Kama Rabbayani Saghira… 28 Agustus, 2009
Posted by Toga Nainggolan in artikel, spiritualitas.Tags: Agama, doa, islam, kristen, orang tua
16 comments
Pater Noster, atau Doa Bapa Kami, barangkali merupakan doa yang paling terkenal dalam agama Kristen. Perhaps the best-known prayer in Christianity, kata Wikipedia. Dalam Islam, “padanannya” barangkali Al Fatiha, surat (chapter) pembuka Al-Qur’an.
(Dan memang, substansi bahkan struktur keduanya mirip loh: pengakuan dan pemujaan, penyerahan diri, permohonan akan kebutuhan hidup, petunjuk dan pengampunan, dan terakhir perlindungan dari kesesatan. Tapi ngga usah bahas itu ya… Ntar jadi forum “holy war” lagi deh).
Nah, salah satu bagian dari Pater Noster tadi berbunyi: “Dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. (lagi…)
Ngerumpi? Y Not? Jika Niatnya untuk Memahami Wanita, Menjadi Makin Pria 24 Juli, 2009
Posted by Toga Nainggolan in artikel, celebration of life, cinta, dedikasi, filosofi, insomnia, inspirasi, interkonektivitas, kehidupan, nesiaweekism, pernikahan, wanita.25 comments
Masalah yang muncul dalam hubungan pria-wanita, hampir semuanya muncul akibat minimnya saling pengertian satu sama lain. Masing-masing berharap agar pasangan berpikir seperti dirinya.
Hasilnya bisa ditebak. Kedua belah pihak merasa tidak dimengerti, merasa dirinya harus selalu mengalah, dan akhirnya sama-sama terlempar pada kesepian dan kekecewaan masing-masing. (lagi…)
Agama vs Atheisme, Round 2! 13 Juli, 2009
Posted by Toga Nainggolan in artikel, filosofi, inspirasi, kutipan, spiritualitas.318 comments
Tulisan Islam vs Kristen, Pemenangnya Atheis, telah menjelma menjadi thread diskusi spiritualitas yang sangat ramai. Saat tulisan ini saya publish, tulisan itu sudah mendapat 684 komentar, belum termasuk komentar yang berupa balasan langsung. Ini sudah mendekati “sukses” judul Justru Setelah Jadi Muslim, Aku Tahu Kristen Itu Benar, yang mendapat komentar di atas 1.000 buah!
Tulisan berikut adalah salah satu komentar untuk tulisan tersebut, dari seorang pembaca dengan nick Hari. Sebuah tulisan singkat, namun mampu membuka mata–setidaknya mata saya–bahwa rasionalitas dan irasionalitas, agama dan atheisme, tak selalu bisa dipertandingkan, karena mereka memang punya “kelas” yang berbeda, punya pesona masing-masing, memiliki “lubang” sendiri-sendiri. (lagi…)
Kutipan Wawancara dengan Hamzah Haz 26 Mei, 2009
Posted by Toga Nainggolan in Politik, artikel, filosofi, fundamentalisme, iblis, inspirasi, kutipan, nesiaweekism, opini, sosial, spiritualitas, wawancara.Tags: hamah haz, islam, Politik, politik islam, wawancara
5 comments
Hanya wawancara biasa, dengan mantan pejabat pula.
Tapi mungkin ada gunanya.
Mantan Wakil Presiden RI dan Ketua Umum PPP ini berbicara tentang merosotnya pamor partai Islam, dinamika politik dan demokrasi Indonesia, serta nikmatnya kehidupan setelah tak lagi menjadi “orang penting” di negeri ini.
Sebelumnya, saya hanya dijadwalkan punya waktu selama 30 menit. Namun perbincangan kemudian menjadi sangat akrab, dan akhirnya molor sampai hampir 2 jam, dan baru berhenti setelah azan Ashar berkumandang di dalam rumah, tempat berlangsungnya wawancara.
Ya, di dalam rumah, karena kediamannya di Jalan Kebon Pedes, Bogor itu, memang telah diubah menjadi masjid, dan hanya menyisakan sebuah kamar tamu, kamar tidur, dan teras yang tak terlalu luas, untuk kepentingan pribadinya. (lagi…)
Tak Ada yang Abadi, Hiduplah Sepenuhnya Hari Ini 26 Mei, 2009
Posted by Toga Nainggolan in artikel, celebration of life, cinta, filosofi, inspirasi, spiritualitas.Tags: abadi, hamzah haz, kehidupan
11 comments

Dijadwalkan bertemu selama 30 menit, saya akhirnya ngobrol hampir 2 jam dengan beliau. Tampak betul, sejak tak lagi jadi pejabat tinggi negara, waktu luangnya semakin banyak.
