Archive for the 'artikel' Category

Adam Ciptaan Tuhan, Hawa Hasil Kreasi Setan

Ini temuan menarik, dan kisah yang seragam di tiga agama langit itu, terancam harus direvisi. Mulai dari proses penciptaan Adam, yang bahan bakunya tanah, sampai pembangkangan Iblis - ciptaan superior Tuhan yang berbahan baku api - untuk tunduk kepadanya, tak ada masalah. Perbedaan versi ini, muncul setelah episode itu. Nah, begini ceritanya.

Iblis tak habis pikir. “Apa-apaan sih, Tuhan itu, masa saya harus tunduk kepada Adam, junior yang terbuat dari tanah,” gumannya, mundar-mandir dalam gelisah, di sebuah pojok surga. Baca selengkapnya…

Dari Mana Setan Dapat Kekuatan, Jika Bukan dari Tuhan?

Doktrin agama kerap terjebak memangkas otoritas Tuhan, dan pada saat yang sama melebih-lebihkan kekuasan setan. Bahkan pada titik tertentu, mereka digambarkan sebagai rival sepadan, bertarung sengit, kalah menang silih berganti sepanjang zaman. Maka umat pun diseru untuk berbaris di belakang Tuhan, memberinya bantuan, menebas leher mereka yang menyeberang, memilih jadi laskar setan.

Sehebat itukah setan? Juga selemah itukah Tuhan? Maaf-maaf saja, doktrin seperti ini kuanggap menggelikan. Mungkin dampak dari kebanyakan nonton film action, di mana dunia adalah panggung pertarungan kebaikan dan kejahatan. Baca selebihnya

Percaya Membuat Semuanya Mungkin, Cinta Membuat Semuanya Mudah

Mungkin membuat hati kecut, bahwa sebuah keyakinan ternyata bisa membuat orang jadi beringas, berani membunuh dan siap terbunuh. Tapi pada sisi lain, itu juga sebuah gambaran lugas, betapa perkasa apa yang disebut percaya.

Jika sudah percaya, maka tak ada lagi yang mustahil, semuanya menjadi mungkin saja. Sebenarnya, keyakinan juga sebuah ilmu pengetahuan, sains, hanya saja, cuma bisa dipahami dengan “logika” hati. Tersembunyi, sehingga pembuktian-pembuktian, tak selalu bisa menemukan tempatnya. Maka orang yang percaya, tak pernah membutuhkan penjelasan apapun, sebagaimana orang yang tak percaya, memang tak akan menerima penjelasan apapun. Baca selebihnya »

Ketiklah “Kristen” di Google, dan…

Saya dulu sempat bingung, napa entri “Justru Setelah Jadi Muslim, Aku Tahu Kristen Itu Benar” selalu menjadi yang paling “laku” di blog ini. Bahkan saat sempat mati suri Desember lalu, entri ini tetap ramai, dikunjungi dan dikomentari.

Dari dashboard kemudian saya mafhum, pembaca entri ini umumnya orang-orang yang mengetikkan kata “kristen” di google. Iseng saya test, wuih, berada di nomer 4, bahkan pernah nomer 3, mengalahkan www.kristenonline.com!

Baca selebihnya »

Pungguk yang Mendamba Bulan, Hamba yang Merindukan Tuhan

Bila sungguh pungguk pernah mengidamkan bulan, betapa menggelikan sekaligus mengenaskannya. “Kaciaaan de lu, Ngguk!” Derazat yang terlalu jauh berbeda, jarak yang terlalu jauh untuk direngkuh.

Tapi bukankah sang pungguk tidak seberapa gila, dibanding seorang hamba yang merindukan Penciptanya? Bukankah perbedaan antara pungguk dan bulan menjadi tidak terasa, dibanding selisih antara makhluk dan Khaliknya?

Tetapi juga, apa bisa memberi batas pada rindu? Bukankah sia-sia mengepung cinta dengan tembok-tembok logika, mencoba mengukur rasa dengan satuan-satuan fisika? Baca selebihnya »

Haruskah Berhenti (Belajar) Menulis Tentang Agama?

Walau niatnya untuk menumbuhkan saling pengertian, tulisan bertema agama kerap malah menjadi bibit perdebatan yang menjurus kepada “permusuhan”. Inikah saatnya berhenti menulis tentang topik itu?

Kayaknya nggak deh!

