan hari baik menjadi Minggu. Eh, balik lagi menjadi tegas dalam Al-Qur’an, dan malah memundurkan penghulu hari menjadi Jumat.

Maka jika ketiga agama ini benar (datang dari sisi Tuhan), bukankah Ia kelihatannya sedang belajar, atau seperti sindiran iklan minyak kayu putih, Tuhan kok coba-coba?

Selengkapnya…

Lebih Enak Mana, Mencintai atau Dicintai

Bagaimana perasaanmu, jika aku menjadi kekasihmu?” tanya wanita jelita itu, saat mentari memerah jingga dijelang ufuk cakrawala. Si Wartawan sempat terbelalak, sebelum menjawab mengatasi gagap.

“Aku pasti akan cemburu pada surya yang hendak terbenam itu, karena ia telah membelai kedua pipimu dengan tangan-tangan cahayanya. Aku takut, surya itu akan mencuri sesuatu darimu sebelum ia beranjak pergi, sampai ke peraduannya. Aku juga tidak akan rela senyum manismu dicuri kedua kawanku ini. Di mataku, kedua lelaki ini berubah menjadi dua pencopet yang terus mengincar permata darimu, senyummu, kata-katamu, lirikan matamu. Baca selebihnya »

Tuhan, Kau ke Mana Aja, Selama 24 Tahun Wanita Ini Diperkosa Ayah Kandungnya!

Kristen, Islam, Hindu, Buddha, dan seterusnya, tak lelah berdebat, ngotot menganggap mereka yang terbaik, dan “tuhan” mereka yang terjago. Trus ke mana tuhan mereka yang jago itu, saat Elisabeth disekap dan diperkosa ayah kandungnya sendiri, Josef, selama 24 tahun, dan melahirkan 7 anak!

“Dia yg tadinya kuyakini, dengan segenap hati, kini dipenuhi kebimbangan atas kebesaran-Nya , setelah membaca berita ini. Baca selebihnya »

Percaya Membuat Semuanya Mungkin, Cinta Membuat Semuanya Mudah

Mungkin membuat hati kecut, bahwa sebuah keyakinan ternyata bisa membuat orang jadi beringas, berani membunuh dan siap terbunuh. Tapi pada sisi lain, itu juga sebuah gambaran lugas, betapa perkasa apa yang disebut percaya.

Jika sudah percaya, maka tak ada lagi yang mustahil, semuanya menjadi mungkin saja. Sebenarnya, keyakinan juga sebuah ilmu pengetahuan, sains, hanya saja, cuma bisa dipahami dengan “logika” hati. Tersembunyi, sehingga pembuktian-pembuktian, tak selalu bisa menemukan tempatnya. Maka orang yang percaya, tak pernah membutuhkan penjelasan apapun, sebagaimana orang yang tak percaya, memang tak akan menerima penjelasan apapun. Baca selebihnya »

Ketiklah “Kristen” di Google, dan…

Saya dulu sempat bingung, napa entri “Justru Setelah Jadi Muslim, Aku Tahu Kristen Itu Benar” selalu menjadi yang paling “laku” di blog ini. Bahkan saat sempat mati suri Desember lalu, entri ini tetap ramai, dikunjungi dan dikomentari.

Dari dashboard kemudian saya mafhum, pembaca entri ini umumnya orang-orang yang mengetikkan kata “kristen” di google. Iseng saya test, wuih, berada di nomer 4, bahkan pernah nomer 3, mengalahkan www.kristenonline.com!

Baca selebihnya »

Haruskah Berhenti (Belajar) Menulis Tentang Agama?

Walau niatnya untuk menumbuhkan saling pengertian, tulisan bertema agama kerap malah menjadi bibit perdebatan yang menjurus kepada “permusuhan”. Inikah saatnya berhenti menulis tentang topik itu?

Kayaknya nggak deh!

Toh masih lebih banyak kawan yang mengekspresikan perasaan yang sama, bahwa kita harus bisa berdamai di tengah perbedaan, saling mengerti dan menghargai pendirian orang lain, sepakat untuk tidak sepakat dengan tetap menaruh hormat. Masih lebih banyak sahabat yang setuju, bahwa korban pertama dari setiap permusuhan adalah kebenaran, dan yang pertama kali diuntungkan oleh perdamaian adalah kehidupan itu sendiri. Baca selebihnya »

Islam tak Menghambat Kemajuan, Tapi Mengapa?

Anak Palestina menghadapi tank Israel dengan sebongkah batu. Tak perlu begitu, seandainya bapak mereka bisa membuat tank yang lebih kuat.

——————————————————————————

Dunia Islam tertinggal, lemah, dan menjadi “bulan-bulanan” Barat. Apakah Islam agama yang menghambat kemajuan, sehingga kita harus berguru pada Protestanisme?

Terhenyak aku membaca komentar dari Rikardo Siahaan - dengan nick “Salngam” - untuk posting Hayo, Agama Kamu Sebenarnya Apa Sih. Mengutip Michael P Todaro dalam bukunya Economic Development in A Third World, diungkapkannya negara maju kebanyakan adalah negara-negara yang mayoritasnya menganut Protestanisme.