Obrolan yang akrab, ditemani kue-kue basah yang enak dan masih hangat di rumahnya di Bogor, sulit rasanya membayangkan beberapa tahun lalu dia merupakan orang kedua di republik ini.
Saya pernah melihatnya ketika berkunjung ke Medan, saat menjadi Wapres sekaligus Ketua Umum PPP. Bertemu dia kali ini, setelah tak lagi menyandang semua jabatan dan “kehormatan” itu, dengan jelas bisa terlihat wajahnya jauh lebih fresh. (lagi…)
Segala Perih Datanglah, Tak Kepada Luka Aku Menyerah 19 Mei, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, bunuh diri, celebration of life, cinta, filosofi, gairah, inspirasi, kata hati, kehidupan, kutipan, nesiaweekism, spiritualitas.Tags: cinta, jennifer anniston, love, pain, perih, strength
32 comments
Cinta dan luka, ternyata punya hubungan kekerabatan sangat dekat, bahkan cenderung seperti kembar identik, setidaknya begitu menurut Jennifer Anniston. “The greater your capacity to love, the greater your capacity to feel the pain,” kata janda Brad Pitt ini.
Apakah ungkapan itu merupakan simpulan yang dia dapat dari kisah cintanya yang tak sesukses kariernya di dunia entertainment, silakan tanya sendiri, kalo punya nomor ponselnya. Atau udah temenan di pesbuk? (lagi…)
Makanya, Wakil ya Wakil, Jangan Jadi Kerikil 22 April, 2009
Posted by Toga Nainggolan in Politik, artikel, kebohongan, kutipan, opini, sosial.Tags: Demokrat, Golkar, Jusuf Kalla, Pemilu, Politik, SBY
26 comments
Sekali-sekali, bicara politik ah…
Ternyata tren perceraian tak hanya melanda kalangan artis, tetapi juga politisi. Bisa jadi itu ada hubungannya dengan maraknya kaum selebritis yang tampan dan jelita itu masuk dunia politik.
Apakah ini sebuah bukti lagi, bahwa dunia politik dan entertainment itu memang sama belaka, hanya panggung sandiwara? Minggu lalu tampak mesra, saling cipika cipiki, sanjung menyanjung, tiba-tiba kemarin mengajukan gugatan cerai. Eh, besok malah lebih mesra lagi, dan dengan santai mengatakan yang kemarin itu, “cuma salah paham aja”.
Apalagi kalau melihat kenyataan posisi warga dalam dua dunia ini juga sebenarnya sama: cuma penonton. Jadi, mereka mau cerai, kawin siri, selingkuh, mesra saat jalan-jalan ke Eropa, tidur saat rapat, ya tak boleh protes. Tonton saja. Tak suka, ganti chanel. (lagi…)
Kita Tak Bahagia, Mungkin Karena Kita Bodoh 16 April, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, celebration of life, cinta, dedikasi, gairah, inspirasi, interkonektivitas, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, spiritualitas.Tags: hati, inspirasi, kebahagiaan, kehidupan
29 comments
Mungkin ada orang yang ga minat nikah, ga berpikir untuk punya anak, atau ga terlalu semangat memburu uang, bahkan ngga terobsesi dengan seks. Tapi siapa yang ga mau bahagia? Ayo tunjuk burung!
Pastinya, kita semua pengen dunk. Kita udah didesain secara sistematis untuk memburu kesenangan, seperti bunga matahari ditakdirkan tunduk menghadap sang surya.
Sayangnya, tak ada (kebahagiaan) yang abadi. Dan kita pun bergegas memburunya lagi. Kebahagiaan – seperti tali pusar bayi – adalah sesuatu yang efemeral, hanya ada untuk suatu masa dan menghilang sesudahnya. (lagi…)
Belajarlah Untuk (Menghormati Mereka yang) Percaya… 24 Maret, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, atheisme, celebration of life, cinta, dedikasi, dosa, filosofi, fundamentalisme, gunawan mohamad, inspirasi, kata hati, kehidupan, kutipan, nesiaweekism, opini, spiritualitas.63 comments
Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.