Toh masih lebih banyak kawan yang mengekspresikan perasaan yang sama, bahwa kita harus bisa berdamai di tengah perbedaan, saling mengerti dan menghargai pendirian orang lain, sepakat untuk tidak sepakat dengan tetap menaruh hormat. Masih lebih banyak sahabat yang setuju, bahwa korban pertama dari setiap permusuhan adalah kebenaran, dan yang pertama kali diuntungkan oleh perdamaian adalah kehidupan itu sendiri. Baca selebihnya »

Sebuah Hati untuk Dibagi, Bukan Tempat untuk Sembunyi

Seberapa lama kau sanggup bertahan? Sepi itu memanggilmu pulang, seperti mimpi buruk yang berulang.

Juga, seberapa jauh kau bisa lari dari dirimu sendiri, meringkuk dalam benteng-benteng buta, perisai ketidakpedulian yang rapuh. Sepi, putus asa, sendiri; karena ketidakmampuan membuka hati untuk sebuah keterpautan. Kegagalan mengguratkan garis yang menyatukanmu dengan titik lain. Terkeping. Tersudut. Hening. Hanyut. Baca selebihnya »

Islam tak Menghambat Kemajuan, Tapi Mengapa?

Anak Palestina menghadapi tank Israel dengan sebongkah batu. Tak perlu begitu, seandainya bapak mereka bisa membuat tank yang lebih kuat.

——————————————————————————

Dunia Islam tertinggal, lemah, dan menjadi “bulan-bulanan” Barat. Apakah Islam agama yang menghambat kemajuan, sehingga kita harus berguru pada Protestanisme?

Terhenyak aku membaca komentar dari Rikardo Siahaan - dengan nick “Salngam” - untuk posting Hayo, Agama Kamu Sebenarnya Apa Sih. Mengutip Michael P Todaro dalam bukunya Economic Development in A Third World, diungkapkannya negara maju kebanyakan adalah negara-negara yang mayoritasnya menganut Protestanisme.

Sebaliknya, banyak negara (berpenduduk mayoritas) Islam menjadi anggota grup negara terbelakang, atau dalam bahasa “halus”, merupakan penghuni dunia ketiga. Baca selebihnya »

Hayo… Agama Kamu Sebenernya Apa Sih?

Kemiskinan mendekatkan orang pada kekafiran, kata Nabi.

Yep! Pasti rada susah dong tunduk, patuh, konon lagi cinta kepada Tuhan, sementara setiap ruas waktu berisi genangan derita. Bagaimana mungkin kita mencintai pemberi derita, (kecuali cinta buta ya…)

Agama dengan sendirinya juga menjadi tak menarik buat orang miskin, karena tak pernah hadir di sisi mereka, mendampingi ketika mereka berkelahi dengan waktu. Hanya ritual ini itu, plus janji-janji tentang sesuatu yang indah di seberang sana, sementara di sebelah sini napas makin berat untuk dihela. Baca selebihnya »

Setiap Pria Mestinya Didampingi Empat Wanita

Ini tidak berkait dengan doktrin agama manapun. Cuma efek samping sebuah obrolan pembunuh waktu dengan seorang kawan. Menurut dia, idealnya seorang pria memang punya (baca: memperistri) empat wanita, yang mendampinginya menjalani kehidupan.

Wanita pertama adalah sosok Permaisuri. Inilah pendamping nomor wahid, yang akan meneruskan keturunan, yang mendampingi dalam acara dan “penampakan” resmi.

Kualifikasi: anggun, modis, berwibawa, dst.

Wanita kedua adalah sosok Ibu. Lelaki sebenarnya makhluk paling tidak bisa mandiri. Dia juga lemah di dalam sana, walau selalu berusaha kelihatan kuat dan tegar. Jadi sosok ibu inilah tempat dia menelungkupkan wajah, saat takut melihat ke depan, saat remuk dikepung kegagalan.

Kualifikasi: yup, berjiwa keibuan dong. Betis kesebelasan tidak direkomendasikan. Baca selebihnya »

Seperti Ngeblog, Musuh #1 Cinta Bukan Pengkhianatan, tapi Kebosanan

Kata Sir Cecil Beaton: ”Barangkali kejahatan terbesar kedua di dunia adalah kebosanan, dan yang nomor satu: menjadi orang yang membosankan!” Kebosananlah, bukan yang lain, yang menjadi virus penghancur hampir seluruh bentuk hubungan antarmanusia, membuat mimpi padam sebelum waktunya, memaksa orang mati sebelum ajalnya.

