jump to navigation

Tak Ada yang Abadi, Hiduplah Sepenuhnya Hari Ini 26 Mei, 2009

Posted by Toga Nainggolan in artikel, celebration of life, cinta, filosofi, inspirasi, spiritualitas.
Tags: , ,
11 comments

Dijadwalkan bertemu selama 30 menit, saya akhirnya ngobrol hampir 2 jam dengan beliau. Tampak betul, sejak tak lagi jadi pejabat tinggi negara, waktu luangnya semakin banyak.

Obrolan yang akrab, ditemani kue-kue basah yang enak dan masih hangat di rumahnya di Bogor, sulit rasanya membayangkan beberapa tahun lalu dia merupakan orang kedua di republik ini.

Saya pernah melihatnya ketika berkunjung ke Medan, saat menjadi Wapres sekaligus Ketua Umum PPP. Bertemu dia kali ini, setelah tak lagi menyandang semua jabatan dan “kehormatan” itu, dengan jelas bisa terlihat wajahnya jauh lebih fresh. (lagi…)

Manusia, Usia, Rahasia, Sia-sia… 8 Mei, 2009

Posted by Toga Nainggolan in arise, celebration of life, cinta, gairah, inspirasi, kata hati, kehidupan, kematian, nesiaweekism, spiritualitas.
Tags: , , , ,
17 comments

Di hadapan waktu yang membentang, kita sering merasa kecut, kecil, mengerut, mengerdil. Diam-diam kita sadar akan segera tiada. Betapa pendek ruas yang kita miliki. Waktu akan terus melanjutkan perjalanannya, dan kita akan tinggal di titik ini, sepertinya tak kan sempat tercatat, tak kan pantas diingat.

Manusia selalu takluk di hadapan usia, dihantui sebuah rahasia, kapan tepi itu akhirnya akan tiba. Bahkan Fir’aun yang perkasa dan jumawa, membangun piramid-piramid karena kesadaran akan batas itu.

Tahun baru, ulang tahun, semua tanggal-tanggal penting dalam kalender, adalah bel yang berdentang makin keras, mengingatkan kematian semakin dekat, ujung jalan makin terlihat. (lagi…)

Kita Tak Bahagia, Mungkin Karena Kita Bodoh 16 April, 2009

Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, celebration of life, cinta, dedikasi, gairah, inspirasi, interkonektivitas, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, spiritualitas.
Tags: , , ,
29 comments

Mungkin ada orang yang ga minat nikah, ga berpikir untuk punya anak, atau ga terlalu semangat memburu uang, bahkan ngga terobsesi dengan seks. Tapi siapa yang ga mau bahagia? Ayo tunjuk burung!

Pastinya, kita semua pengen dunk. Kita udah didesain secara sistematis untuk memburu kesenangan, seperti bunga matahari ditakdirkan tunduk menghadap sang surya.

Sayangnya, tak ada (kebahagiaan) yang abadi. Dan kita pun bergegas memburunya lagi. Kebahagiaan – seperti tali pusar bayi – adalah sesuatu yang efemeral, hanya ada untuk suatu masa dan menghilang sesudahnya. (lagi…)

Here In The Real World 6 April, 2009

Posted by Toga Nainggolan in arise, celebration of life, cinta, gairah, insomnia, inspirasi, kata hati, kehidupan, kutipan.
Tags: , , ,
15 comments

Untuk Alied, yg juga insomnia di seberang sana

Lelaki jantan, apapun ceritanya, tak boleh menangis dan menjadi lemah. Kebenaran tak akan bisa kalah, karena cinta itu mimpi terindah, yang pasti akan mewujud menyata, seperti kuntum yang mekar merekah…

Andai kehidupan berjalan seperti kisah di layar perak, sungguh tak ada alasan untuk gentar meniti hari-hari.

But here in the real world, di dunia yang tak selalu happy ending ini, sungguh tak semudah itu. Ketika hati patah merapuh, maka air mata pasti akan jatuh. Ketika mimpi hilang direnggut paksa, tak selalu ada kekuatan yang berkenan datang membela. (lagi…)

Jauh Melanglang Buana, Agar Tahu di Mana Rumah Berada 3 Maret, 2009

Posted by Toga Nainggolan in celebration of life, dedikasi, energi, filosofi, inspirasi, interkonektivitas, kehidupan, spiritualitas.
Tags: , , , , ,
14 comments

Duduk, menunggu detik tiba di sini, mendengar angin menyelinap melalui bebukit yang mengabur bayang di pucuk malam. Pikiran menjelajah, mencari tahu di mana titik awal berada. Angin ini mestilah datang dari tempat yang lebih jauh dari Samudera Pasifik.

Kita tak akan pernah bisa menelusur gerak pertama angin, arus pertama air, perubahan pertama tekanan udara yang membawa angin sampai ke sekeliling kita.

Semua hal dalam kehidupan, apakah cuaca di lelangit atau emosi di dalam jiwa, adalah bagian dari sebuah proses, yang mengalir dan berkait-kaitan timpa-menimpa, begitu rumpil rumit, sehingga tak mungkin mengenali dan menguraikannya menjadi lapisan-lapisan tunggal yang mudah dimengerti. (lagi…)

Tahun Baru, dan Kita Semakin (tak) Tahu… 2 Januari, 2009

Posted by Toga Nainggolan in arise, celebration of life, dedikasi, filosofi, inspirasi, kata hati, kehidupan, kejenuhan.
Tags: , ,
26 comments

Seiring bergegasnya waktu, dan usia yang terus menjejalkan diri ke tubuh kita, menjadi makin paham akan kemampuan dan keterbatasan diri, kita mengerti bahwa upaya untuk mengerti itu tak pernah berhenti.