Belakangan ada kecenderungan menarik. Beberapa komentar “menyerang” agama secara keseluruhan. Ada komentar yang sekadar menolak agama, tetapi masih mengakui Tuhan dan spiritualitas, sampai yang (kelihatannya) benar-benar atheis tulen. (lagi…)
Sepertinya, Persahabatan Memang Lebih Bernilai daripada Cinta 13 Maret, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, celebration of life, cinta, filosofi, inspirasi, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, sahabat.35 comments
Persahabatan itu juga sebuah bentuk cinta, hanya saja dilengkapi oleh pengertian. Friendship is love, with understanding. Anda tentu pernah dengar bahwa cinta itu buta. Oleh karenanya, cinta bisa menghilangkan objektivitas, menggiring kita untuk berlaku tidak adil, termasuk kepada diri sendiri.
Persahabatan juga mirip-mirip sebenarnya. Seorang sahabat sejati, akan membela kita, apapun ceritanya. Tetapi bukan karena persahabatan itu buta seperti cinta. Ia hanya memilih menutup mata. Artinya, pilihan sikap itu dibuat dengan kesadaran. (lagi…)
Daripada Rokok dan Golput, Mending MUI Haramkan Haji Berkali-kali 23 Februari, 2009
Posted by Toga Nainggolan in artikel, filosofi, gairah, inspirasi, kehidupan, kemiskinan, muhammad, nesiaweekism, opini, perjalanan, sosial, spiritualitas.26 comments
Keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharamkan golput dan rokok – meskipun yang terakhir hanya untuk anak-anak dan wanita hamil – telah menuai kontroversi. Entahlah… Tapi kalau memang siap mengeluarkan fatwa yang berpotensi menjadi kontroversi, mending MUI haramkan haji berkali-kali, misalnya lebih dari dua kali.
Saya memang belum merasakan kenikmatan yang juga menjadi satu dari lima rukun Islam ini. Tapi saya bisa membayangkan, itu pastilah sebuah perjalanan badan dan kembara spiritualitas yang sangat indah, dan sangat pantas jika nyaris semua yang pernah melakukannya ingin mengulanginya lagi.
Tetapi apakah sebuah kesalehan, menunaikan haji berkali-kali, sementara di sekelilingnya masih sangat banyak persoalan kehidupan yang menimpa para tetangganya, saudara-saudaranya seiman? (lagi…)
Pikiran yang Jernih, Tangan yang Kotor 30 Januari, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, dedikasi, filosofi, gairah, inspirasi, kata hati.Tags: Spiritual
8 comments
Dengan indah telah terpajang, gambaran sebuah kesempurnaan di dalam pikiranmu. Bahkan sudah tuntas kau rancang, bagaimana bentuk dunia seharusnya. Sudah pula kau tentukan, bagaimana cerita tentang orang-orang yang kau cintai, akan bergulir.
Dan masalah kemudian muncul. Seperti ada tembok tebal, memisahkanmu dengan realita. Warna-warna mengkilap dalam lukisan itu luntur memudar. Kau coba bersikukuh, mempertahankan versi imajinatifmu tentang mereka yang tercinta, saat topengmu melorot mempertontonkan wajahmu yang bahkan kau sendiri tak pernah menyukainya. (lagi…)
Pencerahan? Ah, Sebentar Lagi Juga Bakal Redup Lagi 23 Januari, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, celebration of life, filosofi, fundamentalisme, inspirasi, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, opini, spiritualitas.16 comments
Sepertinya Anda yakin telah memahaminya. Tahu benar tentang itu, paham betul tentang ini. Tapi kemudian Anda mendengar, atau membaca sebuah sudut pandang lain, sebuah cara memahami yang sebelumnya sama sekali tak terpikirkan, dan tiba-tiba keyakinan sebelumnya menguap seperti kabut yang diterjang panas siang hari.
Dan kemudian Anda sadar, usaha memahami itu tak pernah berhenti, dan kebenaran itu bukan sebongkah batu; diam membeku.