Sebaliknya, banyak negara (berpenduduk mayoritas) Islam menjadi anggota grup negara terbelakang, atau dalam bahasa “halus”, merupakan penghuni dunia ketiga. Baca selebihnya »

Hayo… Agama Kamu Sebenernya Apa Sih?

Kemiskinan mendekatkan orang pada kekafiran, kata Nabi.

Yep! Pasti rada susah dong tunduk, patuh, konon lagi cinta kepada Tuhan, sementara setiap ruas waktu berisi genangan derita. Bagaimana mungkin kita mencintai pemberi derita, (kecuali cinta buta ya…)

Agama dengan sendirinya juga menjadi tak menarik buat orang miskin, karena tak pernah hadir di sisi mereka, mendampingi ketika mereka berkelahi dengan waktu. Hanya ritual ini itu, plus janji-janji tentang sesuatu yang indah di seberang sana, sementara di sebelah sini napas makin berat untuk dihela. Baca selebihnya »

Pernikahan Beda Agama: Mengagumkan, tapi Tidak Dianjurkan

Saya dapat dua pertanyaan dari pembaca. (1)  “Bagaimana rasanya menemukan hakikat Tuhan” dari pembaca dengan nick Srondol dan (2) “Bagaimana tentang masalah perkawinan beda agama, khususnya Islam dan Kristen” dari pembaca dengan nick Perkawinan.

Busyet dah, itu pertanyaan pertama. Seringnya saya cuap-cuap soal spiritualitas di blog ini, sama sekali bukan indikasi saya telah menemukan itu, tapi justru bukti saya teramat jauh dari sana. Di kalangan sufi ada ungkapan, “Siapa yang punya pendapat berarti dia belum mendapat. Siapa yang sudah mendapat, tak lagi punya pendapat”. Baca selebihnya »

Cinta? Tahu Apa Kau Tentang Cinta?

Kedua lelaki itu berjalan tergesa. Yang satu terlihat tetap tenang, yang lainnya sangat gelisah, khawatir terhadap keselamatan sahabatnya itu, yang sedang diburu, hidup atau mati. Ketika gelap mulai menyelimuti bumi, mereka sampai di kaki sebuah bukit.

Keangkuhan bukit itu bahkan tetap tampak dalam gulita. Keduanya terus menapak, menanjak dalam sunyi, dan berhenti di mulut sebuah gua.

“Aku periksa dulu ke dalam ya,” kata lelaki yang khawatir itu. Gua itu memang dikenal dihuni aneka ular berbisa. Tapi mereka harus bermalam di sana, biar terlindung, baik dari cuaca maupun musuh yang siap memangsa. Baca selebihnya »

Surat Untuk Lae Sinurat, yang Bingung Aku Ini Islam, Kristen, atau… Apaan Tuh?

Lae Sinurat Yth…

Mauliate godang, terima kasih banyak Laeku, atas kunjungan dan komentarmu yang sangat berisi. Komen yang hanya berupa dua tiga karakter, atau bahkan sebutir emoticon pun sebenarnya sama berharganya, tapi yang sekelas komen Lae - tidak saja dalam pengertian kuantitas atau panjangnya, tapi juga kualitas alias muatan pesan yang dibawanya - tentu punya tempat tersendiri). Ehm.. *membetulkan posisi mikrofon* Lho, surat kok jadi pidato?

Apakah saya Islam atau Kristen?

Waduh, tajam dan beratnya ini pertanyaan. Secara administratif saya Islam, dan identitas itu “dipilihkan” orang tua saya. Saya tak cukup beruntung menemukannya sendiri. Tapi secara hakikat, entahlah. Saya belum bisa menyerahkan diri secara utuh kepada kehendak Allah SWT. Kehilangan duit dua puluh ribuan pun saya masih marah-marah. Konon lagi kehilangan-kehilangan lain yang lebih besar? Bisa-bisa saya menuduh, paling tidak dalam hati, bahwa Tuhan tidak adil. Busyet dah! Tapi emang begitulah. Baca selebihnya »

Menolak Valentine? Ah, Sok Paten Kali pun Kalian!

valentine.jpg

Terus terang, bingung aku melihat penolakan - terutama yang berlebihan seperti yang dilakukan orang Pakistan dalam gambar - terhadap hari Valentine, hari kasih sayang, rahman warrahim, 14 Februari. Kebencian apa sesungguhnya yang bersarang di kepalanya, yang ditutup kopiah putih bersih itu?

Apa karena hari itu berasal dari kisah seorang pemuka agama Kristen Katolik, Valentine dan Santo Marius? So what? Kok tak kau bakari juga semua kalender internasional, yang malah lebih “parah” karena berasal dari momentum kelahiran Yesus Kristus? Trus kok mau kau libur hari Minggu, di mana orang Kristen pergi ke gereja, dan sebaliknya mau pula tetap kerja di hari Jum’at, padahal di situ kaum muslimin pergi shalat Jum’at ke masjid-masjid?

Kok tanggung-tanggung? Katanya harus kaffah, baik menjauhi larangan maupun melaksanakan perintah, nahi mungkar wa amar ma’ruf? (Jangan kau bilang aku terbalik-balik. Tanya ustadz kau, bahwa kita harus lebih dulu menjauhi yang buruk baru mendekati yang baik!) Baca selebihnya »

Halaman Berikutnya »