Bahkan waktu, sesuatu yang begitu presisi dan konsisten, bisa melambat bila sudah dijalari kebosanan. Jarum jam jadi lebih malas berputar, dan detaknya yang begitu lirih, bisa memekakkan telinga.

Baca selebihnya »

Jika Kau Tau Semuanya, Masihkah Kau Cinta?

Mereka bertemu di gerbong kereta, dan jatuh cinta. Jason P Howe kemudian mengetahui, Marylin, wanita yang dicintainya itu, menjalani kehidupan ganda - sebagai seorang assassin, pembunuh rahasia di kelompok sayap kanan, dalam perang sipil Kolombia yang brutal.

Ketika ada rahasia yang diungkapkan, atau terungkap, sebuah hubungan akan bergerak ke sebuah titik: naik, turun, atau malah terjerembab ke titik nol. Biasanya sih rahasia itu nggak jauh-jauh dari seks! Tentang sudah berapa banyak wanita yang kau tiduri, atau justru kau lelaki keberapa yang menidurinya. Setiap kejujuran akan membawa konsekuensi. Baca selebihnya »

Pernikahan Beda Agama: Mengagumkan, tapi Tidak Dianjurkan

Saya dapat dua pertanyaan dari pembaca. (1)  “Bagaimana rasanya menemukan hakikat Tuhan” dari pembaca dengan nick Srondol dan (2) “Bagaimana tentang masalah perkawinan beda agama, khususnya Islam dan Kristen” dari pembaca dengan nick Perkawinan.

Busyet dah, itu pertanyaan pertama. Seringnya saya cuap-cuap soal spiritualitas di blog ini, sama sekali bukan indikasi saya telah menemukan itu, tapi justru bukti saya teramat jauh dari sana. Di kalangan sufi ada ungkapan, “Siapa yang punya pendapat berarti dia belum mendapat. Siapa yang sudah mendapat, tak lagi punya pendapat”. Baca selebihnya »

Cinta? Tahu Apa Kau Tentang Cinta?

Kedua lelaki itu berjalan tergesa. Yang satu terlihat tetap tenang, yang lainnya sangat gelisah, khawatir terhadap keselamatan sahabatnya itu, yang sedang diburu, hidup atau mati. Ketika gelap mulai menyelimuti bumi, mereka sampai di kaki sebuah bukit.

Keangkuhan bukit itu bahkan tetap tampak dalam gulita. Keduanya terus menapak, menanjak dalam sunyi, dan berhenti di mulut sebuah gua.

“Aku periksa dulu ke dalam ya,” kata lelaki yang khawatir itu. Gua itu memang dikenal dihuni aneka ular berbisa. Tapi mereka harus bermalam di sana, biar terlindung, baik dari cuaca maupun musuh yang siap memangsa. Baca selebihnya »

Surat Untuk Lae Sinurat, yang Bingung Aku Ini Islam, Kristen, atau… Apaan Tuh?

Lae Sinurat Yth…

Mauliate godang, terima kasih banyak Laeku, atas kunjungan dan komentarmu yang sangat berisi. Komen yang hanya berupa dua tiga karakter, atau bahkan sebutir emoticon pun sebenarnya sama berharganya, tapi yang sekelas komen Lae - tidak saja dalam pengertian kuantitas atau panjangnya, tapi juga kualitas alias muatan pesan yang dibawanya - tentu punya tempat tersendiri). Ehm.. *membetulkan posisi mikrofon* Lho, surat kok jadi pidato?

Apakah saya Islam atau Kristen?

Waduh, tajam dan beratnya ini pertanyaan. Secara administratif saya Islam, dan identitas itu “dipilihkan” orang tua saya. Saya tak cukup beruntung menemukannya sendiri. Tapi secara hakikat, entahlah. Saya belum bisa menyerahkan diri secara utuh kepada kehendak Allah SWT. Kehilangan duit dua puluh ribuan pun saya masih marah-marah. Konon lagi kehilangan-kehilangan lain yang lebih besar? Bisa-bisa saya menuduh, paling tidak dalam hati, bahwa Tuhan tidak adil. Busyet dah! Tapi emang begitulah. Baca selebihnya »

Halaman Berikutnya »