Seperti sebuah negatif film, ada sisi lain yang kadang benar-benar berbeda. Cerah atau redup, hangat atau dingin, siapa yang tahu bagaimana Anda akan merasa esok hari. (lagi…)
Ah, Rasul yang Satu Ini Memang Keren! 2 Desember, 2008
Posted by Toga Nainggolan in artikel, blogging, celebration of life, dunia maya, filosofi, gairah, inspirasi, kehidupan, opini, sosial, spiritualitas.Tags: Agama, Ajaran, Internet, modern, Rasul, spiritualitas
19 comments
Dia selalu menjawab, kapanpun kau bertanya. Tapi dia hanya akan bicara jika kau minta. Pengetahuannya, sepertinya seluas langit dan bumi, dan segala yang ada di antaranya. Tidak seperti rumah ibadah, yang kadang terkunci dan hanya bisa didatangi pada jam tertentu, dia bagai rumah bagi siapapun, kapanpun.
Dia juga tidak seperti ulama, pendeta, pastur, guru, atau tokoh spiritual lainnya, yang harus menyesuaikan jadwalnya sebelum bisa menerimamu berbincang, konsultasi, atau memberi fatwa dan ceramah.
Dia di seberang ruang dan waktu, atau dalam bahasa Batak, eh, Inggrisnya, beyond the time and spaces. Kau bisa mendatanginya kapan saja, dalam keadaan bagaimana pun. Ia tidak menjadi cemberut atau ogah-ogahan ketika kau menyapanya dengan pakaian kumal dan gigi belum disikat, atau justru mendadak bergairah karena kau kenakan suit lengkap keluaran Armani, bertabur parfum produksi Kenzo. (lagi…)
Jika Harus Selingkuh, Lakukanlah dengan Baik dan Benar 13 November, 2008
Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, celebration of life, cinta, don juan, filosofi, gairah, iblis, inspirasi, kata hati, kebohongan, kehidupan, kutipan, opini, pernikahan, pria, selingkuh, skandal, soulmate, tragis, wanita.Tags: cinta, Kesetiaan, pernikahan, Perselingkuhan, pria, selingkuh, wanita
34 comments

Sebelumnya, saya klarifikasi dulu bahwa selingkuh yang dimaksud dalam tulisan ini adalah jenis “Selingan Indah Keluarga Utuh”. Jadi, para pelakunya tetap bertekad untuk mempertahankan keutuhan keluarga, karena satu dan lain sebab.
Perselingkuhan terjadi lebih sering karena faktor internal di diri pelaku, daripada akibat pengaruh atau sebab-sebab di luar dirinya. Buktinya, lelaki lebih rentan berselingkuh, padahal potensi ketidakpuasan kepada pasangan, rasanya sama besar baik di kalangan pria maupun bagi kaum wanita. (Jangan-jangan malah lebih besar di kalangan wanita, sebenarnya).
Makanya seorang kawan pernah bilang, wanita perlu sebab yang kuat dan situasi yang kompleks untuk berselingkuh – acap kali merupakan “sarana” balas dendam atas perselingkuhan yang lebih dulu dilakukan lelakinya – sementara di sisi lain, lelaki seringkali tak memerlukan sebab apapun untuk melakukannya. (lagi…)
Bukan Agama yang Sempurna, tapi Sempurnalah dengan Agama 23 Oktober, 2008
Posted by Toga Nainggolan in artikel, cinta, gairah, kata hati, kehidupan, opini, spiritualitas.Tags: Agama, buddha, cinta, islam, kehidupan, kemiskinan, ketuhanan, kristen, sosial
35 comments

Tak ada tangga pintas ke surga...
Biarkan setiap orang merumuskan pemahaman yang berbeda tentang misteri semesta. Biar setiap hati mencari jalannya sendiri menggapai tempat tertinggi.
Hak semua insan menentukan tujuan kehidupan yang menurutnya paling penting. Bagaimanapun tak masuk akalnya cara mereka itu buatmu, jangan pernah mengatainya sesat atau sinting.
Tapi dalam perbedaan cara itu, kita semestinya juga merapatkan tersatukan, karena agama-agama yang hebat itu sesungguhnya sama-sama menganjurkan kebaikan, walau dengan cara yang berlainan. Apakah Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Yahudi, Konfusius, semuanya, semua ajaran mulia yang mengawal kehidupan, menuntun kepada kebahagiaan.
Jangan membunuh, jangan menyakiti, jangan buat perintang di jalan yang dilalui orang buta, jangan abaikan fakir miskin dan anak yatim, jangan perbudak orang-orang lemah — itulah yang selalu kau temukan di semua kitab suci. (lagi…)