Seperti pohon yang mencabang ke mana-mana, melambai dedauan dalam tarian pencarian, menengadah dahaga cahaya. Kedewasaan tampaknya memang tentang kemampuan menyesuaikan dan merasakan diri, bukan soal ilmu pengetahuan, atau kecerdasan yang mengundang decak kekaguman. (lagi…)

But I Feel, I’m Growing Older… 19 November, 2008

Posted by Toga Nainggolan in arise, blogging, celebration of life, dedikasi, filosofi, gairah, in english, inspirasi, kata hati, kehidupan.
Tags: , , , ,
14 comments

Everything about blogging is so nice for me, but one: it makes me feel that I’m growing older. Indeed, blogospehere, as all web based communities, is a young world and the world of the young. Elders are visitors here.

But not that fact makes me feel the sorrow of the aging that soon. It’s how the young bloggers get their blogs maintained, the way they develop a house of big ideas, showing high or highest level understanding of the misteries of life.

They seems so familiar with the biggest questions and farest searching of humankind, make the spiritual and philosophy area as a gamezone. It’s not only fresh, but contain something too. The serious and heavyweight discourses, in their hand, becoming a nice and easy conversations. (lagi…)

Kaya Itu Satu Hal, dan Bahagia Adalah Hal Lain 9 November, 2008

Posted by Toga Nainggolan in celebration of life, inspirasi, kata hati, kehidupan.
Tags: , , , ,
27 comments

Range Rover nan gagah itu. Full optionnya, Rp 2,4 M saja.

Range Rover nan gagah itu. Full optionnya, Rp 2,4 M "saja".

Namanya pendek saja; Anif. Tapi dia diyakini sebagai (salah satu) orang paling kaya di Sumatera Utara. Bisnisnya ada di sektor perkebunan, properti, sarang burung walet, dan entah apa lagi.

 

Sekadar “perkenalan”, dia abang kandung dari Rahmat Shah, bokap Raline, yang difavoritkan menang jadi Putri Indonesia itu, dan udah lama besanan ama Hamzah Haz, yg mantan wapres.

Karena saya sedang menulis biografinya – bukan untuk dijual, lebih sebagai ‘warisan’ bagi anak-anaknya, sehingga belum tentu dicetak - saya punya akses untuk masuk ke sisi kehidupannya yang agak personal, dan tentu saja kesempatan mengalami gaya hidup manusia kelas premium. Huehehe, keliatan deh kampungannya gw. (lagi…)

Bukan Agama yang Sempurna, tapi Sempurnalah dengan Agama 23 Oktober, 2008

Posted by Toga Nainggolan in artikel, cinta, gairah, kata hati, kehidupan, opini, spiritualitas.
Tags: , , , , , , , ,
35 comments

Tak ada tangga pintas ke surga...

Biarkan setiap orang merumuskan pemahaman yang berbeda tentang misteri semesta. Biar setiap hati mencari jalannya sendiri menggapai tempat tertinggi.

Hak semua insan menentukan tujuan kehidupan yang menurutnya paling penting. Bagaimanapun tak masuk akalnya cara mereka itu buatmu, jangan pernah mengatainya sesat atau sinting.

Tapi dalam perbedaan cara itu, kita semestinya juga merapatkan tersatukan, karena agama-agama yang hebat itu sesungguhnya sama-sama menganjurkan kebaikan, walau dengan cara yang berlainan. Apakah Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Yahudi, Konfusius, semuanya, semua ajaran mulia yang mengawal kehidupan, menuntun kepada kebahagiaan.

Jangan membunuh, jangan menyakiti, jangan buat perintang di jalan yang dilalui orang buta, jangan abaikan fakir miskin dan anak yatim, jangan perbudak orang-orang lemah — itulah yang selalu kau temukan di semua kitab suci. (lagi…)

Malam Lebaran, Bulan di Atas Kuburan 23 September, 2008

Posted by Toga Nainggolan in kehidupan, opini, spiritualitas.
Tags: , , , , , , ,
29 comments
Crescent Moon Over the East End Cemetery karya Elizabeth Fraser

Crescent Moon Over the East End Cemetery karya Elizabeth Fraser

Salah satu puisi yang paling banyak diperdebatkan maknanya adalah “Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang. Puisinya cuma sebaris, “bulan di atas kuburan”. Pertama puisi itu sangat pendek. Kedua, malam lebaran yang berarti malam 1 Syawal, adalah saat di mana bulan sama sekali tidak kelihatan.

Dan saya tak ingin memperpanjang debat itu.

Lebaran adalah hari kemenangan, tetapi juga kekalahan; kekalahan bagi yang tak berhasil meningkatkan barang segaris kualitas kemanusiaannya, juga kekalahan bagi yang tak bisa membelikan barang sepotong baju baru untuk anaknya.

Hari kemenangan itu telah menjadi beban, karena terjadi pengeluaran besar-besaran. Ironis, ketika hari kemenangan justru disambut dengan kepanikan, kenaikan harga-harga barang, dan penambahan saldo utang.

Segala hal telah berkiblat kepada kebendaan. Tak ada lagi yang peduli menyelami, apa yang semestinya terjadi di Idul Fitri. Apakah merenungi, menelanjangi jiwa sendiri, atau ke sana ke mari wara-wiri dengan baju baru dan gemerlap perhiasan warna-warni. Mengapa menjelang hari itu segalanya justru menjadi sesak; mall, pasar tradisional, toko sembako, seperti sesaknya dada si fakir yang tak tau harus membelanjakan apa menyambut hari raya, sesak pengap membekap, padahal namanya lebaran, bukan sempitan.

Jika begitu, lebaran memang menjadi bulan di atas kuburan. Pedih, menyayat, sepi, mencekik.